Ksatria Goblok (part 1)
Pujangga Langit (Ismail Adhi Wibowo)
Ksatria Goblok
(Turun Gunung)
Ucapan Terimakasih
Untuk para sahabat dan wanita-wanitaku tercinta
Daftar Isi
Lugu dan Terpesona……………………………….( 6)
Kencan Pertama……………………………………(27)
Waktunya Diah…………………………………….(53)
Anak-Anak Kost…………………………………...(63)
Anak-Anak Kelas………...…………………………(83)
Santi………………………………………………….(93)
ADHI………………………………………………..(112)
Bahagia Yang Panik Tak Terduga……………….(119)
Akal Bulus Yang Mulus…………………………...(168)
DIAH……………………………………………….(184)
Aku Adhi Berdagang……………………………...(201)
Malang Pertamaku……....………………………..(219)
DIAH LAGI………………………………………..(255)
SEKARANG SANTI…...…………………………..(282)
Adhi di Blitar…………….…………………………(289)
SEKALI LAGI DIAH…..………………………….(307)
Adhi Mudik…………………………………………(316)
Jogja Berhati Nyaman….………………………….(330)
Diah Pergi….…………….………………………….(347)
Santi Kembali?...........................................................(362)
Masa-Masa Labil…………………………………...(371)
Kelulusan……………………………………………(385)
Lugu dan Terpesona
Bunyi bel mengaung di setiap lorong kelas, yap…inilah awal remajaku disekolah baru, dikota baru pula, SMA Muhammadiyah II Yogyakarta. Awal yang cukup mendebarkan rupanya, banyak wajah-wajah kaku….entah karena masih merasa malu-malu atau semangat bercampur rasa minder.
Usai sudah 3 mata pelajaran pertama dan saatnya beristirahat. Sudah banyak juga yang langsung akrab, berlari-larian, bersenda gurau….woiii…iit, ada juga yang tidak basa-basi langsung pedekate (pendekatan gitu maksudnya)!
Aku hari ini sepakat pada diriku sendiri untuk menjadi seorang pengamat saja…tapi mulai dari mana ya?......itu ruangan apa? Pelan-pelan kudekati dan….”woi bantuin nih angkatin ke ruang guru donk!!” tergagap aku pastinya. “o..iya!” banyak sekali, kertas dan tumpukan buku di atas meja. “Yang tumpukan kertas biar aku aja, tolong angkatin buku cetaknya!!” sang gadis dibalik jilbab membagi tugas. Berat juga nih buku, dengan 40 tumpuk buku dipelukan dan dagu sebagai penjepit tumpukan paling atas, tapi tetap harus kuangkat demi awal hari yang indah ini.
Dengan cepat aku menelusuri panjangnya teras kelas 2 menuju kearah kantor ruang guru, seiring penelusuranku akan keindahan segarnya wajah cerah nan rupawan berselubung jilbab putih seragam sekolah kami. Repot juga untuk mengimbangi langkahnya dengan beban yang kubawa ini, saat akan menyeberang dari teras kelas menuju ke kantor guru… wajah yang sanggup memadamkan mentari pagi ini menoleh ke arahku
”…..berat?” dengan kerling bola mata yang tak bisa ku terjemahkan antara memberi semangat atau iseng menggoda.
”……lumayan buat olah raga…e.e..eit!” nyaris jadi hari yang buruk kalau saja kakiku tak cepat menyeimbangkan tubuhku yang oleng.
“Waduh…, hampir aja nyungsep, kamu kagetan ya orangnya?”sang bidadari bertanya padaku. Busyeet, gimana gak kagetan kalau yang negur bening begini.
“Nggak kok, cuma agak syok aja dilihatin begitu” dengan wajah agak bingung yang miring kearahku dia jadi nanya lagi..
”memang aku ngeliatinnya gimana? Perasaan biasa aja!, emang aku keliatan galak ya?”. Nah loh, mau jawab gimana nih….
”iya, galak banget!!” biar dia tau sekalian, cewek cantik itu hati-hati kalau ngeliatin cowok (apalagi yang polos kayak aku ini).
“ya maaf dech…padahal aku gak galak loh orangnya!”. Walah, malah sambil senyum pula dia sekarang, sayang pintu kantor guru sudah ada dihadapan kami.
“Permisi bu, ini ngumpulin tugasnya teman-teman sekalian sama buku cetak biologi yang ibu minta pinjamkan dari perpustakaan waktu di kelas tadi”.
“O ya, terimakasih, tapi ditaruh dimana ya? Meja ibu penuh, ……oh tolong ditaruh di meja guru kelas 2b saja! Setelah ini ibu ngajar di sana, maaf ya!”. Bagus bener neh guru, kalau dipasar…kuli udah di bayar dobel nih…
”beres bu!, sini kubawain separuh” spontan gadis itu mengambil separuh tumpukan buku dari pelukanku, tegas juga ibu mandor yang satu ini mentang-mentang punya kuli ganteng (he..he..he). Balik badan kami berdua langsung bergegas menuju ruang kelas 2b.
Langkah kaki cepat gemulainya tertutup oleh rok sekolah yang sampai ke mata kaki, terburu-buru sekali tampaknya sekarang. “Mba, lagi kebelet ya?” tanpa sadar celetukanku muncrat juga dari mulut ini (maklum pegel juga tanganku). Tanpa suara dan tanpa tolehan darinya, membuat bebanku terasa berat jadinya, akhirnya kami memasuki ruang kelas 2b langsung menaruh tumpukan buku ini di atas meja guru.
“Otree…selesai tugas saya bu?!” dengan nafas yang tanpa sadar sudah agak tersengal-sengal, dan semakin tercekik saat…
”yuk langsung kekantin belakang aja!” alamak, seumur-umur baru ini cewek baru kenal ngajak aku duluan.
“Boleh…boleh, bisa makan banyak nih…maklum habis nguli” (senyum-senyum & garuk-garuk kepala).
“Makan minum sepuasnya, bayar-bayar sendiri ini” pernyataan tegas dengan distempel senyum pula, tak terbantahkan walau sedikit ada rasa protes di hati.
Aku mencoba berjalan mengiringi langkahnya untuk bisa berjalan berdampingan, itu tetap sulit karena aku harus terus bermanuver untuk menghindari makhluk-makhluk yang terlihat sama karena seragam. Akhirnya sampai dikantin, dia langsung pesan soto dan mengambil sebotol softdrink.
“Duduk disana aja ya!” pintanya tanpa perduli aku yang terbengong-bengong di muka etalase kantin.
“O..ya” cuma itu yang bisa keluar dari mulutku, karena otakku sudah terisi makanan apa yang akan kupesan (gimana nggak, inikan hari pertamaku kekantin sekolah). Ada nasi goreng, mie rebus, soto….nasi rames..
“Mau pesan apa mas?” sebentuk tubuh bulat dan sesak dengan bakpao menempel di kanan kiri pipinya, wajah menunggu ibu kantin yang bertanya rupanya.
“Mmm….nasi goreng ajalah bu!” akhirnya aku memesan dengan sedikit panik.
“Minumnya?” ibu itu melanjutkan penawaranya padaku
“mmm…softdrink aja bu” lebih baik pesan yang sudah tahu kualitas rasanya saja.
“Langsung ambil aja terus buka sendiri juga” pemberitahuan dengan tersenyum penuh canda..(si kuli ini pun nyengir).
“Anak baru ya mas?” duh..ketahuan banget pastinya,
“iya bu” jawabku (garuk-garuk kepala andalan).
“Saudaranya mba Diah ya?” pertanyaan yang sok tau sekali nih ibu…
”mba Diah siapa bu? Ibu pernah liat saya sebelumnya?” sekalian kuberondong aja nih ibu.
“Ya sudah pernah!” dengan wajah meyakinkan
“kapan bu?” tanyaku,
…”tadi pas masuk pintu kantin” wajahnya berubah polos tanpa dosa
“he..he..he bisa aja nih ibu” jawabku, woiit kena deh diriku
“lah masnya juga bisa aja, masuknya sama mba Diah tapi masih nanya Diah yang mana?” layaknya pedagang yang mempertahankan harga.
Nah loh, baru ingat kalau aku belum kenal sama itu mandor cantik, ”ooo..itu” mati langkah nih,..”mmm…baru ketemu tadi, dan…saya juga belum tau namanya bu” sebisaku menjelaskan.
“Ya sudah duduk dulu, terus kenalan! Nasi gorengnya nanti ibu anter” ibu ini langsung menyibukkan diri dengan kegiatannya
“Terimakasih bu..” langsung diriku menuju meja dengan sisa-sisa malu ke tempat si mandor..eh..sudah ada namanya ding, Diah yang lagi menyantap gorengan.
“Lama banget pesannya, emang pesan sama kualinya ya?” busyeet, bahasanya nih, bener-bener mandor kalau begini.
“Bukan main, tuh benerkan, galak mba Diah ini” sedikit bertahan dan mencoba balas menekan.
“Galak? Tapi kok banyak yang ngejar-ngejar aku ya? Jawaban yang benar-benar tak kusangka, jadi gerah juga dengernya.
“Eh, ngomong-ngomong tahu namaku dari mana? namamu siapa ya? Anak kelas berapa? perasaan baru ini aku ngeliat kamu!” borongan pertanyaan dihujankan padaku.
“Adhi, anak kelas 1G! Tadi ibu kantin yang kasih tahu nama mba” singkat jelas karena aku harus membasahi tenggorokkanku.
“Ooo..pantesan, tapi tadi kok mau aja waktu kuminta bantuin, kamu kan belum kenal aku?!” belum terjawab, ibu kantin datang dengan soto dan nasi goreng pesanan kami.
“Ya jelas langsung bantuin tho mba Diah, siapa sih yang nggak mau bantuin mba Diah!” pengantaran makanan dengan bonus kata-kata mutira.
“Waah bisa aja Ibu ini, emangnya siapa saya” tumben ngerendah nih. “Berarti masnya ini termasuk orang yang beruntung ya” lagi-lagi aku yang dibahas.
“Beruntung kenapa bu?” Diah bertanya kepada ibu kantin.
“Ya kan selama ini banyak cowok yang naksir mba Diah, tapi satupun belum ada yang bisa ngajak mba Diah makan bareng kayak begini!” benar-benar sok tahu ibu ini.
“Kalau itu sih karena merekanya yang terlalu pemalu mungkin bu” Diah mencoba menjawab dan mungkin sekalian menjelaskan kepadaku siapa dirinya.
“Pemalu apa penakut ya mas, kalau begitu?” sambil nyeletuk ibu kantin melirik kearahku dan menghilang ke pintu dapur kantin.
“Jadi mba Diah ini memang bintang sekolah ini ya?” pertanyaan bodoh dan dibuat sebego mungkin.
“Mana kutahu” dengan acuh tak acuh dia menyeruput kuah soto yang masih berasap.
“Kalau kakak-kakak yang senior aja malu-malu sama mba Diah, berarti aku ini termasuk yang gak tahu malu ya?!” aku bertanya lagi sekedar untuk mempertahankan pembicaraan dan menatap matanya yang hitam gelap dan….indah sebelum menyantap makananku.
“Kenapa sih kamu Dhi, udah kagetan sensitif banget?” bertanya dengan sedikit berbau kesal.
“Bukan begitu mba, aku kan anak baru…jadinya takutnya kurang sopan aja sama yang lebih tua” membela diri dan tetap menyembunyikan rasa grogiku yang semakin menjadi.
“Ya…ya…alasan bisa diterima, tapi satu yang gak bisa diterima?” bernada ancaman kayaknya.
“Yang mana mba yang gak bisa diterima?” kepanikan yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
“TUA….kata-kata yang mengerikan bagiku, dong?!” pantesan kayak kebakaran jenggot, aku menyebut pantangan yang sakral bagi kaum wanita rupanya.
“Ooopss…maaf mba, tidak akan terulang yang kesekian kalinya. Janji!”….kepanikan sudah mulai bisa terkendali sekarang,
“bagus, buruan dimakan nasi gorengnya nanti keburu istirahatnya habis!” tiba-tiba nada lembut keibuan yang membuat aku benar-benar terbius. Kami kemudian makan nyaris tanpa pembicaraan, sama-sama lapar rupanya.
Bel terdengar mengaung kembali pertanda waktu istirahat pertama sudah habis. Aku buru-buru menghabiskan 3 suapan terakhirku dan langsung mendorongnya dengan sisa softdrink di botolku. “Makasih ya Dhi, nanti kalau kamu butuh apa-apa cari aku aja di 2G..Ok, dah!” sambil berlari diah pergi meniggalkan kantin….dan diriku yang beku. Kuberdiri perlahan kemudian berjalan keluar pintu kantin dan menyusuri lorong kelas 2, tidak kusadari banyak mata yang memandang kearahku dengan tatapan tajam. Aku tidak tahu yang kumasuki itu kantin yang diboleh dibilang daerah kekuasaannya anak kelas 2 dan 3, benar kata dongeng-dongeng dahulu…wanita cantik itu datang disertai maut dan petaka di sekelilingnya.
Aku memasuki kelas paling terakhir, untung gurunya belum datang. Aku duduk dan kembali meneruskan kebekuanku di kantin tadi, sampai bel istirahat kedua merobek lamunanku. Aku berjalan perlahan menuruni tangga lorong kelas 1, kini kepalaku hanya terisi bagaimana menemui Diah, setelah aku sampai di seberang lorong kelas 2 terperangah melihat keadaan lorong dan tersadar bagaimana keadaan aku tadi pagi. Bergetar juga nyaliku saat keadaan sadar ini, rencana yang belum tersusun sama sekali langsung luluh lantak ketika tatapan orang-orang di lorong kelas 2 itu mulai terarah kepadaku. Sekarang hanya dua yang ada dibenakku, teruskan pencarian atau menyayangi diri yang mungkin masih 3 tahun kedepan berada di sekolah ini. Perasaan ciut minimnya nyali membimbingku kepada keputusan yang lebih bijak, belokkan badan kekiri langsung menuju koperasi. Istirahat kedua ini benar-benar membuatku lelah, duduk disudut ruang koperasi dengan sebotol softdrink dingin digenggaman.
“Dhi!” suara berat mendera telingaku, ternyata si Arif teman sebangkuku, “kenapa bengong disini? Yuk, ngumpul didepan barengan anak-anak kelas kita sendiri.” rupanya teman-teman sekelasku bisa langsung kompak, dengan masih sedikit lesu dan melangkahkan beratnya kaki mengikuti si Arif.
