Ksatria Goblok (part 3)

                                                                     DIAH

Minggu pagi sekarang, sang lelaki gagah telah siap didalam kamar dengan senyuman dan sedikit tarian. Tak lama kemudian deru mesin berhenti didepan kost, kuberlari menghampiri karena memang ternyata Diah yang sudah datang dengan senyum dan wangi parfumnya. Kukunci pintu kamar dan langsung menaiki motor Diah yang sudah siap duduk dibelakang dengan kedua tangan menancap dipinggangku. Terlihat dua anak muda ini sangat bersemangat dan bergembira, kami melintasi jalanan yang cukup ramai dan padat. Namun menjelang memasuki daerah menuju candi boko kami disuguhi pemandangan sawah perkotaan, kemudian berubah menjadi sedikit ekstrim saat memasuki jalan satu-satunya ke areal candi boko.

Udara sangat segar terhirup hidungku, Diah mengajakku langsung menaiki anak tangga menuju candi yang belum terlihat. Sesampai di komplek candi, aku terperangah oleh pemandangan yang sangat eksoktik. Borobudur boleh megah, tapi menurut rasa seni alakadarku memberikan candi Boko nilai jauh lebih akan sensasi dengan bentuk-bentuk bangunan candi yang lebih kuno (sepanjang yang kuketahui tentang candi).

“Gimana dhi? Bagus nggak?” diah membuka pembicaraan kala melihatku yang sangat takjub,

“Keren! Keren banget Dei!” hanya ini kalimat yang bisa kuucapkan.

“Yuk, kita naik ke atas sana! Aku pernah sekali kesini dan melihat candi Prambanan dari atas sana” Diah menggandeng tanganku menunjukkan arahnya.

Areal candi masih sangat sepi dan boleh di bilang hampir hening, karena masih pagi hanya ada kami dan beberapa orang turis jepang bersama seorang gaet.

Sebuah pondokkan kecil sekedar tempat bernaung untuk menikmati pemandangan dari atas bukit areal candi Boko ini, candi Prambanan tampak kecil dan menawan dari atas sini. Jaman purba yang tetap angkuh berwibawa di jaman moderen, itu yang tergambar di benaku.

“Gimana kalau kita nongkrong disini aja Dhi?” diah telah duduk dipagar semen pendek pondokkan,

“boleh dei, enak disni” kuikut duduk disamping Diah.

“Oh iya Dei, ada yang lupa nih!” kurogoh saku kananku dan mengeluarkan kotak kecil yang cukup mengganjal dicelana,

“apaan ini Dhi?!” Diah sedikit tersentak melihat kejutan di pagi hari. “Tenang bukan hadiah, hanya sedikit promosi untuk dagangan baruku!” memang susah untuk berbicara lebih romantis dengan Diah,

“dagangan?” Diah pelan-pelan membuka kotak kecil itu.

“Yang bener ini buatku dhi?!” matanya terbelalak melihat kalung berliontin pink,

“iya, kan nggak ada label harganya Dei!” kusedikit bercanda untuk menghilangkan rasa grogi dan takut kalau kalungnya nggak diterima.

“Waah…maksih banyak ya Dhi! Tapi ini hadiah….” Diah kembali sedikit ragu karena ingin tahu maksud dibalik hadiah ini,

“promosi Dei, kalau nggak anggap aja oleh-olehku dari kampung” kutegaskan keraguan dihatinya.

“promosi dirimu Dhi?!” Diah meliriku sedikit tersenyum menggoda.

“Bukan..bukan seperti itu! Anggap rasa terimakasihku untuk pertemanan dan…..” perbendaharaan kataku seakan kosong melihat diah terus menatap mataku tajam,

“perasaanmu…?” Diah iseng atau berharap akan terusan kalimatku.

“Iya, perasaan terimakasih..he..he” kenapa jadi begini arah pembicaraannya,

“bisa aja kamu ini Dhi” sambil mencoba memasang kalung kelehernya.

“Boleh kubantu, bonus pelayanan untuk konsumen” peluang sedikit romatis dengan Diah, Diah membiarkan aku mengambil alih kalung untuk kupasangkan.

Kalung itu kini bertengger indah di leher dengan liontin berada di tengah atas dadanya, rasa hati ini benar-benar bergelora melihat Diah memakai kalung pemberianku.

“Sayang kalau kesekolahan nggak bisa dipakai” Diah seperti bergumam sendiri,

“ya lagian kan percuma kalau dibawa kesekolah kalau ketutup jilbab” kutahu maksud hatinya.

“Tapi aku nggak bawa oleh-oleh apa-apa dari Blitar dhi buat kamu” Diah kini merasa kurang enak padaku.

“Lah oleh-olehnya kan cerita tentang liburanmu Dei!” kuingatkan tujuan utama perjalanan kami kesini.

“Itu sih bukan oleh-oleh, tapi…” kini wajah Diah berubah murung.

“Cerita apa sih? Dari kemaren kalau inget Blitar kamu langsung lesu begitu Dei?!” aku tak kuasa lagi menyimpan penasaranku,

“sebenarnya tak seharusnya aku cerita ke kamu Dhi, cuma bikin kamu ikut-ikutan pusing nantinya” bahasa Diah makin berbelit-belit membuat hatiku ikut terbelit juga.

“Sudahlah Dei, biasanya aku juga sering cerita tentang dirikukan, apa salahnya sekarang aku dengerin ceritamu, siapa tahu aku bisa bantu!” kudesak sekalian biar buruan cerita,

“ini…masalah keluarga…dan…juga pribadiku” tersendat-sendat bicara Diah.

“Emm, kalau kamu merasa malu untuk ceritanya nggak apa-apa, tapi aku janji nggak akan cerita siapa-siapa kok” aku kembali meyakinkan Diah betapa aku ingin menolongnya.

“Ya kalau itu sih aku percaya kamu dhi, masalahnya aku bingung mau mulai ceritanya” sungguh berat terlihat murung di wajah Diah sekarang.

“Ok, begini….orang tuaku minta aku dan masku segera bertunangan!” kembali Diah menarik nafas,

“terus…” kini nafasku yang mulai sedikit memburu.

“Terus…masku masih belum siap untuk itu katanya dan…” cairan bening kini tergenang di kedua matanya,

“….masku memilih putuskan hubungan kalau orang tuaku terus mendesak untuk bertunangan” akhirnya genangan air mata itu menetes juga.

“masmu umurnya berapa dei? Udah kerja?” tak kuasa menahan tumpukkan pertanyaan di hatiku.

“27 umurnya dan baru kerja di Jakarta awal tahun ini” malah semakin deras tetesan dipipinya,

“emang sudah waktunya untuk nikah sih, tapi kenapa nggak mau tunangan ya? Mungkin masmu maunya langsung kawin Dei!” kucoba berpendapat.

“Tunangan aja dia nggak siap Dhi, apalagi nikah! Aku sempat bilang ke dia begitu, aku minta kawinin sekalian tapi….” Kini tissue ditempelkan di kedua matanya.

“Sudahlah dei, nanti dulu aja ceritanya. Kalau kamu ingin lampiasin rasa sedih kesalmu silahkan nangis dulu sepuasmu dan kalau perlu pengen nonjok, tonjok aja aku sebagai sasaran” kini sang kesataria ini pasang badan yang dia bisa untuk menunjukkan rasa sayangnya,

“kamu ni dhi, aku lagi sedih nih jangan disuruh ketawa dulu donk” tawa kecil dalam senggukan tangisnya.

Butuh sekitar 20 menit diah menghabiskan persediaan airmatanya hari ini, kutunggu dengan hati yang semakin kecil teriris kenyataan dari kekhawatiranku.

“Termakasih dhi, paling tidak sudah sedikit berkurang beban didadaku” Diah sudah mulai tenang hatinya,

“mungkin itu salah satu dari khasiat kalung itu Dei” kuhibur untuk mempercepat proses kepulihan hatinya.

“Dasar, baru mau jadi pedagang aja sudah lamis” tawa Diah sudah makin lebar sekarang,

“lamis? Perasaan aku mandinya pakai sabun Dei bukan minyak ikan” baru ini aku dengar isitilah itu.

“Lamis bukan amis! Lamis itu mulut manis kayak pedagang gitulah” kegalakkan yang semakin menunjukkan kalau kondisinya semakin membaik.

“Kamu ini memang ajaib Dhi, baru kali ini aku curhat dengan orang yang tanggapannya nggak sok tahu, walau sedikit dongkol dengar gombalmu tapi itu cukup efektif menghibur hati” mulai panjang lebar celotehnya.

He..hehe..tapi kayaknya kamu manis kalau pendiem kayak tadi Dei” candaku sudah makin berani seperti bicara dengan Santi.

“Sbuuk…ternyata kamu lebih jahat dari masku ya” Diah memukul lenganku dan mencubit,

“bercanda Dei…bercanda!” kumencoba menghalangi cubitannya.

“Tadi perasaan aku dengar ada yang rela ditonjokin sebagai sasaran” Diah terus meningkatkan usahanya, mungkin sekalian pelampiasan yang malu-malu ngelakuinnya,

“itukan tadi, waktu kamu belum sembuh Dei” kuberdiri dan mundur sedikit menjauh dari Diah. Kami berdua terlibat kucing-kucingan di pondokkan yang sepi pagi ini.

“Sembuh? Memannya aku sakit apa, sini mumpung lagi butuh pelampiasan nih” suasana kini sangat cair dan meriah, terlupa akan curhatnya setelah diah dan aku lelah kucing-kucingan kami terduduk dengan sedikit ngos-ngosan sambil terus tertawa dan saling senggol sekenanya.

“Haus juga Dhi, kamu sih pakai lari-lari segala” diantara sengal nafas Diah minta air,

“iya, sebentar aku beli minum ke bawah” langsung aku berdiri untuk beli minum.

“Ngapain, nih aku bawa minum!” mengambil tasnya dan mengeluarkan dua kaleng softdrink,

“rantangnya nggak sekalian dikeluarkan Dei” kusambut kaleng dari tangannya dan sedikit keisengan.

“Benar-benar, kamu sekarang kok nggak culun kayak dulu lagi sih dhi? Tapi baguslah, biar aku nggak bingung ngelihatnya” sambil mengusap kepalaku.

“Masih culun kok mba’!” setelah basah tenggrokkanku kuteruskan isengku,

“heei…itu bukan diculun-culunnin, tapi kurang ajar!” kini pipiku yang kena jepit.

“Aduh..nyerah! nggak iseng lagi dei” sambil kutarik pipiku dan mengusapnya,

“Kapok nggak?” diah menatapku tajam namun tersenyum,

“kapok sekarang, nggak tahu besok” aku benar-benar enjoy sekarang bersama Diah.

