Ksatria Goblok (part 4)
DIAH LAGI
“Nduk gimana kamu sama Pram?” bundanya Diah bertanya saat berbaring di sebelah Diah, “ya aku sudah meminta kepastian dari mas Pram tentang pertunangan itu bu, tapi yah jawabannya masih sama” lesu terdengar suara Diah menjawab ibunya. “Ya wis lah nduk, mending kamu konsentrasi sama sekolahmu terus jalani cita-citamu sendiri aja dulu” berusaha untuk bijak terhadap putrinya. “Tapi masalahnya bapak bu, aku belum bisa pisah sama mas Pram kalau begitu jalannya bu” Diah memeluk lengan ibunya, “ya nanti ibu coba ngasih pengertian lagi sama bapakmu” ibunda kembali menghela nafas. “Ya kamu juga berusaha untuk bisa tegas buat diri kamu sendiri kalau nanti harus pisah sama Pram” ibunda memiringkan tubuh dan mengusap kepala anak kesayangannya ini, “kalau itu sudah sering aku coba bu, tapi…”Diah mulai meneteskan air matanya. “Ya kamu nggak usah nangis nduk, ibu jadi susah lihatnya” sambil mengusap tiap tetes air mata yang keluar. “Bukannya ibu banding-bandingin nduk, tapi waktu ketemu Adhi kemaren ibu lihat anaknya baik, terus kayaknya kamu juga senang sama anak itu” ibunda mencoba membantu mencarikan alternatife pilihan buat putrinya. “Ibu! Adhi itu cuma temen baikku, aku senang karena dia memang baik. Tapi hatiku sudah terlanjur cinta sama mas Pram bu” suara Diah merengek manja dalam pelukan ibunya, “ya ibu tahu nduk, tapi apa salahnya kamu bisa dekat terus sama dia dan siapa tahu hatimu bisa pindah ke Adhi” kini telapak tangannya mendekap pipi Diah. “Aah..ibu ki loh, pokoke Adhi itu tetap sahabatku bu!” Diah berkeras hati mempertahankan cinta matinya (untuk saat ini).
Pagi di rumah tantenya Diah di Jakarta sudah ramai dengan kesibukkan orang yang akan pulang kampung. Diah dan ibunya sudah bersiap untuk berangkat ke stasiun diantarkan oleh omnya, “Nduk Pram jadi datang nggak?” Ibunda bertanya sebelum mereka berangkat, “tadi dia barusan sms kalau nggak bisa ikut nganterin karena nggak bisa ijin pagi ini!” dengan wajah cemberut Diah menyampaikan kelakuan pacarnya. “Ya nggak apa-apa, namanya kerja nduk nggak bisa bolos sembarangan” diusap kepala genduknya ini, “mpun paklik, kita berangkat aja sekarang!” Diah langsung menuju mobil duluan dengan tampang yang masih manyun.
Selama perjalanan dalam kereta menuju Jogja Diah terus melamun, ini membuat ibunya susah hati melihat anaknya yang gundah gulana. Rasa kecewa bukan karena sikap anaknya, tapi karena ke tidak mampuannya membuat senang hati anaknya. Sedang Diah terus melihat keluar jendela mengikuti lajunya gerak kereta melalui benda-benda yang berlalu cepat di luar jendela, selaju gerakan kenangannya bersama Pram di waktu lalu. Kenangan yang hanpir habis terputus kenyataan bersambung kenangan kecil yang cukup mampu menyambung kehampaan hatinya, kenangan bersama Adhi dari awal bertemu hingga kemaren waktu berpamitan ke Jakarta di depan sekolahan. Hati Diah bergemuruh saat teringat omongan ibunya tadi malam menjelang tidur, “aku pacaran sama Adhi?” bertanya dalam hati dengan rasa tidak percaya. Kembali Diah membuang mati-matian pikiran itu dan berusaha tetap mencari jalan keluar untuk hubungannya sama Pram. Kemudian Diah ingat sesuatu, buru-buru diambilnya hp dan langsung mencari-cari sesuatu di dalamnya…ya ini dia. Puisi tentang Dua Matahari yang ditulis Adhi pernah di salin ulang dan disimpannya di file hp, “Adhi kok bisa nulis pusi kayak gini ya? Apa kemaren dia sengaja nyelipinnya di buku daftar harga biar aku temuin? Berbagai spekulasi muncul dalam benak Diah.