“Hei Adhi, kemana aja kamu? Udah ada tempat nongkrong sendiri ya?” suara cempreng penuh nada sumbangnya si Ferry. “Oh nggak, aku cuma survey lapangan lihat-lihat ruang-ruang sekolah!” mencoba menjelaskan yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
“Eh, Dhi kamu barukan di Jogja? Si Budi bertanya padaku. “iya” jawabku singkat menggantung…
“Hati-hati kalau buat kita anak kelas 1! Jangan jalan-jalan ke daerah kelas 2 apalagi kelas 3 kalau gak ada keperluannya”. Si Budi memang anak jogja aseli, wajar kalau tahu lebih banyak dari kami yang rata-rata pendatang. “Memangnya kenapa Bud?” Nyali yang tadi sudah mulai kembali tenang, kini bergemuruh,
“Iya, kenapa memangnya Bud?” beberapa suara penasaran juga keluar dari sebagian yang duduk di sini.
“Kata kakak-kakakku, sekolah kita ini termasuk 3 besar yang disegani di Jogja. Itu karena murid-muridnya hobi berantem dan kompak sekali!” nah loh, pagi yang indah ini seakan-akan berubah menjadi lukisan warna-warni yang tiba-tiba menjadi hitam putih, karena keterangan dari si Budi.
“Terus, kalau kita anak kelas satu main-main ketempat mereka…?” kata-kataku terputus seakan terhapus oleh imaji yang sebenarnya sangat tak ingin terbayangkan.
“Ya, selagi sopan dan tidak terlihat menantang mereka, kurasa akan baik-baik saja!”, Budi menjelaskan dengan sangat santai sekali.
“Tadi kamu lewat kelas mereka ya Dhi?” terdengar suara Nita bertanya seolah prihatin.
“Eem…iya Nit!” jawabku sedikit ragu.
“Jangan-jangan kamu tadi diam di koperasi habis dikerjain kakak-kakak kelas ya Dhi?!” Arif membuat teman-teman lain jadi menegang.
“Lho, kamu tadi sudah lewat-lewat kesana ya? Anak kelas berapa yang gangguin kamu?” kini Budi yang terlihat panik.
“Oh…nggak…nggak kejadian apa-apa kok, mereka tidak ada yang menggangguku!” aku berusaha menetralkan keadaan.
“Ya syukurlah, setidaknya hari ini kamu beruntung. Setidaknya besok-besok kita bisa lebih mikir dua kali kalau lewat ke daerah sana.” perasaan lega tergambar dari suara Budi.
“Ok, kita bicarakan yang happy-happy aja sekarang! Siapa yang ingin ikutan acara kumpul-kumpul aja nanti sore!” Nanang si ketua kelas yang terpilih hari ini mengajukan usulan program kerja pertamanya.
“Wah boleh juga, biar bisa lebih akrab semuanya. Tapi ngumpulnya di mana?” nada-nada centil dari si Neni anak Bandung.
“Kalau mau bisa ngumpul di rumahku” Dimas si kurus spontan menawarkan rumahnya.
“Benar Dim?” Nanang sangat senang mendegarnya.
“Tapi kita-kitakan belum tau rumah kamu dimana Dim?” Uci si kecil montok menyahut dengan suara manja.
“Iya ya, kitakan baru ketemu semua ….begini saja, bagaimana nanti jam 3 sore kita kumpul dulu di sekolahan lalu bersama-sama pergi ke rumah Dimas!” sang ketua kelas yang semakin berusaha menunjukkan kebijaksanaannya.
“SETUJU!!!!”..sebagian besar menjawab serentak.
Suara mengaung kembali membahana di seluruh antero sekolahan, sudah tahu artinyakan. Bersama-sama kami memasuki lorong kelas satu yang sudah sangat riuh oleh beberapa anak yang berlari-lari dan berteriak-teriak. Setelah didalam kelas suasana lebih terasa hangat oleh pembicaraan tentang sore nanti, ada yang baru tahu karena tadi tidak ikut “rapat” didepan koperasi…mereka ada yang kegirangan senang, ada juga dingin-dingin saja. Selama pelajaran terlihat anak-anak kasak-kusuk mungkin karena tidak sabar menunggu jam sekolah berakhir.
Di kamar kost aku masih merasakan resah yang tidak jelas kemana arahnya, duduk, berdiri, kembali tiduran di kasur yang tanpa ranjang. Menatap langit-langit kamar, bukan acara sore ini yang ada di benakku melainkan segambaran wajah ceria dengan mata yang galak menatapku dari langit-langit kamarku. Tanpa terasa, suara adzan dari mesjid sebelah kostku membuyarkan khayalanku. Sontak kaget diriku, suara adzan ashar terdengar berarti sudah hampir jam 3 sore. Bergegas aku mengambil handuk dan peralatan mandiku dan menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur,
“ada orang didalam ya?” aku sedikit berteriak saat melihat pintu kamar mandi tertutup.
“Ntar, lagi setor nih! Siapa sih?” suara dari dalam yang terdengar sedikit agak kesal.
“Adhi mas!” maklum aku yang paling kecil di kost-kostan yang lain anak kuliahan semua.
“Oh, Adhi! Kalau keburu-buru kamu bisa numpang mandi di mesjid Dhi!” jawab mas Rahmat anak Aceh yang kukenali dari suaranya.
“Boleh ya mas?” aku mencoba meyakinkan sekali lagi,
“ya bolehlah, emang mesjid buat umumkan! Lagian anak-anak kost kita juga sering numpang mandi di mesjid!”
“Ok!” langsung aku menuju mesjid yang memang persis bersebelahan dengan kost-kostan kami, orang-orang lagi bersiap untuk sholat ashar di dalam mesjid, aku langsung menyelinap saja ke kamar mandi mesjid disamping ruang tempat wudhu.
Selesai mandiku dan kini berdiri bingung didepan lemari baju plastikku. Pakai baju kaos apa kemeja ya? Ah sudah seperti biasa saja, kaos dan celana jins selesai. Dengan langkah cepat aku melewati jalan kampung menuju jalan besar untuk menunggu angkutan, tapi dari arah depan terlihat motor perlahan menghampiriku dan
“hei Adhi, mau kemana kau?” suara besar dengan logat batak yang kental. Ternyata bang Ucok anak kostku baru pulang dari kampusnya.
“Mau ke sekolahan bang?” jawabku sedikit terengah-engah,
“bah, rajin kali kau ini! Ya sudah kuantar kau, aku juga nanti lewat sana tapi kita singgah dulu di kost, ada barang yang mau kuambil!” sambil memberi tanda kepadaku untuk segera naik ke motornya.
Sampai didepan sekolahan sudah ramai anak-anak, “makasih bang!” ucapku sambil turun dari motor. “Ok, aku pergi dulu!” bang ucok langsung tancap gas.
“Adhi, kakakmu preman ya?!” Arif langsung menyapaku.
“Bukan Rif, dia itu anak kostku orang Medan!” aku maklum sih, gimana nggak, udah tampangnya keras (maklum dari medan) gondrong pula. “Oh..Pantesan serem!” Arif berkomentar sambil nyengir.
“Ok, sudah semuanya kan… kita langsung berangkat!” Nanang sang ketua langsung memberi komando. Jadi malu, ternyata dari tadi mereka cuma menungguku untuk berangkat, akupun langsung membonceng ke motornya Arif.
Selama sampai di Jogja pertama kali hingga sekarang, baru ini aku berkeliling kota Jogja. Rumah Dimas melewati daerah persawahan tengah kota kemudian melewati kebun binatang, anak-anak begitu bersemangat sore ini, ada yang sudah berpasang-pasangan berboncengan dimotor…terutama si centil Neni dengan Sani culun dan Uci manja dengan sang ketua. Bagiku mereka orang-orang yang menarik dan juga sangat bersahabat, di kelompok ini aku merasa tidak seperti pertama kali bertemu dengan mereka, melainkan serasa kami ini sudah lama berteman.
Memasuki mulut gang rumah Dimas jalan mulai menyempit, ada sederetan rumah disebelah kiri kami dengan berbagai macam ukuran dan berhalamankan pemandangan sawah yang cukup luas disebelah kanan kami, daerah tinggal yang sungguh nyaman. Rombongan konvoi kami terhenti didepan sebuah rumah satu dari yang terbesar dideretan rumah di gang ini, dengan teras rumah yang cukup besar untuk bisa menampung semua kendaraan yang kami bawa.
“Assalamu’alaikum!” sang ketua yang sudah turun dari motornya langsung menyapa ibundanya Dimas yang sudah menunggu didepan rumah, “wa’alaikum salam…ayo masuk aja, langsung kehalaman belakang mba-mba, mas-mas ya!” suara yang sangat keibuan sekali menyapa kami dengan ramah. Tersenyum dan membungkuk-bungkuk, kami semua menyalami ibunda Dimas dan memasuki ruang tamu yang luas dan kemudian melewati ruang tengah untuk menuju pintu samping yang terhubung langsung ke halaman belakang. Bagiku yang datang dari kampung kecil ditengah pulau Kalimantan, ini bukan rumah tinggal biasa…tapi istana dengan taman menghiasi sekeliling rumah.
“Yuhuu…ini sih namanya party Dim” Neni yang selalu agresif itu terlihat sangat kegirangan sekali.
“Bisa aja kamu Nen, cuma jajanan pasar sama es buah di bilang party” Dimas dengan gayanya yang selalu sok low profile menjawab santai.
“Nek iki diomong jajanan pasar, piye seng jajanan kota yo?” sekonyong-konyong Arif nyeletuk dengan dialek jawa yang jogja banget.
“Koyo’ kuweh neng mantenan Rif! Wah jan, ra tau mangan enak bocah ki!” Budi dengan nada yang kocak melumat celetukan Arif tadi.
“Walah, malah ke bleyer! Lah aku ki meng nemonin ngene ki nek…yo bener kowe Bud, neng mantenan!” tak kalah kocak Arif menyahut canda Budi.
“Wis….wis…ndang di pangan wae, timbang crigis!” Grrrrr….semua ketawa mendengar celoteh mereka bertiga. Aku ya ikut tertawa walau tidak sepenuhnya, maklum karena bahasa yang bagiku masih roaming.
Selepas maghrib aku sudah sampai di kost-kostan diantarkan Arif, “Besok kamu tak jemput aja Dhi, sekalian lewat daerah sini juga kalau aku mau berangkat kesekolah!” Arif menawarkan jasanya setelah tahu tempat tinggalku. “Boleh, lumayan ngirit ongkos angkot” cengir-cengir diriku. “Ha..ha..bener itu, jadi ongkos angkot bisa buat traktir aku di kantin! Ketemu besok ya” Arif melaju dengan meninggalkan sisa candanya.
Dikamar berteman bantal guling diriku kembali masuk ke dimensi yang hanya ada diriku dan Diah didalamnya, perlahan sosok indah itu menghampiriku dan tersenyum (penghayal tahap menegah). Senyuman yang sedikit aneh ini menghiasi tidurku sampai adzan subuh menegurku.
Kencan Pertama
Satu minggu tak terasa sudah diriku menjalani hari-hari studiku di kota yang sangat ramah dan bersahabat ini, begitu juga malam-malamku yang terus ditemani keindahan semu. Hari ini kelas kami menjalani pelajaran olah raga,
“Siapa nama kamu?” Pak Ahmad guru olahraga menegurku,
“Adhi Pak!” bersemangat.
“Tolong kamu ke ruang olahraga yang ada didekat kantin sana, ambilkan peralatan takraw ya!” sembari menunjukkan arah letak ruang olahraga. Bergegas aku berlari keruang olahraga,
“Hei Adhi, lagi ngapain kamu?” suara yang setiap malam menemani dalam dimensi khayal menyapaku di dunia nyata ini.
“Mba Diah!”…tercekat suaraku ditenggorokan,
“Kenapa Dhi, Kamu kayak liat apa aja, takut kusuruh-suruh lagi ya?” senyuman yang benar-benar nyata itu membuatku terbang.
“Oh…nng..gak mba, cuma sedikit kaget ketemu pas jam pelajaran” mencoba menutupi gagap yang masih menghinggapiku,
“aku lagi mau bawa peralatan takraw ini buat olahraga, mba diah sendiri lagi ngapain disini?!” tiba-tiba kalimat yang cukup lancar bisa keluar dari mulutku.
“Kelasku juga baru selesai olahraga, barusan aku dari kantin. Kamu ditanyain terus sama ibu kantin tuh!” nada santai yang seperti biasanya. “Lah, kemarenkan aku sudah bayar…” gaya bego yang menjadi tabiatku. “Ha…ha…ha…kamu Dhi, bisa aja bikin orang ketawa.
“ADHI…!!!” suara yang cukup kuat memanggilku, yang tak lain suara Pak Ahmad yang sudah tidak sabar menungguku,
“Iya Pak!” kujawab sekenanya.
“Mba kapan kita bisa makan dikatin lagi?” tanpa sadar aku berucap yang tidak kusangka-sangka bahkan oleh Diah sekalipun.
“..emmm…ngajak ngedate nih, jangan dikantin donk!” sedikit kaget namun tetap kembali tenang Diah menjawab,
“trus dimana mba?”dadaku terasa ada air panasnya,
“udah kamu olaharaga dulu, nanti istirahat pertama kamu ke ruang PMR, aku ada disana..dach” tak lupa senyum untuk sanguku menunggu sampai jam istirahat pertama, Diah berlalu menuju kelasnya.
“Tadi kakakmu ya Dhi? Kok ngobrolnya lama banget!” sumbang terasa nada suara Santi, cewek yang duduk di bangku depanku,
“bukan San, dia itu kakak kelas yang pertama kukenal!” jawabanku yang berusaha memerdukan lagi suara Santi yang sumbang.
“Sudah langsung akrab ya?” kenapa malah suaranya semakin sumbang.
“Lah orangnya memang baik kok, santai dan kalau ngomong apa adanya!” terpaksa nada suaraku meningkat serius,
“kenapa? Kamu kenal sama dia ya!” kini diriku menangkap sinyal-sinyal perasaan Santi.
“Ya nggak lah, kamu kok jadi sensi begitu sih Dhi, jangan-jangan kamu suka ya sama mbanya itu” Santi mulai memerdukan nada suaranya (mungkin takut diriku marah),
“Bagaimana ceritanya kalau aku gak suka tapi bisa ngobrol asik sama dia San!” akukan lelaki tegas.
