Ksatria Goblok (part 5)

                                                                                  SEKALI LAGI DIAH

“De’ kamu sudah main belakang denganku ya? Aku aja yang pacarmu aja belum pernah nginep di rumahmu!” Pram yang baru sampai langsung mencecar Diah yang masih memandangi Adhi di dalam bus, setelah memberi tanda kepada Adhi, Diah berpaling menghadap masnya. “Mas kamu ini kenapa? Aku yang minta tolong sama Adhi, kan tadi malam sudah aku ceritain….lagian kenapa harus menemuiku di terminal sih!” Diah tak kalah emosi menghadapi kemarahan pacarnya, “loh wajarkan kalau aku menyusul kamu ke sini, pagi-pagi kamu sendirian ke terminal! Dan sebenarnya aku ingin bicara dengan Adhi, tapi malah kamu halangi!” emosi Pram meninggi. “Siapa yang menghalangi, Adhi itu bisa terlambat kalau ikut terlibat dalam masalah kita!” Diah berbicara sambil terus berjalan menuju parkiran motor, “itu urusan dia, karena memang dia sekarang sudah terlibat dalam hubungan kita!” Pram berusaha mencegah langkah Diah. Diah yang emosai dan panik terus berjalan menuju motornya dengan menahan tetes air matanya. Pram masih mengahampirinya dan berdiri di depan motor Diah, “de’ tunggu dulu, kita harus bicarakan ini sampai tuntas!” Pram benar-benar menahan motor Diah. Orang-orang yang ada di sekitar mereka menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan mereka, “mas kalau kamu memang ingin menyelesaikan masalah kita, ayo kita bicarakan di rumah..di depan bapak ibu!” suara Diah terdengar sangat dingin. Pram terdiam sejenak, “iya, tapi…” Pram tak mampu menjawab tegas tantangan Diah. “Sekarang ikut aku pulang kerumah, mumpung bapak belum berangkat kerja!” Diah menggas motornya dengan sedikit kencang, mau tidak mau Pram menyingkir dari depan motor Diah.

Diah berlari masuk kedalam rumah, ibu dan bapaknya panik melihat anaknya pulang-pulang dari terminal nangis-nangis. “Astagfirullah…ngopo nduk?” bapaknya langsung memegang pundaknya, “mas Pram…mas Pram pak!” Diah tersedu memeluk ayahnya, “Pram…ngopo Pram?” ayahnya bingung mendengar suara isak anaknya. “Mas Pram tadi nyusul aku ke terminal!” Diah makin terisak tangisnya, “terus ribut sama Adhi?!’ ayahnya mulai sedikit membaca situasi. “Hampir pak, tapi Adhi kularang turun dari bus!” Diah terus sesenggukan bercerita, “sekarang Pramnya mana?!” sang ayah yang kini terbakar emosinya. “Tadi kusuruh ke rumah untuk menyelesaikan semuanya!” Diah sudah bisa berdiri dan menatap ayahnya, “bagus, biar jelas semua urusan kalian nduk! Bapak kesal dengan anak itu, tidak kstaria dalam menghadapi masalah!” bapaknya menuju ruang tamu. “wis nduk, kowe lingguh sik..ben bapakmu yang nemuin Pram dan jelasin sekalian masalah Adhi” sang bunda merangkul anaknya duduk di sofa depan tv.

“Coba kamu telepon nduk, kok sampai sekarang nggak nyampai-nyampai rumah?!” ayahanda mulai resah menanti Pram tak kunjung muncul di halaman ruamhnya, “mas…mana? Katanya mau selesaikan ini semua sekarang” Diah masih emosi dalam berbicara dengan Pram. Tiba-tiba ayahanda mendekat dan meminta Hp diberikan padanya, Diah hanya bisa menurut…”Pram, ini bapak! Kalau kamu ingin berbicara baik-baik tolong datang kesini, bukan saya ingin ikut campur urusan kalian…tapi bagi saya kamu sudah keterlaluan dalam memperlakukan anak saya” suara ayah ditenang-tenangkan dari emosi yang amat sangat. “Nggih pak!” terdengar suara Pram menjawab di telepon.

Pram akhirnya datang setelah hampir setengah jam ditunggu, duduk mereka berempat di ruang tamu. “Nah, sekarang kamu mau penjelasan seperti apa dari Diah?” ayahanda membuka pertanyaan biar tidak bertele-tele, “maaf pak, tadi pagi memang saya akui…saya sedikit emosi!” Pram terbata-bata berbicara. “Baik, kalau kamu masih seumuran mereka saya maklumi emosimu. Tapi kamu itu sudah dewasa dan sudah kerja. Lagian si Adhi datang ke sini atas ijin saya sebagai tuan rumah, dan sebagai rasa terimakasih saya karena dia sudah banyak bantuin Diah dan mau nganterin Diah pulang ke Blitar bawa motornya!” panjang lebar kalimat ayahanda terdorong emosi tertahan, “sekali lagi saya minta maaf pak, saya kurang tahu ceritanya karena Diah tadi malam tidak menjelaskannya” Pram berusaha membela dirinya. “Kurang jelas bagaimana mas? Masnya aja yang tadi malam nggak mau denger penjelasanku, lagian mas sendiri nggak bilang kalau bisa pulang ke Blitar waktu liburanku ini!” Diah langsung menyahut mendengar pembelaan Pram yang mengada-ada, “loh de’ aku kan sudah berusaha nanya, dalam rangka apa anak itu kesini!’ Pram masih ngotot mempertahankan egonya. “Sudah-sudah, masalah ini tak akan selesai kalau kalian seperti itu. Sekarang bapak pengen nanya sama Pram sekali lagi masalah pertunangan itu, apakah kamu sudah sampaikan ke orang tuamu?’ ayahanda tak tahan melihat pertengkaran yang kekanak-kanakan, “emm…sudah pak, tapi mereka berpikir masak-masak dulu tentang itu!” Pram mulai gamang menjelaskannya. “Terus apa sudah kamu pikirkan masak-masak?!” ayah tak memberi ruang untuk Pram menggantungkan keputusan kali ini, “emm…saya terus berpikir pak, tapi pekerjaan saya sekarang masih menuntut penuh perhatian saya” alasan yang sangat di buat-buat terdengaar basi. “Ya sudah, sekarang lebih baik kamu bebaskan anak saya dari menunggu keputusan yang tidak jelas, karena sekaranag saya lebih ingin melihat anak saya memiliki masa depan sendiri atas cita-citanya” ayahanda yang terburu-buru ingin ke kantor mengambil keputusan sepihak namun berdasar atas keadaan yang memang sangat tidak menguntungkan bagi anaknya, “tapi pak, saya mohon beri sedikit waktu lagi untuk mengambil keputusan!” Pram kini mulai memohon. “Tapi sebaiknya sudah nggak usah mas, aku sudah capek nungguin kamu…aku sudah sering kecewa karena ke egosianmu mas!” Diah memberanikan diri akhirnya memutuskan jalan hidupnya, “tapi de’, …”Pram mati kata dalam menghiba pembatalan keputusan Diah. “Jujur mas, sejak pulang dari Jakarta aku sudah banyak berpikir untuk lebih tegas pada diriku sendiri, dan tolong jangan sangkut pautkan Adhi dalam masalah ini, karena bukan karena dia hubungan kita seperti ini. Tapi karena kamunya sendiri mas!” Diah kini tak lagi terisak an meneteskan air mata, “iya kuakui waktu di Jakarta itu aku tak bisa banyak membicarakan ini de’. Kamu kan tahu aku baru kerja di sana!” masih itu juga dalihnya, “makanya, aku lebih mengambil keputusan seperti ini supaya mas bisa lebih konsentrasi sama karier mas!” Diah mulai bisa bijak dalam menyikapi masalahnya. Terdiam sejenak semua, suasana pagi ini jadi sangat panas walau matahari belum sempurna menampakkan sinarnya. “Baiklah, kalau itu keputusanmu de’…aku terima, semoga kamu tidak menyesal di kemudian hari!” Pram emosi bercampur malu menegaskan sikapnya, “Aku terimakasih banyak atas kebaikkan mas selama ini dan aku minta maaf mas kalau semuanya harus berakhir seperti sekarang ini!” Diah langsung menjawab dengan rasa kesal mendengar kesombongan masnya yang masih saja di pertahankannya. “Saya mohon maaf ke bapak dan ibu, saya permisi sekarang!” Pram langsung cabut dengan melepaskan sedikit sopan santun. Diah menagis sejadinya setelah Pram pergi meninggalkan rumah, ibunya membimbing Diah masuk kekamar dan ayahanda berangkat ke kantor dengan hati yang tak karuan.

Sesampainya di terminal Bungurasih aku langsung mencari taksi menuju bandara. Dalam taksi kembali aku mencoba menghubungi Diah, namun masih belum di angkat. Keinginan pulang kampung perlahan sirna, kini aku berpikir untuk balik keterminal dan kembali ke Blitar. Setelah check in kucoba lagi menelpon Diah saat duduk di bangku ruang tunggu keberangkatan pesawat, kini teleponnya diangkat..”Dei gimana tadi? Apa dia marah-marahin kamu? Aku pulangnya besok-besok juga nggak masalah Dei, kalau dia inin menyelesaikan masalahnya denganku akan kulayani!” emosiku karena cemburu dan rasa sayangku melihat Diah bingung tadi pagi, “sudah Dhi, kamu ini apa-apan sih! Tadi barusan aku sudah selesaiin semua masalah hubunganku dengan mas Pram di depan bapak ibu, hubungan kami sudah selesai sampai di sini!” Diah menyampaikannnya dengan tegar. “Putus?....Aku bisa jelasin semua ke Pram Dei!” aku jadi bingung sendiri mendengar mereka putus, “nggak perlu Dhi, bukan kamu penyebabnya, tapi memang sudah lama orang tuaku sendiri mendukungku untuk memutuskan dia!” Diah berusaha menenangkanku yang terdengar panik dan merasa bersalah. “Terus kamu gimana sekarang Dei?” harap-harap cemas denga keadaan Diah sekarang, “alhamdulillah aku malah lebih lega sekarang perasaanku, kamu sekarang tenang-tenang aja nikmati liburanmu di sana. Kan pulang liburan besok kamu juga ke sini dulu baru ke Jogja” Diah menyampaikan kemantapan hatinya. “Siap, aku pasti Ke Blitar lagi setelah liburan ini secepatnya!’ inginku loncat-loncat dan berlari-lari kegirangan, “ya nggak usah cepat-cepat, kan liburan masih panjang!” Diah bisa merasakan kebahagian dari nada suaraku. “Hi..hi…mau oleh-oleh apa Dei? Aku jadi sedikit salah tingkah dengan informasi ini, “dasar, nanti kalau sudah disana telepon aku ya, ku tunggu loh!’ Diah tak menanggapi kegiranganku. “Pasti…pasti Dei, ah…aku harus naik ke pesawat sekarang Dei! Nanti begitu sampai di sana aku telepon, daah..mmmuuaaach” lupa diriku jadinya saking semangat.

                                                                                 ADHI MUDIK  

Hari pertamaku sampai di kampung halaman cukup meriah di rumah, ibuku langsung memasakan segala macam makannan kesenanganku. Teman-teman dekatku langsung berdatangan ke rumah, namun aku menolak untuk jalan-jalan keluar rumah dulu dengan alasan masih ingin kangen-kangenan dengan orang rumah. Malam harinya nyaris bergadang aku dan orang tuaku bercerita pengalamanku di Jogja, mereka sangat senang melihat aku bisa membiyai sekolah dan hidupku sedikit demi sedikit. Mereka tak membahas masalah wanita atau pacaran, karena pesannya cukup sekali bagiku “HATI-HATI DENGAN WANITA”, itu kata ibuku. Aku juga belum berani menceritakan tentnag Diah dan Santi pada orang tuaku, takutnya mereka langsung kepikiran dan khawatir denganku.

Hampir setipa saat aku tak pernah lepas sms-an dengan Diah, terkadang dengan Santi juga. Hari-hari liburku yang hanya seminggu ini terasa berbulan-bulan bagiku. Hanya beberpa kali aku keluar main mengunjungi teman-teman lamaku, selebihnya aku menemani menjaga toko di pasar dan kadang pagi aku ikut bantuin ke kebun ayahanda sekedar melihat dan angkat-angkat. Memang berbeda suasana di sini, walau kutinggal hampir 2 tahun tak banyak perubahan yang berarti. Kegiatan hidup dan pergaulan masih sama aja, kecuali beberapa mantan pacarku yang sudah dapat pacar baru. Namun sudah tak banyak berarti bagiku, walau mereka seakan masih berharap untuk bisa kembali padaku.