Beratnya kebimbangan membuat Diah lelah dan tertidur sedikit menyender kepudak ibunya dengan hp masih digenggaman yang hampir terlepas. Ibunda Diah cepat mengambil hp anaknya supaya tidak jatuh, saking ngantuknya Diah tidak merasa hp diambil ibunya. Beliau tak sengaja melihat isi tulisan di hp, ia pun tertarik untuk membacanya dan geleng-gelengkan kepalanya. Dipegangnya hp dan menyenderkan kepalanya ke kepala Diah yang ada di pundaknya. Beberapa saat mereka berdua dalam posisi ini hingga suara deru kereta melewati jembatan yang seperti hujan mengagetkan mereka. “Loh, sudah sampai mana ya?’ Diah yang terbangun langsung melihat-lihat keluar jendela, “masih lama kayaknya nduk” karena masih daerah persawahan dan pedesan kecil yang mereka lewati. “Nduk hp mu” dikasihkannya hp pada anaknya, “o iya aku ketiduran lupa hp masih ditangan bu” Diah mengambil kembali hp-nya. “Nduk, itu puisi kamu yang nulis ya?” ibundanya sudah menunggu putrinya bangun untuk menanyakan hal ini. “Bukan bu, ini puisinya Adhi yang tak pindahin ke hp” Diah menjawab santai karena masih dipengaruhi rasa ngantuk, “emmm…bagus kok, pantesan di simpan” beliau mengulum senyum dan kembali menyenderkan kepalanya ke kursi kereta. “Iya sebenarnya masih banyak yang lain bu” Diah tiba-tiba meneruskan pembicaran tentang puisi si Adhi, “loh emangnya si Adhi hobi nulis puisi?” tegak kembali duduk beliau. “Lucu ya bu, aku juga bingung waktu main ke kostnya lihat puisi satu bundel tulisan dia semua” Diah lupa kesuntukkannya saat membahas ke anehan si Adhi. “Sudah jarang-jarang anak sekarang yang punya hobi begitu nduk” ibunda mencoba terus mengorek cerita tentang si Adhi, “He..eh, anak itu memang lain bu, sudah asalnya dari hutan trus hobinya nulis puisi” Diah terus mengeluarkan informasi tentang si Adhi dalam keadaan sadar atau tidak. “O ya, kamu nggak beliin oleh-oleh buat si Adhi ya nduk?” tiba-tiba ibunya ingat kalau anaknya ini tidak bawa oleh-oleh sedikitpun, “iya ya bu aku lupa, nggak kepikiran sama sekali kemaren” Diah jadi tersadar kalau selama di Jakarta liburannya habis memikirkan Pram. “Ya sudah, nanti sampai di Jogja suruh Adhi main ke kost biar ibu masak, kita makan bareng di kostmu aja ya nduk!” beliau mencari celah untuk bisa mengenal anak lelaki yang cukup dengan anaknya ini, “mmm…bolehlah, nanti kuhubungi setelah sampai Jogja aja ya bu!” Diah menyetujuinya, namun sedikit ragu karena barusan ia kembali teringat kekasihnya.
Kost-kostan masih sepi karena belum ada yang datang penghuninya selain Diah dan ibunya saat sore mereka tiba di Jogja. Diah mencoba menghubungi Adhi beberapa kali namun tidak diangkat teleponnya, mungkin anaknya sedang mandi atau sholat pikirnya. Diah pun berpikir untuk mandi, setelah bersiap mandi dan menuju kamar mandi terdengar hp-nya berbunyi. “Hallo…, kamu kemana aja sih ditelepon kok nggak diangkat-angkat” begitu menjawab telpon langsung protes, “maaf Dei, aku lagi di jalan tadi, jadi nggak bisa angkat telpon!” suara Adhi terdengar sangat tak jelas oleh riuhnya suara kendaraan di tempat dia menelpon. “Loh kamu lagi dimana? Di Jogja kan?” terdengar nada panik dari suara Diah, “iyalah Dei, mau kemana lagi. Kamu sudah di Jogja belum nih?” kini suara Adhi yang terdengar agak gelisah. “Iya Dhi, baru tadi sore nyampe Jogja….kamu bisa ke kostku malam ini nggak Dhi?” Diah jadi sedikit tidak sabar untuk bertemu Adhi, “emm…kulihat nanti ya Dei, aku masih muterin dagangan nih” suara Adhi sangat terburu-buru. “Ooo..kamu liburannya malah dagang ya Dhi? Ya udah, besok juga nggak apa-apa, biar aku jemput kamu ke kost ya!” Diah maklum dengan keadaan Adhi sekarang. “Mmm…ok, nanti kutelepon setelah sampai kost Dei, maaf aku jalan dulu ya” sedikit rasa aneh Diah mendengar Adhi bicara hari ini, “o ya, hati-hati ya di jalan semoga laris..Dach!” Diah jadi tak ingin berlama-lama lagi mengganggu Adhi, karena sekarang perasaannya juga sedikit terganggu oleh sikap Adhi yang tidak biasanya ini. “Kenapa nduk? Si Adhi nggak bisa kesini?” bunda yang sejak tadi mendengar percakapan anaknya coba memastikan keadaan, “iya bu, Adhi lagi muter jualin dagangannya” Diah mengekspresikan kesan janggal dengan percakapan tadi. “Ooo…nggak apa-apa, jangan ganggu orang lagi cari rejeki nduk!” bunda menasehati sekalian menghibur anaknya.