“Bener juga, siapa yang nggak suka sama kembang sekolahan…” sambil berjalan Santi menuju tempat duduk di bawah pohon dekat lapangan takraw.
Benar-benar tak sampai intelegensiku menggapai logika wanita yang satu ini, sudahlah…kesempatan langka hari ini jangan rusak oleh nyanyian sumbang Santi tadi. Kembang sekolahan…? Tadi Santi sempat menyebutkan seperti itu, hampir senada dengan yang diucapkan ibu kantin waktu itu. Kalau benar Diah adalah kembang sekolahan ini….bisa-bisa…duh, kenapa jadi mikirin omongan Santi sih.
Waktu istirahat pertama terasa lama juga, diriku gelisah resah menunggu sambil terus mengamati ruang PMR tempat pertemuan nanti, lalu aku coba beralih ke depan ruang PMR. Detak jantungku semakin kencang saat bel istirahat berbunyi, aku masih terduduk dengan mata tak lepas dari pintu ruang kelas 2G seperti seorang pemburu. Kenapa masih belum keluar juga ya? Dan terlihat sudah tidak ada yang keluar lagi dari pintu kelas itu.
“Lihatin apa Dhi?” geledek siang bolong menyambarku, ditunggu-tunggu dari arah depan..eh munculnya dibelakang.
“Aku ngeliatin kelasnya mba, kok nggak keliatan keluar dari kelas…eh, malah nongol dari belakang” (garuk-garuk kepala yang aku bisa).
“He..he..akukan udah disini duluan, ijin dari kelas karena ada rapat pengurus PMR, kita kedepan yuk Dhi! Ngobrolnya sambil makan gado-gado” dengan menenteng dompet kecilnya Diah langsung jalan aja ke warung di luar sekolahan,
“mba…nggak apa-apa jalan bareng sama aku di sekolahan?” tiba-tiba kecemasan itu tak tertahankan.
“Loh memangnya kenapa?” berlari kecil menyeberangi jalan, “memangnya kamu dengar cerita apaan, kok jadi parno gitu sich?!” kini kami sudah memasuki warung gado-gado yang sudah ramai pengunjung, ada yang siswa sekolahanku dan ada juga pegawai kantor disekitar sekolahan kami.
Setelah memesan kami memilih meja dibagian belakang dekat dengan pintu samping dapur,
“begini mba, aku dengar dari teman-teman yang orang jogja kalau anak kelas 1 jangan macam-macam sama anak kelas 2!” diriku melanjutkan jawaban yang tertahan tadi,
“ha..ha..ha…Adhi…Adhi, memangnya kamu mau macam-macam sama aku ya?!” tawa yang renyah dan itu membuatku jadi salah tingkah.
“Ya enggaklah mba, tapi…..” penjelasan ini sangat sulit diutarakan.
“Tapi apa? Jangan bikin aku curiga ney!” mata yang galak itu bertambah galak (begitu juga keindahannya),
“Tapi….tapi…katanya mba itu kembang sekolahan kata teman-teman cewek…jadi” akhirnya terhenti juga kata-kata yang memang sudah sendat ditenggorokkan.
“Jadi kamu takut nanti dikerjain kakak-kakak kelas karena sudah berani ngedekatin aku” seolah membaca pikiranku Diah melanjutkan kalimat yang terputus,
“segitunya sich, nggak akan kejadian kalau kamu nggak nantang mereka, kamu kan bantuin aku karena aku yang minta” penjelasan yang terasa sepihak bagiku.
“Iya kalau mereka tahunya begitu” masih dengan berat aku menerima penjelasannya,
“Ya sudah, kalau kamu bener-bener takut….kita anggap kita nggak pernah kenal dan bertemu! Jadi kamu aman-aman saja disekolah” tak kusangka ekspresi sedingin ini bisa terlihat dari wajahnya.
“Bukan begitu mba, aku cuma….cuma….bingung jadinya kan!” benar-benar hancur konsentrasiku melihat kekesalan Diah.
“Jadi, masih ada nyali buat nraktir aku diluar?” senyum itu mucul kembali ditemani dua lesung kembarnya,
“Jadi..!” singkat menggantung jawaban ini dariku. “Ok, lupakan masalah yang gak penting tadi” sungguh cerdas betina satu ini mengedalikan keadaan,
“mau kemana makannya?” pertanyaan ringan dari Diah.
“Emmm…mm…kemana mba maunya!” garuk-garuk lagi, baru sadar kalau aku belum memikirkan mau kemana dari tadi,
“ya kamulah yang ngajak yang nentuin, masak aku” suara ini sangat aku suka (manja gak manja),
“masalahnya, diriku kan baru di Jogja mba!” harus kuingatkan si cantik ini.
“O, iya….tapi hebat berani ajak orang makan tapi belum tahu tempat dan jalan” wajahnya bisa berbentuk kocak juga,
“ok, kalau gitu kita makan di mall Ambarukmo saja biar bisa sekalian nonton mumpung ada film bagus!” tak ada keraguan dalam pilihannya.
“Boleh tuh mba, aku juga suka nonton” spontan aku mengiyakan,
“tapi, nanti aku jemput mba dimana?” terus berharap tempatnya gak sulit dan dilewati banyak angkutan.
“Kukasih tahu juga mungkin 2 hari baru ketemu! Aku tunggu di sekolahan aja jam 3-an, pakai motorku apa motormu?” canda khas milik Diah,
“pakai motor mba pastinya!” jawaban jujur dengan mempertaruhkan separuh harga diriku, karena kusadar diri jadinya kalau aku nggak ada motor.
“Jarang-jarang cowok jujur kalau gak punya motor didepan cewek” kekaguman yang lebih pantas disebut ungkapan menyedihkan (maklum jadi sensi habis),
“hi..hi…karena belum bisa pinjam motor karena aku anak baru di kost-kostan!” cengiran tulus dari lelaki menyedihkan ini.
“Kostmu dimana Dhi?” disela datangya gado-gado Diah bertanya padaku,
“di daerah timoho mba” sambil memasukkan selada kemulutku,
“dekat donk sama kostku” tak mau kalah diah menyumpalkan kentang yang agak besar potongannya kedalam mulutnya,
“aku kost di daerah belakang Mandala Krida!” sedikit kunyahan masih tersisa dimulutnya (tapi tetap cantik).
“Ooo..” kini giliran ketupat bersama tomat menutupi kesoktahuanku,
“Nggaya, kayak yang tahu aja! Timohonya disebelah mana, biar nanti aku nggak bingung jemputnya?” candanya disertai hal yang tidak terbayangkan (cewek jemput cowok).
“Loh nggak disekolah aja mba?!” berusaha diriku untuk mempertahankan harga diri yang sudah kian tipis,
“Ngapain, kalau tempatmu juga lebih dekat dan sekalian lewat kalau ke Ambarukmo!” pikiran taktis dari seorang wanita (jarang-jarang). “Emmm…ya sudah kalau gitu, aku tunggu di depan gang disebelah orang jualan batagor mba! Tahu nggak kira-kira?! Habis sudah rasanya harga diri dilalap pesonanya,
“yang jualan ibu-ibu kurus pakai jilbab sama anaknya itukan! Aku sering beli batagor disitu kok” jawaban yang sok tahu karena memang benar-benar tahu,
“ok, jam 3 kamu sudah ada disitu loh Dhi!” perintah yang mulai akrab ditelingaku,
“siap tuan puteri!” sudah tak bisa kusembunyikan lagi rasa taklukku. “He..he..he pelan-pelan mulai ngerayu nih” benar-benar terlatih menghadapi cowok puteri kahyangan ini,
“bukan ngerayu mba, cuma rasa terima kasih dan kagum aja” berkelit setengah hati karena memang iya.
“Whatever lah Dhi, satu yang mulai sekarang jangan di ucapkan lagi ke aku!” berhenti sejenak meneguk es jeruk yang tinggal separuh sampai habis,
“apa itu mba?” ikut juga diriku menghabiskan es jerukku sekalian menutupi penasaranku.
“Itu, “MBA”…aku geli dengernya, kayak yang aku tua banget dibanding kamu” serius yang ini permintaannya,
“kan biar sopan mba!” aku menjelaskan dengan masih mengucapkan kata larangan.
“Aduh, masih diulangin…nggak lucukan nanti jalan manggilnya mba..mba” unek-unek yang akhirnya keluar.
“Iya..iya…Di..ah” canggung terasa dibibirku mengucap namanya,
“yuk balik kesekolahan, aku masih harus ke ruang PMR lagi” Diah berdiri membayar makanan ke ibu warung.
“Punya saya berapa bu?” diriku juga bergegas membayar.
Jam 2 siang dikamar mandi terdengar suara nyanyianku yang sangat merdu, bagaimana tidak! Sebentar lagi aku akan berjalan berduaan bersama Diah, duit bulan ini sudah kuanggarkan semua buat kencan dadakan ini, perkara besok-besok puasa itu masalah nanti.
“Parfum…?” setelah semua atribut kencan terpasang, giliran masalah aroma yang aku belum ada, kebetulan terdengar pintu kamar depan terbuka, aku buru-buru buka pintu dan melihat mas Rahmat keluar kamar.
“Waduh, rapi kali anak utan satu ini!” jelas wajah shock mas Rahmat yang memang hampir tidak pernah melihat aku berdandan,
“he..iya bang, mau jalan sama teman!” garuk-garuk andalan pertanda ada maunya.
“Wuih, baru berapa jam kau dijogja, sudah gaet cewek aja!” komentar meremehkan dari seorang yang belum punya pacar sampai saat ini,
“bukan mas, ini temen! Eem…makanya aku mau minta parfum, punya gak mas?” senyuman semelas mungkin kubuatkan diwajah imut ini.
“Ha..ha…ternyata masih kurang PD juga ya! Ada tuh di atas rak buku” tawa mas Rahmat dengan pandangan masih seperti tak percaya kepadaku,
“Makasih ya mas” dan ssrtt…ssrtt dua di ketek…..srrttt dan satu buat bagian depanlah.
Lengkap persiapan tempurku, sekali lagi kedepan kaca jendela ruang tamu memastikan bahwa memang pantas untuk mengencani seorang Diah.
Terik matahari yang cukup membuat orang-orang enggan berada diluar rumah, sang lelaki dengan penuh senyum berdiri diatas trotoar samping tenda batagor dan helm ditangan. Laju kendaraan dijalan selaju desir darah oleh pacuan jantungku, bayangan berbagai busana yang akan digunakan Diah menemani penantianku.
“Misi mas, numpang nanya. Apa masnya yang namanya Adhi?” wanginya mengalahkan parfumku juga sadarku.
“I…ya …” dengan amat ragu aku menjawab sembari berusaha mengenali wajah dibalik slayer dan kacamata bertutupkan helm di kepala,
“Sudah siap berangkat?” tangannya menarik slayer dan menampakkan senyuman yang tidak mungkin aku tak kenal.
“Ha..ha..ha..kena aku dikerjain. Kukira orang lain tadi” kaget, senang, gemas dan…cantik waktu dia lepaskan helm dan rambut ikalnya tergerai,
“mba…gak pakai jilbab?” rasa terpesona masih memenuhi benakku.
”Kan ini diluar jam sekolah, dan itu kenapa masih disebutkan sih!” Diah menjawab sambil turun dari honda matic berwarna pink,
”o iya…Diah” secepatnya aku meralat, daripada suasana berubah.
“Punya SIM kan” lalu Diah bergeser kearah jok belakang,
“punya Di…ah, kurang enak manggilnya nih” berusaha minta keringanan darinya.
“Kok bisa!” Diah duduk dijok belakang,
“Kayak manggil namaku sendiri..”Di”,..kalau “yah” manggil bapakku” aku coba praktekkan kejanggalan ucapannya,
“ya jangan dipisah nyebutnya bisakan” tetap mempertahankan inginnya diatas motor yang sudah kujalankan.
“Ntar, ngomong-ngomong belok mana ini, Dei?” diriku bertanya karena ada pertigaan didepan dan tanpa sadar menyebut namanya dengan seenak bibirku,
“kiri,…. apaan tadi manggilnya? Dei” protes yang langsung menyadarkanku.
“Maaf, tadi pas enaknya aja manggilnya gitu” jelasku yang merasa panggilan itu cukup indah.
Diah terdiam untuk beberapa saat, sayang aku tak bisa melihat wajahnya sekarang…kesal atau senyum-senyum. Perjalanan terhenti karena ada palang kereta api yang diturunkan untuk kereta yang sebentar lagi lewat,
“mmm…boleh juga, asal cukup kamu yang manggilku gitu!” suara Diah hampir tak kudengar karena diterpa deru kereta. Senyum kukulum karena aku juga sedang menikmati kereta yang baru dijogja ini aku melihatnya.
Kini kami memasuki mall terbesar di Jogja untuk saat ini, bagiku ini pertama kali masuk ke mall sebesar ini. Kami parkir di lantai paling bawah, setelah menaruh helm dimotor aku menunggu diah melepas semua atribut bermotornya yang lebih banyak. Saat diah melepaskan jaket jins, kacamata dan menata rambutnya….rasa gagah dan percaya diriku bergetar dihadapan wajah bak pualam dan tubuh indah dibalut baju cewek bergaya cina berwarna pink dan jins cream membungkus padat bagian bawah tubuh serta tas pink kecil penambah nuansa dan semua menyatu serasi dengan kulit putihnya.
Dengan menaiki lift kami langsung ke lantai 3 untuk beli tiket bioskop,
“film apa yang bagus hari ini?” diriku melihat banyak gambar film di dinding.
“Itu aja..Superman yang baru” menarik tanganku menuju tempat jual tiket,
“2 mba” kudahului diah kini untuk memesan tiket.
“Mau kursi nomer berapa mas?” penjual tiket yang manis menyodorkan denah kursi,
“yang sebelah sini aja mba” diah menyerobot memilih nomer kursi deretan F21 dan F22.
Aku diam dan langsung mengeluarkan duit dari dompet, diah juga langsung membuka dompetnya namun kudului memberikan duitku kekasir.
“Loh Dhi, kan kamu bayar makannya aja!” Diah berusaha mencegahku setengah hati.
“Ya enggaklah Dei, kan satu paket traktirnya” perasaan gagah kembali bangkit didada ini,
“kamu….” Diah memasang wajah galak tapi dengan senyum tertahan.
Tiket sudah ditangan, kini kami tenang untuk mencari makan di Taman Sari, tempat yang memang khusus buat makanan.