Sehari sebelum aku kembali ke Jogja, ibuku sibuk membelikan beberapa oleh-oleh buat ibu kostku dan anak-anak kost, sedang aku menyempatkan memesan beberap prhiasaan buat daganganku. Saat inilah aku becerita tentang 2 wanita yang mengisi kehidupanku di Jogja, terutama masalah bagaimana aku bisa pulang lewat Surabaya. Benar dugaanku, ibuku terlihat sangat khawatir mendengar ceritaku. “Dhi, ikam hati-hati lawan anak bebinian uranglah! Salah-salah ikam kena kawin sebalum tuntung sekolah!” ibundaku mengkhawatirkan hal it uterus dari dulu, “inggih ma’ai, ulun kada macam-macam, waktu bemalam semalam gin atas ijin abah mamanya ma’ai!” kucoba jelaskan dan tenangkan bundaku. “Iya mama tahu’ai, makanya isuk mama bawakan titipan gesan abah mamanya Diah lah!” tak kusangka ibundaku seakan menyetujui hubunganku dengan Diah, “teserah mama aja mun itu, ulun terimakasih banyak mama hakun mendukung ulun!” aku berterimakasih sekali atas dukungan bundaku. “Tapi ikam jangan terlalu serius dulu memikirkan masalah bebinianlah, masih panjang jalan ikam kemukanya nak’ai!” nasehatnya tetap menjaga tujuanku belajar di Jogja, “inggih ma’ai, Diahnya gin tahun ini kan ujian kelulusan jua” aku jadi teringat kalau Diah tahun ini terakhir di SMA. “Makanya, sekedar bekawan akrab aja kada papa nak’ai, isuk inya kulih gin betamu lawan kawan hanyar jua, jadi ikam jangan teganggu sekolahnya karena mikir akan inya tarus” ternyata ibuku tetap pada idealisnya tentang hubunganku dengan wanita, “inggih ma’ai” kujawab singkat karena merasa sudah tidak perlu meneruskan pembicaraan ini.

Keesokkan harinya aku pergi belanja bersam ibuku ke Banjarmasin, membelikan beberapa oleh-oleh special buat orang tuanya Diah dan Diah juga ternyata. Aku berpikir untuk membelikan Santi oleh-oleh, tapi takut ibuku protes, akhirnya kusempatkan beli baju sasirangan (batik khas Banjar) buat Santi. Malamnya aku sibuk membungkus dan mengikat semua barang yang akan kubawa, besok siang aku sudah berangkat ke Surabaya untuk menuju Blitar menjemput sang Diahku.

Di bandara Syamsudin Noor aku ditemani ayah dan ibuku yang mengantarkanku. Diah menelponku beberapa kali memastikan keberangkatanku, ini membuat kerinduanku memburu. Ini yang menjadi ayah ibuku sedikit gelisah meihat aku begitu bersemangat untuk pulang. Akhirnya pesan dan nasehat serta pelukan sayang dari mereka mengantarkanku menuju ruang tunggu pesawat.

Selepas ashar aku tiba di bandara Juanda Surabaya, bawaanku kali ini lumayan banyak. Tapi akan berkurang sebagian di Blitar nanti, kunaiki taksi menuju Blitar langsung, karena terlalu repot kalau harus naik bus dengan bawaan sebanyak ini. Keputusan ini meminta konsukeunsi Rp. 200 ribu lebih untuk membiayainya, tapi tak masalah bagi hati yang menggunung rindunya. Saat adzan isya berkumandang aku tiba di depan rumah Diah. Kulihat Diah sudah menantiku di depan rumah bersama adik dan ibundanya, aku tersenyum-senyum disambut mereka. Diah membantuku menurunkan barang bawaanku, kamipun masuk kedalam rumah bersama-sama.

Habis aku ditanggap bercerita tentang liburan yang singkat di kampung halaman. Diah sedikit berseri saat mengetahui ibuku memberikan oleh-oleh buat mereka, aku menyampaikan salam dari mereka dengan di pertegas teleponku mengabarkan kalau aku sudah sampai di rumah Diah. Ku biarkan para orang tua saling berbicara dengan cara mereka, Diah juga akhirnya mendapat giliran berbicara dengan ibuku lewat telepon. Diah mengangguk dan tertawa mendegar ocehan ibuku di telepon. Ini membuatku sedikit menduga yang disampaikan ibuku adalah pesan untuk menegurku.

Orang tua Diah membiarkan aku dan anaknya berbicara lebih lama berduaan di teras belakang. “Dei, makasih ya sudah ngijinkan aku nemenin kamu pulang ke Jogja” canggung jadinya aku bicara tidak seperti biasanya, “ya siapa lagi yang bisa kupercaya, apalagi orang tuaku lebih setuju kalau tetap kamu yang menemaniku” Diah menjelaskan sedikit tersipu. “Menemani pulang ke Jogja saja…atau selamanya Dei?!” rindu dan hasrat menggebuku menelorkan sebuah keberanian yang terburu-buru, “loh..loh…kok jadi kesana sih ngomongnya” Diah berusaha menghindari pembicaraan seperti ini saat sekarang, “bukan…maksudku nanti pas sampai di Jogja masih boleh nemenin kamu kan” sedikit menutupi gugupku sekarang. “Ya iyalah kalau itu” Diah jadi tanggung bicaranya, “kalau yang bukan itu…” aku tak bisa menahan keinginan hatiku. “Apa sih?! Nggak ngerti deh ngomongmu Dhi” Diah terus mempermainkan nyaliku, “duh..jadi bingung mau ngomongnya!” lidahku mulai kelu untuk bicara. “Mungkin tidur dulu biar kamu nggak bingung ngomongnya!” Diah mencoba menggodaku, “nggak ah, jarang-jarang bia ngobrol sampai malam gini, dirumahmu lagi” tak terasa diriku mulai berani lebih dalam bicara masalah hati dengan Diah. “Hmmm…segitunya, ngomong apa sih kayaknya repot banget?” Diah terus iseng memancing pernyataan dariku, “emm…boleh aku jadi orang yang bisa jagain kamu selamanya…Dei?” tampak bergetar suaraku kali ini. “Jagain…selamanya, bodyguard gitu maksudnya?” Diah benar-benar senang melihatku grogi, “eggghh….Pacar maksudku!” semakin lirih rasanya suaraku. “Dhi…aku tahu maksudmu dari tadi, tapi apa nggak terlalu cepat keputusan ini?” Diah kini berubah sangat serius, “cepat? Mungkin bagimu Dei, tapi tidak bagiku yang sudah terlalu lama memujamu dalam hati” lepas juga akhirnya benteng pertahanan harga diriku. “Dhi! Kamu…kamu..” Diah tak bisa komentar dengan pernyataanku kali ini. “Iya Dei, sejak pertama kali aku mengangkatkan bukumu waktu itu!” mengalir tanpa hambatan semua rasa di hati ini, “sebenarnya hal ini sudah kubatasi sebisaku karena aku tak ingin kehilangan kesempatan bersama kamu” kuutarakan juga ketakutanku selama ini. “Emm..maaf Dhi, kalau selama ini aku sudah bikin kamu susah hati karena harus melihat dan mendengar tentang aku dan Pram” Diah jadi merasa bersalah karena sadar pernah sedikit mempermainkanku. “nggak masalah kalau itu Dei, dia lebih dulu mengenal dan mencintaimu…sedang aku belakangan mendatangimu dan akhirnya terlalu cinta sama kamu” blong sudah semua rasa grogiku berubah jadi pernyataan harga mati tentang persaanku. “Dhi…sebaiknya kita bicarakan masalah ini pelan-pelan supaya tidak saling salah faham!” Diah sedikit kalem mengutarakannya, “salah faham? Kurasa nggak masalah apapun tanggapanmu ke aku Dei, perasaanku sudah tak mungkin berubah ke kamu…dan aku tak akan marah ataupun tersinggung” kukuatkan hati sebisanya menyatakan ini. “Dhi..aku tersanjung akan perasaan dan kebaikkanmu selama ini, aku juga suka sama kamu…tapi untuk bisa lebih dari teman dalam waktu dekat ini aku perlu waktu memastikan diriku sendiri bahwa aku menerima kamu sebagai pacarku bukan sebuah pelarian” Diah dengan berat menyampaikan kesusahan hatinya sekarang, “aku bisa ngerti Dei, setidaknya sekarang aku sudah terbuka sama kamu tentang perasaan dan keinginanku ke kamu…terimakasih Dei kamu mau terbuka juga sama aku” lega namun ngambang rasa di hati ini. “Dhi, kamu sudah terlalu banyak menahan hati, aku nggak mau lihat kamu kecewa…pokoknya aku tetap jadi orang terdekatmu sampai saat ini…dan kita lanjutkan ini besok di Jogja saja ya!” Diah coba meyakinkanku akan keputusannya. “Maaf Dei, bukan aku mendesakmu…aku…aku…takut kehilangan kamu” kecengenganku sedikit terlihat di wajah ini, “makasih Dhi, biar malam ini aku merenung dan memantapkan hatiku ya! Yuk tidur dulu” Diah berdiri dan memegang pundakku. “Terimakasih Dei, maaf kalau aku terlalu sayang sama kamu” kutatap matanya sejenak dan kemudian tertunduk, “aku juga sayang sama kamu Dhi” di usap-usapnya kepalaku yang tertunduk. Aku tidak melihat dua butir air mata di sudut mata Diah saat berbalik menuju kamarnya.

Entah jam berapa aku baru bisa tertidur tadi malam, padahal aku sudah mengusahakan untuk terpejam dan tak berani membuka mataku takut meihat kenyataan yang kan terjadi pagi ini. Hp ku berbunyi, kulihat tulisan “Dei” yang memanggil, sadarlah aku kalau aku tidak mendengar saat Diah mengetuk kamar unuk membangunkanku. “Iya Dei, sudah bangun kok” suaraku masih terdengar sangat serak, langsung aku berdiri dan membuka pintu kamar. “Kamu tidur jam berapa Dhi? Kok jam segini masih belum bangun” Diah sudah cantik dan wangi pagi ini, “sorry, tidurku nyenyak sekali tadi malam” masih ku usap-usap mukaku dengan kedua telapak tanganku. “Ya sudah, mandi dulu sana, kutunggu di ruang makan ya” Diah tersenyum manis pagi ini sambil menyerahkan handukku, “aku tak bicara langsung berjalan menuju kamar mandi.

Di ruang makan tidak ada yang lain selain Diah, “loh ibu sama Ratih mana dei?” aku duduk disebelah Diah melihat-lihat sekitar ruangan, “merka lagi kepasar!” Diah mengambilkan nasi buatku. “Waduh tak ambil sendiri aja sih” aku jadi kaget dengan pelayanannya pagi ini, “nggak apa-apa, sekali-sekali Dhi” Diah tak menatapku, namun kulihat masih ada senyum yang terkulum di mulutnya. “Tapi nggak disuapin sekaliankan?” kegemesanku memancing iseng untuk menggodanya yang terlihat semakin cantk pagi ini. “E…e..e..ngelunjak ya, ada juga kamu yang harusya nyuapin aku Dhi” Diah kembali normal adanya dengan cubitan di lenganku, “he…he..he..boleh…boleh” kusendokan nasi dan mengarahkannya kemulut Diah. Tak kusangka Diah benar-benar memakan nasi yang kuarahkan ke mulutnya, “alhamdulillah, akhirnya diterima juga” guraunku meyelubungi makna sesungguhnya. “Ya diterima lah, kan jangan menolak rejeki Dhi!” Diah seakan tak menyambung dengan maksud dibalik kata-kataku, “bukannya kamu yang jadi rejeki bagiku Dei?” kini gaya pilonku kukeluarkan. “Emm..pagi-pagi sudah mulai aja, dah makan dulu” Diah terus menghindar dari pembicaraan serius ini, “o ya, siapa tahu habis kenyang pikran dan hati lebih terbuka” kutahan gondokku karena belum mendapatkan kepastian darinya.

Tak lama selesai kami sarapan ibunda dan Ratih sudah kembali dari pasar, kulihat lumayan banyak belanjaan yang masih diturunkan dari becak. Aku bergegas menghampiri dan membantu mengangkat semua belanjaan mereka. Aku jadi berpikir akan keadaan kami nanti waktu pulang, di jamin motor kami penuh dengan kotak dan bungkusan. Begitu selesai memisahkan semua belanjaan, Diah datang dari arah ruang belakang membawa beberapa kotak kardus ukuran sedang. “Dhi langsung dibungkus aja ya!” Diah menaruh kotak kardus itu di sampingku yang sedang merapikan belanjaan yang jadi oleh-oleh buat di Jogja nanti, “tali rafianya ada nggak?” aku langsung bergerak karena ini pekerjaan yang tak asing bagiku sejak kecil. “Ada, ntar aku ambilin dulu ya” Diah kembali menuju rak dekat ruang makan, “nih cukup nggak?” satu gulungan besar tali rafia di bawakan Diah padaku. “Jangankan dua kardus Dei, buat ngikat kita berdua juga cukup!” iseng aja si cantik ini, “maksudnya?” Diah coba menegur bahasaku yang tetap menjurus hal semalam. “Ijnkan aku mengikat dua kotak ini dengan tenang,eh…lak bannya ada nggak?” kuingatkan satu syarat packing lagi yang belum ada, “bisa aja ngeles” Diah sedikit manyun dan berdiri kembali mengambil lak ban, “guntingnya sekalian Dei!” kutambahkan lagi peralatan pembantu yang diperlukan.

Hari ini cukup sibuk mempersiapkan semua keperluan dan bawaan untuk pulang besok pagi, aku sempatkan untuk menservis motor Diah sebelum digunakan dalam perjalanan cukup jauh besok. Namun setelah dilihat-lihat barang yang akan di bawa cukup banyak, kutakutkan itu akan menyusahkan dan membahayakan dalam perjalanan kami besok. Kusarankan Diah untuk memaketkan barang itu saja, Diah sepakat dan mengajakku ke agen travel terdekat yang memang dia kenal karena sering juga mengirimkan paket melalui agen tersebut. Ini sangat membantu, kini kami hanya membawa tas pakaian kami.

Kesibukan tadi siang cukup membuat kami kelelahan, orang tua Diah menyarankan kami berdua untuk beristirahat lebih cepat karena besok menempuh perjalanan jauh. Aku sangat sepakat karena kurasakan kantuk ini pun sudah berat untuk ditahan lebih lama. Aku masuk kamar lebih dulu dari Diah yang masih memeriksa dan mengingat-ingat apalagi yang akan di bawanya ke Jogja.