“Besok aku bawa tang, biar kecabut sekalin tuh kulit!” tak kusangka cantik-cantik candanya anarkis,

“woooit…sadis amat! Mm…pantesan!” hampir kukeceplosan.

“Pantesan apa?” Diah mengangkat kaleng minumnya keatas kepalaku,

“Pantesan…..cantik” duh, keluar juga apa yang kutahan selama ini.

“Sialan…” Diah menarik kaleng dari kepalaku dan meminumnya,

“bilang cantik aja di maki, apa lagi bilang….” Terhentiku karena sadar akan arah pembicaraan yang sudah agak menjurus.

“Sudah, jangan mulai lagi! Kita jalan lihat-lihat lokasi yang lain yuk” Diah juga sepertinya faham untuk tidak meneruskan pembicaraan seperti ini.

Kami kembali menelusuri komplek candi yang masih cukup luas, dan matahari mulai meninggi menyinari lokasi candi. Setelah puas melihat semua situs candi yang masih tersisa, perut kamipun meminta haknya pagi ini. Ada tempat makan di areal parkir candi dengan pemandangan kota jogja di bawahnya. Hampir 2 jam kami menghabiskan waktu di tempat makan sambil menghilangkan rasa lelah, menjelang sore pengunjung candi semakin ramai. Masih terlalu lama untuk menunggu sunset terlihat, kembali kekota menjadi keputusan bersama.

“Dhi, kamu mau langsung pulang apa mau mampir kekostku sebentar? Aku masih nyimpan sedikit oleh-oleh makanan kecil di kostku!” Diah memberikan alternatife tujuan nongkrong,

“boleh, kalau nggak ngerepotin sih” akhirnya aku bisa main kekostnya Diah.

Melintasi jalan kota Jogja disore hari, akhirnya kami sampai di kost Diah. “Dhi, aku boleh lihat daganganmu nggak?” dengan oleh-oleh makanan ditangan diah menghampiriku di ruang tamu kostnya,

“boleh, sekalian bantuin nempelin harga barang yang belum selesai” dengan senang hati kuterima permintaannya.

Diah berganti baju setelah mandi sore ini, diriku masih dengan manis menunggu di ruang tamu dengan badan sedikit gerah.

“Yuk, berangkat! Sekalian nanti makan malamnya ayam bakar yah” ternyata ada buntutnya permintaan diah ini,

“ok lah, siap laksanakan tuan puteri” mimpiku kemaren hampir menjadi nyata.

Sampai di kost aku masukkan motor Diah kedalam, saat membuka pintu baru kuingat kalau beberapa foto bersama Santi di borobudur masih terpajang di tembok kamarku, belum lagi album yang tergeletak di samping kasur.

“Sebentar Dei, aku beresin sedikit dulu kamarnya” aku coba mendahului Diah dan menahannya di luar,

“halah nggak apa-apa Dhi, sekalian kubantuinm ngerapihin sini!” Diah merangsek masuk kedalam kamar.

“Eiit..nggak usah Dei, malu nih kamarku kotor sekali” beruntung tadi masuk cepat kusambar dua bingkai foto ditembok dan album foto yang ada dilantai.

Berpura-pura terus sibuk membenahi beberapa kertas yang berserakan, ku masukkan foto-foto tadi kedalam plastik baju kotor.

“Nah, sorry ya kamarnya cuma kayak gini” setelah merasa aman aku hadapi Diah,

“nggak heran dhi, makanya kamu nyari pacar biar ada yang bantuin ngurusin kamu!” tanpa canggung Diah duduk didekat kotak besar daganganku, begitu juga bicaranya.

Yah..Dei, pacar?!. Temenan sama kamu aja sudah ngerepotin kamu kalau mau kemana-mana!” maaf San, untuk sementara kamu bergaul dengan baju kotorku di plastik,

“Kok gitu sih, aku yang temen aja nggak masalah, apa lagi kalau pacarmu dhi! Makanya cari cewek yang baik” sambil santai melihat-lihat isi kotak daganganku.

“Ngapain repot cari cewek baik lagi, kan sudah ada yang jagain aku sekarang!” sambil kuambil baju dan celana untuk ganti,

“siapa? Aku maksudmu, memang aku ibumu apa, jagain kamu” sedikit menahan sipu diwajahnya.

“Ntar Dei, aku mandi sebentar kamu lihat-lihat dulu, tuh daftar harganya di buku yang ada pulpennya” kutinggalkan Diah sebentar untuk menghilangkan gerah dan meningkatkan pd-ku.

Diah asik melihat-lihat barang-barang yang akan didagangkan Adhi, membolak-balik daftar harga. Saat memembuka lembaran buku agak kebelakang Diah melihat selembar kertas menyembul keluar dari sela-sela kertas buku. Kemudian menariknya perlahan dan mencoba memperhatikan apa yang tertulis di atasnya.

“Lah, bukannya lihat-lihat dagangan malah lihat coretan isengku!” aku masuk sedikit kaget karena aku lupa mengembalikan puisi itu kedalam bundelnya,

“ini kamu yang nulis Dhi? Diah menunjukkan selembar puisi itu padaku.

“Iya, iseng aja! Kan aku kalau nggak bisa tidur suka nulis-nulis puisi biar ngantuk dei!” berusaha untuk santai agar tidak terlihat gugupku,

“boleh aku minta puisi yang ini?” tak kusangka Diah tertarik dengan coretan hatiku.

“Boleh aja, kalau mau masih ada satu bendel tuh didalam kardus bawah meja!” kutunjuk sekalian tempat sarang puisiku,

“banyak kamu nulisnya Dhi?” Diah sigap mengambil kotak hiburanku,

“ya dari smp kelas 2 aku sudah suka nulis-nulis begitu, kamu doyan puisi juga Dei?” kini aku yang merasa ada tempat untuk berbagi ilmu tentang puisi.

“Nggak juga sih, cuman tadi pas aku baca yang ini kok asik aja sama bahasanya” Diah ternyata tertarik dengan kisah dalam puisi “Dua Matahariku”,

“asik sama bahasanya apa sama ceritanya? Kalau mau pesan juga bisa, nanti kutulisin sesuai pesanan puisinya!” tahu nggak sih Dei, itu memang puisi ada karenamu.

“Kamu lagi kejar setoran ya Dhi, apa-apa dibisnisin” Diah jadi manyun dengar celotehku,

“bukan begitu Dei, mumpung ada yang senang sama puisi juga” kukumpulin duit itu buat membiayai usahaku padamu Dei (dalam hati).

“Sudah ah, ngomong-ngomong ini dagangan mau kamu jual kemana?” Diah mengembalikan topik pembahasan utama,

“ya mungkin kucoba dulu di sekolah sama temen-temen cewek, kalau kamu mau bisa ikut jualin! Nanti harganya aku kurangi biar kamu bisa ambil untung Dei” lupakan masalah perasaan bila keuntungan didepan mata.

“Boleh juga, ntar coba kubawa kekost dulu, kayaknya anak-anak kost juga banyak yang suka kalau modelnya kayak begini” Diah terlihat bersemangat dengan ideku,

“seep, tulis aja mana yang mau kamu bawa Dei, ntar harganya aku kurangi!” nggak salah aku mengagumi dara cantik ini.

“Ya pedagangnyalah yang nulis, masak aku yang nulis!” Diah mulai bermanja karena asik memilih barang-barang yang ingin di bawanya,

“siap bos, apa sih yang nggak buat kamu Dei” kuambil selembar kertas serta pulpen dan duduk disebelahnya.

Ternyata ini kegiatan yang membuat kami sangat cocok sekali, berhitung, bercanda dan bermesra dengan mencoba memasangkan beberapa aksesoris yang disukai diah.

                                                        Aku Adhi Berdagang

Tak kusangka keadaan kepepet telah membuatku terpaksa meningkatkan penghasilan yang ternyata cukup lumayan untuk awalan penghasilan. Diah yang membantuku memasarkan pun sangat girang dengan hasil yang di dapatnya. Diriku kini mulai berbagi waktu untuk belajar, bermain dan cari duit. Santi terkadang mengingatkanku dan coba membantu, namun terpaksa kutolak dengan alasan tak ingin merepotkannya, cukup dia merasakan hasil daganganku.

Hingga hari ujian kenaikkan kelas tiba membuatku aku dan Diah sepakat untuk menghentikan sementara kegiatan jual beli kami demi konsentrasi pada ujian. Kegiatankupun beralih seperti saat ujian sebelumnya, hampir setiap hari mendekam di kamar kost Santi untuk belajar. Aku sangat berterimakasih juga dengan Santi, seandainya dia tidak begitu perhatian mungkin aku sudah banyak tetinggal pelajaran. Apa lagi semenjak berdagang aku jadi agak jarang ikut kegiatan anak-anak kelas, karena lebih asik mengikuti arisan ibu-ibu dari temanku atau pengajian mereka (maklum lahan basah).

Hasil ujian telah masuk ke dalam raport kami masing-masnig, saat aku menemui ibu kost yang merangkap menjadi wali murid bagiku.

“Mas Adhi, jangan keseringan main sama pacaran ya! Ini rapornya memenag nggak ada yang merah dan kamu naik kelas, tapi rangkingnya 22!” ibu kost yang menceramahiku setelah keluar dari kelas untuk mengambilkan raport,

“iya bu maaf, saya sudah berusaha sebisanya!” aku sangat malu melihat kenyataan hasil belajarku didepan ibu kost.

“Ya sudah, saya pulang duluan ya!” ibu kost langsung pulang karena memang masih banyak pekerjaan di rumahnya,

“terimakasih banyak bu sudah mengambilkan raport saya” aku salami dan mencium tangannya.

“Dhi, kamu rangking berapa?” Santi berteriak dari arah belakangku,

“San!” kagetku bukan karena Santi, tapi aku lihat tante Santi yang ada disebelahnya,

“Mas Adhi, gimana kabarnya? Naik kelaskan?!” suara keibuan itu lama tak kudengar.

“Naik tante” singkat dan sedikit lesu jawabanku, “rangking berapa dhi? Aku rangking 4 kalah sama Dita, dia rangking 2!” Santi begitu bersemangat akan persaingannya dengan Dita.

“Aku…aku…nggak ada rangking San!” tak sanggup kuucapkan jumlah angka rangkingku,

“coba ku lihat raportmu, paling karena beda-beda komanya aja sama yang rangking Dhi” Santi berusaha mengambil raportku, namun sedikit kutahan karena khawatir akan reaksi Santi dan tantenya nanti.

“Sini ah, kayak sama siapa aja sih!” akhirnya rapor berpindah ketangan Santi,

“ya ampun dhi, kitakan sama-sama belajar! Kenapa kamu bisa jauh banget sih rangkingnya” akhirnya kekhawatiranku menjadi kenyataan,

“maaf San, mungkin aku nggak konsen pas di ruang ujian” aku sebenarnya sedikit banyak masih kepikiran daganganku yang mandek.