“Kamu makan apa Dhi?” sambil kepalanya kekanan kekiri melihat daftar makanan di beberapa kedai didepan kami,
“ntar lagi milih nih” kepalaku juga tak kalah sibuknya mengarahkan pandangan mata ini.
“Nasi goreng Thailand aja, isinya seafood” berjalan menghampiri kedai makanan khas Thailand, aku yang belum menentukan pilihan ya ikut juga pesan apa yang diah mau.
“Kamu yang mana dhi nasi gorengnya?” sambil menunjuk daftar menu nasi goreng yang namanya sama sekali aku baru kulihat sekarang ini,
“sama aja” singkat kujawab, karena sibuk mencari tulisan “ice cream”.
“Kok sama sih, gak kreatif ah” protes dengan sedikit nada manja yang baru ini aku dengar,
“ya..apalah, aku makan yang kamu pilihkan dei” aku masih mencari-cari.
“Kamu mau makan yang lain ya?” sambil menarik pundakku,
“nggak, aku lagi cari ice cream” diriku menjawab.
“Ooo..ada di sebelah sana, sekalian pesan minum nanti” Diah memberitahuku, langsung aku
“berapa semua mba?” bergaya sekali hari ini aku rasanya didepan Diah.
“Semuanya jadi Rp. 33.500,-!” kasir menunjuk angka dilayar kepadaku yang langsung kurespon dengan menyerahkan selembar Rp. 50.000,- an ke kasir, setelah kembalian aku ambil, kami berjalan kearah kedai minuman.
Kursi masih banyak yang kosong, kami pilih yang dekat pagar pembatas yang memang disediakan dengan 2 kursi saling berhadapan.
“Ngomong-ngomong nggak boros kamu hari ini dhi? Jadi nggak enak nih aku!” diah membuka pembicaraan,
“ya nggaklah mba, kan nggak setiap hari kita bisa jalan bareng gini” dengan wajah serileks mungkin untuk menutupi kebohonganku.
“kalau kamu mau tiap hari sih aku asik-asik aja” canda yang cukup membuat hati laki-laki polos ini berguncang hebat, senyum untuk memaniskan kecutnya hati yang terbentur keadaan kuberikan pada diah sebagai jawabannya.
“Yee, malah senyum-senyum aneh gitu sih” interfensi terus diah berikan seakan ingin memaksa ketegasan akan sikapku.
“Emm…pengennya iya sih, tapi apa daya….” Kata-kataku terhenti dengan sedikit hela nafas.
“Becanda, jangan serius gitu kenapa” diah mengerti kesulitan hatiku dan puas dengan kebingunganku.
“Dei, kalau boleh tau kamu aseli mana?” kumencoba mengalihkan topik pembicaraan,
“Blitar, kamu aseli mana?” jawaban berbalas tanya dari diah,
“Kalimantan!” singkat aku menjawab.
“Ooo..kalimantan, yang sebelah mana?” masih disambung tanya lagi dari diah,
“selatan, dan tepatnya ditengah hutan!” dengan menunjukan wajah liar.
“Tarzan donk!” diah langsung menyantap ekspresiku,
“he..he..hampir mirip ya” canda garingku.
Diah tertawa tertahan, mungkin takut tawanya meledak karena kini gayaku meniru monyet yang memang masih banyak disekitar daerah kampungku.
Disela makan canda tawa cerita ngalor-ngidul terus terlontar,
“bener dhi rumah kamu masih banyak hutannya?” diah kembali jadi agak serius,
“bener! Jauh sekalilah dengan Jogja mungkin juga di tempatmu” bercerita apa adanya bagiku lebih baik.
“Wah, pemandangannya masih bagus donk, belum banyak polusinya” diah terlihat sangat interest dengan keadaan kampungku (mungkin),
“bukan cuma sedikit polusinya, manusianya juga masih sedikit dan sangking sedikitnya kami hampir bisa mengenal satu sama lain walau berbeda kampung” penjelasan yang mantab.
“Enak donk, bisa akrab semua satu daerah” sembari diah menyedot jus mangganya,
“nggak juga, gak bisa salah sedikit semua langsung tahu” kini aku mulai agak mengurangi konsentrasi karena harus berbagi perhatian ke ice creamku.
“Makanya kamu minta sekolah di Jogja ya dhi” dengan nada penuh kemenangan,
“tepatnya sih bukan karena itu, tapi aku ngersa gak akan berkembang kalau aku cuma sekolah dan hidup dikampungku saja” wajah penuh optimisme kuhadirkan untuk mendukung pernyataanku,
“duh, niat banget sampai ke jogja milihnya” diah dengan nada menggoda.
“Habis sering kulihat di tv tentang Jogja yang kota pelajar dan budaya katanya” sambil terus mencumbu mesra ice creamku (maklum dikampung susah mau cari yang kaya gini),
“syukurlah kalau siaran tv sudah sampai ketempatmu dhi” perasaan lega yang tidak dibuat-buat.
“He..he..iya” sialan, brengsek sudah baik-baik ngerendah masih dinjak juga,
“eee…bukan menghina dhi, maaf aku….maksudku…syukur kamu bisa membuka pikiran lewat tv” he…he..baru ini melihatnya panik karena takut salah.
“Iya..iya..aku ngerti, aku juga syukur bisa liat tv karena tidak semua chanel bisa didapat dikampungku” kujawab dengan manis karena setidaknya sedikit terbayar perasaanku oleh kepanikkannya tadi.
“Yuk, kita masuk! sudah mau mulai filmnya nih” kuakhiri suasana yang mulai mendung.
Memasuki ruang theater pasti gelap, dan kalau gelap harus berhati-hati. Dan itulah yang dilakukan Diah, menggenggam telapak dan pergelangan tanganku yang berjalan didepan sang putri dari Blitar ini, tak pelak lelaki culun yang dipegang tangannya ini mendadak bak ksatria yang melindungi sang putri dalam kegelapan gua.
Duduk dideretan kursi yang kebetulan hanya ada 2 pasang anak manusia, kami dan 2 anak manusia lainnya diujung sisi yang berlawanan dengan tempat kami.
“Kayaknya ada yang kurang ya Dei” diriku lupa membeli cemilan popcorn buat melengkapi syarat sahnya nonton di bioskop,
“nggak usahlah Dhi, lagian masih kenyang” diah seakan enggan kutinggalkan (menurutku).
“Nih, aku punya stock permen” Diah langsung membuka tas pink kecilnya dan menyodorkan permen mint padaku,
“boleh juga” biar wangi nih nafasku.
Seperempat film berjalan, kepalaku seakan ada yang memaksa untuk menoleh kearah diah….pantulan cahaya proyektor memberikan nuansa kecantikkan yang berbeda diwajah diah. Entah berapa lama aku menikmati salah satu karunia dalam hidupku ini, tiba-tiba suara meteor jatuh membahana memekakkan telinga juga menyembuhkanku dari hipnotis kecantikkan Diah. Kucoba meneruskan menikmati film, namun konsentrasiku telah buyar dalam mengikuti jalan ceritanya. Tapi, saat sang Superman bertemu Loise Lane diatas balkon sebuah gedung, diriku masuk dengan amat dalam di adegan ini. Deg!! Hampir mulutku mengeluarkan suara saat Diah meremas tangan kiriku yang memang dari awal cerita sudah terasa menempel dipegangan kursi kami, kutahan dan berusaha untuk tidak bereaksi (padahal aselinya kaku).
“Eh..” tersenyum imut diah menoleh kepadaku dan perlahan mengendorkan remasannya ditelapak tanganku, senyumku jelas tampak canggung yang diperjelas dengan tangan kananku yang tanpa sadar mulai menggaruk kepalaku. Hampir tak ada pergerakan yang berarti apalagi suara dari 2 anak manusia ini hingga akhir cerita.
Lampu studio theater menyala terang menyilaukan, “ayo!” aku berdiri dengan menawarkan tangan untuk membantunya berdiri. Dengan senyum diah menggapai tanganku,
“mau langsung pulang atau mau nongkrong dulu nih?” diah berbicara dengan sedikit menarik tanganku untuk berdiri.
“Terserah kamu aja, mau sekalian cari makan malam juga ok” lelaki lugu ini benar-benar tersihir kecantikan.
“Boleh, tapi giliran aku yang bayar ya!” diah mengiyakan usulanku bersama syaratnya,
“bukannya masih paket?” aku tidak mau kehilangan kegagahanku secepat itu.
“Ok, kuakui kamu termasuk laki-laki penyanjung harga diri rupanya” suara keibuannya mulai keluar,
“Tapi aku tetap lebih dulu 1 tahun darimu jadi anak kost dijogja ini, kusarankan kamu untuk lebih bisa menempatkan harga dirimu supaya nggak tekor uang bulananmu, ok” ceramah singkat dadakan dari ibu peri, dan langsung menarik tangannya berjalan keluar ruangan theater.
Aku terbungkam oleh ceramahnya yang tak kuduga, cewek yang kupikir bakal menghabiskan perbendaharaanku. Jujur kali ini bukan karena daya pikat kecantikan fisiknya, melainkan pancaran kepribadian yang tersembunyi dilubuk hatinya.
Berjalan-jalan menyusuri jogja dimalam hari, memang begitu nyaman. Mungkin ini akan menjadi peristiwa yang tersimpan selamanya dicatatan besar sejarah hidupku, dua tangan yang berada dipinggangku cukup membuat hatiku hangat. Saat bertemu tugu jogja, kami membelok kearah jalan Mangkubumi untuk bisa memasuki jalan Malioboro. Sepanjang perjalanan motor yang kami naiki ini seperti tidak bisa dipacu kencang, tak terasa ujung jalan malioboro telah hampir sampai dan kulirik jam tua dipinggir jalan sudah jam 8 malam.
“Dei, udah jam 8 nih” aku membuka suara yang tetutup sepanjang perjalanan,
“ya udah, kita mampir diwarung ayam bakar deket kostmu aja dhi!” pinta diah yang terdengar menyiratkan kecewa (menurutku sih).
“Loh, kamu suka makan disitu juga ya?” membersit nada senang mengetahui diah suka makan didekat kostku.
“Yah kamu besok-besok juga pasti menjelajah semua tempat makan buat alternatif menu makan” jawab diah dengan tepukan dipundak kiriku.
Waktunya Diah
Keluar dari kamar mandi Diah bersalin pakaian tidur, menyalakan radiotape dikamar sebagai pengantar tidur. Guling dalam pelukan diatas tubuh yang rebah tengadah menghadap langit-langit kamar, terpejam terjaga sang diah seirama lantunan emosi lagu dari radio.
“Kenapa aku hari ini ya?” gumam hati yang sesak gelisah,
“setahun ini aku bertahan sikap terhadap para cowok yang deketin aku. Tapi kali ini…kenapa aku bisa seiseng ini sih” sesal kental menggumpal dirongga dada.
“Mungkin karena adhi terlalu lugu dalam pikiranku, sampai aku tidak berusaha menahan sikap padanya karena memang tidak perlu” diah berhitung menimbang mengatur hati.
“Haaah…kenapa sulit sekali tidur” kesal sendiri dikamar yang mulai tidak bersahabat, melihat jam, sudah jam 11 kurang seperempat.
“Biasanya Rani masih teleponan sama pacarnya, kali aja ntar kalo dikamarnya aku ngantuk trus tidur” sumpek jenuh berujung kegiatan.
“Ran…!” “tek..tek…” memanggil sambil mengetuk-ngetuk kaca jendela Rani,
“Diah ya? Masuk yah!” suara rani masih sangat segar terdengar, berarti belum ada tanda-tanda ngantuk.
“Kenapa lagi neng? “Si abang” lupa setor suara ya!” Rani langsung main tembak aja, karena memang sudah jadi kebiasaan diah kalau gak bisa tidur malam pasti masalah “abangnya”.
“Aaah, kalau yang itu sudah kebal sekarang aku ran..” Diah menjatuhkan badannya disamping Rani yang tiduran dikasur,
“sudah ada pencerahan nih” rani bersemangat bangkit dari tidurnya.
“Itu dia, bukannya pencerahan, tapi aku nambah masalah!” diah juga jadi ikut duduk karena melihat rani antusias terhadap curhatnya.
“Ampun deh, yang kemaren aja gak jelas urusannya…eh cari kerjaan baru !” rani pukulkan guling ke badan diah,
“bukan inginku jenggg…ini terjadi begitu aja!” bahasa diah masih berusaha menutupi hal sebenarnya.
“Sebentar…, kalau gak salah seminggu lalu kamu pernah cerita tentang anak baru yang kamu jadiin kuli dadakan.
Jangan-jangan siang tadi kamu jalan sama dia ya?!!” dengan style paranormal rani menunjuk muka diah yang tidak bisa menyembunyikan merah rona pipinya,
“huuu….tega kamu ran, tapi memang iya sih. Kamu bener-bener dukun ya ran” terdakwa yang mengakui perbuatanya, diah melempar kembali guling kearah rani.
“Yaah…, gimana cerita ngedatenya tadi, kalau dilihat mukamu sih happy banget!” rani semakin penasaran dengan teman kostnya ini,
“happy, sok tahu….” berusaha untuk tidak tersenyum, diah tak mampu menutupi dari tetangga kamarnya ini.
“Ha…ha…akhirnya aku bisa lihat muka kamu yang sudah lama tidak terlihat se-happy ini” begitu senang rani melihat sohibnya bisa ceria seperti dulu lagi,
“aaah…aku jadi malu ceritanya nih..” diah bermanja habis didepan rani,
“waah…mesra banget nih kayaknya!” rani tersenyum dan matanya semakin galak.
“Yaa…gak bisa dibilang gitu juga sih..” kalimat masih tertahan-tahan,
“buruan, jadi laper nih nungguin ceritamu” rani mengambil persedian cemilan yang selalu ada di lemari khusus makanannya.
“Duh…So sweeeeett” rani menyanjung diah setelah mendengar cerita sore hingga malam tadi,
“nah, tahukan masalahnya. Dia itu…gimana ya, apa adanyalah, walau sedikit bermasalah dengan harga dirinya yang mahal itu!” diah tetap sulit menggambarkan perasaannya tentang Adhi.
“Maklumlah belum banyak terkontaminasi pergaulan kota yah” semakin asik rani dengan cemilannya,
“aku takut dia bener-bener berharap banyak karena sikapku ran..” suara diah mulai sedikit sendu.
“Mmmm…kamu mungkin memang butuh laki-laki yang bisa deket sama kamu, ya paling tidak bisa jadi kuli dadakan kaya kemaren!” dengan santai rani mendukung diah.