Adzan subuh diriku sudah selesai mandi dan rapi, aku ikut sholat di mesjid bersama ayahandanya Diah. Sarapan sudah tersedia saat aku dan ayahnya pulang dari mesjid, kulihat si Ratih pun sudah bangun. Banyak pesan dan nasehat dari ayah dan bundanya Diah selama kami semua menyantap sarapan bersama pagi ini.

Motor sudah dipanaskan dan barang bawaan tertata dengan mantap di atasnya, ritual pamitan yang sedikit panjang dan meningalkan kesan haru mengantarkan keberangkatan kami meninggalkan kota yang penuh cinta ini. Ada perubahan kecil namun berarti waktu perjalanan pulang ini. Pelukan Diah ke badanku lebih erat dan seakan tak ingin melepaskannya, kuanggap ini jawaban dari semua harapanku selama ini. Jogja kami datang kembali dengan cinta yang menyatu dalam dekapan.

                                                                                   Jogja Berhati Nyaman

Akhirnya kehidupanku di Jogjakarta berlanjut, keceriaan mengiringi hari-hari di sekolahanku. Orang yang paling senang dengan ceritaku dan Diah adalah mba’ Ninda yang selama ini mengikuti terus perkembangan hubungan kami berdua, malah kini aku yang cemburu terhadap Diah yang lebih diperhatikan mba’ Ninda yang sangat senang punya adik cewek sekarang. Mereka semakin sering pergi berdua dari pada aku, memang karena urusan dagangan kami yang terus meningkat penjualannya.

Suatu sore, aku, Diah dan mba’ Ninda jalan-jalan pergi nonton bareng. Selesai mengantri tiket kami hendak makan di tempat biasanya di Taman Sari, saat akan keluar dari ruang bioskop aku bertemu Dimas dan…Santi. “Dhi, nonton juga?” Dimas yang pertama menegurku, “Iya, loh sama Santi tho?” aku berusaha menutupi kekagetanku, “he…he…akhirnya Santi mau tak ajak nonton Dhi” Dimas tampak bangga. Santi tersenyum aneh dan…”kamu nonton bareng mba’ Diah?”, “sama mba’ ku juga…mba’ Ninda yang dulu sering kuceritakan San!” sekalian aku kenalkan mba’ Ninda yang baru ini bertatapan langsung dengan Santi. Santi menyalami mba’ Ninda dan Diah juga, kurasakan tangan Diah yang langsung menggenggam tanganku. “Mau ikut makan bareng?” basa-basi spontan dari rasa hati yang tak karuan, “nantilah gampang, aku mau ngatri tiket dulu” Dimas menepuk pundakku. “Ok, kami makan disana, ntar kalau sudah dapat tiket nyusul aja!” gantian kutepuk lengan Dimas dan tersenyum pelit ke arah Santi yang menatap tajam padaku, “seep, tak masuk dulu ya” Dimas menggandeng tangan Santi yang disambut dengan genggaman erat oleh Santi.

Diah terus memegang tanganku dan mba’ Ninda terlihat senyum-senyum terus melihat kejadian tadi. “ternyata cewek itu sudah punya pacar ya Dhi?!” Diah melihat gelagat aneh dari reaksiku tadi saat bertemu Santi. “Iya…aku juga baru tahu ini, masalahnya sudah lama nggak ngobrol sama mereka” kutanggapi pertanyaan Diah sedikit sandiwara, “padahal dulu kamu akrab banget sama cewek itu Dhi” Diah terus menyindirku. “Ya dulu kan karena kami sekelas, sekarangkan sudah nggak Dei” mulai kurasakan kemana arah pembicaraan ini, “nggak jarang” Diah kembali memaksa keterpojokkanku. “Kalian ini kalau bareng hobinya ribut, kalau lagi nggak ketemu cari-carian!” mba’ Ninda membantuku yang sudah hampir tak bisa meneruskan menjawab Diah, “habis cewek itukan yang dulu nempel terus sama dia mba’!” Diah menggandeng lengan mba’ Ninda dan mengadu-adu. “ha..ha..ha aku nggak ikut-ikut dah” mba’ Ninda berjalan mendahului kami.

Aku dan Diah saling melihat, kupeluk pinggangnya merapat ke badanku dan kutoel lembut hidungnya. Cubitan mesra mendarat di pinggangku, untung mba’ Ninda tak melihat aksi kami ini. Aku berharap-harap cemas menanti Santi dan Dimas tidak menyusul kesini, tampaknya Diah juga terus melihat-lihat kemungkinan itu. Cukup lama tak kunjung kulihat batang hidung mereka, bisa tenang diriku sekarang.

Pulangnya kami bertiga tidur dirumah mba’ Ninda, begadang sampai hampir pagi. Karena besok hari Minggu, cukup siang baru kami terbangun. Sayangnya aku tidak diijinkan sekamar dengan Diah (tentu sajalah), karena mereka lebih asik bercerita berdua. Hari libur ini jadwal Diah dan mba’ Ninda padat dengan jalan-jalan hunting barang baru di Mall, aku bertugas sebagai kuli angkut bagi mereka berdua. Setidaknya sekarang tak banyak pengeluaranku selama “berpacaran” dengan Diah karena dia sudah punya penghasilan sendiri dari hasil dagangan kami.

Saat kembali ke kamar kost-kostan termenung sendiri, kembali perasaan panas menjalar di hati ini. Gambaran Santi di gandeng oleh Dimas tergambar jelas diingatanku, kenapa? Aku mengerang kecil merasakan panasnya hati yang tak kuinginkan. Aku sudah “mendapatkan” Diah (karena tidak ada kata “iya” dari Diah namun langsung jalan seperti pacaran), dan dengan Santi telah sepakat untuk bersahabat saja, tapi perasaan cemburu ini sangat tak wajar. Ingin ku telepon Santi sekarang, tapi nanti kalau aku terdengar emosi pasti Santi akan protes. Tapi aku sangat ingin berbicara dan bertemu dengannya, aku masih tak rela Santi bersama orang lain…tapi Dimas temanku dan Santi juga.

Kuambil pulpen pemberian Santi yang sudah lama menemaniku…kemudian

Bila sang bulan pantulkan cahayanya mentari

Begitu kiranya cintaku bersinar di hatimu

Bila sang bintang pancarkan cahayanya sendiri

Begitu kiranya cintamu menyinari hatiku

Maafkan daku para bidadari cinta

Bukan aku sang pengobral cinta

Bukan aku seorang durjana

Aku hanya lelaki penuh cinta

Dari hulu sungai mengalir kehilir

Tertampung dalam luas samudera

Dari hulu hati cintaku mengalir

Tak cukup satu hati menampungnya

…mungkin inilah sebagian gambaran diriku sekarang, terduduk lesu menyandar di tembok meratapi kebodohan. Sekarang aku hampir tidak bisa membedakan di dunia mana aku berada, di dunia khayalkah? Atau di dunia nyata. Aku benar-benar lelah dengan seribu kata “kenapa” di kepalaku, besok sebisa mungkin aku bertemu Santi untuk meluruskan keadaan ini. Ya Allah…ijinkan hamba tertidur malam ini untuk mengistirahatkan jiwaku yang lelah dalam kegamangan.

Selesai kultum di mesjid pagi ini diriku langsung bersiap-siap berangkat sekolah. “Dhi!” terdengar panggilan dari luar pintu kamarku, “masuk Dei!” kembali terus kusisir rambut belah pinggirku. “Tumben sudah rapi” Diah hanya berdiri di depan pintu, “iya nih, lagi rajin aja habis dengerin kultum pagi ini!” ternyata cewek itu peka juga dengan sedikit perubahan. “Baguslah, sering-sering aja ikutin kultum biar jahilnya berkurang!” Diah memuji dengan caranya yang sudah sangat kukenal sejak dulu, “bukannya kalau tambah pintar jadi tambah pintar ngejahilinnya!” kutatap dekat wajahnya. “Dasar, harusnya kalau wudhu sekalian otak kamu di wudhuin juga Dhi!” Diah gemas mengosok-gosk kepalaku, “waduh…sisiranku Dei!” sudah susah-susah menghitung sudut belahan rambutku malah di rusak. “Sini ku sisirin lagi!” Diah masuk mengambil sisir, “woiit…sepatumu Dei!” tambah kacau aja pagi ini. “Aahh…kayaknya bersihan sepatuku dari pada karpetmu!” Diah langsung memegang kepalaku, “tapikan…” mulutku langsung di bekap dengan tangan wanginya.

Sepanjang perjalanan ke sekolah diriku jadi sadar akan satu hal, bagaimana nanti bertemu Santi dan jelas banyak bertanya tentang dia dan Dimas. Sedangkan aku sendiri setiap pagi berangkat ke sekolah bersama Diah dan bergonceng mesra pula, tentu sangat janggal bagi Santi akan sikapku nanti. Mungkin sebaiknya ku urungkan niat ku untuk menemui Santi hari ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan nantinya. Dalam hati aku berterimakasih akan perhatian Diah padaku pagi ini yang telah menyadarkanku akan kenyataan keadaanku sekarang.

Saat istirahat pertama aku jadi agak malas untuk jajan keluar sekolahan, jadi aku pilih untuk bersantai di depan kelas setelah membeli beberapa gorengan dan sebungkus minuman. Hal yang kuhindari malah berlalu di depan mata saat aku berada di dalam kelas, kulihat dari jendela kelas Santi dan Dimas melintas dengan sangat mesra (menurutku sih dimesra-mesrain). Kutahan sedemikian hingga panasnya bara dalam dada ini yang semakin menyala karena cemburu yang di hembuskan dengan sengaja oleh mereka berdua. Ingin kusapa….namun sebaiknya tidak saja! Kulihat mereka berlalu dengan meremas bungkusan minumanku tanpa sadar, “plash” suara bungkusan berisi air di tanganku yang telah pecah. Beberpa orang yang didalam kelas sedikit kaget dengan kejadian ini, begitu juga diriku yang tersadar dari kekonyolanku. Buru-buru aku berlari ke kantin belakang utnuk eminjam kain pel, cepat kubersihkan tumpahan air di lantai kelas. Celakanya celanaku terkena cipratan di bagian pahanya cukup banyak, satu-satunya cara untuk mengeringkannya dengan berjemur di tangga aula depan kelasku.

Terduduk diriku lesu dengan tangan menyangga dagu, betapa bodohnya kelakuanku hari ini. Sebenarnya apa yang kuinginkan sih? Waktu dulu Santi mengharap banyak akan diriku, diriku seakan menjaga jarak dengannya karena aku masih terlalu sibuk mengharapkan Diah . Kini Diah sudah “kudapatkan” malah aku mengharap Santi pun kudapatkan, benarkah perasaan ini? Hati ini terus bertanya dalam lamunan, perlahan muncul segala kemungkinan dari pertimbangan di hati. Diah tinggal hitungan bulan berada di sekolah ini karena tahun ini Diah akan selesai menjalani masa SMA nya, sedangkan aku dan Santi nasih ada waktu setahun lagi menjalani proses belajar di kelas 3. Apakah aku akan menjaga jarak lagi dengan Diah yang sudah kuperjuangkan sekian tahun lamanya? Demi untuk bisa dekat kembali dengan Santi yang kini sangat kurindukan kasih sayang dan perhatiannya seperti dulu. “Kenapa?” Kata ini muncul kembali dalam pikiranku, Diah sangat sempurna bagiku, dan sampai saat inipun Diah tak menunjukkan kalau dia kurang dari Santi dalam segala hal apapun. Tapi hatiku merindukan juga perhatian dan canda yang pernah kualami bersama Santi, aku harus mendapatkan bantuan nasehat dari orang yang lebih berpengalaman. Apakah mba’ Ninda akan membantuku memecahkan masalah ini? Atau dia malah akan marah besar dengan kekurang ajaran hatiku ini? Oh..tidak, semua menjadi semakin tak menentu di kepala ini.

Pulang sekolah Diah sudah menungguku di parkiran bersama dengan beberapa temannya, “kenapa Dhi, kok lesu banget sih” Diah langsung komentar begitu melihatku menghampirinya. “Nggak tahu nih ngantuk banget dikelas tadi!” kucoba untuk berdalih di depannya, “mungkin karena tadi pagi kamu kepagian bangunnya Dhi” Diah coba mengingatkan dan menggoda menyegarkan wajahku lagi. “Mungkin ya Dei, emang sebaiknya nggak usah bangun pagi-pagi aja besok” sedikit kuiyakan candanya, “eee…ya nggak gitu donk, kan bagus kalau kamu bisa bangun lebih pagi, itu cuma karena kamu belum biasa aja Dhi” kedua pipiku ditepuk-tepuk dan sedikit diremas gemas oleh Diah. “Ya sudah, pulang yuk! Hari ini motornya kamu bawa ke kostmu aja Dhi, biar besok kamu yang jemput aku” Diah mendahuluiku menuju motornya di parkiran, “tapi nanti kalau kamu mau cari makan gimana Dei?” sebenarnya aku agak malas membawa motornya ke kostku. “Lah kan nanti sore kamu aja yang beliin aku makan, sekalian anterin aku ke rumah mba’ Nin!” ternyata ada buntutnya, “loh kamu sudah janjian sama mba’ Nin tho Dei?” aku jadi sedikit tersentak mendengar kalau sore ini akan kerumah mba’ Ninda. “Iya, tadi malam mba’ Ninda telepon aku nyuruh tidur di rumahnya, tapi aku malas kalau sendiri nggak sama kamu cinta” manja Diah demi menyemangatiku, “jam berapa kesananya Dei?” kunaiki motor untuk segera mengeluarkannya dari barisan parkiran. “Ya sebangunnya kamu ajalah, tapi jangan kesorean, nanti kamu juga yang di omelin mba’ Nin!” ini andalan Diah sekarang semenjak mengenal dan dekat dengan mba’ Ninda, “gampanglah, ntar bangunin aku ya kalau kesorean belum jemput kamu” kujalankan motor keluar dari ruang parkiran. “Pasti!” Diah erat memegang pinggangku.