“Nggak konsen, jangan-jangan kamu kalau malem ikut begadang sama anak-anak kostmu ya?” Santi sedih dan kesal melihat teman belajar dan orang yang disayanginya begini,

“nggak San, biasanya aku habis pulang dari kostmu aku tidur, biar bisa bangun pagi” sedikit kebohongan dariku.

“Terserah lah dhi, yang jelas sekarang kamu rangking 22, ya setidaknya naik kelas. Aku tadi sekalian mau pamit, karena aku mau langsung berangkat ke Manado” Santi mengembalikan raportku dan memberikan tangannya untuk bersalaman.

“Ke Manado, kok nggak bilang kemaren San?” aku jadi tambah melongok dengar keterangannya,

“aku juga tahunya tadi malam, aku ikut om ku yang kebetulan besok ada tugas ke Manado, terus ibuku minta sekalian aku diajak!” terlihat Santi sangat ceria akan kabar ini,

“oh, baguslah…akirnya kamu bisa liburan bareng orangtuamu San” lesu yang semakin bertambah di wajahku.

“Mending kamu pulang juga Dhi, dari pada di Jogja bengong berbulan-bulan!” Santi tahu keadaanku yang bakal kesepian tanpanya (padahal aku sih banyak acara dengan anak kostku), “nggak apa-apa San, aku pengen jalan-jalan keliling jawa pakai bis aja lah” kujawab sendu namun cukup lega melihat kecerian Santi. “Ya sudah, aku pamit ya dach” jepitan cukup lama di hidungku sebagai sangu liburan yang cukup lama juga, “mas Adhi, main-main lagi ke Magelang, saya pamit juga ya” tante Santi tak ketinggalan mengucapkan perpisahan, “oh..nggih bulik!” sambil kusalami dan kucium tangannya.

Kini tinggalku sendiri terduduk lesu didepan pos satpam, aku bingung mau pulang masih terlalu pagi, Arif dan anak-anak kelas lain langsung pulang bersama orangtua dan wali mereka masing-masing. “Dhi, kamu belum pulang? Nih kenalin masku yang di Jakarta!’ suara Diah tiba-tiba membuyarkan lamunanku, “eh..Adhi mas” kutatap wajah lelaki itu saat menyalaminya, “Pram!…Pramudya!” suara yang ditegas-tegasin dan sok berwibawa dengan mengencangkan jabatannya ditanganku. Kulihat ada dua orang tua di belakang mereka berdua, mungkin ini orang tuanya Diah, “Pak..Bu, ini Adhi yang kubilang ngajarin aku dagang!” Diah mengenalkan juga kedua orang tuanya, Kusalami dengan sedikit menunduk tertahan, hampir kucium juga karena dari tadi aku kebiasaan mencium tangan orang tua. “Wah, masih muda udah rajin cari duit ya masnya” suara bapaknya Diah cukup bersahaja, “ngg…nggak juga pak, kalau nggak kepepet juga nggak kepikiran cari duit” sedikit canggung untuk berbicara dengan orang tua bidadariku ini. “Yah, saya juga terimakasih mas, jadi Diah bisa liburan tanpa minta duit sama saya!” kembali bapaknya Diah berucap, “liburan kemana kamu…Yah?” hampir kuucap nama sandi miliku untuk Diah. “Emm…ke Jakarta, sekalian nganter ibu mau jenguk adiknya yang di Jakarta” terlihat Diah juga sedikit kaget mendegar aku memanggilnya, namun Diah tidak komplain untuk saat ini, “kamu jadi keliling jawa dhi?” tak ada rasa kasihan padaku bidadari ini. “Mungkin jadi, lihat-lihat keadaan” kini pikiranku hampir macet melihat kenyataan didepan mataku ini. “Ayo de’, nanti terlambat sampai ke stasiun” sang lelaki yang sok gagah itu berusaha menyudahi pertemuan ini, “o iya, aku pamit sekalian ya dhi, makasih bantuin aku dapatin duit saku he..he…dah” tak tampak wajah sendunya dulu waktu di Boko, dan pergilah mereka dengan senyum yang tiba-tiba jadi sangat menjijikkan bagiku.

Hampir 2 minggu aku hanya dikost-kostan, paling-paling juga keluar makan atau ikut para orang tua itu kekampusnya untuk mengisi liburan ini. Aku ingin pergi jalan-jalan keliling pulau Jawa, tapi kalau dipikir-pikir sayang duit hasil daganganku bila kupakai nggak karuan. Padahal sampai sekarang masih mandek daganganku sejak menjelang ujian dulu. Ingin kumulai lagi tapi masih liburan, semua link ku pergi berlibur. Mungkin aku harus mencari link baru di luar teman-teman sekolahku. Kemana ya? Minta bantuan anak kost…bahaya! Bukan untung, duitnya habis buat party nanti. Jalan sendiri, repot juga aku nggak punya kendaraan, yah..berdo’a saja semoga ada petunjuk datang seperti biasanya.

Adzan subuh berkumandang, aku sudah terbangun setengah jam lalu. Kuikuti kultum dan berpikir, berdoa minta petunjuk kemana aku menjual daganganku kembali. Mungkin karena perut belum terisi membuat ilham jadi susah masuk dibenakku, gudeg si mbok depan gang kayaknya cukup nendang buat sarapan. Hari ini aku pilih duduk dan ikut makan di warung si mbok, siapa tahu ada tetangga atau pelanggan si mbok yang bisa kujadikan mangsa. Perut kenyang belum satu pun orang yang cukup prospek buat daganganku, lebih baik balik ke kost mencari wangsit di kasur saja ah.

Kulihat ada motor parkir didepan kost, saat ku masuk ke kost “hei Adhi, kamu kok nggak mudik? Betah di Jogja ya” mba’ Ninda rupanya tamu pagi ini, “nggak mba’, tanggung duitnya kalau mau pulang, lagian daganganku masih banyak belum kejual!” tanpa sadar aku promosi didepan mba’ Ninda. “Loh kamu dagang apa? Bukan ganjakan?!” dengan gayanya yang sedikit tomboy mba’ Ninda menggodaku, “bukanlah, oh ya mba’ Ninda belum pernah lihat dagangan perhiasanku kan? Ayo tak lihatin” tak boleh kusia-siakan kesempatan pagi ini. “Wah nggak nyangka, masih sma sudah canggih cari duit, nggak kayak mereka-mereka itu tuh” sambil menunjuk kang Asep yang baru keluar dari kamar mandi dan mas Rahmat yang berlari merebut masuk duluan sebelum mas Kadek masuk, “kita kan tinggal nunggu jatah preman aja Nin!” kang Asep menjawab sekenanya, karena memang lumayan telak kayaknya.

“Ini semua asli dari Kalimantan Dhi? Bagus-bagus loh” mba’ Ninda langsung tertarik, mungkin setelah melihat daftar harganya yang memang kuseting harga yang biasanya aku jual ke Diah, “kalau mba’ mau bisa bawa dulu, nanti kukasih notanya. Itu harga distributor mba’! kalau langsung konsumen biasanya aku segini” sambil kukeluarkan berkas-berkas notaku, “faseh banget bibirmu Dhi jualannya!” mba’ Ninda menanggapiku setengah hati karena semakin sibuk membongkar isi kotak daganganku. “Gimana lagi mba’, kalau penjual anteng nggak akan ada yang beli nanti” sedikit membesar dadaku di depan mba’ Ninda yang selalu perhatian padaku kalau ketemu, “mending kamu aja yang ikut aku ke kampus buat jualan” tiba-tiba mba’ Ninda menawarkan bantuan padaku. “Wah, nggak berani mba’, kampuskan nggak boleh buat jualan” jelas aku menolak karena belum tahu wawasan di dunia kampus, “siapa bilang, temenku aja sering bawa dagangan baju dan sepatunya ke kampus” sambil terus matanya memperhatikan setiap perhiasan yang di ambilnya. “Kalau gitu boleh deh mba’, dari pada liburanku nggak ada kerjaan” akhirnya do’a ku terkabul, “sekarang aja Dhi! Nungguin Asep lama, kamu bisa bawa motorkan?” malah mba’ Ninda yang begitu semangat untuk berjualan, “Mmm…ntar mba’, aku harus membereskannya dulu! Nanti mba’ Ninda tetap dapat bagian dari selisih harga distributor dengan harga jualnya” tak kulupakan penjelasan perjanjian di depan supaya mba’ Ninda tambah semangat bantuin aku di kampus nanti. “nggak usah Dhi, aku seneng bisa bantuin ade’ ku ini dapet duit” si tomboy ini ternyata sangat penyayang. “Ini bukan masalah butuh nggak butuh duit mba’, tapi ini masalah etika dagang. Bagiku ini prinsip mba’ Nin” kutegaskan sekali lagi bahwa aku berusaha untuk lebih professional dalam menjalankan usahaku, “boleh…boleh….nggak nyangka seumur kamu bisa mikir begini. Terserah kamu sajalah, aku sih jadi tambah seneng aja kalau gitu” mba’ Ninda tak membantah lagi. Setelah semua barang rapih dan siap diangkut, kami berangkat duluan ke kampus kang Asep yang orangnya masih santai di kamar.

Aku berdandan layaknya mahasiswa supaya lebih membaur di kampus, apa lagi aku berjalan bersama mba’ Ninda yang kuperhatikan sejak masuk kedalam kampus tadi membuat para lelaki yang melihatnya sedikit repot karena harus memiringkan bahkan menolehkan kepalanya saat melihat mba’ Ninda. Aku di ajak mba’ Ninda masuk kekantin kampus dan dipesankan jus alpukat, “kita duduk disini aja dhi, nanti biar para pelanggan yang berdatangan!” arahan yang sangat mantab dan optimis. Langsung mba’ Ninda mengeluarkan hp-nya dan ..”hallo..ibu-ibu pkk, temui aku di kantin ada dagangan bagus nih. Kutunggu segera ya!” pantesan akrab sama kang Asep, kayaknya mba’ Ninda ini ketua para cewek-cewek dikampusnya.

Tak sampai 15 menit rombongan model kampus berdatangan ke kantin. Bukan main pemandangan di kantin pagi ini, bisa-bisa lupa keinginanku untuk berdagang melihat wanita-wanita cantik ini. “Pagi bu..!” satu-persatu mereka duduk memenuhi meja kami, “dan terpaksa aku duduk diantara mereka. “Dagangan apa sih, kayaknya heboh banget..?” satu orang yang tampak nggak sabar mencoba membuka tasku, “lihat aja dulu, nanti biar ade’ku yang jelaskan semuanya! Mba’ Nin yang duduk disebelah kananku menepuk bahu kiriku. “Ade’? saudaramu dari mana Nin, apa baru nih..?!” cewek yang duduk didepanku malah memperhatikanku dengan seksama, “ade’ kostnya Asep!” mba’ Ninda menjawab sambil terus membantu menggelar dagangan. “Ooo…yang dulu pernah ikut nonton musik ya?” cewek sebelah kiriku menoleh dan bertanya padaku, “iya mba’!” kujawab singkat untuk menutupi rasa minderku didepan mereka. “Kukira tadi Ninda dapat berondong” cewek yang duduk di pojok mengomenatri, “beneran Sar, kalau dapat berondong kayak gini. Pinter nyari duit sama nggak aneh-aneh kayak abang-abangnya di kost!” Ninda menjawab canda temannya santai.