“Ah tega kamu ran, akukan gak sengaja nyuruh dia” diah membela diri,
“gak sengaja, terus doyan…lagian yang tega itu aku apa kamu neng” tak kalah sengit rani membalas dan mengeraskan kunyahan dimulutnya.
“Yeee, dia juga ikhlas kok bantuinnya” diah hampir mati langkah menanggapi sanggahan rani,
“ya pasti ikhlas lah, siapa sih yang gak mau bantuin diah gituh luooh” rani semakin diatas angin menekan diah.
“Aaaaaa…sudah ah, sekarang yang penting gimana enaknya nih” diah menyerah dari berkelit,
“enaknya…bukannya sekarang sudah enak yah..hi..hi” terus rani menggoda dan tertawa.
“Mbrrrottt…aku bener-bener bingung nih!” diah gemes dan mencubit paha rani,
“waaaaa…iya..iya…” rani menjerit bercanda.
“Gini aja, gimana kalalu kamu anggap adhi itu tidak ada bedanya dengan cowok-cowok lain yang sering menggoda dan berusaha mendekatimu?” akhirnya proses pencarian solusi dimulai rani,
“mmm…gak sampai hati aku ran” dengan suara sedikit melas.
“Ya udah, tungguin sampai dia nembak kamu, terus jadian sekalian. Selesaikan!” mata rani melotot,
“he..he…jangan kejem-kejem begitu ah lihatinnya bu guru, tapi aku bener-bener suka sama sikapnya” Diah masih berusaha membela egonya.
“Terus…maunya tetep jalan sama adhi, tapi kalau bisa adhi gak berharap untuk macarin kamu gitu!” rani mulai beranjak serius saat tangannya meremas bungkus cemilan yang telah kosong,
“kalau bisa seperti itu…., bisa nggak ya ran?!” wajah diah harap-harap cemas.
“Mmm..mungkin kalau kamu bisa menjaga sikap untuk tidak lebih dari apa yang sudah kamu lakukan ke adhi, mungkin adhi juga berpikir kamu menganggapnya sebatas teman curhat atau adiknya” sang ahli strategi mengajukan usulan dengan segala kemungkinannya.
“Kalau menjaga sikap mungkin masih bisa kuusahakan, tapi tadi kamu bilang adhi berpikir aku menganggap dia adik, padahal aku sudah melarang adhi jangan manggil aku mba” diah merasa bersalah karena keisengannya berbuntut sesal.
“Jadi dia manggil kamu diah..diah gitu aja” rani menatap diah dari ujung kiri matanya,
“itu…itu ran, jujur yang bikin aku…sedikit merasa dia berbeda dari laki-laki yang pernah dekat dengan aku” diah benar-benar tak kuasa menutupi ketertarikannya terhadap adhi.
“Kenapa? segitunya…memangnya dia manggil kamu merdu sekali suaranya ya” rani menggoda karena mulai penasaran lagi,
“ya nggaklah, awalnya sih dia manggil diah gitu aja tapi agak sedikit kaku gitu…” berhenti sejenak diah menarik nafas,
“aduh nafasnya nanti aja sih, bururan terus dia gimana” kembali rani membuka lemari ransumnya.
“Terus dia bilang repot manggilnya, kalau “di”..kayak manggil dia, kalau “yah”…kayak manggil bapaknya. Jadi entah sengaja atau tanpa sadar dia manggil aku….” tangan diah merengkuh bantal untuk menutup sebagian wajahnya,
“apa…jangan didramatisir gitu ah..gak liat jadi buka satu bungkus lagi nih” rani benar-benar beringas terhadap cemilannya karena nunggu diah.
“Dei..” lirih sekali suara diah mengucap,
“yang kenceng kenapa” rani menarik bantal dari pelukan diah…
”DEI” diah berteriak sambil menarik bantal kembali, kali ini diah benar-benar menutupi seluruh wajahnya yang merah dengan bantal itu.
“Whaaa…ha…ha….gilaaaaa, pantesan tuan puteri ini gak berdaya, oh…dei…dei…pangeranmu sudah datang akhirnya” rani melepas cemilannya dan berusaha menarik bantal agar bisa melihat mukanya diah.
“Gembrroot…..jangan sih, jarang-jarang aku jadi pemalu nih…” diah tetap mempertahankan bantal diwajahnya,
“Si abang aja manggil kamu standar aja, “cinta..”, “sayang..”, yang satu ini memang lain” rani terus meningkatkan usahanya menarik bantal.
“Nah itu dia rani cantik, aku shock berat waktu dia manggil begitu. Abangku aja gak pernah punya panggilan khusus buat aku, malah anak dari tengah hutan yang berikan aku nama special” kini diah melepaskan bantalnya untuk memasang wajah imut dimanis-maniskan didepan rani (sudah manis, tambah manis aja).
“Kok malah ngayal sendiri sih kamu ran” diah menarik tangan rani yang sedang menyangga dagunya,
“aaahh…gantian donk neng, aku juga lagi berkhayal kalau besok masku kusuruh bikin nama panggilan buat aku” rani yang bingung harus ngomong apalagi berpura-pura.
“Ngayalnya besok aja deh, aku butuh wejangan dari rani cantik yang bijaksana ini” diah merayu pada level merengek, “aku bingung yah, mau bicara apalagi. Gak bisa nyalahin kamu kalau sudah begini keadaanya” rani menyatakan menyerah untuk terus mengomentari kondisi diah.
“Mungkin sudah jalannya buat kamu untuk punya wawasan baru tentang cowok..dei” sambil tersenyum rani masih nyempetin menggoda diah,
“diih…malah ngece, tapi mungkin kamu ada benarnya ran, selama ini aku boleh dibilang cinta buta sama abangku…tapi,….” Diah bisa menerima pendapat rani, namun masih ada keraguan.
“Apalgi sih, udahlah jalani aja, selagi kamu bisa menjaga sikap…kurasa adhi juga termasuk orang yang bisa menjaga perasaan orang lain” rani kembali membantu diah mengambil sikap tegas dihatinya,
“mmm…thank’s ya ran” diah mencubit dua pipi rani yang bulat,
“aaaaa…terlalu, air susu di balas air tuba” rani mengerang sambil membalas menggelitiki diah yang mulai berlari kekamarnya.
Anak-Anak Kost
Dua hari berlalu semenjak hari terindah dalam hidupku sampai detik ini, disekolahan tidak banyak kejadian yang berarti (mikirin diah terus sih). Bertemu diah hanya sekedar bercanda seperti tidak pernah ada hari dimana kami berkencan, tapi itu juga cukup membantuku mengendalikan perasaan menggebu-gebu. Diah cantik, bahkan terlalu cantik untukku bila berkeinginan berhubungan lebih dari sekedar teman bercerita dan berbagi. Setidaknya awal-awal perantauanku ini sangat baik, semangat yang kubawa dari kampung halaman semakin menyala-nyala saja.
Sore ini aku diajak anak-anak kost ikut kekampus bang ucok yang sedang mengadakan acara musik, dan bang ucok sebagai panitianya.
“Ayo dhi, sudah siap belum” kang asep yang mendiami kamar sebelah kananku sudah standby diatas motornya yang masih didalam lorong kost,
“sudah kang, tinggal pakai jaket!” segera kuambil jaket kulit buluk warisan kakak sepupuku.
“Sedaaap…preman mana bung!” bang ucok yang juga sudah keluar dari kamarnya komentar karena jaket bulukku,
“bisa aja bang ucok, ini warisan kakak sepupuku. Lagian muka begini siapa yang takut bang, mukul nyamuk aja aku takut” aku bergaya imut untuk meyakinkan,
“Hoo..eek, najis!” mereka berbarengan diringi tawa dengan berbagai komentar.
Kampus bang ucok yang juga kampus kang asep sudah mulai ramai yang mungkin kebanyakkan anak kampus ini juga. Bang ucok langsung membaur bersama para panitia, kami dengan digaetin kang asep berjalan-jalan berkeliling mencari posisi yang strategis. Rasanya aku bukan anak sma kalau berjalan dengan para orang tua ini, he..he…emang tampang mereka yang boros semua. Akhirnya kang asep meminta kami untuk nongkrong ditangga teras depan lobby kampus yang sudah agak penuh oleh teman-teman seangkatan kang asep (kang asep lebih tua 3 tingkat dari bang ucok).
“A’, baru nyampe ya…aku sama anak-anak nyariin, kepala suku belum keliatan, kurang koordinasi kita disini” cewek semampai berambut lurus buatan, berkacamata hitam dan berbusana sesak oleh perabotan body bernilai tinggi,
“Kepala suku!, malu-maluin aku didepan kepala suku beneran kamu Nin” kang asep yang ternyata pimpinan diangkatannya menarik pundakku sampai membuat badanku maju selangkah kedepan mba yang dipanggil “Nin” ini.
“Beneran kepala suku masnya?!” Mba Nin bertanya bego,
“ya bukanlah mba, bisa-bisanya kang asep aja” kalau bener udah aku pellet kamu mba (dalam hati sih).
“He..he..ini anak kostku yang baru, anak Kalimantan aseli langsung dari rimba” canda kang asep disambut tawa mba Nin…dan juga dua orang tua lagi yang ikut-ikutan bahagia, mas Rahmat dan mas Kadek.
“Kuliah dimana masnya?....Eh siapa namanya dulu” tanpa canggung mba nin bertanya dan mengulurkan tangannya padaku,
“Adhi mba, aku masih…” belum selesai ucapku, “kuliah di UGM dia Nin!” mas Kadek tiba-tiba nyerobotku.
“Wah, kok bisa masuk sarang penyamun sih kostnya” Mba Nin kagum, tapi lebih banyak herannya,
“aaahhh…dikerjain terus, aku masih sma mba nin!” kini bicaraku sudah tidak canggung dan tanganku masih bersalaman.
“Oalah, sma tho…naas! kamu salah pilih kost” wajah mba nin baru terima sekarang dan tangannya meremas sambil menghentak tanganku,
“dan namaku Ninda, bukan nin doank” mba nin memberikan nama lengkapnya serta membuka kacamata hitamnya.
Acara sudah dimulai, kami membaur dengan teman-teman kang Asep. Rupanya mas Rahmat dan mas Kadek sudah hampir kenal semua teman kang Asep, aku yang berusaha tidak kaku malah semakin terlihat kikuk berada diantara anak kuliahan.
“Adhi, kamu nyantei aja, jangan bingung gitu donk duduknya” mba Ninda yang sudah duduk dibelakangku menggodaku,
“Iya mba, sedang proses adaptasi nih” aku terus berusaha menunjukkan kerilekskanku.
“Iya nih, abang-abangnya tega, bawa adik kesini tapi dicuekin” Mba Ninda seperti kakak yang memperhatikan adiknya yang sedang tertindas,
“Waah, kamu jangan ketipu wajah yang diimut-imutin Nin” mas Rahmat langsung melakukan pembelaan dan tuduhan sekaligus,
“tuhkan, kubilang tadi…kamu naas dhi masuk kost mereka!” mba Ninda tetap pro ke aku.
“Naas! Dia ini baru berapa hari sekolah aja udah langsung gaet cewek Nin, kembangnya sekolah lagi” mas Rahmat masih gak terima kayaknya lihat aku bisa jalan sama cewek.
“Itu cuma temen mba, kebetulan aja kostnya dekat” aku menjaga keimutanku didepan Mba Ninda yang cantik dan penyayang ini.
“Hi..hi…Rahmat sensi kalah sama kamu dhi!” mba Ninda membantuku menyerang mas Rahmat.
Kang Asep yang ternyata mendengar obrolan kami tertawa cukup keras barengan mas Kadek yang memang dari tadi mengamati pembicaraan kami.
“Sialan kalian, bukannya adhi yang diospek malah aku!” mas Rahmat kibarkan bendera putih karena kalah pasukan,
“Ha..ha..anak imut banyak yang sayangkan mas” diriku mengukuhkan kemenangan atas mas Rahmat,
“dasar kau dhi..” mas rahmat tertawa sambil mendorong pundakku.
Semakin malam, pertunjukkan semakin meriah oleh band-band yang semakin menggila dengan lagu-lagu yang yang tergolong cadas. Hari ini aku mendapat pengalaman baru lagi, konser musik yang memang hampir tidak pernah ada dikampungku (kalau ada juga pas 17-an, itupun dangdutan seringnya). Dan…Mba Ninda, menambah perbendaharaanku akan wanita cantik yang menarik (setelah diah tentunya).
“Dhi… kamu sekolah nggak?!” suara mas Kadek dari luar kamar membangunkan tidurku yang lelap.
“Emmm….iyalah mas!” kepalaku yang terangkat kembali jatuh dibantal. “Masuk siang ya?” kembali mas Kadek bersuara,
“Masya Allah….udah jam segini” bergegas menggerakkan badanku yang lengket dikasur saat melihat angka 06.45 di jam bekerku yang kucuekin pagi ini,
“makasih ya mas, bener-bener gak denger beker hari ini” mas Kadek geleng-geleng saat aku membuka pintu kamar.
“Belum mandi” arif sudah didepan kost saat aku membawa handuk ingin ke kamar mandi.
“Kesiangan Rif!” aku berlari ke kamar mandi,
“Ra’ usah mandi, raup karo sikatan wae dhi!” Arif berteriak mengingatkanku akan waktu yang sudah mepet.
“Kamu, ngapain semalam, kok bisa kesiangan” Arif baru menanyakan setelah didalam kelas, tadi tidak sempat karena harus konsentrasi dijalan.
“Aku diajakin nonton musik sama anak-anak kostku dikampus mereka, sampai tengah malam!” bercerita dengan sedikit lirih, karena bu Istifada sudah duduk dan menyiapkan rumus-rumus kimianya.
“Wah, kamu bisa-bisa males sekolah dhi, kalau keseringan keluar malam” arif yang tergolong anak rumahan ini menasehatiku,
“Iya rif, bener juga kamu. Tapi seru juga nongkrong sama anak kuliahan ya” aku tidak memungkiri kalau aku ketagihan nongkrong bareng orang-orang tua itu.
“Enak juga sih jadi kamu dhi, anak kost bebas. Aku bisa tidur diteras rumah kalau pulang kemalaman” Arif sedikit iri melihat kebebasanku.
“Ok, sebelum pelajaran dimulai…kumpulkan PR kalian!” bu Istifada berdiri dan berjalan ketengah-tengah papan tulis,
“Mati, aku belum bikin!” sambil kutepuk jidatku.