Lepas ashar aku sudah mandi dan sampai di kost Diah, “loh makananku nggak di beliin ya!” Diah langsung menyambutku untuk mengambil jatah makannya sore ini, “emang nggak kubeliin!” kujawab datar. “Aahhh…gimana sih, aku laper banget nih!” tampak wajah Diah kecewa dan kesal, “karena aku juga belum makan seharian ini, aku lagi pengen makan pizza!” turun diriku dari atas motor dan berjalan menuju ruang tamu kostnya. “Bener Dhi, kenapa nggak ngomong waktu pulang tadi” wajah yang cemberut tadi berubah jadi menggemaskan untuk dicium, “kan baru pengennya pas bangun tidur tadi tuan puteri” aku duduk di kursi ruang tamu disusul Diah yang juga langsung duduk menempel disebelahku. “ya buruan siap-siap non, katanya sudah laper banget!” tak tahan aku berlama-lama lesu didepannya, “siap say, sebentar kok!” Diah berlari kegirangan kedalam ruangan. Padahal aku sebenarnya tadi tidak tidur sesampainya di kost, diriku meng-sms Santi namun tidak mendapat balasan sampai saat ini. Inilah yang mencetuskan ideku untuk mengajak Diah makan di Pizza Hut untuk menghilangkan rasa kesalku, tapi ini bagus untuk menguatkan pilihan hatiku bahwa Diahlah yang terbaik bagiku.

Saat makan di Pizza Hut aku sangat menikmati kebersamaan dengan Diah, tak ingin lagi rasanya aku kehilangan akan apa yang sudah kuraih. Kini bisa kurasakan mengapa aku lebih memilih Diah dari pada Santi waktu itu, pesonanya yang tak bisa kupungkiri menghipnotis jiwa dan ragaku. Lama mungkin kami berada di Pizza Hut sampai saat terdengar telepon Diah berbunyi dan…”hallo mba’, aku lagi sama Adhi makan di Pizza! Habis ini langsung kerumah mba’” Diah menjawab telepon dengan sedikit menahan tawa dari canda kami yang sedang berlangsung. “Tuh mba’ mu sudah nyariinkan Dhi!” Diah jadi sadar kalau kami hampir lupa waktu di sini, “tenang, kita bungkuskan aja pizza kesenangannya, ntar juga senyum-senyum kalau kita datang!” aku sudah sangat kenal dengan karakter mba’ ku tersayang ini.

“Woo..dasar ya anak dua ini, di tungguin malah enak-enakan jalan berduaan!” wajah galaknya menyambut kami di depan teras rumahnya, “tenang kakakku sayang, aku dan tuan puteri membawakan upeti sebagai tanda permintaan maaf atas keterlambatan ini!” kucandai wajah marah yang cantik ini. “Tidak bisa, harus tetap dihukum!” telinga dan pinggangku menjadi sasaran eksekusinya, “iya…iya…ampun mba’!” kuselamatkan diriku dengan berlari kedalam rumah lebih dulu. Aku langsung rebahan di depan tv, mereka berdua langsung naik kekamar mba’ Ninda, hal ini sudah sangat bisa kutebak. Mereka berdua pasti sedang asik berdiskusi tentang majalah fashion terbaru dan sekalian menentukan hari dan tempat perburuan mereka.

Kesendiriran ini memancingku untuk berpikir menerawang akan masalah sms ku yang tak berbalas dari Santi tadi. Jadi teringat untuk curhat sama mba’ Ninda, tapi sayangnya ada Diah disini. Hampir tak ada kesempatan untuk aku bisa berduaan dengan mba’ Ninda, ahh…bukannya tadi sudah bisa aku singkirkan pikiran konyol ini. Pertempuran hebat kembali pecah di benakku, apa salahku sampai harus terlibat dalam pertikaian semu ini. Ku buka baju dan celanaku jinsku, kuceburkan diriku dalam kolam renang di halaman belakang rumah mba’ Ninda. Langkah yang cukup bijak untuk menyegarkan badan dan pikiranku saat ini, kupuas-puaskan diriku menyelam dan berenang kesana kemari menghibur diri.

“Byuur..” suara air terdengar di belakangku, tak lama kemudian muncul kepermukaan air tepat dekat di depanku wajah putih berkilau dalam balutan air yang kemudian menatapku dengan senyum serta dekapan tangan di pundakku. “Berenang nggak ajak-ajak sih!” Diah kemudian menarik pundakku kedalam air. Kami bercanda, berputar-putar di dalam air yang dingin ini. Diah sangat sexy dengan baju renangya yang di simpankan oleh mba’ Ninda, sungguh goblok diriku kalau sampai melepaskan bidadari khayangan di depanku ini. “Ayo say’ nyelam lagi!” Diah kembali menenggelamkan tubuhku dan mencoba menaiki pundakku (mungkin dilihatnya aku sekarang mirip lumba-lumba).

Lampu dalam kolam menambah indah nuansa kemesraan kami berdua, saat muncul kepermukaan disambut oleh langit malam yang cerah dengan menampilkan utuh gugusan bintangnya. Suasana ini berlangsung sampai kembali terdengar suara tercebur kedalam air, yah itu bukan buaya atau hiu…melainkan tubuh pemilik kolam yang menceburkan diri menyusul memeriahkan kolam. Nuansa romantis seketika berubah menjadi meriah dan (mungkin sedikit anarkis) saling menarik kaki atau badan kedalam kolam. Hingga lelah mengakhirkan aksi tiga orang anak manusia yang kini sudah terengah-engah terduduk dan tertidur dipinggiran bibir kolam. Kemudian memindah arena dan suasana setelah kami mandi dan berganti baju ke meja makan yang sudah bertatakan makanan masakan si mbok.

Akhirnya pupus juga pikiran konyolku tentang mengharap Santi dari benak ini. Sekarang aku bisa lebih konsentrasi menjalani tugas utamaku ke Jogja ini, belajar! Diah menemaniku yang kini sudah duduk di sofa menikmati acara tv, sedangkan mba’ Ninda sedang asyik menerima telepon entah dari siapa. Kami berdua duduk menempel dan saling merangkul, seandainya malam ini hanya ada kami berdua dirumah ini…mungkin sudah terjadi hal-hal yang berlebihan dan sangat kami inginkan. Kucuri-curi kesempatan mencium pipi Diah, dia tidak menolak hanya bergaya marah yang manja menatapku. Sikapnya ini malah memancing reaksiku untuk mengulangi perbuatanku berkali-kali. Sayang mba’ Ninda telah mengakhiri pembicaraannya ditelepon, yang berarti berakhir juga kesempatanku malam ini mencumbu Diah dengan mesra. Aku tiduran di sofa setelah ditinggal mereka berdua masuk kekamar, kuakui aku sangat berhasrat malam ini. Syukurlah masih ada mba’ Ninda yang memantau pergerakan kami hingga tidak kebablasan. Tertidur juga diriku akhirnya dengan semangat hidup yang baru dan lebih bersemangat.

                                                                                         Diah Pergi

Di ujung masa-masa sekolah Diah di SMU ini malah semakin mesra hubungan kami berdua, dan ini sangat membuaiku hingga tidak menyadari bagaimana efeknya setelah Diah lulus nanti dan pergi melanjutkan kuliahnya yang entah dimana. Beberapa kali aku pernah menyinggung-nyinggung masalah ini dalam kesempatan kami berduaan, namun Diah lebih memilih tak begitu menanggapi serius karena dengan alasan itu masih lama. Kembali kami hanyut dalam keindahan hubungan ini, sampai-sampai keintiman kami menyentuh tahap bahaya. Dalam beberapa kesempatan hampir kami melakukan hubungan yang tak seharusnya dilakukan pasangan di luar nikah, bersyukur masih ada kesadaran untuk menghentikan aksi kami itu. Kini kami lebih banyak berjalan dan bermain bersama dengan mba’ Ninda atau bersama Rani dan pacarnya, setidaknya sedikit menutup kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang sangat ingin kami lakukan itu.

Waktu berlalu seakan tak melihat keadaan atau memerlukan istirahat, waktu berlalu dengan pastinya tanpa henti. Ujian kenaikkan kelaspun tiba, begitu juga dengan ujian kelulusan sekolah bagi Diah. Aku dan Diah sepakat utnuk belajar di kost masing-masing, karena takutnya kami tak bisa konsentrasi dengan baik bila kami belajar bersama. Aku kembali pada pola belajarku seperti dulu, yaitu berkumpul bersama teman-teman kelasku untuk belajar bersama. Seandainya Santi tidak bersama Dimas, mungkin aku akan menawarinya untuk belajar bersama lagi. Semua kegiatan perdagangan aku serahkan pada mba’ Ninda untuk mengurusnya, dan bagusnya mas Kadek dan Mas Rahmat sedang menghadapi ujian kelulusan kuliah mereka, jadi suasana kost cenderung kondusif juga bagiku untuk lebih berkonsentrasi pada ujianku.

2 minggu masa ujian berlangsung 2 minggu juga vakum hubungan aku dan Diah, ini membuat rasa di dadaku menumpuk dan bergejolak. Namun Diah memintaku untuk menemani dan menyemangatinya yang sedang menunggu hasil ujian kelulusan ini, aku mengerti perasaannya sekarang. Inilah waktu penentuan dari semua proses belajarnya selama 3 tahun ini, aku yakinkan dia bahwa kemungkinannya lulus cukup besar bila dilihat track record nya selama ini yang selalu tidak pernah keluar dari lima besar tiap bagi rapor. Hampir sebulan aku harus ikut tegang menahan diri bersama Diah menunggu pengumuman, dan alhamdulillah Diah lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan ini memungkinkan dirinya mengikuti ujian masuk ke perguruan negeri.

Orang tua Diah datang bersama adiknya menyambut kelulusannya dan kami merayakannya di rumah makan Boyong Kalegan bersama Rani dan keluarganya serta pacarnya juga. Disinilah persimpangan jalan hidup kami dimulai kembali. Ayahanda Diah menyarankan Diah utnuk masuk perguruan tinggi di Surabaya yang dianggapnya lebih bergengsi dan lebih dekat dari rumah, Diah yang memang anak IPA mau tidak mau harus mengakui bahwa ITS adalah salah satu kampus terbaik dalam bidang tekhnik kesukaannya. Aku yang mengerti keinginan Diah berusaha mendukungnya walau jujur sangat berat harus berpisah cukup jauh dengannya. Rencananya setekah selesai mengurus semua administrasi kelulusan di sekolah Diah akan langsung kembali ke Blitar untuk mengurus test masuk ke ITS, aku yang memang tidak ada rencana pulang kampung liburan kenaikkan kelas tahun ini berjanji menemaninya mengurus semua keperluan test.

Lusa setelah kepulangan keluarga Diah, aku dan Diah menuju rumah mba’ Ninda untuk merayakan kelulusan Diah sekalian perpisahan. Mba’ Ninda meminta sampai hari kepulangan Diah nanti ke Blitar agar kami menginap dirumahnya. Kami puas-puaskan kebersamaan bertiga ini seakan-akan lama lagi baru kami bisa berkumpul, yang paling terlihat kehilangan malah mba’ Ninda ketimbang diriku. Mungkin karena mba’ Ninda jauh lebih bisa akrab dan menganggap adik pada Diah karena sama-sama cewek dari pada denganku yang berbeda jenis dan banyak nggak nyambung kalau sudah masalah urusan wanita.

Waktunya Diah pulang hari ini, semua barang sebagian sudah banyak yang dikirimkan melalui paket. Mba’ Ninda ternyata ingin ikut juga ke Blitar, ini membuatku harus mengendarai sendiri motornya Diah ke Blitar walaupun kami tetap berjalan beriringan. Diah sangat senang bisa diantar oleh dua orang terdekatnya sampai ke rumah. Tapi ada untungnya juga mba’ Ninda mau ikut ke Blitar, minimal kami bertiga tidak kepanasan saat harus bolak-balik survey ke kampus ITS di Surabaya. Dan mba’ Ninda yang paling getol dalam mengurusi administrasi kampusnya Diah, maklum sangat berpengalaman di kampus.