Ritual dagang berlangsung cukup lama, karena para wanita ini hampir mencobakan semua dagangan di badan mereka masing-masing. Akupun semakin asik dengan rapalan pemasaranku yang sudah mulai penuh dengan canda keisenganku, apa lagi saat pelanggan semakin bertambah berdatangan dari pengunjung kantin yang tertarik dengan pasar kaget di kantin mereka. Terselip angan-angan dibenakku seandainya aku sudah jadi anak kuliahan sekarang, mungkin ingin kupacari semua mba’-mba ini. Wajarkan, mereka anak kuliahan sudah lihai dalam berdandan, berbeda banget dengan anak sekolahan yang masih culun walaupun berdandan ala mereka ini.

Hampir tengah hari setelah merapihkan dagangan yang sudah berkurang hampir separuhnya. “Mba’ Nin, makasih banyak ya sudah bantuin jualin daganganku” disela merapihkan dagangan, “sama-sama Dhi, akukan juga kebagian banyak nih” mba’ Ninda yang kebagian menulis dan menghitung menunjukkan hasil penjualan kami hari ini. “Kayaknya besok-besok lebih banyak jualan di kampus aja mba’ dari pada di pengajiannya ibu-ibu temanku” hari ini aku diberi petunjuk daerah pemasarna yang bagus, “emang di ibu-ibu pengajian lakunya sedikit Dhi” mba’ Ninda coba membandingkan. “Banyak juga mba’, tapi banyak yang kredit juga. Jadi harus ekstra kerjanya buat nagih cicilan” kukancingkan tas daganganku. “Loh disana kamu kreditin ya ini semua? Repot loh dhi kalau nanti ada yang susah ditagih!” dengan style mahasiswa mba’ Ninda menguliahiku, “he..he..sudah kejadian mba’, tapi aku sudah siapkan strategi buat itu kok!” mba’ Ninda boleh anak kuliahan, akukan pedagang keliling. “Trus gimana nagihnya dhi? Kamu uber terus orangnya?!” gaya santaiku memancing rasa penasarannya. “Ya nggaklah mba’, emangnya aku preman. Aku pakai cara menaikkan harga jualnya yang kuseting sudah untung kalau dicicil sampai 2 atau 3 kali cicil, sisanya kalau mereka susah ngelunasinnya akukan sudah untung. Apa lagi mereka bayar semua, bahagia sekali diriku” kulihat wajah mba’ Ninda yang terbengong mendengar penjelasanku, “dasar, pinter juga kamu Dhi! Walau seidkit kejam naruh harganya” gedek-gedek kepala mba’ Ninda. Kami berdua tertawa dan berdiri meuju parkiran motor untuk kembali ke kost-kostan.

Setelah sampai di kost kutaruh tas dagangan di kamar dan kembali menemani mba’ Ninda yang duduk di kursi depan. Anak-anak kost yang lain masih belum pulang, kutemani mba’ Ninda. “Mba’ masih mau nunggu kang Asep?” kutanya kesibukkannya setelah ini, “nggak, ngapain? Pengen nyantai aja dulu” gayanya yang tomboy sangat enak untuk dilihat. “Mba’ boleh kutraktir makan sama nonton? Kan hari ini aku untung banyak karena mba’ Ninda” kuberanikan diri menawarkan rasa terima kasihku, “baru dapat untug udah dibuang-buang kamu Dhi, akukan sudah dapat bagianku juga” mba’ Ninda menolakku dengan cara halus. “Ini bonus, juga sekalian nyari teman buat ngisi liburan hari ini” tak inginku ditolak permintaanku, “benar juga dhi, aku juga nggak ada acara. Emang kamu mau nonton apa?” akhirnya gayungku bersambut. “Nggak tahu sih mba’, aku yang utamanya pengen makan ice cream depan 21! Enakloh mba’!” wajahkupun tampak meyakinkan saat membayangkan rasanya. “Oalah doyan ice cream tho kamu Dhi, ya sudah tunggu apa lagi? Kita berangkat” mba’ Ninda memang selalu ceria.

Liburan ini memang aku tidak keluar kota, tapi aku cukup bahagia karena ada mba’ Ninda yang menemaniku berdagang dan jalan-jalan kalau dia lagi nggak ada kesibukan. Liburan ini kumaksimalkan waktu untuk berdagang, cukup untuk mengalihkan pikiranku tentang Diah yang sudah tipis untuk kuharapkan. Banyak masukan dari mba’ Ninda setelah aku beranikan untuk curhat padanya, walau banyak digoblok-goblokin karena aku masih belum bisa melupakan Diah. Sebab memang pantas diriku untuk di goblok-goblokan mengharap Diah yang sudah punya orang lain dan memang hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Sedangkan waktu aku curhat masalah Santi, mba’ Ninda mendukung aku untuk lebih memilih jadian sama Santi. Namun sampai detik ini aku belum bisa untuk menaikkan posisi Santi dalam perasaanku untuk menggantikkan posisi Diah. Inilah yang kini menjadi permasalahan dalam hatiku dan juga saat curhat dengan mba’ Ninda, aku beruntung bisa kenal dengan mba’ Ninda yang banyak membantuku dalam proses berpikir lebih dewasa.

Suatu sore di kost-kostan yang sedang ramai oleh semua penghuninya, kemudian ditambah ramai dengan kedatangan mba’ Ninda dengan beberapa orang cewek temannya. “Hai semua, lagi rapat keluarga ya? Tumben sore-sore ngunpul semua” salam sapa mba’Ninda saat memasuki kost, “hai Rinda! Loh Sarah sama Ana juga ikut nih” kang Asep menyambut tamu-tamunya. “Ini siapa Nin? Saudaramu?” kang Asep mendatangi dan menjabat tangan cewek baru itu, “Lusi” lembut suara sang wanita mengenalkan diri, “Asep” dengan gaya yang sok cool kang asep menjawab. “Rahmat!” maju mendahuli mas Kadek yang juga baru berusaha menyalami mba’ Lusi, “wha..ha..ha..mas Rahmat takut kalah start sama mas Kadek ya” tak tahan bibirku untuk tidak mengomentari kelakuan para orang tua ini. “Berisik! Anak kecil masuk kekamar aja sana, ini pembicaraan untuk orang dewasa” mas Rahmat tak ingin kehilangn pamor didepan mba’ Lusi. “Eh..Met, itukan ade’ku jangan macam-macam ya!” mba’ Ninda selalu membantuku, “mentang-mentang relasi bisnis, ‘belain terus!” mas Rahmat kalah omongan dengan mba’ Ninda. “Lus, ini adhi yang kuceritakan kemaren” mba’ Ninda mengenalkanku pada mba’ Lusi, kusalami dan tersenyum pada pemilik wajah sedikit berbau oriental ini. “Dari Banjar kah?” mba’ Lusi langsung menyapaku dengan dialek Banjarmasin, “Inggih Ka’ai! Pian dari Banjar jua kah?” kaget dan senang diriku bertemu dengan orang satu benua. “Kada aku dari kalteng, Palangka!” mba’ Lusi memberitahukan asal daerahnya “Sudah dah, ngomong jorok sebentar lagi” mas Rahmat yang tambah sensi langsung komentar, “ya sudah kita ngomong bahasa Indonesia aja ya Dhi” mba’ Lusi menanggapi komentar mas Rahmat. Aku tertawa girang bisa ngobrol pakai bahasa banjar lagi, pantesan tadi aku tidak asing dengan tampang Ka’ Lusi yang sedikit oriental, ternyata memang orang Kalimantan dan pastinya keturunan dayak.

Pertemuan sore ini ternyata membahas acara jalan-jalan rombongan kang Asep di kampus. Mereka berencana pergi ke Malang dan menyewa sebuah villa di daerah wiasata Batu Malang, aku yang duduk hadir sebagai penggembira ikut didaftar sebagai anggota piknik mereka. Jalan-jalan keluar kota juga diriku akhirnya, dan irit karena aku cuma bayar iuran Rp. 200.000,- untuk akomodasi dan transportasinya. Memang beda acara yang dibuat oleh anak kuliahan sama anak sma, mereka lebih teroganisir dan matang dalam berencana.

                                                             Malang Pertamaku

Dua minggu persiapan sudah berlalu, hari ini saat keberangkatan tiba. Di depan kampus kang Asep telah parkir dua bus wisata yang ukurannya paling besar, para peserta piknik kurang lebih ada 80 orang lebih bergerombol memadati trotoar depan kampus. Pengecekkan akhir sedang dilakukan, kang Asep sebagai ketua panitia jual lagak menyusuri trotoar dan mengabsen para peserta. Bus akhirnya berangkat juga, diriku sudah sangat tidak sabar ingin menikmati perjalan ke daerah Jawa timur yang termasuk dalam agenda saat ingin berlibur sendiri kemaren. Dalam bus aku dalam pengawasan ketat kakakku tercinta mba’ Ninda yang ingin aku duduk disebelah dia, karena aku juga berfungsi sebagai kuli angkutnya. Para pengamen kampus tak membuang waktu untuk memulai hiburan dengan gitar dan ketipung yang mereka bawa, semua penumpang bernyanyi entah di bus satu lagi di depan kami yang berisi para orang tua dari kostku.

Malam lepas isya rombongan bus kami memasuki halaman villa di batu Malang, udara dingin mengalahkan dinginnya AC bus terasa memasuki bus saat pintu dibuka. Kini saatnya aku bertugas kembali mengangkatkan perlengkapan mba’ Ninda dan membawanya kedalam villa. “Dhi, taruh aja di depan kamar, biar nanti aku aja yang masukin” mba’ Ninda meringankanku karena masih sibuk mengatur ruang buat para peserta wanita, akupun bergegas meuju pavilion sebelah tempat para pria “ok, aku kesebelah dulu ya mba’ Nin”. Sangat berbeda pemandangan di pavilion sebelah sini, langsung berantakkan dan penuh dengan manusia yang bergeletakkan tak teratur karena buru-buru ingin meluruskan pinggang. Aku menghampiri mas Rahmat dan mas Kadek, “lah kamu nggak tidur disana sama cewek-cewek?!” sambutan yang cukup hangat dari mas Rahmat. “Pengennya sih mas, sayang kamarnya penuh buat aku bisa tidur berdua sama mba’ Ninda!” kubalas dengan lebih hangat sapanya, “kapok kau Mat, sekarang Adhi sudah jago jawab” bang ucok sangat senang mendengar aku sanggup memanasi mas Rahmat. “Sudah jangan ngobrol disini dulu, masukin semua perlengkapan kalian kedalam kamar yang itu!” kang Asep menyudahi ocehan kelelahan kami, “santai Sep, masih enak nih! Apa lagi denger orang dua ini ngoceh” mas Kadek yang dalam posisi tiduran diatas tas menyahut. “ini biar aku gampang ngaturnya Dek, kan ketahuan siapa yang belum kebagian kamar kalau semua sudah masuk kamar” kang Asep sudah mulai senewen karena kelelahan juga. “Ok..ok…siap bos!” dengan malas-malasan kami membawa tas dan masuk kekamar.