“Ayo, sudah semua?!” bu Istifada terus mengawasi seluruh kelas,
“Kamu, dari tadi nggak berdiri ngumpulin PR, nggak ngerjaian ya!” tangan kiri bu Istifada bertolak dipinggang dan yang kanan menunjuk lurus ke arahku.
“Ngerjain bu, cuma ketinggalan!” panik yang jelas tampak diwajah imutku,
“ketinggalan…kok bukan kuping kamu yang ketinggalan! Bilang aja nggak ngerjain!” bagai geledek suara bu Istifada dikupingku (yang seharusnya nggak kubawa, biar nggak denger omelannya).
“Sekarang kamu bawa buku kamu kedepan!” tangan kanannya bergeser menunjuk kearah dekat pintu,
“iya bu” sialan…kenapa aku bisa lupa kalau ada PR sih. Santi berbalik melihatku,
“kamu kok bisa sih dhi” sedikit berbisik Santi menyampaikan rasa sedihnya, kubawa buku tulis dan cetak kimia kedepan.
“Sekarang kamu ikutin pelajarannya sambil lesehan didepan kelas!” ada sedikit nada menghardik dari bu Istifada,
“disini bu” sambil kutunjuk lantai dekat papan tulis.
“Bukan, didepan kelas!” kini bu Istifada mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi kearah teras kelas (tepatnya sih lorong kelas 1 depan pintu kelas),
“bu!” suara protesku tertahan, berganti wajah sangat memelas.
“Itu biar kamu kapok dan pelajaran juga bagi yang lain untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama!” hukuman dan nasehat yang cukup keras bagi anak seimut diriku.
Bersila dan termiring-miring diriku melihat papan tulis, dan segera menunduk saat anak kelas lain yang lewat ingin ke wc. Kenapa? Padahal hari-hari kemaren kujalani dengan lancar, bener si arif kalau begini, aku tidak bisa terus-terusan terbuai kebebasan yang baru kurasakan ini. Untung diah nggak akan lewat sini selama jam pelajaran, duh..dingin nih pantat duduk dilantai.
Sedikit lagi 2 jam pelajaran kimia yang menyebalkan ini berakhir, “hi..hi…pasti lagi dihukum bu istifada ya” suara mengikik pelan dari cewek gendut dengan setumpuk buku didepan dadanya berlalu dari arah perpustakan dan menuruni tangga kelantai 1. Kumanyunkan bibir dan kutundukkan kepala, tangan mulai menggaruk kepala. Brengsek, untung cewek gembroot yang negur, pasti dia juga pengalaman dihukum ibu yang penuh cairan kimia itu.
Bel pergantian jam pelajaran berbunyi, buru-buru diriku berdiri kembali keruang kelas.
“Eiit, kamu kesini dulu!” rupanya ibu ini masih dendam padaku,
“nama kamu siapa?” dengan pulpen siap ditangannya.
“Adhi Ardiansyah, bu!” nada tegas sarat rasa kesal sengaja kukeluarkan,
“Semoga hari ini bisa jadi pelajaran berharga buat kamu ya Adhi!” nasehat nan lembut seolah dia itu tidak sekejam yang aku pikirkan,
“iya bu..” bukan berharga lagi bu, kuingat sepanjang hidupku (dalam hati).
“ya, sudah kembali kebangkumu, tolong besok jangan terjadi lagi ya!” masih kurang aja nasehatnya,
“iya bu” sekali lagi nasehat dapet kulkas bu (masih dalam hati).
“Ha..ha…kapokmu kapan dhi!” sudah jatuh tertimpa Arif diriku,
“ahh..kejam, mending ditampar aku rif, daripada harga diriku tergadai!” kubanting dua tumpuk buku ditanganku.
“Dhi, besok-besok kalau kamu lupa ngerjain PR, datengnya pagi-pagi kesekolahan! Jadi masih sempet ngerjain” Santi yang dari tadi memandangiku kini bersuara.
“Iya San, besok-besok aku nggak akan lupa ngerjain PR” kesal yangh masih belum bisa pergi dari dadaku,
“Ya kalau kamu mau kita ngerjain bareng aja kalau ada PR” Santi masih terus berusaha memberikan perhatiannya padaku.
“Pagi-pagi disekolahan San?” aku bertanya dengan sedikit ketus terpengaruh hukuman tadi,
“iiihh….ya dirumah lah, namanya juga PR!” Kini Santi juga ikut terbawa kekesalanku.
“Wis..wis…malah padhu! Bener kamu San, biar kita juga ada kegiatanlah habis sekolah” arif menengahi dan mencoba membuka pikiranku,
“ya, buat yang pengen aja sih Rif, yang nggak pengen nggak usah maksain!” kini Santi yang sedikit ketus sambil kembali menghadap kedepan.
“Kowe ki loh dhi, ditawari apik-apik malah nggawe nesu wong!” Arif terus menasehatiku dengan bahasa jawa yang mulai akrab ditelingaku dan sedikit mengerti (karena arif lebih sering pakai bahasa jawa padaku). Masih terdiam untuk mengendalikan hatiku, aku berdiri dan melangkah kedepan kesamping Santi.
“San, maaf ya, aku nggak kesel sama kamu…ntar istirahat kutraktir gado-gado deh!” menyesal juga aku setelah sadar akan kekanak-kanakanku,
“Iya, aku ngerti kok dhi, dan permintaan maaf aku terima karena ada gado-gadonya sih, hi..hi..” Santi membuatku lega dengan candanya.
“Ok, terimakasih Sanntiik…” sambil kuacungkan kelingking kanan kedepan Santi, merah pipi santi saat ragu untuk menyambut kelingkingku dengan kelingkingnya.
“Dasar gombal, sering-sering aja bikin salah biar aku bisa makan gratis terus….” sambil mengait kelingkingku dan menggoyang-goyangkannya,
“..dan bikin gombalan yang bikin pipi merah” kulanjutkan kata-kata Santi yang menggatung tadi dan melepas kelingkingku untuk menyelamatkan diri.
“Aahh..dasar, sudah dimaafin langsung bikin salah lagi” Santi berusaha menarik tanganku yang kujauhkan darinya,
“lah, tadikan kamu yang suruh San” kini aku diatas angin.
“Egghhh…” Santi menggeram gemas kearahku, namuh segera berbalik karena pak Sugiarto wali kelas kami sudah masuk untuk mengajar matematika.
“Pagi anak-anak!” Pak Sugi memberi salam begitu selesai meletakkan buku diatas meja guru,
“Pagi Pak” jawab kami lebih santai karena beliau wali kelas kami. “Pagi ini saya mendengar berita menarik dari kelas ini” sambil bergaya sibuk membuka-buka buku,
“Iya Dhi?!” langsung berjalan menghampiriku,
“waah, masih kurang apa ya ibu itu, ngadu-ngadu ke Pak Sugi segala!” kini amarah yang sudah mulai adem berkobar kembali.
“Eh..bukan ngadu dhi, tapi itu namanya laporan!” Pak Sugi membela teman seprofesinya,
“ya saya sudah minta maaf dan berjanji tidak akan terulang lagi tadi sama bu Istifada Pak!” aku masih menunjukkan rasa tidak terimaku.
“Iya, bapak juga sudah dikasih tahu sama bu Isti. Bapak cuma ingin memastikan kalau kamu sudah bisa konsentrasi belajar lagi” Pak Sugi bisa menangkap kekesalan ku yang kembali muncul,
“iya, maaf Pak” aku jadi malu lagi karena emosi.
“Sekarang kamu sudah siap buat belajar lagi?” Pak Sugi menatap mataku,
“Sudah Pak!” aku terkejut dilihat seperti itu.
“Baik, kita kembali ke pelajaran” Pak Sugi berbalik menuju papan tulis.
Warung gado-gado terasa agak lengang hari ini, mungkin karena pegawai banyak yang libur hari Sabtu ini. Di meja yang menempel kejendela sebelah kiri warung, aku duduk menunggu pesanan bersama Santi.
“Kamu hebat juga ya San, dari SMP sudah jadi anak kost” diriku membuka pembicaraan,
“ya gimana lagi dhi, bapakku kerjanya pindah-pindah daerah, jadi SD aja aku 5 kali pindah sekolahan, jadi akhirnya ibuku nawarin aku untuk sekolah di Jogja aja biar nggak usah ikut pindah-pindah dan nggak kacau sekolahnya” Santi bercerita menyiratkan rasa sedih dan kesepian.
“Kayaknya aku harus belajar lebih banyak untuk menjadi anak kost dari kamu San” kini aku punya alasan untuk bersimpati padanya,
“he..he…ambil formulir pendaftaranya dulu dhi, kalau mau kursus sama aku” Santi bercanda manis memikat simpatiku.
“Syukurlah kalau cuma suruh ngambil formulir, kalau disuruh ngambil hatinya dulu kan repot juga” kubalas dengan kemampuan alamiku.
“Maksudnya…?” Santi melotot tersipu,
“akukan paling nggak bisa ngerayu San” duh, seandainya aku bisa ngomong selancar ini didepan diah,
“Ngerayu nggak bisa…tapi kalau ngegombal jagonya” Santi bertahan dari deraan pesonaku dengan menyeruput es tehnya dengan sendok.
“Kalau itu kamunya aja yang bilang, emang kamu ngerasanya omonganku selama ini banyak gombalnya ya” ikut juga ah nenggak es jerukku,
“ya salahnya kamu kalau ngomong kebanyakkan becanda sih” Santi mengungkapkan rasa kesal karena sulit menebakku.
“Bukan becanda, tapi mau ngerayu bingung harus ngomong gimana!” kini aku meliriknya dengan gelas tetap ditangan,
“tuh kan mulai lagi” kini tangannya tidak tahan untuk mencubit pahaku. “Aahh…bingung San ngomong sama kamu, begini salah, begitu salah!” aku memberikan gaya frustasi dan sedikit wajah suntuk.
“Eh..iya..iya , giliran aku yang becanda kamu tanggapin serius sih” Santi kebingungan melihat tingkahku, gadogado datang dan langsung disantap.
“Wooi…yang lagi mojok!” terdengar suara Arif dan sedikit keriuhan dari beberapa anak kelas yang juga datang,
“loh, katanya arep mangan neng padang” sedikit kaget kusambut dengan bahasa jawa yang sangat buruk terdengarnya.
“Iyo, mau aku wis rono, trus ketemu bocah-bocah iki” Arif menjelaskan kehadiran mereka dan mengambil posisi di meja sebelah,
“Piye San, bikin masalah lagi orang ini” kini Dita teman sebangku Santi menempel duduk di sebelah Santi.
“Belum Dit!” Santi melirikku,
“Belum, berarti kamu masih pengen bikin salah lagi dhi” Dita memelototiku dan mengulum senyum.
“Bukannya aku ingin salah Dit, tapi Santi ternyata doyan kalau aku bikin salah sama dia katanya” kini kubalikkan badan menyender kemeja, biar enak ngobrol sama anak-anak yang duduk bersama Arif di meja sebelah.
“Ihh mana ada orang doyan di”salahin” sih dhi” dita masih membela temannya yang kini lebih banyak diam disampingnya,
“Ada, nih!” sambil aku menunduk untuk melihat wajah Santi yang tertunduk.
“Apa sih” Santi menemepelkan tangannya kemukaku dan mendorong dengan pelan.
“Aahh…jangan-jangan wis dadian yo kowe wong loro” Nanang yang ikut bersama Uci berusaha membuat gossip,
“apaa…jadian sama anak menyebalkan ini, mimpi juga gak pernah” santi cepat menyanggah isu yang jangan sampai dibesarkan nanti. Mereka yang disini tertawa mendengar sanggahan Santi dengan sedikit hinaan padaku, “Iya, mimpi gak pernah San, karena memang cuma ada dikenyataan” jangan pernah bermain kata denganku.
“Wuhuu…seru!” Uci kini yang kegirangan melihat kami berdua,
“wah, bahagia bener kamu Ci” Arif menanggapi Uci.
“Iyalah, itu tandanya mereka sama-sama punya rasa!” dengan pd-nya Uci memberikan pernyataan yang menyesatkan.
“Oh, ngono tho!” kini Arif yang kemakan omongan Uci dan melihat kearaku,
“kenapa? Kok ndelokke aku!” aku harus menampik kecurigaan Arif.
“Ngarang kamu Ci, sok yes!” Santi memprotes Uci dan melemparkan lombok untuk gorengan ke Uci,
“hi..hi…tapi mukanya gak usah pake merah gitu donk San” Uci masih menggoda Santi sambil berlindung dibelakang sang ketua kelas.
“Aahhh…Uciiii!” Santi ingin berdiri, namun dipegang Dita yang ingin memastikan wajah Santi,
“Ihh, beneran abhang ki San” Dita yang temannya sebangku malah menguatkan pendapat Uci,
“kamu Dit…” santi sebel karena Dita tidak mendukungnya.
Tawa kami semua meledak dan semua berdiri untuk kembali kesekolahan, sepanjang jalan Santi melampiaskan malunya dengan mengoceh dan mendorongku dari belakang.
Anak-Anak Kelas
Kini hari-hariku disekolahan sudah makin asyik, makin sering kami satu kelas berkumpul setelah pulang sekolah. Diah sudah agak jarang bertemu, namun tetap adalah dalam 1 minggu.
“Sore ini gimana kalau kita kepantai!” Nanang memberi komando didepan kelas disela pergantian jam pelajaran,
“Aku ikut!” sebagian kaum hawa dikelas berteriak bersamaan.
“Pantai ngendi Nang?” Arif yang anak rumahan pasti sedikit memilih tempat bermain,
“lah enaknya dimana kalian?” Nanang mengembalikan kesepakatan pada forum,
“Baron wae!” ferry cepreng bersuara,
“bener, kan iso neng kukup sisan” Budi menambahi item kunjungan.
“Wah, tapi kadhohan kuwi” Arif langsung keberatan, karena mungkin akan sampai malam nantinya,
“Parangtritis wae seng cedhak!” Arif memberikan alternatife yang lebih dekat.
“Yo, bener Rif, Waktunya mepet kalau pulang sekolah ini kita mau pergi ke yang jauh-jauh” Nanang mendukung usulan Arif,
“Rak masalah lah, sing penting jalan-jalan” ferry mengikuti kebijakkan ketua.
“Ok, setuju semuakan kalau ke parangtritis aja!” Nanang memastikan sekali lagi anggotanya.