Setelah semua urusan mengikuti test selesai aku masih kebagian tugas menemani mba’ Ninda pulang ke Jogja. Padahal aku minggu depannya juga harus menemani Diah test di Surabaya, jadi aku akan balik lagi ke Blitar setelah sampai di Jogja. Tapi apa boleh buat, mba’ Ninda juga orang yang sangat kusayangi, aku tak sampai hati membiarkannya pulang sendirian menempuh perjalanan jauh. Dalam perjalanan pulang terasa sepi di dalam mobil, aku sibuk merenung akan nasibku besok-besok, sedang mba’ Ninda konsentrasi penuh menyetir. Dan keadaan ini sedikit berwarna setelah kami mampir berhenti makan di sebuah restoran. “Dhi…kalian sudah siap untuk berhubungan jarak jauh?” disela makan mba’ Ninda menanyakan hal ini, “siap nggak siap mba’!” jujur aku masih bingung dengan keadaan aku ke depan. “Ya boleh dibilang sekarang saat dimana hubungan kalian akan di uji Dhi!” tatapannya tajam ke arahku, “iya juga ya mba’, aku msih setahun lagi lulus dari sekolah dan itu waktu yang cukup lama utnuk berpisah” mulai terurai kebingunganku. “Kalau aku sih yakin kamu nggak masih bertahan Dhi, tapi nggak tahu Diah?” mba’ Ninda menggantung ucapannya, “maksud mba’?!” aku mulai tidak nyaman dengan pernyataan mba’ Ninda. “Bukan aku nakut-nakutin kamu Dhi, tapi aku cewek dan lebih berpengalaman di dunia perkuliahan” kembali menatapku dengan wajah yang serius, “terus kenapa mba’?” lelah membuatku cepat gelisah. “Aku juga berharap kamu siap menghadapi segala kemungkinan dalam hubungan kalian, kenapa? Karena Diah akan bertambah dewasa pola pikirnya serta pergaulannya!” bertele-tele rasanya nasehat mba’ Ninda kali ini. “Intinya, kemungkinan Diah mencari cowok baru mba’?!” langsung aja ku tebak inti pembicaraan ini, “bukan juga, tapi perbedaan faham lebih sering terjadi nantinya antara kalian dan itu sangat memungkinkan merusak hubungan kalian!” kalau menurutku mba’ Ninda lebih kepada menceritakan pengalaman pribadinya. “Mungkin kalau masalah itu bisa aku mengerti sedikit mba’” kuhela napas agak panjang, “yah sudahlah, jalani aja dulu semuanya perlahan….semoga kalian tidak mengalami seperti apa yang kutakutkan!” mba’ Ninda tersadar kalau dia sudah terlalu banyak bicara. Kami melanjutkan kembali perjalanan yang masih separuh jalan.

2 hari aku di Jogja untuk mengurusi sisa urusan dagangan milik Diah yang masih belum selesai. Mba’ Ninda masih mengantarkanku ke travelan karena sekalian membawakan titipan pesanan Diah. Aku siapkan diriku untuk repot dalam beberapa minggu kedepan mengurusi Diah, dan kalau bisa selamanya aku repot mengurusi Diah supaya tidak akan berpisah lagi.

Setelah test di ITS Diah melanjutkan mengurusi persiapan test di universitas yang ada di Surabaya dan Malang sebagai cadangan kalau seandainya tidak keterima di ITS. Hari-hari kami boleh dibilang habis di jalan, sesekali kami menyempatkan untuk berlibur berduaan menikmati kebersamaan kami yang tak lama lagi harus terpisah oleh jarak. Aku tidak berani mengutarakan komitmen begitu juga Diah terhadap keadaan hubungan kami ke depan, mungkin Diah sama seperti aku yang takut saling memberatkan diri kami dengan sesuatu janji yang belum tentu bisa kami jalani. Yang kami tahu sekarang kami masih saling membutuhkan dan menyayangi, dan berharap akan terus begini.

Hari ini pengumuman hasil test di ITS, aku dan Diah melihat langsung ke kampusnya untuk lebih pasti. Alhamdulillah Diah lulus test pada gelombang pertama ini, terlihat Diah sangat bahagia dengan tetesan air mata haru saat dalam pelukanku. Kami langsung pulang utnuk menyampaikan kabar gembira ini ke orang rumah Diah, tak lupa kami mengabari mba’ Ninda yang juga menunggu-nunggu kabar ini. Sungguh suasana yang hangat dan mengharukan sambutan dari orang tua Diah, mereka langsung mengadakan perayaan kecil dengan mengundang tetangga dan beberapa saudara serta teman-teman dekat Diah yang ada di Blitar. Kebahagian mereka sangat bisa kurasakan, namun tidak sepenuhnya. Karena sebagian hatiku lagi mencemaskan perpisahan yang sebentar lagi harus terjadi. Diah masih berusaha menahanku di sini dengan alasan untuk menemmaninya mencari kost di Surabaya dekat kampus, akupun sangat senang bisa tertahan disini (kalau bisa selamanya Dei).

Di ulur, dilumbar…perpisahan yang harus terjadi tetap terjadi. Kost sudah didapatkan, semua urusan telah selesai, semoga cinta kami tak pernah selesai. Segala nasehat dan wejangan dari orang tua Diah memenuhi kuping dan hati kami malam ini, besok pagi aku pulang ke Jogja lewat Surabaya setelah mengantarkan Diah sampai ke kostnya yang baru. Ingin aku menginap lagi semalam atau dua malam di Surabaya, namun mba’ Ninda mengabariku untuk segera pulang menyelesaikan urusan dagangan yang hampir tidak kupikirkan beberapa minggu ini. Diah tidak menahanku malah menasehatiku untuk bisa lebih dewasa dan meyakinkan bahwa hubungan kami tidak akan terpengaruh oleh jarak. Akhirnya ku kuatkan hati untuk kembali ke Jogja, aku puaskan bermesra dengan Diah sebelum berangkat pulang. Mobil travel sudah sami di depan kost Diah, kecupan perpisahan di pipiku telah diberikannya dan aku harus segera menaiki travel yang supirnya sudah tampak terburu-buru. Tak kulepaskan pandanganku sampai Diah tak terlihat lagi ketika mobil membelok di tikungan.

Dalam perjalanan yang cukup panjang ini diriku masih tetap mencoba menelpon Diah sekedar menenangkan dan menghibur hati sampai terhentikan oleh terputusnya sinyal hp-ku. Rasanya mobil berjalan sangat cepat meninggalkan kota Surabaya, membuat kebersamaan dengan Diah yang baru tadi terjadi perlahan mulai berubah menjadi kenangan dalam hatiku. Dan kesalahanku sekarang adalah memasukan pulpen pemberian Santi kedalam tasku, tapi masih bisa di gantikan hp untuk menuliskan segudang kata yang mulai menumpuk di jiwaku…kukeluarkan hp dan mulai…

Langkah pertamaku di kota budaya

Menimba ilmu menabur cinta

Terpacu waktu tumbuh dewasa

Merekahkan benih bunga cinta

Seribu bunga tumbuh di taman hati

Beragam warna indah warninya

Begitu banyak cinta hadir memikat hati

Hanya bunga Diah Nirwana pujaan hati

Harum mewangi bunga Diah Nirwana

Kujaga dengan bertaruh nyawa

Belum puas aku mencumbu mesra

Harus terpisah oleh jurang waktu

Kini hatiku gersang tanpa semi

Tak ada lagi benih yang tertabur

Ratapi hari-hariku mulai menyepi

Hanya berharap menantimu pasti

Mulai sekarang anggaran pulsa hp-ku menjadi prioritas, hampir setiap malam aku tak pernah lupa untuk menelpon Diah walau kadang hanya sekedar mengucapkan selamat tidur. Keseharianku selama menghabiskan sisa liburan di Jogja setelah Diah pindah ke Suarabaya hanya seputar berdagang dan nongkrong bareng teman-temannya mba’ Ninda, jarang sekali aku menemui teman-teman sekolahku sendiri. Luang waktu yang cukup banyak ini terkadang membangkitkan memori-memori saat awal aku datang ke Jogja, termasuk kenangan bersama Santi. Godaan untuk kembali mendekati Santi pun terkadang muncul, namun masih bisa kutepis dengan berusaha terus menelpon Diah.

Namun ada bagusnya keadaan sekarang ini buat keuanganku, karena aku tidak lagi banyak pengeluaran untuk berkencan. Pundi-pundi uangku perlahan mulai bertambah, ini juga karena usulan dan nasehat dari mba’ Ninda untuk aku ingat menabung. Boleh dibilang kehidupanku yang baru ini semakin teratur, sehingga semangatku bersekolah kembali menyala. Aku jadi tidak sabar untuk segera menyelesaikan masa SMU ini. Rencananya aku akan membeli motor walau hanya second, yang penting aku sudah punya kendaraan sendiri utnuk kepentinganku. Kang Asep membantuku mencarikan kendaraan second melalui jaringan yang dia milikinya.

Butuh waktu seminggu kang Asep berusaha membantuku mendapatkan sebuah motor laki Honda GL Max tahun ’96, dengan harga Rp. 4.500.000,-. Hal ini menjadi suatu kebanggaan sendiri bagiku, terutama di hadapan kedua orang tuaku yang terkaget-kaget saat kukabari aku sudah membeli kendaraan sendir dari hasil daganganku.

Mainan baru ini sangat membantuku untuk melancarkan dagangan serta menghibur kesepianku. Memang seandainya dulu motor ini sudah ada, mungkin akan lebih indah lagi kebersamaanku dengan Diah. Kini aku tak sabar untuk segera masuk sekolah dan memamerkan motor baruku (sebenarnya second sih) kepada teman-teman. Diriku benar-benar seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru, mulai pagi sampai malam kuhabiskan di jalan. Mba’ Ninda orang pertama yang kuajak jalan-jalan dengan motor ini, aku punya kebahagiaan tersendiri dengan kakaku yang satu ini. Pernah suatu saat aku terpikir untuk menaki motor ini ke Surabaya, namun liburan sudah akan berakhir besok harinya. Aku lebih memilih untuk segera masuk sekolah di hari pertama, karena banyak hal baru juga yang akan terjadi disana. Aku belum tahu akan sekelas dengan siapa lagi tahun ini. Dan aku harap jangan samapi sekelas dengan Santi lagi, karena itu sangat membahayakan hatiku.

                                                                                         Santi Kembali?

Ketakutanku malah terjadi pagi ini di hari pertamaku di kelas 3, Santi sekelas lagi denganku. Dan lebih hebatnya lagi Dimas terpisah kelas dengan kami karena Dimas masuk kelas IPA sedangkan kami berdua masuk kelas IPS. Oh..tidak, bagaimana ke depan aku hanya bisa berusaha bertahan demi Diah.

Santi dan aku masih menjaga privasi kami masing-masing, karena belum terbiasa kembali seperti dulu. Aku menceritakan hal ini pada mba’ Ninda, namun tanggapan mba’ Ninda terlalu santai bagiku. Dia hanya bilang padaku jangan terlalu muluk dengan janji di hatimu Dhi, karena itu akan menyiksa dirimu sendiri. Aku belum bisa terima dengan nasehat mba’ Ninda ini, karena kuanggap dia tidak menghargai perjuangan aku dan Diah selama ini.

Untuk sementara masalah ini tak begitu kupikirkan, sebab aku punya hobi baru berjalan-jalan dengan motorku. Sekarang diriku kembali rajin mengikuti kegiatan anak-anak sekolahanku, apalagi aku bertemu teman sekelas baru si Firmanto. Anaknya sama konyolnya denganku, tukang khayal. Aku dikenalkan dengan rombongan temannya di luar sekolahan, namun mereka agak sedikit borjuis. Tapi bagiku ini adalah tambahan wawasan dalam bergaul, lagian aku bisa gampang membaur dengan mereka karena sudah terlatih dengan gaya hidup mba’ Ninda.

Hari berganti minggu berganti bulan, banyak perubahan dari diriku sekarang. Dari gaya berpakaian dan bergaul, entah pengaruh ini positif apa negative bagi diriku yang penting jalani dan nikmati saja. Gemerlap kehidupan malam akhirnya kurambah juga, disini mba’ Ninda banyak menasehati dan mengawasiku. Namun aku yang baru mengenal dunia baru ini seperti kecanduan, hampir aku tak menggubris nasehat-nasehat dari mba’ Ninda. Intensitasku menelpon Diahpun mulai berkurang dengan sendirinya begitu juga dengan kerinduanku padanya yang sudah tidak seperti dulu lagi. Karena sekarang aku banyak punya teman dan sahabat baru yang menghibur dan menemaniku.

Yang mengejutkan adalah prestasi belajarku malah meningkat sekarang tidak seperti dulu saat aku dijaga dan ditemani belajar oleh para bidadariku, ini terlihat dari hasil ujian semesterku yang tembus dalam 10 besar dikelas. Mungkin karena saat ini jiwaku benar-benar merasa merdeka, entah bagaimana perasaan ini bisa terbentuk. Samapi suatu hari mba’ Ninda pernah iseng menanyakan keadaanku dengan Diah, kujawab biasa aja dengan santai tanpa beban seperti waktu pertama berpisah. Mba’ Ninda hanya tersenyum melihat tingkah dan sikapku dalam menanggapinya. Kini ku bisa terima nasehatnya dulu tentang jani muluk hatiku yang sedang menggebu dalam rindu (kuakui, kelapa tua kental santennya).

Tahun ini adalah tahun terakhir di sekolah ini, begitu juga dengan kang Asep dan mba’ Ninda yang akan mengakhiri masa perkuliahannya di ujian akhir mereka sebagai mahasiswa. Aku menyempatkan diri membantu mba’ Ninda mengumpulkan data-data buat tugas akhirnya, menemaninya kesana kemari dan pernah aku bela-belain bolos sekolah walau sudah dilarang olehnya. Ini semua sedikit ujud terimakasihku pada mba’ Ninda yang sudah sangat baik padaku selama ini.

Aku mulai merasakan kesedihan karena harus mengalami perpisahan yang kedua dalam kurun waktu satu tahun ini. Dan perpisahan besok yang kan terjadi ini kurasa akan lebih berat disbanding waktu aku berpisah dengan Diah. Ikatan batinku dengan mba’ Ninda jauh lebih kuat dibandingkan dengan Diah (jujur saja). Mba’ Ninda akan langsung ke Jakarta utnuk meneruskan perusahan ayahnya karena dia anak yang paling tua dan memang sudah disiapkan untuk itu. Banyak pesan dan nasehat di kebersamaan kami yang sudah tinggal sebentar ini, penekanan nasehatnya pada studi ku yang janagn sampai hancur karena keasikkan bersenang-senang.