Udara yang dingin dan segar ini membuat kami malah senang bermalas-malasan dalam kamar dengan satu ranjang besar dan dipaksa muat buat kami berempat. Aku yang sudah mandi merasakan kantuk yang luar biasa, tapi mimpi bisa tidur dalam sarang penyamun ini. “Wooii….jauh-jauh liburan cuma buat tidur!” mas Kadek yang ternyata barusan di gangguin bang Ucok membalas mengangguku, “nggak mas, cuma merem sebentar aja”dengan malas kutanggapi gangguannya, tapi akhirnya terpaksa bangun karena bang Ucok juga ikut menggangguku dengan mendekatkan api rokok di telapak kakiku. Walhasil kami semua saling bertahan untuk tidak tertidur, padahal kuyakin kami semua sama-sama ngantuk. Tak lama kemudian hal yang bisa mendamaikan kami datang, “woii ayo keruang makan, sudah siap prasmanannya!” kang Asep menyampaikan kabar yang sangat kami tunggu-tunggu, “yeeaah…akhirnya, MAKAAN!” bang ucok terlihat paling bersemangat, mungkin ini yang bikin dia tadi iseng gangguin orang yang pengen tidur.

Ruang makannya cukup besar, karena memang villa ini sedikit bernuansa eropa. Dan yang buat aku sedikit canggung adalah kostum kami berempat, bisa dibilang salah kostum. Yang ada di ruang makan ini semua dengan dandanan keren, sedang kami dengan seragam tidur sehari-hari. Namun dasar manusia tanpa urat malu, mereka bertiga telah mendahuluiku ke meja makan tanpa risih dengan keadaan sekitar, apalagi bang Ucok yang sudah beringas dengan paha ayam menyumpal dimulutnya. “Dhi, sini!” mba’ Ninda langsung memanggilku saat melihat aku yang masih berdiri bingung tak berani memasuki antrean di sekeliling meja makan, kuhampiri mba’ Ninda dan duduk disebelahnya pas disudut tembok ruangan. “Kamu sudah tidur ya?” mba’ Ninda memandangi tampangku dan melihat penampilanku, “harusnya mba’, tapi tahu sendiri kelakuan orang-orang itu” aku duduk masih dengan sedikit canggung, karena tak lama setelah aku duduk, para wanita banyak yang memilih duduk di dekat rombongan mba’ Ninda. “Udah kalau nggak pd kayak mereka, kamu ganti baju dulu sana!” mba’ Ninda faham akan kegelisahanku, “iya juga sih mba’, kalau mereka itu bukannya pd tapi sakit!” akupun berdiri untuk berganti baju.

Beruntung aku berganti baju, karena acara makan tadi bersambung kepada acara api unggun didepan villa. Mampus para orang tua itu yang masih pakai baju tidur dan celana pendek pikirku. Ternyata salah besar, mereka lebih sakit dari yang kukira, sekarang mereka malah sibuk mengatur api ditengah lapangan kecil depan villa. Lingkaran manusia perlahan mulai terbuat di sekeliling api unggun, gitarpun digenjreng diiringi suara kendang yang cukup besar bentuknya. Riuh tawa dan teriakan mulai mewarnai pekatnya malam berkabut yang bertambah tebal, aku sangat senang bisa menjadi bagian dari mereka. Lupa semua masalah yang menghimpit hatiku akan wanita yang sudah berada dalam pelukan orang lain, dan juga masalah daganganku. Makin malam kabut semakin tebal ditunggangi hawa dingin yang semakin menusuk dan membuat keramaian ini dibubarkan juga, aku memasuki kamar lebih dulu agar bisa ambil posisi yang paling enak.

Pagi menjelang, kulihat tiga orang masih pulas dalam tidurnya yang saling menempel di atas ranjang. Aku sudah rapi dan wangi siap menikmati suasana pagi di luar sana, tak lupa kuselipkan beberapa lembar kertas dari bundel puisiku yang sengaja kubawa di saku belakang celana jinsku dan pulpen pemberian Santi yang mendekam hangat dalam kantung jaket kulitku. Cahaya matahari tampak enggan menembus kabut tipis sisa tadi malam, ada beberapa orang yang juga sudah duluan menikmati suasana pagi ini. Namun tak satupun kaum lelaki yang terlihat ditaman ataupun didalam villa tadi, kecuali diriku yang kini sudah duduk di bangku taman mengahadap pemandangan yang terhampar luas. Puas kunikmati pemandangan, mulai tanganku merogoh saku jinsku dan mengeluarkan pulpen dari sarangnya, kemudian…

Dingin sejuk udara pegunungan

Menyegarkan mendamaikan suasana

Alam raya memuja memuji dalam pagi

Datangnya janji akan takdir hari ini

Salju beku putih menutup bumi

Mati surikan cerita di bawahnya

Hatiku beku diatas bekunya hampa

Mati suri jalani janji takdir tanpanya

Pernah kau panas terangkan hati ini

Berbunga dalam hati bersemi

Pernah kau panas hanguskan hati ini

Mengering retak bertiup debu

Kini kau dingin gelapkan hati ini

Buta sepi tanpa gerak dan ucap

Kini kau dingin bekukan hati ini

Terbujur bangkai dalam do’a

“Dhi, pagi-pagi sudah ngelamun aja!” mba’ Ninda mengagetkanku dan membawa dua cangkir teh, “eh..sudah cantik aja pagi-pagi, bawa teh lagi!” kutaruh kertas dan pulpen berganti mengangkat cangkir dan lepek kecilnya. “Nulis apaan Dhi?” mba’ Ninda mengabil kertas puisiku, “cuma iseng kebiasaan lama mba’! Hiburan terbaikku kalau lagi sendiri” kuseruput teh yang masih mengepul asapnya. “Ini kayaknya kamu masih keingetan cewek itu lagi ya? Percuma piknik kesini Dhi, kalau hati kamu masih kesana-sana juga!” tampak mba’ Ninda sedikit kesal denganku yang masih keingetan Diah, “makanya kutulis puisi biar tersimpannya dikertas bukan dihatiku mba’!” ini memang caraku dari dulu untuk mengurangi beban di hati. “Bisa aja kamu, emang bisa gitu?!” sambil kembali membaca ulang puisiku, mataharipun semakin memaksakan sinarnya mengusir kabut menjauh dari muka bumi.

Hari ini tour dilanjutkan berkeliling obyek wisata yang ada di daerah Malang, seperti air terjun dan taman buah dan bunga. Seandainya Malang tidak jauh dari Jogja, enak bisa main-main kesini bersama teman-teman kelaskku sendiri. Malam hampir tiba, bus kami yang tiba-tiba penuh sesak dengan belanjaan memasuki halaman villa, ingin rasanya segera masuk kamar mandi untuk menyegarkan badan. Namun tugasku belum selesai, belanjaan mba’ Ninda kayaknya paling banyak dari teman-temannya yang lain. “Dhi, buah-buahan aja yang dikeluarkan ya! Itu pot dan beberapa plastik bibit tanaman biarkan saja di bus” kedua tangan mba’ Ninda sudah penuh dengan kantung-kantung plastik kecil, “beres mba’!” kupercepat pekerjaanku. “Ok makasih ya Dhi” paviliun bagian wanita mendadak seperti pasar kaget oleh banyaknya barang belanjaan, “sama-sama mba’, aku langsung kekamar ya, mau mandi!” kuberjalan agak cepat berharap kamar mandi belum terisi orang.

Namun naas bagi pantatku yang sudah tak tahan untuk mengeluarkan muatannya, kamar mandi sudah terkunci dengan bunyi air tersiram terdengar dari dalam. “Siapa ya?” aku tak kuat menunggu lebih lama lagi, “sebentar, kenapa dhi? Kebelet? Nebeng kamar mandi sebelah Dhi!” mas Kadek lebih dulu setor di kamar mandi. Berlari aku mengetuk kamar sebelah dan meminta ijin untuk numpang buang hajat, tak kupedulikan lagi tawa mereka yang melihat tampangku tak karuan.

Waktu makan telah tiba, kali ini para orang tua ini sudah sembuh (mungkin). Mereka berdandan klimis, kalau menurutku sih lebih terlihat najis. Berangkat kami bersama-sama ke ruang makan dengan lebih elegan tidak seperti kemaren, liar! Kang Asep langsung menghampiri mba’ Ninda setelah mengambil jatah makannya, diriku mendapatkan posisi kosong di sebelah mba’ Sarah teman se gank nya mba’ Ninda. “Kok, makannya dikit Dhi? Ntar sakit loh, lagian kan sayang jatah makanmu” mba’ Sarah prihatin yang melihat porsi makanku, “tadi siang udah makan banyak banget waktu mampir di rumah makan!” seandainya mba’ Sarah tahu berapa banyak yang telah kubuang sore tadi. “Ya, kalau ntar malam kelaparan datang aja kekamar, stok rotiku masih belum ke makan banyak!’ mba’ Sarah yang sekamar mba’ Ninda menawarkan pekerjaan menghabiskan ransumnya yang berlebihan, “oo..beres mba’ kalau masalah menghabiskan makanan, di kamarku kan ada 3 iblis lapar! “Wha..ha..ha…benar juga Dhi, ngomong-ngomong mereka mana? Kok dari tadi aku nggak ngelihat ya” kepala mba’ Sarah kemudian menoleh kiri kanan, aku pun jadi ingin melihat mereka juga. Ternyata mereka berdandan tadi bukan karena sembuh, tapi masing-masing lagi usaha menggaet cewek yang dari tadi siang sudah ditempel terus selama wisata. Yang paling lucu tampangnya adalah mas Rahmat, baru ini aku lihat mas Rahmat deketin cewek. Gatal isengku ingin balas godain dia, namun di cegah mba’ Sarah “jangan Dhi, kasihan nanti nggak jadi dapat cewek dia”.