“Siap komandan” kelas sigap menanggapi Nanang.
“Jadi seperti biasa, kumpul jam 3 disekolahan!” prosedur standart untuk titik temu pasukan.
Semua sepakat dan akan berkumpul sore nanti, diriku tinggal menanti tumpangan,
“Dhi, nanti kamu yang bawa motorku ya! Aku belum biasa pergi jauh-jauh bawa motor sendiri” Santi berbalik badan dan sedikit lirih karena guru sudah duduk didepan kelas,
“beres, San!” diriku juga sedikit berbisik.
“Trus ntar aku sama siapa San?” Dita jadi protes, karena biasanya bergocengan dengan Santi setiap ada acara.
“Tenang Dit, kan ada ojek yang lebih senior dari aku” kini kumajukan kepalaku diantara Santi dan Dita dan memiringkan wajahku ke Arif,
“Woo..thelo!” arif mendorong badanku.
“Tuhkan Dit, Arifnya aja senang sekali bisa gonceng kamu” kesempatan bikin gossip baru dikelas nih.
“Wuuoo…” Arif mencekik leherku dan mengguncang-guncangkannya, “nggak papakan Rif aku goceng kamu” Dita menyelamatkan leherku,
“I..iya, nggak papalah Dit” Arif jadi salah tingkah dan langsung melepas cengkeramannya dileherku.
Jum’at sore ini hampir semua anak kelas kami berkumpul semua didepan sekolahan. “Ok, semua sudah pada posisi masing-masing!’ Nanang (yang mungkin sedikit terobsesi dengan dunia militer) memberi arahan.
“Siap Ndan!” kuceletukin dari atas motor millik Santi yang sudah duduk dijok belakang.
“Berangkat”…brrrmm…pasukan bergerak seusai aba-aba sang ketua yang telah erat pinggangnya dipeluk Uci.
“Sani, ngebut dikit donk!” Neni merengek karena posisi mereka paling belakang,
“bahaya Nen, kalau tumpuk-tumpuk jalannya” dengan santai Sani menenangkan rengekkan Neni.
“Uuh…pengen gangguin Santi sama Adhi nih” Neni yang terhitung cerewet masih protes,
“Aah, biarin aja sih” masih dengan kalem Sani menanggapi, kehabisan akal akhirnya Neni memeluk Sani dengan erat.
Ini lebih efektif, sadar atau tidak sadar Sani memacu motornya lebih kencang hingga melewati diriku dan Santi yang ada diurutan baris ke 3 bersama Arif dan Dita.
“Ha..ha..lihat San, Sani jadi perkasa didopingin sama Neni!” aku tak bisa menahan tawa melihat Sani yang culun tiba-tiba sedikit macho dalam pelukan Neni,
“bukan berarti kamu minta dipeluk jugakan dhi!” sedikit sinis tanggapan Santi.
“Ya ini bukan masalah pengen atau gak pengen San, tapi masalah keselamatan dijalan” isengku goda Santi yang sejak berangkat tadi malu-malu memegang dua sisi pinggangku,
“Hayah…gombal!” Santi menepuk helmku.
Akhirnya sampai digerbang pantai Parangtritis, setelah semua bayar karcis konvoi berlanjut memasuki parkiran pantai. Kurang lebih 45 menit menempuh perjalanan lumayan buat menurunkan matahari yang membuat sinarnya jadi sedikit lebih bersahabat, Nanang mengkoordinir penyewaan tikar. Sebagian langsung menuju laut untuk bermain ombak, sebagian lagi memilih duduk ditikar termasuk diriku yang menemani Santi membeli jagung dari penjual yang menghampiri kami.
Gitar telah digenjreng oleh Andre sang pemiliknya dipadu biduan dadakan yang bersuara coba kalahkan gemuruh ombak pantai Parangtritis. Febri fotografer kami memulai juga tugasnya mengabadikan moment para model-modelan ini. Gaya, canda dan kemesraan ini sungguh membahagiakan semuanya, apalagi diriku.
Sunset hampir menjelang, keramaian disekitar tikar mulai berkurang karena masing-masing sudah mencari posisi yang nyaman untuk berkhayal dan bermain. Dalam kesempatan ini digunakkan beberapa jejaka yang belum berpasangan untuk memilih betina yang tersisa. “Ci, naik andong yuk” Nanang memanjakan Uci-nya, “asyiiik…” Uci langsung gandeng tangan Nanang menghampiri andong yang memang sedang berhenti didepan mereka. Arif dan Dita sibuk cari kerang dari tadi, Sani culun berdiri manis menemani Neni yang keranjingan bermain ombak, para lelaki yang tidak butuh wanita asyik menceburkan diri dan saling perang pasir. Diriku….masih duduk manis bersama Santi yang dari tadi belum berkeinginan,
“Jalan-jalan yuk San! Jauh-jauh kepantai cuma duduk-duduk” baru pertama ke Parangtritis diriku harus lihat-lihat donk,
“jalan kemana dhi?” Santi berdiri menerima tangan yang kusodorkan padanya.
“Ya, nyusurin pantailah” sambil terus kugenggam tanggannya setelah membantunya berdiri tadi.
Santi juga tidak bereaksi minta dilepas, ya kupegangi terus tangannya, sampai kami tiba di ujung pantai berbataskan bukit karang.
Santi tak banyak bicara, begitu juga diriku. Tidak tahu yang ada dibenak Santi, yang jelas benakku malah terisi khayalan….seandainya sekarang Diah yang kugandeng sambil menikmati sunset dan menghirup wanginya rambut yang menerpa wajahku diterpa angin pantai, lalu kubelai rambutnya ini….
”Dhi, rambutku mau dimakan ya?” Suara Santi benar-benar mengejutkan,
“Ehh….ra..ram..butmu wangi San! Jadi gagap deh, berubah jadi Santi lagi sih.
“Terimakasih….” Santi meneruskan ucapan dengan senyum misterius.
Sunset terilhat cukup indah karena cuaca yang cerah, aku dan Santi duduk agak rapat dikarang kecil yang kami duduki sambil merasakan ombak menerpa kaki kami.
“Bagus ya San” kubuka lagi pembicaraan,
“Iya, aku jadi ingat waktu kesini terakhir bersama ayah ibuku dan adikku yang masih digendong 2 tahun yang lalu” mata Santi menerawang keseberang lautan.
“Jarang sekali ya kamu ketemu orangtuamu San” menghangat hatiku oleh rasa haru yang perlahan menjalar,
“Iya…tapi sudah terbiasa setelah 4 tahun ini” sangat jelas Santi berusaha menguatkan hati.
“Pulangnya nanti makan ayam bakar didekat kostku yuk San” tiba-tiba rasa haru ini memancingku untuk menyenangkan hati Santi ,
“mmm…boleh, kalau gak kemaleman. Bareng aja sama Dita dan Arif ya!” Santi mulai ceria lagi.
“Yup, biar sekalian aku bisa anter kamu kekostmu, nantikan ada Arif yang bisa anterin aku pulang kekost setelah dari kostmu” menguatkan usulan Santi.
“Nggak usahlah, kasihan Arif muter-muter, rumah Dita agak jauh Dhi. Biar aku anter kamu pulang, aku juga pengen lihat kostmu” Santi nggak tega karena tahu Dita rumahnya agak jauh, dan mungkin juga lebih ingin tahu dimana kostku.
“Makasih mau nganter aku, jadi nggak enak nih” basa-basi yang basi banget jadinya,
“tumben manis banget jawabnya” Santi senyum menutupi kegirangannya melihat aku berbasa-basi didepannya.
“Apa katamu lah San, Yuk balik keanak-anak!” jadi ketagihan gandeng tangan Santi nih,
“Yuk, sudah mulai gelap juga” Santi bersemangat menggenggam tanganku.
Selepas sholat maghrib berjama’ah, konvoi mulai bergerak pulang. Suasana perjalanan pulang terasa hening yang dipenuhi syahdu kenangan yang mulai meresap masuk dalam ingatan kami. Sampai di ringroad selatan kami berpencar,
“Rif, jadi makan barengkan?” Santi menanyakan Arif yang membocengkan Dita.
“Kayaknya nggak jadilah San, nih Dita udah ngantuk katanya” Arif membatalkan rencana makan bareng karena Dita katanya.
“Ngantuk…apa pengen berdua ke tempat makan lain Rif sama Dita” harus kupanasi biar jadi makan barengnya,
“Wuoo…ngawur, wong aku ki manut Dita” Arif hilang lelah terbakar esmosi.
“Iya Dit!” kutanya Dita sekalian,
“lagian kasihan Dhi, rumahkukan jalan palagan, lumayan jauh kalau nanti mampir-mampir dulu” Dita berusaha membela Arif.
“Yaaa..sudahlah, kita makan enak berdua San..” kutoleh Santi yang kini tanpa sadar duduknya lebih rapat kebadanku dan tangannyapun sudah hampir melingkar penuh dipinggangku.
“Ya nggak masalah, yang pentingkan sudah nawarin” Santi sedikit kecewa karena Dita tidak jadi meramaikan makan malam ini.
Kami berpisah diperempatan Gondomanan, Arif lurus ke utara, kami belok ke timur melewati sekolahan dan langsung menuju warung ayam bakar.
Santi
Setelah memesan makanan aku mencari tempat duduk, kebetulan malam ini agak ramai warungnya. Santi ke wc buang beban selama perjalanan, lumayan bagiku untuk sekedar mengatur nafas mengurangi rasa pegal badan ini dengan bersendirian.
“Kostmu seberapa jauh dari sini?” Santi bertanya disela suapan menuju mulutnya,
“tuh, gang depan warung” kutunjuk seenaknya dengan wajah dan mulut monyong sebagi telunjuknya.
“Oalah, pantesan ngajakin makan disini” Santi kembali meneruskan makannya (kelaperan juga nih anak).
Hening beberapa saat pembicaraan kami berdua, karena perut ini minta perhatian lebih.
“Besok gantian aku yang main kekostmu San!” setelah menghabiskan makanan kini kubersemangat lagi,
“bener, minta disuguhin apa?” Santi sedikit ragu takut kukerjain lagi.
“Ice cream, sate ayam, cemilan…” berpikir apa lagi ya,
“nggak usah pakai minumkan?” kini Santi yang kenyang bisa lebih cerdas menghadapiku.
“Kan udah lihat kamu, jadi nggak perlu air” jangan sampai kalah ngomong pokonya.
“Beneran ya, besok ke kostku! Bener-bener nggak kukasih minum” Santi menantangku untuk memastikan kedatanganku.
“Ok, berarti besok jam istirahat aku nggak makan, biar laper banget” lumayanlah mengirit duit makan,
“yuk, sekarang pulang, udah hampir jam 9 nih” Santi bergegas berdiri dan menuju kasir.
“Eiit, mau ngapain San kesana?” kucoba menahan maksudnya membayariku,
“Ya bayarlah, buat mas ojek kutraktir” santi berkeras ingin membayar.
“Yaaa…., sering-sering aja!” tak bisa banyak bicara, sekalian aja ambil untungnya. Santi mengantarku sampai kedepan kost, “Besok jangan telat lagi loh Dhi, pulang dulu ya..dach..” Santi menghilang di ujung gang.
Pagi disekolah yang ceria, hari ini aku cukup nyemil gorengan aja, karena pulang nanti harus makan besar nih. Diriku nongkrong dikoperasi memisahkan diri dari rombongan anak-anak kelas, karena biar santai makan gorengan dan minum teh panas (jadi ingat kebiasaan dikampung) sampai jam istirahat pertama berakhir.
Jam pelajaran terakhir hampir selesai, Santi berbalik badan dan….“nih kunci motornya pegang dulu!” Santi memberikan kunci motor padaku.
“Loh, kowe ‘bali karo Santi dhi!” Arif komentar karena penumpangnya direbut Santi,
“iya Rif, ono perlombaan dikostnya Santi” jawabku ingin buat Arif penasaran.
“Perlombaan…perlombaan cinta kuwi. Tapi apiklah, paling ora saiki kowe wis ono sing ngurusi hi…hi…” Arif tak mau kalah menyahutku,
“wisss…kan Dita perlu tumpangan juga Rif” sambil kutarik-tarik jilbab Dita dari belakang.
“Iihh…opo sih wong gendeng sijiki!” Dita menarik lepas jilbabnya dari tanganku,
“Arif Dit, bukan aku” senangnya menggoda mereka berdua.
Teeee..ee…et, waktu pulang berkumandang, wajah-wajah ngantuk di kelas ini cerah kembali (mungkin termasuk diriku).
“Parkir sebelah mana San?” setelah memasuki parkiran motor sekolah yang panjang sepanjang lorong kelas 2, “dekat jendela kelas 2” Santi berjalan mendahuluiku.
“Dhi, bawa motor sekarang kesekolah!” suara yang seharusnya tidak boleh hadir saat seperti ini,
“Eeeh…mb..dei, belum keluar kelas?!” sumpah, bingung! Manggil “mba” besok urusannya panjang, ini juga bakal diinterogasi habis di kostnya Santi nanti.
“Lagi ada rapat buat pengajian ntar sore, wah…besok-besok gantian jalan-jalan pakai motormu ya dhi” entah Diah memperhatikan atau tidak akan cewek yang (mungkin) sedang meradang disampingku.
“Ini motor nona ini dei” sambil kupercepat menarik mundur motor ke lorong parkiran,
“siapa nih..?” suara Diah sedikit tertahan karena matanya mulai menatap tajam ke arah Santi, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Temenku sekelas, aku mau kekostnya sekalian minta anterin pulang” semakin gelisah suaraku.
“O…ya!” suara yang jelas mulai terdengar dibuat-buat. Untung barisan motor di belakangku sudah tidak sabar, jadi aku punya kesempatan untuk segera cabut.
“Duluan ya dei!” aku langsung menggas motor, dan itu membuat Santi memegang pinggang supaya tidak jatuh karena dia duduk miring. Santi diam dijalan,
“San, ini lewat mana? Jangan diem donk, kita nyampenya kostku nanti!” kucoba becandai, walau ku(sedikit)tahu keadaan hatinya sekarang,
“nanti kalau udah waktunya belok kukasih tahu!” suaranya datar.
Kali ini aku tidak menemukkan kalimat yang bisa dipakai dalam situasi ini.
“Belok kanan” perintah datar dari Santi, aku belok menurut tanpa menyahut,
“pertigaan depan belok kiri” hari ini Santi pulang naik ojek pemula.