Roda nasibku yang baru saja berputar kearah atas terasa sudah mulai berputar lagi menuju arah bawah. Daganganku perlahan juga mulai surut karena harga dasar emas yang semakin meningkat dan aku serta mba’ Ninda juga sudah tidak lagi konsen berdagang karena harus menghadapi ujian final masing-masing. Orang tuaku pun menyarankan aku untuk menghentikan kegiatan dagangku sementara, karena misiku ke Jogja itu bukan untuk berdagang tapi belajar. Aku harus terima kenyataan keadaan ini dan aku pun bercerita pada Diah kalau aku tidak bisa lagi membantu keuangannya seperti kemaren. Syukurnya Diah sangat pengertian dan mendukung keputusanku ini (dan aku tidak curiga dengan sikapnya yang jelas sangat tenang dan biasa aja menanggapinya).

Hari ini aku bela-belain bolos lagi dari sekolah untuk menghadiri siding akhir mba’ Ninda dan kang Asep di kampusnya (supporter gitulah pengennya). Dua orang tua ini sangat kaget saat aku datang ke kampus mereka pagi ini, “loh Dhi kamu bolos ya?!” mba’ Ninda langsung protes menyambutku. “Nggak apa-apa mba’, hari ini juga lagi nggak ada hal penting di sekolah” santai kujawab untuk menenangkannya, “ha..ha..ha..biarin Nin, berarti dia adik yang tahu diri!” kang Asep sangat senang melihat kehadiranku (padahal sebenarnya dia terharu dan pengen nangis tuh lihat aku). “Dasar abang adik sama gilanya!” mba’ Ninda meninju lengan kang Asep, “betul kang Asep mba’, kitakan sudah lama berjuang bersama! Apalagi ini puncaknya kan” kujawab sok diplomatis. “Aaah…pinter aja jawab, sudah duduk sini!” mba’ Ninda menarik ku duduk di sebelahnya, “makasih ya dhi” mba’ Ninda meliriku dan menahan tetes air di kedua sudut matanya. “Ngapain sih mba’, inikan kewajibanku sebagai adik mendukung kakaknya!” aku jadi salah tingkah melihat mba’ Ninda yang terharu, “aku janji pasti lulus ujian ini, do’ain ya!” digenggamnya tangan kananku. “Pasti mba’, segenap hati” mantap kujawab menyemangatinya, “ooh..Ninda aja yang di do’a in ya…” terdengar celetukan kang Asep yang dari tadi menguping omongan kami. “eeh...nggak kang tenang aja, kepala suku yang pertama kok di do’ainnya!” hampir lupa kang Asep ada disitu. Kami bertiga tertawa dalam ketegangan yang masih menghantui.

Kang Asep yang pertama di panggil masuk ruang sidang, terlihat luntur kegarangannya selam ini saat akan memasuki ruang sidang. Aku dan mba’ Ninda tak banyak bicara duduk di sini, ikut merasakan ketegangan kang Asep di dalam sana. Menit demi menit berlalu terasa sangat lama seakan kami sudah ditumbuhi lumut sekujur tubuh. Hampir 20 menit kang A sep di dalam sana, entah bagaimana keadaannya. Mungkin sudah babak belur atau juga menangis menghiba di depan dosennya. “Trak” terdengar pintu ruangan terbuka, “gimana kang?” aku yang paling dulu menanyakannya. “Yahh…kita lihat hasil pengumumannya nanti saja” tampak wajahny di sendu-sendukan, “tapi bisa jawabkan?” aku malah yang terlihat panic melihat gelagat kang Asep. “Kalau cuma jawab sih pasti bisa, masalahnya benar apa nggak aku tak tahu” kang Asep menghempaskan pantantnya di kursi tepat menempel di sebelahku, “sep kamu jangan bikin aku tambah grogi nih!” mba’ Ninda kini bersuara karena semakin tak tahan melihat sikap kang Asep. “Sudah…tenang aja kamu Nin, pasti bisa kok! Ibu itukan sudah kamu kenal juga, mereka banyak bantuin kok nanti kalau kamu jawab!” kanga sep mulai terlihat senyumnya, “tadi kamu di bantuin ya Sep?” mba’ Ninda mulai girang mendengarnya. “Gitu deh, kasihan katanya angkatan tua nggak lulus-lulus!” tampang konyolnya kembali hadir, “sialan, beneran nih Sep, aku tegang bangetnih” mba’ Ninda jadi panik kembali melihat kang Asep terlihat bercanda. “Bener Nin, santai aja lagi!” Kang Asep kini berusaha meyakinkan sahabat kentalnya ini, “bener ya! Awas kalau nggak!” mba’ Ninda kembali menenangkan diri setelah mengeluarkan ancaman.

Diriku bisa merasakan ketegangan mba’ Ninda yang belum berkurang juga, kubelikan dia dan Kang Asep beberapa cemilan dan minuman dingin (Cuma ini yang bisa kulakukan). Mba’ Ninda jadi peserta ujian yang paling akhir di panggil. Jantungku sungguh berdebar kencang, padahal bukan aku yang ujian. Tapi ini karena rasa sayangku pada mba’ Ninda yang tidak sanggup melihatnya bersedih apalagi samapi frustasi, kulihat kang Asep tenang-tenang saja menghabiskan sisa cemilan dan minuman kami.

“Adhi..!” mba’ Ninda berlari kearahku dari pintu ruang siding, aku belum sempat melihat reaksi mukanya, “kenapa mba”?” aku sungguh kaget di peluknya. “Aku lulus!” hanya itu yang keluar dari mulutnya, malah pelukannya yang kencang nggak kira-kira, “alhamdulillah, selesai sudah penderitaan mba’!” kupeluk erat juga kakaku ini, karena mulai terasa basah pundak kiriku oleh air matanya. Kemudian bergantian mba’ Ninda memeluk kang Asep, sungguh bahagia suasana pagi ini. Orang-orang lain yang lulus juga kegirangan setelah menerima tanda lulus dari panitia ujian, mereka berteriak sepuasnya melepaskan semua beban selama ini. Kami bekumpul di kantin kampus untuk merayakannnya, karena tidak bisa merayakannya bersama teman-teman mereka yang sudah tidak di kampus lagi sebab lebih dulu lulus sejak lama.

Malam ini aku di minta tidur di rumh mba’ Ninda untuk menemani kebahagiaannya. Tak lupa kukabari Diah yang kemudian langsung menelpon mba’ Ninda untuk mengucapkan selamat, dan sedih katanya karena tidak bisa ikut merayakannya bersama kami malam ini. Kembali aku dan mba’ Ninda seperti dulu waktu pertama kali akrab, kami bermain di kolam dan tertawa-tawa sepuasnya.

                                                                                      Masa-Masa Labil

Tak bisa lama mba’ Ninda menikmati kebebasannya dari kuliah dan harus sudah segera ke Jakarta menyiapkan segala keperluan serah terima jabatan dengan ayahnya. Aku diundangnya untuk menghadiri pelantikkannya, namun aku harus menjalani Ujian Nasional puncak pertama dari misiku. Mba’ Ninda tidak marah walau kecewa, dia juga minta maaf karena tidak bisa menemani saat ujian kelulusanku. Tidak masalah bagiku, yang penting do’a dan perhatiannya selalu menyertaiku. Aku berjanji saat selesai lulusan nanti menyempatkan diri mampir ke Jakarta mengunjunginya.

Kini waktunya konsentrasi buat diriku sendiri, kusiapkan semua bahan-bahan yang diperlukan dalam bertempur besok harinya. Firmnato mengajak aku tidur di rumahnya untuk belajar bersama, aku setuju saja karena banyak ransom di rumahnya yang baru ditempati. Orang tuanya tidak di situ karena masih menempati rumah yang lama, jadi aku sekalian menemaninya di rumah baru (lumayanlah karena kostku juga sudah habis sebulan kemaren belum di perpanjang). Menjelang tengah malam rombongan datang bermobil-mobil, turun berpakaian lengkap siap dugem. Payahnya Firmanto tidak membantuku untuk menolak ajakan mereka, jadi akupun goyah menahan hasrat yang sempat lama kuatahan. Walhasil kami berdua bukannya belajar malah berangkat dugem bersama mereka. Aku berusaha untuk tidak minum sejak lama, apalgi malam ini. Jadi hanya bergelas-gelas bir saja dopingku malam ini, begitu juga Firmanto. Asik memang berada dalam kesenangan semu ini, hingga jam 3 pagi pun terasa masih sore. Sisa tawa dan kesenangan masih terbawa masuk kedalam rumah saat kami pulang menjelang adzan subuh, bukan main tak satu lembarpun kami buka bahan-bahan yang sudah semangat dikumpulkan kemaren. Firmanto langsung masuk kamar tak tahan kantuknya, diriku masih berusaha membuka walau hanya satu buku. Namun saat satu lembar buku terbuka, berbalik arah dengan mataku yang sudah rapat tertutup walau aku masih duduk di sofa depan tv.

Kurasakan ada cahaya terang menggelitik mataku, “Ya ampun sudah jam berapa ini?!” kulihat jam di dinding. “Gila! Sudah jam setengah 8!!” dadaku seperti terbetot keluar, “FIRRR!!” kuteriak sekencangnya membangunkan. “A..aapa sih, teriak-teriak?!” tampak wajah kucel yang kesal menjawabku, “kita ujian nasional sekarang! Mulainya jam setengah 8!” ku tarik-tarik badannya yang seperti menempel dikasur. “Hahh…iya Dhi, aslei aku kelupaan!” dengan polosnya dia menjawab dan berusaha untuk duduk, “sekarang sudah jam berapa?” masih menggosok-gook matanya. “JAM SETENGAH 8!!” kuberteriak sambil berlari menuju tasku untuk mengambil seragam dan perlengkapan ujian, “cepat Fir, nggak usah mandi!” langsung pakai seragam aja!” aku sangat panic dan gusar dalam keadaan ini. Firmanto tak banyak komentar dan mengikuti perintahku dengan masih sedikit terhuyung-huyung, “Dhi, pensil sama penghapusku dimana ya?” konyol pertanyaannya bagiku pagi ini, “aduuh…mana kutahu, udah pakai ini aja!” kupatahkan pensilku yang sudah separuh jadi dua dan kemudian meraut sekenanya dengan pisau dapur.

Entah apa ocehan orang-orang dijalan melihat motor kami yang melaju bagai setan di jalananan. Sampai di gerbang parkir sekolahan suasana sudah sangat sepi, suara motor kami sangat terdengar jelas raungannya. Aku langsung berlari menuju ruang ujianku, disambut pengawas ujian yang terheran-heran melihat tampangku yang masih tak karuan karean jangan kata mandi, sisiran aja nggak sempat. Kulihat Santi yang yang duduk di samping kananku menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan yang jelas kecewa. Maaf Sant, aku sudah tak bisa menghiraukan masalah seperti itu dulu. Kutenangkan dudukku dulu sekalian mengumpulkan semua kesadaranku yang masih tercerai-berai, kukeluarkan pensil da kartu ujianku dari kantong…sialan! Penghapusku malah tertinggal karena ngurusin pensilnya Firmanto. Sudahlah, masih bisa pinjam pikirku, kumulai membaca soal yang penuh dengan angka dan huruf serta garis tak beraturan dalam pengelihatanku sekarang. Kucoba focus, namun malah semakin bingung harus menjawab apa. Akhirnya kulihat jam tangan yang jarumnya terus melaju tanpa ampun, keputusanku kian bulat untuk mengisi lembar jawaban dengan pilihan “b” semua. Konyol benar aku pagi ini (sebenarnya sudah sejak kemaren malam) benar-benar kulakukan kegilaan ini, entah apa hasilnya. Kuselesaikan tepat waktu berakhirnya jam ujian, aku keluar dengan perasaan kosong melompong di dada ini. Kesadaraanku yang berangsur pulih seutuhnya malah mendatangkan penyesalan yang luar biasa, Santi langsung menghampiriku yang terduduk lesu di lantai teras kelas. “Kamu begadang belajarnya Dhi?” pelan Santi menegurku, “i..iya Sant” semakin kacau perasaanku karena harus berbohong di depan Santi. “Tapi tadi bisa jawabkan?!” Santi ternyata masih tetap seperti dulu perhatiannya, “sebagian sih San” kujawab ragu tanyanya. “Yah lumayanlah, karean aku dan yang lainnya juga cuma bisa jawab sebagian yang pasti benarnya” Santi coba menghiburku walau terilhat sedikit tak percaya denganku, “loh kupikir cuma aku yang tak bisa jawab karena kurang konsentrasi” mulai sedikit terang hatiku mendegar keterangan Santi. “Ya sudah sekarang mending kamu pulang tidur dulu, jadi sore sudah bisa mulai belajar” Santi mengusap kepalaku seperti dulu (ingin kudekap tangannya namun tertahan), “makasih ya Sant, kamu masih tetap perhatian sama aku” hangat mejalari mataku. “Dari dulu kayaknya aku nggak berubah Dhi, kamunya aja yang menjauh sejak sama Diah” terdengar menyentak di telingaku sindiran Santi, “maaf kalau aku berubah banyak Sant, aku hanya berusaha menjaga perasaan Dimas saja” kukeluarkan unek-unek yang sudah lam terkubur. “Terserahlah, yang penting aku nggak akan berubah ke kamu Dhi! Aku pulang duluan ya” di usapnya sekali lagi kepalaku dan sedikit jepitan di hidungku.