Setelah makan malam adalah acara santai, karena sudah cukup lelah seharian jalan-jalan. Taman villa jadi tempat favorit bagi mereka yang berpasangan, sedangkan teras villa ramai oleh mereka yang tetap mengadakan ritual nyanyi. Kulihat mba’ Ninda asik berkoordinasi dengan kang Asep dan beberpa rekan panitia lainnya, ini kesempatan buat tidur tanpa gangguan pikirku. “Mau kemana kamu?” mba’ Sarah yang baru keluar dari ruang tengah menegurku, “mau kekamar mba’, tidur!” . “Masa jam segini tidur, ayo nongkrong ditaman sambil bikinin aku puisi!” mba’ Sarah langsung menggeret tanganku, “tapi kertas sama pulpennya masih dikamar mba’” aku berusaha ngeles tak ingin terganggu peluang tidurku. “Nih, langsung tulis di hp-ku aja” mba’ Sarah tak ingin aku berdalih, terpaksa ku ikuti inginnya “cari tempat yang agak tenang dan terang ya!”.

Masih ada 2 bangku taman samping villa yang belum diduduki, kupegang hp mba’ Sarah dan mulai mendengarkan bahan-bahan buat puisinya.Tantangan yang jarang kudapatkan, menuliskan puisi dari perasaan milik orang lain. Tak lama berselang, mulai jari-jariku menari di atas tombol-tombol hp mba’ Sarah dan…

Keras bangku batu membatu di taman

Sangat tak nyaman dingin menusuk belulangku

Pilu keluh sedih dan pedas makiku

Kau jawab dengan hening membatu

Tulangmu berlapis daging berbalut kulit

Menjaga menghangatkan gumpalan hati

Dalam rongga dada ruh mu bersarang

Hidup dalam dunia berisikan rasa

Aku yakin engkau masih manusia

Yang lebih keras dari batu

Yang lebih dingin dari salju

Engkau buat diriku menantimu

“Nih mba’ sudah jadi, sebisaku memahami perasaan dari cerita mba’ Sarah” kuserahkan kembali hp kepada pemiliknya, “….sedikit kenalah Dhi, tapi sayang kurang banyak sumpah serapahnya!” mba’ Sarah berucap sedikit bergumam. “Wah kalau yang kayak gitu mba’ Sarah bisa tambahkan sendiri dalam puisi itu, atau bikin baru yang penuh dengan sampah dari hati mba’!” aku jadi agak bergidik melihat wanita yang lagi membenci seorang laki-laki, “betul juga Dhi, aku pengen sekali memaki dan menghajar lelaki ini” mba’ Sarah terlihat sangat berapi-api. “Asal jangan sampai di bunuh aja ya mba’” kusiram sedikit canda padamkan sedikit apinya, “kalau di bunuh jangan donk Dhi, aku nanti gimana kalau dia mati?” kini mba’ Sarah terlihat agak merengek. “Di benci, namun tak ingin dia pergi?!” gumamanku tanpa sadar keluar dari mulut ini, “ya kurang lebihnya begitulah dhi” mba’ Sarah malah menyahut gumamanku. Aku jadi kaget sendiri saat mba’ Sarah yang malah nyambung dengan gumamanku, padahal itu berangkat dari dalam lubuk hatiku sendiri akan cerita nasib cintaku. “Laki-laki yang kayak begitu brengsek ya mba’?” kubertanya untuk meyakinkan hatiku sendiri, “ya iyalah Dhi, tahu nggak sih dia kalau menunggu, berharap tanpa kepastian itu menyakitkan?” segenang air di mata mba’ Sarah mendinginkan mata yang kembali berapi, “maaf mba’ bukan aku mau bikin mba’ Sarah marah” semakin ngeri dan lemes aku melihat kemarahan wanita yang teraniaya penantian ini. “Nggak…nggak…..aku nggak marah sama kamu Dhi, tapi entah kenapa aku jadi bisa plong ngeluarinnya di depan kamu” mba’ Sarah terlihat sedikit malu dan juga lega bisa melepas beban hatinya selama ini, “mungkin kita cerita yang lain aja biar mba’ Sarah nggak sedih dan emosi terus” kucoba tawarkan suasana baru. “Biar aja Dhi….biar seperti ini, aku sudah lama nahan beban ini di hatiku” suaranya sudah mulai lunak, “makasih ya Dhi, sekian banyak aku punya teman dan sahabat, eh…keluar unek-unek aslinya ke kamu” mba’ sarah terlihat tersenyum tak percaya. Sedangkan aku malah terdiam sendiri melihat kenyataan dari wanita yang di gantung harapan akan kejelasan perasaannya. Bagaimana dengan Santi ya, apakah dia seperti mba’ Sarah? Semoga dia seperti apa yang di ucapkannya, bersahabat adalah yang terbaik buat kami berdua.

Berduaan di samping villa bersama mba’ Sarah terus berlanjut, namun kantukku semakin tak tertahan ditambah hati yang ikut teremas-remas kegelisahan. “Mba’ tambah dingin nih, kita kedalam aja yuk!” aku coba bujuk mba’ Sarah yang terlihat diam seakan tak merasakan dinginnya cuaca malam ini, “oya, kamu masuk aja duluan! Aku kayaknya masih pengen disini dulu…nerusin puisimu” mba’ Sarah tersenyum dan kembali asik menatap hp nya.

Didalam kamar belum ada orang, aku langsung ambil posisi untuk tidur. Kini ruang dimensi yang sudah lama tidak kudatangi kukunjungi kembali, namun bidadari itu tak lagi tersenyum dan Santi pun membelakangiku. Aku sendiri seperti tertahan saat akan menyapa mereka, apakah karena aku merasa bersalah? Tapi apa salahku terhadap mereka? Kucoba renungi semua rasa gelisah yang terus bermunculan di hati ini sampai lelap menghentikannya.

Hari ke dua wisata acaranya berenang di Selekta, untung kami datang agak siang, cukup mengurangi dinginnya air kolam yang tetap terasa seperti air es. Berbagai gaya renang ditampilkan di dalam kolam, acara hari ini yang ditunggu para lelaki (termasuk juga diriku). Terlihat mba’ Ninda yang paling eksotis dengan baju renangnya yang kekecilan, mereka yang sudah berpasangan asik bercumbu di setiap sudut kolam. Aku masih menonton dari atas kolam, “ayo Dhi, masak anak Kalimantan nggak bisa berenang” memang mba’ ku yang satu ini, paling tahu cara manasin aku, “Ok, tunggu ya!” aku gerah mendengar ejekan mba’ Ninda langsung lepas baju dan celana panjang dengan menyisakan celana pendekku. Bukan main setelah nyebur aku seperti masuk kedalam kolam es, “gila, dingin kayak gini kok pada betah dalam kolam sih” aku mengutuk-ngutuk menahan dingin. “Makanya langsung gerak biar nggak kedinginan!” mba’ Ninda menghampiriku, “ayo lomba renang sampai ujung sana Dhi” baru selesai beri perintah dia langsung berenang duluan. Belum tahu mba’ Ninda siapa aku ya, mantan atlit porda Kalsel dulunya. Kukejar dengan gaya dada, namun ternyata mba’ Ninda perenang yang handal juga, tak bisa diremehkan kalau sudah begini. Kukebut dan mendahului dekat di sampingnya. Mba’ Ninda pun memacu renangnya, namun tetap aku lah yang menang. “Jago renang juga kamu ya Dhi” dengan nafas nya yang masih memburu, “he..he..aku kan dulu atlit porda mba’!” kali ini sombongku biarkan hadir. “Yang benar Dhi? Pantesan badanmu rada atletis, nggak kayak abang-abang mu yang buncit kebanyakkan molor” mba’ Ninda tertawa, apalagi aku. Kami lanjutkan renang bolak-balik beberapa kali dari ujung satu ke ujung yang lainnya.

“Kamu nggak bawa handuk ya Dhi?” mba’ Ninda yang telah lebih dulu naik ke atas kolam membawakan aku handuk, “o ya, makasih mba’” kuhanduki secepatnya badanku biar tidak beku. Setelah berganti baju aku duduk disebelah mba’ Ninda yang sudah pesan dua nasi goreng. Tadi malam kamu buatkan si Sarah puisi ya Dhi?” disela suapannya mba’ Ninda menanyakan perihal semalam, “iya mba’, habis mba’ Sarah maksa. Tapi setelah mendengar ceritanya aku jadi senang bisa bantuin mba’ Sarah” jadi teringat lagi cerita yang secara tidak langsung menyindirku. “Ya baguslah, masalahnya selama ini Sarah agak tertutup tentang cowoknya yang ini” mba’ Ninda memberikan aku masukan informasi baru, “loh cowoknya yang ini bukan yang pertama tho mba’?” aku berusaha mencari lebih banyak informasi. “Sebenarnya sih yang pertama dan terakhir, tapi banyak selingannya selama di kampus!” matanya melihat ke arah mba’ Sarah yang baru datang dari arah ruang ganti, “oalah, banyak tho cowoknya. Tapi kok….?” belum selesai bicaraku keburu mba’ Sarah sampai. “Duh, mesranya orang dua ini” dengan tanpa basa-basi langsung mengambil sendok mba ‘Ninda dan menyuap sesendok nasi goreng, “iya mesra Sar, tapi aku belum pernah dibikinin puisi sama dia” mata mba’ Ninda melirik dan tersenyum padaku. “O iya ya mba’, nantiku ku buatkan deh! Tentang kakak yang paling sayang padaku” wajah keimut-imutanku muncul kembali, “jangan tentang itu dhi, tapi tentang cintanya yang jauh lebih ruwet dari ceritaku” mba’ Sarah tertawa dan berlalu untuk memesan makanan. Mba’ Ninda terdiam sesaat dan kembali menyuap makanannya, aku jadi ikut terdiam melihat reaksi mba’ Ninda yang jadi agak tegang. “Kenapa? Kok kamu nggak nanya tentang omongan Sarah tadi?” mba’ Ninda menebak kegundahanku setelah mendengar ucapan mba’ Sarah, “nggak berani mba’, itukan masalah pribadi mba’ Nin” ku urungkan niatkan bertanya. “Nantilah, suatu saat aku kamu juga bisa tahu” mba’ Ninda jadi kehilangan selera makannya.