“Gapura tengah sawah didepan masuk dhi” sambil tanggannya “ngeplang” membantuku membelokan motor.
Sebuah rumah berhalaman luas dengan beberapa pohon besar menaungi lantai tanahnya, Santi turun membukakan pintu rumah yang berbentuk joglo.
“Motornya lewat samping, kubukain dulu pintu sampingnya!” wajah Santi masih terlihat dingin.
“Klek!” selang beberapa waktu terdengar suara berasal dari samping kanan rumah,
“lewat sini dhi” Santi memanggilku, langsung kudorong motor Santi kesana.
“Wah, luas ya San kost-kostanmu?” aku berusaha memulai pembicaraan yang kondusif,
“biasa aja” jawaban Santi masih pendek-pendek, tandanya terganjal sebel di hati. Aku berbalik badan hendak kembali kepintu masuk tadi,
“loh mau kemana dhi? Lewat sini sekalian, itu kamarku!” Santi menahanku yang tidak tahu kalau kostnya cowok boleh sampai kekamar.
“Nggak diruang tamu ya San?” jadi kikuk memasuki kamar cewek,
“Nggak perlu, ibu kostnya santai, karena percaya sama kami yang kost disini” penjelasan Santi yang sudah mendahului masuk kekamar.
“Ngapain didepan pintu sih, masuk…kan ada karpet depan tv!” Santi menegurku yang kikuk sekali sambil dia membuka jilbabnya didepanku,
“loh..San..!” aku nggak sadar bersuara karena….,
“kenapa, …jilbab! Emang aku diluar sekolah nggak pakai jilbab kok dhi” dengan santainya Santi menjawab dan terus merapikan rambut yang baru dibuka ikatannya.
“Hi..hi…nggak nyangka, bisa lihat kamu anteng gitu dhi” rupanya dari tadi Santi menikmati kekakuanku,
“e..e…aku kaget aja, kan belum pernah lihat kamu nggak pakai jilbab. Tapi tiap ngumpul bareng anak-anak kamu pakai jilbab San” masih rasa tidak percaya bisa lihat Santi nggak pakai jilbab.
“Kan itu masih acara sekolah hitungannya dhi” Santi menerangkan dan menghilang dibalik pintu kamar mandi pribadinya yang sudah ditutup dari dalam.
Selama Santi dikamar mandi, diriku termangu…aku aja sering nebeng mandi di mesjid, apalagi mandi pagi rebutan sama orang-orang tua itu. Tapi wajarlah, Santikan cewek, masak harus ngerasain yang kayak aku.
“”Kre…eet”, pintu kamar mandi terbuka.
“Lah malah ngelamun, ada tv bukannya dinyalain” Santi menegurku lagi, karena berusaha membelakangi pintu kamar mandi,
“Nngg..gak, aku lagi menikmati suasana kostmu yang enak ini San” kini diriku malah semakin kaku aja, gimana nggak! Santi berganti baju kaos yang agak tipis dan kekecilan (memang enak kalau buat tiduran) dan celana pendek longgar lumayan jauh dari lutut (dipikirnya aku laki-laki nggak normal apa ya!). Santi mengambil mangkuk 2 buah dari rak piring mininya,
“tunggu lagi sebentar ya” Santi kini mengeluarkan 2 bungkus mie instant dari lemari makanannya,
“eehh…nggak usah San, mending aku cari makan keluar aja..!” aku mencegah Santi yang ingin memasakkan mie untukku.
“Nggak biasa makan mie instant ya dhi” kini dia menggoda gengsiku,
“bukan begitu, kamukan juga belum makan nasi hari ini, jadi biar kita sama-sama makan nasi biar sehat” nasehat yang basi sekali.
“Rencananya sih gitu kemaren, berhubung tadi sedikit…..” wajahnya jadi berubah lagi kayak pulang sekolah tadi,
“gara-gara diparkiran tadi ya..” aku langsung aja ke topik masalah, biar sekalian jelas urusannya.
“Mmm…kenapa diparkiran?” kini Santi yang jual mahal belagak nggak ada masalah dan menuju ke pintu kamar,
“duh, kalau emang tadi ketemu mba Diah nggak masalah, kenapa kamu cemberut terus dari tadi!” aku jadi sedikit tersulut (maklum, merasa bersalah).
“Nggak tuh” melanjutkan niatnya memasak mie.
Menunggu lagi, haa..aah kenapa lagi tadi parkirnya pas-pasnya depan jendela kelas Diah. Sebenarnya ngapain aku panik sih, Santikan bukan pacarku dan Diah juga…..Goblogh!! Jelas Santi bilang nggak cemberut, memang dia nggak punya alasan untuk cemberut. Sang lelaki ini menghibur menguatkan hati, anggap sekalian nggak ada masalah hari ini.
Dengan baki dan 2 mangkuk mengepul asap diatasnya, Santi kembali dari dapur yang sebenarnya terlihat dari kamar ini.
“Kamu mau pakai nasi dhi?” menawariku setelah meletakkan baki di karpet depan tv dan menuju ke rak piring lagi.
“Nggak San, ntar kekenyangan banget!” aku sudah tak sanggup melihatnya repot lagi.
“Yang bener.., ntar kelaperan kalau cuma mie aja!” rupanya selama masak tadi Santi juga berusaha menenangkan perasaannya,
“hiyaaaahh…yoo..makan” langsung kuangkat satu mangkuk mie (mungkin kalau kenyang, otakku bisa lancar lagi).
Santi akhirnya kembali dengan dua mug dan teko air putih kemudian duduk disebelahku menghadap ke tv dan menyalakannya. Aku berharap Santi tidak mengungkit lagi masalah diparkiran tadi, berarti aku yang harus ambil arah pembicaraan.
“Ini dari SMP kamu kost disini San?” kudului untuk mengendalikan arah pembicaraan,
“Iya…yang punya kost masih kenalan Bapakku” kini Santi terlihat lebih santai dan…manis!.
“Enak sih tempatnya, bikin betah” sambil kuseruput kuah mie.
“Ya kost cewekkan pasti lebih rapih dan lebih bersih dari kost cowok” sambil menuangkan air kedalam mug.
”Nggak juga, yang bikin betah disini orang yang tinggal dikamar ini” mengambil mug yang sudah terisi air,
“hemm…mulai deh” sikutnya mengenai sikutku.
“Duh..tumpahkan” air yang belum masuk mulutku tercecer sedikit ke karpet,
“ya habisnya…bikin orang….” Santi tidak meneruskan kalimatnya langsung berdiri mengambil tissue di meja belajar kecilnya.
Setelah selesai makan kusandarkan tubuh ditembok bawah jendela kamar Santi. Dalam sekejap karpet telah bersih dari mangkuk dan gelas, memang cekatan anak satu ini.
“San, aku ikut kekamar mandi boleh?” proses alami tubuh yang tak mau kompromi,
“ya silahkan, dari pada kamu kencing dibawah pohon” Santi mulai suka meledekku sekarang.
Kumasuki kamar mandi yang sangat bersih dan….wangi (jauh bener dengan kamar mandi di kostku).
“Aaah…lega!” benar-benar nyamannya rasanya,
“nggak mandi sekalian dhi?” Santi menggoda, memancing keisenganku yang boleh dibilang sedikit menghilang siang ini.
“He..he..pengennya sih, kamar mandimu bersih banget sih” kuakui memang ingin sekali aku mandi untuk menyegarkan tubuh ini,
“ya udah, aku masih ada cadangan handuk kok” Santi malah menanggapi serius candaku,
“eeeh..nggak San, sudah nebeng makan, nebeng mandi juga. Nanti takutnya jadi nebeng tidur sekalian juga!” kini kutakmau kalah angin dalam pembicaraan selanjutnya,
“Duuuh…maunya” Santi melempar bantal ke arahku.
“Tuh, malah dikasih bantal” kutangkap bantal, dan kupakai aja buat tiduran depan tv,
“dhi, jalan-jalan yuk ntar sore, bosen aku di kost terus” Santi yang duduk disampingku menoleh memasang wajah penuh harap,
“Jalan kemana San, aku sih ngikut aja” karena kupikir dikost juga pasti sepi nih.
“Ya muter-muter aja dulu, nanti kalau ada tempat yang enak buat nongkrong..ya kita mampir” Santi seperti menahan maksud dalam pembicaraannya,
“tapi aku boleh ganti baju dulukan?” kini kududuk dekatkan wajahku ke wajahnya,
“ya iyalah..masa jalan-jalan pakai seragam begini, bau kecut lagi” Santi menepuk pipiku lembut dan berdiri untuk bersiap.
“Halah..bau kecut, tapi tadi juga nempel duduknya waktu pulang sekolah!” sialan, terang aja bau kecut belum ganti baju seharian,
“mau gimana lagi, untung aku kuat nahan nafas tadi” Santi kini sudah pandai mengimbangi celotehku.
Seperti Superman yang berganti baju di box telepon, Santi berubah wujud setelah keluar kamar mandi.Tak kusangka Santi bisa secantik ini bila berdandan sungguh-sungguh.
“Oh…kok bisa ya?” kelepasan kontrol gengsiku untuk tidak mengomentarinya,
“bisa apa dhi” senyum puas Santi akan hasil usahanya didepanku.
“Kok, bisa dandan juga ya” berusaha memperbaiki kesalahan prosedur tadi,
“bilang cantik aja susah banget sih” Santi mulai gemes dengan keangkuhanku.
“Yee..cantikkan bukan buat dipuji..” belum dapatku cara untuk berdalih yang manis,
“trus buat apa?” semakin deras Santi merangsek pengakuanku. “Yaa..buat dinikmatilah” aahh..kenapa jawab begini sih.
“Terimakasih” sambil mengunci pintu kamarnya dari luar, kini tak kukomentari biar tidak lebih banyak kesalahan yang kubuat.
Benar dugaanku, kost sepi ditinggal para penghuninya. “San, nunggu dikamar sebentar ya. Tapi maaf nggak ada hiburannya…ada dink, buku bacaan dan buku puisiku” sambil kukeluarkan beberapa buku yang ada di di kotak kardus kecil lemari alakadarnya,
“Puisi..?” Santi sedikit aneh mendengarnya.
“Ya sudah…baca aja” langsung kutinggal Santi di dalam kamarku dengan seribu tanyanya.
“Dhi, ini semua kamu yang tulis?” Santi yang tak sabar menungguku mandi, langsung menanyaiku yang baru masuk kamar selesai mandi,
“Iya! Kenapa?” kumasukkan baju kotor diplastik besar khusus baju kotor.
“Pantesan…suka nggombal!” Santi seakan baru menemukan sebuah jawaban,
“loh, apa hubungannya San?!” sedikit protes dariku.
“Ya ini latihan tiap hari..” Santi mengangkat buku puisi kearahku,
“Latihan… itu hiburanku kalau nggak bisa tidur, ya bagiku cukup efektif menghilangkan suntuk dan cepat mendatangkan kantuk” penjelasan yang cukup padat dariku.
“Hobi yang aneh” komentar dari orang yang masih awam sastra.
Baju dan celana sudah kupakai dikamar mandi, kini tinggal menyisir rambut dan sedikit sentuhan aroma.
“Kamu bisa rapi juga Dhi” entah memuji atau membalas komentarku waktu dikostnya tadi,
“ini cuma untuk menghargai yang sudah dandan saja” dengan sedikit bergaya didepan cermin (sebenarnya cuma sempalan cermin yang kuambil dari gudang belakang),
“masalahnya nggak dandan aja ngerpotin cewek buat noleh, apalgi kalau aku dandan terus San” he..he..aku juga punya cara untuk memaksa Santi mengakui kegantenganku.
“Ampun, nyebut dhi” Santi gedek-gedek menanggapi bualanku. Seandainya diah yang kuajak becanda begini, mungkin bukan aku yang takluk didepan pesonanya.
Berangkatlah dua pasang anak yang sebenarnya tak akur ini menghibur diri keliling kota Jogja. Saat melintas di kampus UGM banyak orang berolahraga sore dan otomatis pedagang jajanan dengan berbagai macam ragamnya hadir juga meramaikan suasana (Indonesia banget).
“Nongkrong disini yuk San” kutawarkan ideku pada Santi, “boleh, tapi sebelah mana enaknya?” Santi setuju dengan syarat lokasi yang bagus.
“Tuh, banyak juga yang duduk-duduk dibawah pohon sepanjang trotoar” kupilihkan pohon yang masih belum ditempati ditrotoar sepanjang jalan menuju gedung yang paling besar di UGM ini.
Dua bungkus tempura ditangan kami masing-masing menemani pembicaraan yang isinya saling berseteru tak kunjung ada hasilnya,
“aah..capek dhi, dasar nggak mau kalah!” Santi memutuskan akhir dari semua pujian yang tertahan didalam hati kami masing-masing.
“Kita jalan lagi, atau langsung pulang San” kutawarkan perpisahaan hari ini yang sebenarnya mulai enggan untuk kulakukan,
“terserah, tapi kalau nggak keberatan mampir sebentar ke toko alat tulis ya!” Santi sudah mulai tidak sungkan memanfaatkanku,
“baiklah nona Santiiik” isengku membuat telunjuk kanan yang menekuk tak sungkan menoel hidungnya.
“Eeh…nyolong-nyolong ya, dasar genit munafik” Santi sedikit kesal karena kaget kecolongan, wajah merahnya yang kusuka masih coba kunikmati dari kaca spion motor, walhasil dua tabokan lembut memberiku tanda untuk jalan (kenapa jadi mirip andong nih).
Kurang lebih setengah jam berputar-putar ditoko alat tulis akhirnya kekasir juga. Perjalanan menuju kostku penuh cubitan dan tabokan di badanku, herannya bukan sakit yang kurasakan tapi rasa senang yang kudapatkan.
“Dhi..nih buat kamu?” Setelah turun di kostku Santi memberikan kotak hitam berisikan pulpen warna perak yang tadi dibelinya kepadaku,
“wah…ternyata disiksa tadi ada ongkosnya juga” pernyataan terimakasih yang mungkin tak lazim bagi sebagian orang.
“Bukan itu sebabnya…ini biar kamu nggak pinjem pulpen terus dikelas!”
dengan wajah digalak-galakin memancing godaku,
“dan satu lagi yang lebih penting…jangan berhenti nulis puisimu!” senyuman Santi terbawa bersama kepergiannya, dan pernyataannya menghilangkan keisenganku untuk menggoda lagi berganti rasa aneh yang bergejolak didalam dada ini.
15 Dec 2020
15 Dec 2020