Kulihat Firmanto tersender terpejam di kursi parkiran, kudatangi dia “Fir, ayo pulang!” kutarik tangannya yang tetap loyo karena ngantuk berat. Samapi di rumah Firmanto aku langsung beres-beres dan pamit pulang pada makhluk yang setengah sadar ini. Aku kapok akan kejadian hari ini, yang leboh mengerikan lagi ini adalah masa penentuan semua proses belajarku selama 3 tahun di Jogja, banyak liku dan hambatan didalamnya. Sesampai di kost aku mandi dan berusaha untuk tidak tidur, aku berharap bias ikut sholat zuhur berjema’ah hari ini. Sudah sangat lama rasanya aku tak ikut sholat berjema’ah di mesjih sebelah kostku, ini semua karena aku sempat sangat liar dengan kebebasan ditambah kesepian hati sejak berjauhan dengan Diah.

Adzan zuhur akhirnya berkumandang, aku yang sudah setengah tertidur duduk di dekat pintu bergegas bangkit dan mengucek serta menyisir rambut. Air wudhu lumayan menyegarkan mata dan wajahku, siang ini mesjid sangat sepi yang hanya di isi oleh 6 jama’ah tambah 1 imam. Selesai sholat aku tak langsung pulang, kusenderkan badanku di tiang dan terpejam. Kantukku luar biasa, akhirnya aku tertidur sambil duduk menyender tiang. Kulihat dua orang yang sangat kukenal, bapak dan ibuku melambai dari jauh padaku sambil tersenyum. Kubalas lamabaian mereka dan berteriak “aku pasti lulus ma’!” suaraku lumayan kencang rupanya. “Mas Adhi, mas Adhi…, bangun!” ada suara membangunkanku, “ee…eeh…di…di..mana ini? Ooh…Pak Soleh, maaf pak saya ketiduran di mesjid ya?!” sudah gaharu bertanya pula diriku. “Waduh, kayaknya ngantuk berat ya? Kebanyakan begadang buat belajar ya” Pak Soleh geleng-geleng melihatku, “eh..iya Pak, enak juga tidur di mesjid ya Pak!” tanpa sengaja celotehanku keluar sambil sedikit mengolet. “Kalau memang senang tidur disini, mending sekalian kamu belajarnya disini aja mas Adhi” Pak Soleh mengijinkan aku belajar di mesjih yang di jaganya, “wah…benar pak, bagus juga kalau boleh ikut belajar disini, tenang dan…kalau ketiduran ada yang bangunin” kembali garuk-garuk kepalaku yang sudah lama agak kulupakan. “Hem…bisa aja mas Adhi ini, yah silahkan ambil perlengkapan belajarnya bawa kesini, saya mau ke ruang takmir dulu, assalamu’alaikum!” Pak Soleh menepuk pundakku dan berlalu, “wa’alaikumu salam” aku juga langsung berdiri untuk segera mengambil buku-bukuku di kost.

Mimpi di siang bolong katanya cuma kembang mimpi, tapi bagiku itu teguran yang sangat berarti. Jelas ini peringatan bagiku yang sudah lalai dalam menjalankan amanah dari orang tuaku, aku sudah menghilangkan satu kesempatan mendapatkan poin dalam ujianku hari ini. Semoga sisa ujian ini bisa kugenjot menopang nilai ujianku hari ini yang sangat tidak jelas kemungkinannya, setidaknya mata pelajaran yang jadi momok sudah kulewatkan begitu saja tanpa beban sama sekali. Sisa mata pelajaran ujian adalah hapalan, ini sedikit menguntungkan bagiku yang lumayan kuat dalam menghafal. Aku di ijinkan belajar sampai malam hari di mesjid oleh Pak Soleh, dan beliau mengajak sekalian aja ikut sholat tahajud berjema’ah malam ini. Aku sangat tersanjung mendapat ajakan yang sungguh jarang (mungkin belum pernah) kutemui dalam hidup sampai saat ini. Dalam renunganku setelah selesai sholat tahajud, aku merasa Allah masih sangat saying padaku…padahal aku sudah terlalu banyak mengkhianatinya, tak terasa dua bulir air mengalir dari kedua sudut mataku saat menyandarkan kepalaku di tembok mesjid.

Hari ini aku berangkat ujian dengan mantap dan sudah sarapan pula, Santi melihat wajahku yang cerah pagi inipun tersenyum menyambutku. Tapi masih ada sedikit keisengan saat aku tak bisa menjawab beberapa soal yang aku benar-benar lupa, kujawab semua yang aku lupa dengan memilih “b” seperti kemaren (dari pada nggak keisi sama sekali). Ujian kali ini jauh lebih baik dari pada kemaren, aku keluar ruangan dengan wajah tetap cerah saat mendekati Santi yang sudah ada di luar ruangan duluan. “Sehat pagi ini kelihatannya, gimana tadi Dhi? Bisa semua kan?!” Santi penasaran dengan wajahku yang pd sekali, “yup…pastinya Sant, belajarnya aja dalam mesjid!” sombong diriku dengan pengalaman baru ini. “Waduh..yang bener Dhi, nggak dimarahin takmirnya apa?” Santi tak yakin karena aku terlalu sering ngebanyol di depannya, “lah yang nyuruh juga Pak soleh takmirnya mesjid Sant" semoga dia bisa percaya kali ini. “Yah…terserahlah Dhi, yang penting kamu sudah bisa fokus lagi sama ujiannya” Santi kelas tak ingin berpanjang lebarkan debat ini, “o ya, gimana kabar Diah Dhi?” tiba-tiba pertanyaan Santi sedikit mengganggu hariku. “Mmm..baik, jalani kuliah dengan semangat bersama teman-teman baru” tak kuasa aku menyiratkan perasaanku dalam kalimat ini, “baguslah…., tapi kenapa nada ngomongnya datar gitu sih?!” umpan mulai di pasang Santi di kail untuk memancing di air keruh. “Mmm..nggak ah, mungkin tadi pas agak cekat tenggorokkan ku” pasang gaya cool diriku menjawabnya, “jadi curiga neh” Santi semakin merangsek saja. Seakan dia ingin sekali tahu kalau aku dan Diah sudah tidak akur lagi, padahal kalau dia juga tidak mempertahankan hubungannya dengan Dimas pasti aku akan dengan senang hati meretakkan hubunganku dengan Diah yang memang sudah semakin renggang oleh jarak dan rasa. “Curiga apaan sih Sant, kamu gimana sama Dimas? Lancar-lancar ajakan?” kubalik aja keadaan biar bisa gentian ngorek-ngorek, “ya…gitu deh..” kini giliran Santi yang memberikan sinyal janggal dalam jawabannya. “Tuh…kamu jawabnya juga datar gitu nadanya!” kubalas dengan pernyataan yang sama dengannya tadi. “Yah…nggak anehkan, lagian kamu juga kenal sama Dimas, orangnya kadang bikin kesel dengan gaya soknya yang sering kambuh” akhirnya Santi duluan yang membeberkan krikil dalam hubungan mereka, “tapi dia tetap orang yang baik Sant, aku senang kamu bisa dapat dia” coba aku menasehatinya seakan aku tetap mendukung dia dengan Dimas. “Terimakasih Dhi, semoga kamu dan Diah juga bisa lebih baik dari kami” suara Santi jelas sangat terdengar kecewa dengan sikapku ini. “Semoga Sant, tapi…tetap aja dia jauh di mata” ingin juga rasanya aku cerita kekesalan ku terhadap Diah pada Santi, “terus maunya gimana lagi Dhi?!” Santi coba menangkap omonganku. “Ya iya sih…kenyataannya harus begini…., kalau saja Dimas ngijinkan aku untuk jalan sama kamu sehari aja San” akhirnya bocor juga hasrat hatiku. “Lah emang kenapa ngak ngijinkan Dhi, Dimas juga pernah ku minta waktu awal pacaran dulu untuk tidak melarang kalau aku lagi pengen jalan sama kamu” Santi tiba-tiba semangat menjelaskan padaku, “yang bener Sant? Tapi apa tanggapan Dimas?!” jadi deg-degan dengernya nih. “Ya ok aja katanya, karena dia percaya kamu Dhi!” Santi semakin mantap meyakinkanku, “kalau gitu, ntar aku yang pamit sama Dimas biar ngijinin aku ngajak kamu makan untuk curhat setelah ujian selesai, gimana?” aku test aja kebenerannya sekalian. “Nggak usah ijin-ijinan sih, kayak apa aja. Kita langsung jalan aja, aku juga lama nggak ngerasain traktiranmu Dhi!” Santi tersenyum manja bak dulu kagi. Kami pun berpisah di parkiran dan ternyata Santi memang pulang sendiri dengan motornya tanpa ada Dimas terlihat di sekitarnya menemani, jadi semakin besar penasaranku akan mereka.

Malam ini semangat belajarku meningkat tajam, entah kenapa? Apakah karena mengetahui hubungan Santi juga sedang tak nyaman seperti aku sekarang dengan Diah? Entahlah, yang penting sekarang semangatku mulai menyala lagi seperti awal aku datang ke Jogja pertama kali. Memang aneh dan lucu sekali rasanya ceritaku dan Santi ini ari dulu, pacaran nggak mau tapi begitu sama-sama kena masalah langsung saling kangen. Tak tahulah sekarang mana sebenarnya yang bisa di sebut cinta, aku ke Diah atau aku ke Santi, yang jelas rasa aku ke Santi sangat beda tidak seperti rasa terhadap wanita yang kuidam-idamkan, tapi lebih kepada perasaan butuh dan perlu.

Ujian nasional yang menegangkan dan ditunggu-tunggu selama 3 tahun ini pun berakhir. Masih ada waktu seminggu kosong hari sekolah kami menunggu hasil ujian, saat inilah aku dan Santi menyempatkan diri mengulang hari-hari yang bahagia di Magelang seperti dulu lagi, santi beralasan pada Dimas dia di suruh pulang ke Magelang sama buliknya, padahal kami berangkat berdua kesana untuk napak tilas perjalanan kisah kasih berdua, tapi kali ini menaiki motorku. Jelas Bulik dan Pakliknya Santi sangat terkejut akan kedatangan kami berdua yang telah lama tak ada ceritanya. Masih seperti dulu, aku menjadi sasaran iseng pakliknya Santi dan yang sekarang lebih keras karena aku diangapnya telah sempat menelantarkan Santi. Saat kutanya Santi apakah Dimas sudah pernah diajak kesini selama mereka berpacaran, ternyata belum pernah sama sekali karena Santi nggak yakin dengan sifat Dimas yang sedikit sombong itu sanggup menghadapi pakliknya yang luarbiasa isengnya. Ada sedikit rasa terkembang dihidungku saat mendengar pernyataan Diah ini, berarti aku masih punya peluang kalau memang nanti aku harus mengambil kebijakan tegas terhadap hubunganku dan Diah.

                                                                                                              Kelulusan

Kami bermalam di magelang selama 2 hari, walau kami masih menelpon pacar masing-masing dengan tanpa rasa bersalah. Bagiku mungkin aku yang paling diuntungkan dari kondisi sekarang, sebab biasanya sehabis menelpon Diah yang semakin dingin dalam berbicara denganku, aku langsung bt sendiri. Tapi kini biar Diah mau nge bt-in seperti apa juga nggak ngefek lagi karena aku sudah bisa menghibur dan memanjakan hatiku pada wanita lebih perhatian dan sayang padaku. Kalau kupikir-pikir memang goblok diriku ini, hampir seluruh masa SMU ku habiskan untuk mengejar Diah, eh..setelah dapat cuma sampai segini aja rasanya. Padahal seandainya dulu aku tegas memilih Santi aja langsung mungkin tak sekonyol ini cerita cintaku. Tapi sudahlah, semua sudah terjadi! Yang penting sekarang aku bisa menyiapkan hati bersama-sama Santi untuk melihat hasil ujian kami Senin depan ini.

Pemandangan wajah-wajah seperti ini mengingatkanku saat pertama kali masuk kesekolahan dulu. Tegang, ceria, acuh tak acuh….semua rasa bercampur baur hari ini, Santi datang dengan buliknya dan diriku masih menunggu kedatangan ibu kostku yang tetap setia menjadi waliku setiap mengambil hasil belajarku di sekolah. Aku kenalkan ibu kost ku dan buliknya Santi dan…ibunya Dimas juga yang kebetulan baru datang bersama Dimas dan langsung menghampiri kami. Kini tinggal kami para murid pelaku ujian menanti tenang hampir tak ada yang ngobrol. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, apalagi di tambah tangan Dimas yang terus memegang tangan Santi. Beberapa kali kulihat Santi menoleh padaku, kusambut dengan senyuman seadanya sebagai tanda aku tak masalah dengan pemandangan dari mereka berdua itu. Sesekali kucoba menelpon Diah yang hanya di jawab oleh operator, dan ini malah menambah perbendaharaan rasaku. Apalagi waktu aku dan Santi coba menelpon wali kelas untuk menayakan apakah kami lulus, beliau meberitahukanku untuk introspeksi diriku sendiri saja. Hal ini membuat Santi sangat cemas, apalagi diriku yang mengalaminya. Santi tetap berusaha membangkitkan keyakinanku, begitu juga bulik dan pakliknya.