Pulang dari selekta rombongan menyempatkan mampir ke kota Malang. Kembali aku bertugas mengawal mba’ Ninda berbelanja di pusat perbelanjaan dekat alun-alun kota Malang. Bus kami kembali penuh, entah bagaimana saat pulang ke Jogja nanti isi bus ini. “Dhi kamu nggak beliin oleh-oleh buat cewekmu?” mba’ Ninda bertanya saat melintas di stand busana wanita, “enngg…beliin siapa ya?” jadi bingung saat mba’ Ninda bertanya seperti itu. “Berapa banyak sih cewekmu, sampai bingung gitu” godanya semakin menyesakkan dadaku, “Banyak? Satu ajakan belum dapat mba’!” kujelaskan saja adanya. “Yang bener, terus dua orang cewek itu gimana ceritanya?”mba’ Ninda menggodaku “kalau itu sih…’” tak ingin berdebat, apalagi untuk curhat sekarang diriku. “Sudah beliin aja dua-duanya, sini kubantu pilihkan!” mba’ Ninda langsung menghampiri rak baju di sampingnya. “Nggak usah mba’…..nanti aja deh kuceritakan masalahnya” akhirnya aku bicarakan juga kegelisahanku, “waduh, adikku ini di apain lagi sama cewek-cewek itu” sambil senyum-senyum di depan mukaku. “Aduh, udah ah mba’” aku semakin gelisah dan ingin sekali segera menceritakan unek-unekku, “ok, tapi ntar malam cerita ya!” kembali mba’ Ninda meneruskan belanjanya.

Selepas ashar rombongan kami sudah sampai di villa, selesai menaruh barang-barang mba’ Ninda aku kembali kekamar dan langsung tidur, kebetulan para orang tua itu lagi asik dengan pasangan mereka masing-masing. Menjelang maghrib aku terbangun oleh hawa dingin yang sudah mulai menusuk tulang. Kamarku masih sepi tak ada orang, jadi aku bisa mandi dengan tenang. Jaket kulit ku kenakan saat keluar kamar menuju bangku taman tadi malam aku bersama mba’ Sarah. Kucoba menulis puisi saat tenang seperti ini, kukeluarkan peralatan yang sudah kusiapkan, kemudian…

Setengah jam berlalu, hanya kekalutan yang menggumpal di kepalaku. Inspirasiku mungkin jadi beku karena cuaca yang lebih dingin dari hari-hari sebelumnya, atau karena hatiku tak ada gairah. Jam makan malam sudah tiba, aku masih berusaha mencari satu kata saja belum ketemu, lebih baik kumasukkan saja perlengkapan puisi ku ini. “Eh, kok di masukin kantong? Akukan belum baca puisinya Dhi” sekonyong-konyong mba’ Ninda datang mengagetkanku dengan dua piring berisi nasi dengan lauk-pauknya, “loh, kok di bawa kesini mba’?” aku yang kaget juga rasa hangat di dada melihat mba’ Ninda datang. “Biarin, bosen aku makan didalam! Lagian aku lihat kamu dari tadi disini nulis puisi” mba’ Ninda duduk di bangku sebelahku dan meletakkan piring di meja taman. “Mana puisinya Dhi?” setelah duduk langsung menagih janjinya, “waduh belum mba’, dari tadi inspiriasiku buntu” kuangkat piring. “Segitunya, cewek yang mana sih sudah bikin kamu patah hati” mba Ninda juga ikut mengangkat piringnya. “Mungkin setelah makan pikiranku lancar lagi mba’” kualihkan pembicaraan sementara, karena aku juga belum siap untuk mulai cerita dari mana. Kami tertawa sambil terus memindahkan isi piring kedalam perut kami.

“Kuambilkan minum dulu ya mba’” setelah selesai makan tenggorokkan seret, “aku teh panas aja dhi” mba’ Ninda merapikan piring. Kembali aku duduk di sebelah mba’ Ninda setelah mengambil minum, diam tenang menikmati teh panas. “Mba’, kemaren habis pulang bagi raport aku di pamitin Diah ke Jakarta!” kumulai cerita setelah hatiku sedikit tenang, “si Diah pindah ke Jakarta ya?” mba’ Ninda langsung memiringkan badannya antusias. “Nggak mba’, cuma liburan sekalian nemenin ibunya yang mau ke rumah adiknya!” masih terasa muak untuk menyebut tentang lelaki itu, “kamu bt karena liburan nggak bareng Diah?” wajah mba’ Ninda jadi sedikit mengesalkan bagiku. “Ya enggaklah mba’, masalahnya dia pamit liburan sekalian ngenalin aku cowoknya!” kini lepas sudah penahan kesal di hatiku, “oalah, pantesan!” hanya itu yang diucap mba’ Ninda. “Ya, aku kesel karena katanya dia sudah nggak banyak berharap lagi dari cowoknya itu” kekanak-kanakan ku muncul juga karena emosi, “loh, tapi kan mereka memang belum putus dhi, jadi wajar donk kalau si Diah kembali berharap saat cowoknya menanggapi harapannya!” bukannya belain aku malah dukung Diah mba’ Ninda ini. “Ya…iya sih” kugaruk kepalaku sepuasnya, “kan aku sudah bilang Dhi, kamu mending seriusin sama si Santi aja!” mba Ninda mengulangi nasehatnya ini untuk yang kesekian kalinya, “itu sudah ku usahakan mba’, tapi…..” ah, benar-benar susah menerjemahkan rasa dihati ini. ‘Tapi kamu masih berharap Diah lebih memilih kamu, konyol! Kan aku sudah bilang, kalau kamu itu cuma buat pelarian bagi si Diah” kini mba’ Ninda yang lebih emosi dari diriku, “lagian kamu itu nggak mikirin perasaan Santi ya Dhi?! Sakit tahu cewek kalau kamu gantung perasaannya kayak gitu!” benar-benar habis rasanya kesal mba’ Ninda melihatku. “Itu mba’ yang ku baru tahu kenyataannya tadi malam!” kini emosiku berubah jadi rasa sesal dan gelisah, “tahu dari mana? Sarah yang ceramahin kamu ya?!” ada rasa tak terima di suara mba’ Ninda. “Secara nggak langsung sih beitu mba’” aku masih terbayang emosi mba’ Sarah tadi malam, “secara nggak langsung gimana?!” teh panas itu kini diminumnya tanpa ditiup dulu. “Ya waktu mba’ Sarah cerita tentang cowoknya, terus mba’ Sarah marah dan mulai sedikit nangis….” disini kuterhenti, karena bayangan Santi muncul seperti mba’ Sarah tadi malam, “baguslah, sekarang kamu bisa lihat langsungkan Dhi, gimana keadaan cewek yang di gantung perasaannya sama cowok!” mba’ Ninda seakan puas melihat penyesalanku. “Iya mba’, aku benar-benar nggak nyangka akibat ke tidak tegasan cowok si cewek bisa sampai kayak gitu” tertunduk kini diriku terhimpit sesal, “ya itu si Sarah Dhi, tapi kalau si Santi yang kamu bilang sudah mengambil keputusan lebih dulu tentang hubungan kalian, aku salut dan kurasa dia jauh lebih dewasa dari Sarah…apalagi dari kamu!” pedasnya nasehat kumakan bulat-bulat. Diam seribu kata diriku di hadapan tatapan mba’ Ninda, ingin rasanya sekarang menemui Santi dan menjelaskan semua perasaanku padanya. “Gimana, sekarang kamu pengen tegasin perasaan kamu ke Santi?!’ mba’ Ninda seakan berubah jadi paranormal yang bisa baca pikiranku, “mungkin, sekalian aku minta maaf atas ketidak tegasanku selama ini!” ku iyakan sekalian tebakan mba’ Ninda tadi. “Ya jangan gitulah, kamu ini benar-benar tega ya Dhi. Sama aja gantian kamu yang bikin Santi itu tempat pelarianmu!” tak kusangka usaha perbaikkanku malah salah fatal, “terus gimana mba’? aku jadi tambah bingung kalau gini!” kugaruk-garuk terus kepala ini. “Ya sudah, kamu ikutin keputusannya Santi aja, tetap bersahabat!” karena bagi mba’ Ninda tak ada bedanya kami pacaran dan bersahabat, “ya memang selama ini, gaya persahabatan kami hampir tak ada bedanya seperti pacaran, kecuali untuk hal-hal lebih intim yang kami tabukan sebagai sahabat” kalau ku ingat kebersamaan dengan Santi memang seperti itu adanya. “Nah itukan malah lebih baik, dari pada kamu pacaran ngelakuin yang aneh-aneh” mba’ Ninda sudah tenang melihatku membuka pikiran kembali, “ya sudah cari inspirasi buat puisiku sekarang! Aku mau kedalam beres-beres, besokkan kita pulang” langsung mba’ Ninda berdiri membawa piring dan gelas tehnya.

Villa pagi ini sangat riuh dan gaduh oleh teriakan dan kesibukan penghuninya yang bersiap-siap meninggalkan villa. Kamar kami paling tenang, karena tidak ada yang belanja apa-apa, tapi kami semua jadi sibuk sekali saat berada di pavilion cewek. Para orang tua itu sibuk membantu pasangan mereka masing-masing, apalagi kang Asep sang ketua pelaksana. Diriku jelas kerja rodi mengangkat bolak-balik ke bus barang-barangnya mba’ Ninda, belum lagi ketambahan barang-barangnya mba’ Sarah yang ikut minta di angkatin. Yah maklum kecil sendiri terhitung nebeng lagi di rombongan ini, setelah cukup pusing mengatur semua barang mereka di dalam bus aku terduduk di kursi dekat semua barang mereka. “sudah semua kan Dhi?” mba’ Ninda yang naik kedalam bus bersama mba’ Sarah melakukan pengecekkan ulang, “sudah mba’, tapi sebaian ku taruh di belakang” keadaan bus kami sudah mirip container sekarang. “Nggak masalah, yang penting sudah kebawa semua” mba’ Ninda duduk didekat jendela disampingku. Semua peserta terangkut, kang Asep sudah selesai mengabsen disetiap bus. Perjalanan pulang ini terasa agak sepi, hanya musik yang terdengar mengiringi kenangan singkat liburan ini.

Sesampai di Jogja sore hari rombongan turun di kampus, aku yang masih mengawal mba’ Ninda harus menunggu barang-barangnya di depan lobby kampus. Mba’ Ninda pulang dulu bareng mba’ Sarah mengambil mobil untuk mengangkut barang-barangnya yang tidak mungkin terangkut dengan naik motor. Hampir satu jam aku duduk melamun sendiri karena pesrta yang lain sudah habis pulang satu-persatu, kemudian lamunanku terusik kedatangan sebuah mobil van keluaran eropa Volks Wagen Caravel terbaru. Ternyata mba’ Ninda yang menyetir mobil itu, lega rasanya mengetahui penantianku berakhir. “Lama ya Dhi?” mba’ Ninda berbasa-basi, “nggak kerasa kok, sambil ngelamun” kujawab dengan garing. Langsung kuangkut dan kutata barang didalam mobil yang cukup besar ini. “Kamu ikut ke rumahku dulu ya dhi, sekalian nurunin barangnya nanti disana!” gaya bosnya yang sangat elegan memerintahku, “ok mba’, di kost juga ,masih sepi” setelah selesai menata barang, ku naik di kursi samping kemudi.

“Kamu capek banget ya Dhi?” teguran menyadarkan mataku yang tanpa sadar menutup dengan kepala tersender di jok mobil, “eh..nggak, cuma lagi menikmati naik mobil enak mba’!” malu juga diriku, kelihatan nggak pernah naik mobil mahal. “Sabar, udah dekat rumah nih” mba’ Ninda membelokkan mobilnya ke halaman sebuah rumah yang sangat besar bagiku. Rumah mba’ Ninda berada di perumahan elit yang isinya rumah-rumah besar semua. Makin kelihatan udiknya diriku, nggak mengira mba’ Ninda orang kaya. Mobil berhenti, saatnya aku kembali bertugas. “Dhi yang pot-potan taruh di garasi aja, yang lainnya langsung di ruang tengah biar mbo’ Nah nanti yang bantuin didalam!” sambil juga ikut menurunkan barang mba’ Ninda memintaku.

Aku terduduk di sofa depan tv ruang tengah, rumah yang biasanya kulihat didalam sinetron kini aku ada di dalamnya. Bergerak rasanya kaku, takut nanti ada yang rusak! Jadi bersender di sofa yang empuk dan meneruskan lamunanku. “Eh..malah tidur disini, sana kamu mandi dulu terus kalau masih mau istirahat bisa di kamar tamu sana” Mba’ Ninda menarik tangan bangunkanku dan menunjukkan arah kamar tamu, “nggak..mba’, nanti ketiduran beneran sampai besok” kutegakkan duduk dan menggaruk kepalaku. “Ya nggak apa-apa, biar aku ada temannya. Aku sendiri disini Dhi, orang tuaku di Jakarta dan adik-adikku di luar negeri sekolahnya. “Yang benar mba’, tinggal di rumah besar ini sendirian?!” aku jadi tambah shok mengetahuinya, “ya nggak juga, kan ada mbo’ Nah yang bantuin aku. Sudah sana mandi, handuknya minta sama mbo’ Nah di belakang!” mba’ Ninda langsung berlalu menuju tangga ke tingkat atas. Kuambil handuk dalam tasku dan juga baju ganti, kemudian masuk kamar mandi yang jauh lebih bagus dari kamar mandi di villa kemaren. Kesempatan nyobain mandi sambil tiduran di bak kayak yang di tv-tv, pakai air hangat pula. Kini aku mengerti kenapa cowok-cowok temannya mba’ Ninda nggak ada yang berani deketin, wajar aja kalau minder setelah tahu aslinya mba’ Ninda.

Selesai mandi dan sudah berganti baju kembali duduk di sofa depan tv, tak terlihat ada tanda-tanda mba’ Ninda di seluruh ruangan. Kunyalakan tv setelah cukup lama bingung bagaimana cara mengaktifkannya, sungguh nyaman tinggal disini. Lagi asik-asiknya menikmati suasana tiba-tiba mbo’ Nah menghampiriku, “mas, itu makan malamnya sudah siap! Tadi mba’ Ninda pesen, suruh masnya makan duluan aja jangan nungguin dia bangun” mbo’ Nah dengan suara yang sangat patuh menyampaikan pesan majikannya, “o iya mbo’, nanti aja saya juga belum begitu lapar. Mba’ Ninda masih tidur ya mbo’?” kini aku yang bertanya-tanya, kapan aku bisa pulang ke kost. “Iya mas, katanya pengen rebahan dulu” kembali mbo’ Nah menuju dapur. Padahal perutku sih lapar banget, tapi perasaanku jadi sedikit nggak enak kalau harus makan duluan. Kuambil gelas dekat kulkas dan mengisinya dengan air es, kembali duduk untuk mengganjal perut dengan cemilan yang tersedia di meja depan tv.

“Malam dhi, kamu sudah makan?” mba’ Ninda menuruni anak tangga mengenakan baju rumah nan seksi, “eh…nungguin mba’ Ninda aja, kan nggak asik makan sendirian” kujawab dengan agak tercekat karena melihat pemandangan ini. “Lah ngapain sih, nanti masuk angin kamu kalau laper ditahan-tahan” mba’ Ninda dengan santai duduk di sofa yang sama denganku, namun masih ada jarak. “Kalau masalah menahan lapar sudah biasa kayaknya mba’” belum tahu mba’ ini bagaimana kondisiku di tanggal tua. “Ya sudah makan sekarang yuk, aku juga bangun-bangun lapar banget nih” langsung ngeluyur aja dia ke meja makan, si lapar berat ini pun cekatan mengikuti menuju meja yang sedari tadi sangat ingin kuhampiri.

Selesai makan mba’ Ninda kembali ke kamarnya untuk mandi, menunggu lagi yang aku bisa. Padahal ingin sekali nelpon kang Asep untuk menjemputku di sini, tapi kayaknya percuma karena mereka kemungkinan terbesar sedang ngiler di bantal mereka masing-masing. Jadi ke ingetan Santi yang biasa jemput aku kalau lagi ada perluku, tapi sekarang anaknya masih di Manado. Matakupun semakin berat menahan rasa kantuk oleh perut yang kenyang terisi, kini sudah tak ada daya lagi untuk menahan lelap di atas sofa empuk ini. Saat ku terjaga mendengar suara sedikit berisik dari tv, “enak tidurnya? Kan sudah dibilang tidurnya di kamar aja” mba’ Ninda asik memegang toples cemilan dan menikmati film, “nggak niat tidur tadinya mba’, kapan kekostku mba’?” langsung aja aku tanya biar nggak kelamaan lagi. “Sekarang?!” kepala mba’ Ninda mengarah ke jam di dinding, “ya ampun, sudah jam 11!” sumpah kaget berat ngelihat jam. “Makanya besok aja sekalian, masak kamu tega malam-malam nyuruh aku pulang sendiri ke rumah sini lagi” suara isengnya mulai terasa, “ya..emm…tapi..” aku jadi salah tingkah. “Sudah pindah ke kamar sana, apa mau nemenin aku nonton film?” mba’ Ninda berdiri menuju kulkas, “mba’ Ninda nggak tidur?” aku mengikutinya menuju kulkas untuk mengisi gelasku. “Kan sudah, habis mandi tadi kulihat kamu pules tidurnya ya aku masuk kamar lagi” kini tangannya sudah membawa kotak berisi kue tart cokelat, “lama juga ya aku ketidurannya” nggak kebayang tampangku waktu tidur di sofa tadi. “Ya syukurnya nggak pakai ngiler, kalau ngiler sudah kusiram air sekalian” dengan gaya galak tomboynya yang khas. Kami bedua tertawa tergelak-gelak menandakan sudah sama-sama hilang kantuknya.

“Mba’ belum punya cowok ya?” akhirnya penasaranku tak tertahankan, “belum! Kenapa? Kamu mau jadi cowokku?!” tatapannya sedikit tajam. “ya nggak lah, ntar kualat berani sama kakak sendiri!” yang ada-ada aja mba’ku satu ini, “ooh..kupikir nggak mau karena aku kalah cantik sama yang di Jakarta itu!” mulai dia memancing di air keruh. “Gimana sih, mba’ yang nyuruh lupain…eh malah mba’ yang ngingetin” langsung kumanyunkan tampang, “yee…kenapa alasannya aku, nggak kuingetin juga kamu masih keingetan sendirikan?!” melemparku dengan bantalan kursi. “Nggak tuh, aku keingetan yang satunya lagi kok!” kudekap bantal yang dilemparkannya. “Dasar buaya, nanti nggak dapat dua-duanya baru tahu rasa” sumpah serapah karena iri kurasa, “buaya gimana, mereka sahabatku mba’ bukan pacarku sampai saat ini..” jadi keingetan lagi semuanya. “Sekarang sahabat sampai matipun sahabat Dhi, makanya nanti kalau si Santi sudah datang buruan kamu nyatain perasaan kamu ke dia” kini mulai kearah ceramah pembicarannya, “ya kemaren nyuruh jangan nyatain sekarang malah disuruh nyatain lagi, lagian nggak segampang itu kayaknya’” aku coba membela rasa bimbangku. “Ya ngelihat kamu bingung terus, gampang nggak gampang itu tergantung kamunya sendiri Dhi” tambah dalam aja bahasanya, “akukan ngasih tahu kamu dari sisi cewek, lagian kamu sudah ngelihat sendiri efek kebimbanganmu itu nanti bisa di alami Santi juga” semakin malam semakin panjang lebar nasehatnya, “emm…kutelpon sekarang aja kalau gitu ah” tak kupungkiri kenyataan nasehatnya. “Telepon, kamu jangan malu-maluin ibu peri ini donk! Cewek itu senang laki-laki yang gentle, kamu harus ngomong langsung di depannya dan usahakan suasananya romantis!” bukan main semakin berat aja syaratnya, “ya ampun repot banget mba’, jangan-jangan mba’ lagi nungguin cowoknya kayak begitu sama mba’ ya?” ku coba balik keadaan yang sudah sangat terpojok kepengecutanku. “Eh malah ngomongin aku, yang kayak gitukan si Sarah!” mba’ Ninda buru-buru membela diri, ini semakin membuatku penasaran, “o iya..ya, lah kalau mba’ Nin sendiri nungguin yang gimana?” gantian kini aku yang isengin dia. “Jangan mengalihkan objek pembicaraan ya” tangan menudingku dengan telunjuk berlepot cokelat di ujung jarinya, “nggak mba’ akukan hanya melanjutkan dari cerita cintaku ke cerita cinta mba’ Nin!” kini posisiku sudah mulai mantap kembali. “Dasar mentang-mentang pedagang pinter jawab ya” akhirnya sampai juga cokelat dari jarinya di pipiku, “waduh..malam-malam ngajak aku perang ya” kini aku pun meraih kue cokelat untuk amunisi serangan balasanku. Malam yang tadi sedikit hening di rumah ini berubah menjadi agak gaduh dengan suara kaki berlari, berteriak dan tertawa. Kami berdua sama-sama menikmati suasana kekeluargaan ini, mungkin karena kami sama-sama merindukan kasih sayang keluarga.

Hampir menjelang zuhur aku pulang juga ke kost-kostan, mba’ Ninda langsung pulang untuk kembali menjalani aktivitasnya. Sedangkan dirikupun kembali kepada kesendirian di sisa liburanku. Nasehat-nasehat dari mba’ Ninda masih terngiang di benakku, berulang kali teleponan dengan Santi pakai hp baruku untuk memastikan kepulangannya tidak akan lama lagi. Di telepon kudengar ceritanya yang sangat senang di sana dan masih banyak ceritanya yang ingin di sampaikan saat datang nanti. Kerinduanku menjadi semakin tebal, kesibukan dagangku tak juga bisa menguranginya. Yah setidaknya tinggal 3 hari lagi liburan berakhir, namun Santi ke Jogjanya agak terlambat dengan alasan nggak kebagian tiket pesawat yang penuh terus jadwalnya.