Pintu kelas terbuka, satu persatu para orang tua dan wali murid berkeluaran dari kelas. Berbagai ekspresi terlihat dari wajah mereka, sangat sulit untuk menebak hasil dari wajah mereka. Apalagi saat kulihat wajah ibu kostku yang tetap biasa tanpa ekspresi, kudatangi beliau dengan agak ragu. “Kenapa Dhi, kok takut? Kamu lulus kok!” seakan tak merasakan keteganganku beliau memberitahukan pun tanpa banyak ekspresi, “iya bu?! Alhamdulillah..!!!” kusujudkan kepalaku dengan kakiku yang memang bergetar dari tadi. “Ini surat tanda lulusnya ya Dhi, selamat dan cepat kamu kabari orang tuamu biar mereka bisa lega. Sekarang ibu pulang duluan ya, cucian ibu masih banyak di rumah!” ibu kost tersenyum irit dan mengusap kepalaku, “oh iya…pasti bu, terimakasih banyak buy a!” kutundukkan kepalaku untuk mencium tangannya (harus baik-baik donk, kan kost-kostan masih belum ku bayar). Langsung ku kabari orang tuaku yang terdengar sangat senang sekali dan memburu ingin tahu berapa nilaiku, tapi baru besok bisa melihat nilanya saat kami harus cap jari di ijazah. Mereka berjanji akan mengadakan acara syukuran saat aku pulang nanti, yah memang begitulah adatnya disana. Kini kucoba kabari Diah dan lagi-lagi tak menyala hp-nya, sudah tak ku gubris lagi Diah mau apa sekarang terserah dia saja. Lebih baik aku menghubungi mba’ Ninda yang jelas paling banyak berjasa padaku, bukan main tanggpan mba’ Ninda yang langsung memintaku berangkat hari ini juga ke Jakarta, terpaksa aku tolak karena masih banyak masalah administrasi yang harus diselesaikan sebelum kami benar-benar bisa meninggalkan sekolah tercinta ini.

Ritual standar kelulusan anak SMU berlangsung di sekolahan setelah kami keluar dari gerbang sekolah. Lewat tengah hari konvoi di jalan kami berakhir dengan membubarkan diri masing-masing, akupun langsung pulang kekost sendirian karena Santi tadi tak mau kuajak konvoi sebab harus memenuhi undangan makan siang ibunya Dimas di rumah mereka. Yah nasib…di hari pentingku ini malah sendirian, aku mandi dan segera menuju mesjid untuk sholat zuhur sendirian. Aku berharap bisa bertemu Pak Soleh untuk menyampaikan kabar gembira ini, tapi inipun tak bisa. Pak Soleh hari ini ada undangan dari takmir mesjid lain, jadi aku menggantikannya adzan ashar sore ini atas permintaan pak RT yang datang saat akan sholat ashar. Sampai menjelang tangah malam masih kucoba menelpon Diah, benar-benar terlalu anak ini. Apa dia benar-benar lupa kalau hari ini aku pengumuman kelulusan. Kesal tak berujung membuatku tertidur dengan wajah yang manyun.

Hari ini saat mencap jari ijazah kelulusanku, kutarik nafas dalam saat akan menjalankan motorku keluar dari kost menuju sekolahan. Rupanya sudah banyak yang datang lebih pagi dari aku, halaman dan lobbi sekolahan penuh dengan orang. Kulihat ada yang berloncat-loncat dengan mengibar-ngibarkan ijazahnya dan ada juga yang hanya duduk menatapi angka-angka nilai mereka. Aku semakin gelisah saat mengantri di ruang tata usaha untuk mencapkan jari dan mengambil nilai hasil ujian. Kupejamkan mata saat sudah berada di depan petugas TU yang sudah menyiapkan Ijazahku, kulihat dengan menggunakan sebelah mata deretan angka-angka nilaku saat tanganku masih tertempel di atas fotoku. Alhamdulillah…aku masuk rata-rata 7, kulihat kembali dengan kedua mata agar lebih pasti terutama nilai matematika yang sudah kupasrahkan akan hasilnya. Ternyata malah nilai matematikaku yang membantuku mencapai rata-rata 7, aku mendapatkan nilai 6,9 untuk matematika. Sungguh tak bisa di percaya bila di ingat bagaimana aku menjawab ujian matematika kemaren. Kini pantas bagi diriku untuk berteriak dan berloncat kegirangan, kucari-cari Santi untuk mengabarkan berita heboh ini.

Aku cari ke lobbi depan tak ada, kucari ke halaman tak ada…coba aku lari ke kantin dekat mushola. Ternyata Santi duduk sambil minum ditemani buliknya, “SAAANT…!” berlari aku menghampirinya dan mengibar-ngibarkan ijazahku, “gimana Dhi, berapa nilai mu?” Santi tampak tak kalah semangat menyambutku. “Gila…aku aja nggak percaya Sant, nih lihat!” langsung kugelar nilaiku didepan Santi dan buliknya dengan gagah dan bangga. “Waaah….kok bisa Dhi?!” tampak wajahnya kurang respek saat melihat nilaiku, “jangankan kamu Sant, aku aja nggak percaya! Lihat nilaimu Sant” gentian aku ingin melihatnya sebagai pembanding. “Nggak usahlah Dhi, aku kalah dari kamu” Santi berat nampaknya meperlihatkan nilainya padaku, “aahh mana mungkin Sant, sini aku pengen lihat sih” aku bergerak menjejerinya (mumpung Dimas belum kelihatan). “Nggak usahku bilang, aku Cuma rata-rata 6 Dhi!” sambil menjauhkan wajahnya dariku, “ok, setidaknya biar aku lihat Sant!” aku berkeras karena masih merasa tak percaya dengan Santi. “Nih Dhi, kamu boleh bangga atas prestasimu Dhi!” buliknya Diah menengahi keadaan ini dengan mengeluarkan ijazah yang di simpankan olehnya, “loh bulik….” Santi tertahan karena sangat kesal sama buliknya yang membantuku. “Tuh 6,9 kan Cuma beda tipis sama aku Sant!” aku coba membesarkan hatinya, “lagian kamu tahukan aku juga cuma beruntung, seandainya hari pertama kemaren aku nggak jawab “b” semua mungkin akan jauh di bawahmu” aku jadi malu sendiri karena nilai ini tak sepenuhnya karena prestasiku, lebih bisa di bilang keberuntungan. “Nggak Dhi, kamu nggak beruntung…tapi kamu memang pantas mendapatkannya” Santi berusaha membesarkan hatinya sendiri dengan bersikap lebih bijak terhadapku, “sudahlah…yang penting kita sama-sama lulus dengan baik dan semoga bisa dapat kampus yang baik buat kuliah kita nanti” kurasa tak ada habisnya membahas masalah nilai ini. “Kita jadi jalankan San?!” ku alihkan pembicaraan kepada hal yeng lebih menyenangkan, “nanti ya Dhi, aku ketemu Dimas dulu…aku belum tahu rencana dia setelah dari sekolahan ini” Santi tamapk bertambah lesu saat kutanyakan hal ini. “Baiklah, aku siap-siap menunggu kabarmu di kost dengan sabar kok” kucoba terlihat tak kecewa dengan kejadian ini, “jangan bt ya Dhi, bukannya batalin sih” Santi tetap bisa merasakan perubahan di hatiku. “Ya enggaklah, santai aja lagi!” wajah bohongku mulai terbentuk, “tapi aku akan nelpon secepatnya kalau Dimas nggak jadi nganterin bulik ke Magelang” Santi keceplosan rencana yang sebenarnya tak ingin diceritakan padaku. “Ooo…jadilah pasti kalau Dimas sudah janji gitu Sant” ketebalkan kekuatan di hati, “nggak juga Dhi, masalahnya itu kan pengennya ibunya bukan pengennya Dimas!” rupanya Santi menyimpan keraguan ini tadi. Aku terdiam mendengar penjelasan Santi, aku bisa merasakan kekecewaan Santi akan sikap Dimas yang dianggapnya kurang menghargai buliknya. “Ok, jadi nggak jadi aku juga tetap di kost kok Sant” aku coba buru-buru meenjauh karena melihat Dimas keluar dari pintu kantor guru, “duluan ya Sant, bulik saya pulang dulu nggih!” kusalami buliknya dan kucium tangannya seperti biasanya. “Ya makasih ya Dhi, kamu nyusul aja ke Magelang kalau nanti Santi jadi nganter saya pulang” basa-basi buliknya yang cukup menarik untuk di ikuti, “nggih lihat sikonnya nanti bulik, pamit nggih…assalamu’alaikum” kutatap dalam Santi sebelum membalikkan badan.

Aku sudah tak berharap banyak kalau Santi tak jadi ke Magelang, tapi karena buliknya mengundangku kesana jadi bisa tetap bisa bersama Santi dan lebih bebas bergerak disana tanpa harus takut ketemu Dimas dijalan. Saat ingin kucoba telepon Diah lagi tapi kubatalkan karena tak ingin merusak persaan senangku hari ini, aku kabari ke Kalimantan aja tentang nilaiku pasti akan jadi tambah senang hatiku dan syukur-syukur dapat bonus duit dari mereka. Ternyata memang bertambah senang hatiku mendengar reaksi mereka setelah mendengar beritaku, sayang tidak ada tambahan bonus duit sebagai hadiahnya. Anak-anak kost ku minta makan-makan untuk merayakan kelulusanku, setidaknya ada juga yang menemani kebahagiaanku kali ini.

Santi jadi pulang ke Magelang, setelah selang satu hari dari keberangkatannya, aku bilang padanya akan menyusul kesana. Santi sangat senang mendengar hal itu dan ada yang sangat ingin di sampaikan padaku, enath hal apa itu. Aku berangkat habis sholat subuh, berharap bisa pagi-pagi sekali sudah sampai di Magelang supaya masih sempat ke pakliknya sebelum berangkat kerja (mau sombong didepannya tentang nilaiku).

Kupacu kencang motorku dan tiba di Magelang jam 7 lewat-lewat dikitlah, kulihat mobil si Komandan masih parkir. “Assalamu’alaikum!!” aku sedikit berteriak saat turun dari motor dan menuju pintu depan, “wa’alaikummusalam” tak kalah bsar suara yang menjawab. “Pagi om, belum berangkta nih” basa-basi sebelum nyombong di depannya, “saya memang sengaja nungguin kamu baru berangkat” tampangnya dibuat seangker mungkin. Aku jadi salah persepsi sendiri, karena aku piker ini masalah Santi dan Dimas yang jadi terganggu karena aku. “Waduh…jadi malu nih om1” kugaruk-garuk kepalaku mengimutkan diri, “selamat ya Dhi…nggak nyangka tampang kayak kamu bisa ngalahkan ponakannku nilainya” ditepuk-tepuknya pundakku (mungkin di matanya aku mirip paku). “Terimakasih om…itu karena saya harus menyelesaikan misi dari orang tua dengan baik!” mulai coba bergaya di depannya, “bagus…boleh bangga kamu kali ini, tapi….beri saya push up 100x karena sudah bergaya di depan saya” bentakkan cukup kuat kali ini. “Aduh om ampun, cuma becanda” tetap aja posisi push up langsung kuambil, “whaa..ha..hitung Nduuk, jangan sampai kurang hitungannya ya! Saya berangkat dulu!” setelah puas ngisengin aku lagi dia berangkat.

Pagi ini Santi mengajakku ke Borobudur lagi, memang sejak waktu itu kami berdua belum pernah ke Borobudur lagi. Berangkatlah kami sebelum matahari menjadi lebih tinggi, tak perlu waktu lama untuk sampai ke candi karena kami berangkatnya dari Magelang. Tapi kali ini kami tidak menaiki candi, tapi hanya ingin nebeng nongkrong di taman halaman candi yang asri dan sejuk. “Dhi…aku putus sama Dimas kemaren!’ tanpa basa-basi membuka pembicaraan, “apa..? kok semudah itu kalian mutuskan hubungan” aku jadi kaget bukan kepalang. “Bukan semudah itu Dhi, aku dan Dimas sudah lama membicarakan hal ini” Santi bingung memulai penjelasannya, “boleh tahu apa masalahnya?” terasa ada yang meremas-remas dalam dadaku mendengar kabar buruk ini (ehm). “Dimas di minta ayahnya kuliah di London Dhi” tampak sendu wajah Santi, “lah terus kenapa harus putus?!” aku coba korek lebih detil masalah pokoknya. “Kamu sendiri sudah merasakan pacaran jarak jauh kan Dhi!” hanya itu jawaban Santi, namun sangat lebih dari cukup untuk membuatku faham, “bukannya aku nyindir-nyindir masalah kamu Dhi, tapi masalahkupun akan nggak jauh beda kalau masih meneruskan hubungan ini!” Santi menambah jelaskan keadaanya. “Iya San…aku bisa ngerti keadaamu, yang beda propinsi aja kayak gini jadinya…apalagi beda negara!” aku jadi tak bisa banyak memberikan masukkan padanya untuk mempertahankan hubungan mereka. “Yah..memang nggak jodohnya Dhi, tapi aku santai aja..kan masih ada kamu yang pasti setia!” Santi mengerling jahil padaku, “he..he…bagus juga, nasib-nasib jadi ban serep!” aku toel gemas hidungnya. “Lah, emangnya aku juga nggak jadi ban serepnya kamu sama Diah?!” Santi membalas dengan betotan yang cukup keras di hidungku.

Dua anak manusia yang saling membohongi hati ini bercanda melepaskan rindu hati, entah bagaimana nasib mereka kedepan….semoga masih ada jalan bahagia buat mereka berdua di fase kehidupan berikutnya. Adhi kembali lagi ke Jawa meneruskan kuliahnya…entah di Surabaya atau tetap di Jogja.