Setelah makan malam mereka berdua rebahan untuk istirahat, Diah lebih dulu memenjamkan mata walau belum tidur. Namun akhirnya tertidur juga karena lelah fisik dan jiwa, lelap dalam dekapan sang bunda yang menambah lelap tidurnya. Menjelang tengah malam Diah terbangun dan ingin kencing, saat dia kembali dari kamar mandi dia melihat hp yang masih dalam keadaan hp yang masih terhubung dengan kabel charger. “Astagfirullah..aku lupa nyalain hp waktu nge-charge” buru-buru Diah menyalakan hp-nya dan melihat 2 kali panggilan tak terjawab dari Adhi. Dilihatnya jam panggilan sekitar jam 10 malam tadi, ingin menelpon balik tapi sudah hampir jam 12 malam, akhirnya dia hanya sms ke Adhi untuk memberitahukan kalau dia ketiduran lupa nyalain hp-nya yang lagi di charge. Terduduk Diah bersender di tembok bawah jendela kamarnya sambil memandangi ibunya yang pulas mendengkur halus. Wajah ibunya yang penuh kasih itu sangat ingin diciumnya, teringat kembali nasehat-nasehat ibunya saat di dalam kereta tadi. Kini terpikir tentang bagaimana dia harus bersikap dengan Adhi besok, di tambah dengan sikap Adhi yang terdengar tidak biasanya saat di telepon tadi sore. Kekhawatirannya memancing spekulasi-spekulasi yang sangat tak mendasar pada fakta, namun lebih berdasarkan perasaan yang cenderung emosi dan berputus asa. Hampir menjelang subuh baru Diah bisa tertidur kembali di samping ibunya.
Saat matahari naik setinggi penggalah Diah terbangun dengan badan kaku-kaku dan kepala masih terasa berat oleh kantuk. Matanya melihat-lihat sekeliling untuk memastikan keadaan, dan ia tidak melihat ibunya dalam kamar. Bergegas Diah bangun keluar kamar, dicarinya di kamar mandi ibunya tak ada, di dapur juga tidak ada. Akhirnya Diah coba ke ruang depan siapa tahu ibunya lagi ngobrol dengan ibu kost, saat di ruang depan yang berfungsi sebagai ruang tamu…”pagi Dei, mataharinya kecepetan yang naiknya?” suara iseng menyebalkan yang lama tak didengarnya, “loh…kamu…kapan sampai Dhi?!” Diah terlihat sangat kaget dan sibuk merapikan penampilannnya. “Sudah, kamu mandi dulu sana nduk, Adhi biar ibu yang temenin ngobrol dulu!” ibunya sedikit malu melihat anak putrinya yang berantakan ujudnya (padahal cantiknya bak puteri tidur), “nggak usahlah Dei, percuma mandi…nggak ada bedanya mandi nggak mandi! Tetap….” Sedikit senyuman pertanda akan iseng di wajah si Adhi. “Tetap cantik kan Dhi” Diah nyengir menggemaskan sebelum berbalik badan, “jangan ngomong kayak gitu Dei, nanti mataharinya balik tenggelam lagi loh karena malu dengarnya” sedikit terkikik si Adhi bisa melampiaskan keisengannya. “Dasar…marahin bu, masak aku di ece!” langsung Diah masuk untuk mandi, “kalian ini…kangen ya, lama nggak berantem?!” ibunda tersenyum manis melihat keakraban mereka berdua. “Nggak berani bu kalau kangen, nanti yang punyanya marah” tanggapan Adhi sangat santai kali ini, “berarti kalau nggak ada yang punya berani kangen?!” kini bunda yang balik mengisengiku. “He..he…lebih bahaya bu, bisa habis saya di kerjain Diah. Nggak kangen aja harus nurut, apalagi pakai kangen sama dia” si Adhi benar-benar tanpa beban dalam berbicara. “Diah sering ngerepotin kamu ya Dhi” ibunya jadi nggak enak sendiri tahu kalau anaknya sering ngerepotin orang lain, “oh..bukan..bukan gitu maksudnya bu, malah saya yang sering ngerepotin. Tadikan cuma iseng bercanda bu, lebih banyak Diah yang bantuin dan nasehatin saya” terlihat salah tingkah setelah sadar kalimat isengnya di tanggapin serius oleh ibunda. Kini pembicaraan mereka berdua jadi lebih serius, karena si Adhi tak berani iseng lagi dalam bicara.
Diah telah wangi dan sangat cantik dengan baju santainya di rumah, sang ibu masuk kedalam bergantian dengannya. Pagi ini Diah melihat sikap Adhi tak banyak berubah selain gaya cueknya yang semakin meningkat di banding sebelumnya. Keadaan ini membuat Diah tertolong untuk lebih bisa mengkondisikan sikap di depan Adhi, dengan lebih banyak mendengar cerita kegiatan Adhi selama liburan. “Kamu malah sudah sampai ke Malang tho Dhi?” ada sedikit iri dari Diah melihat Adhi yang ternyata liburannya lebih menyenangkan darinya, “iya nggak sengaja juga liburannya kan Dei, sekalian nambah pelangganku!” mungkin karena lebih sering bergaul dengan anak kuliahan, gaya Adhi pun jadi lebih cuek dan sok dewasa. “Eh Dei ngomong-ngomong liburanmu gimana? Jangan liburanku aja yang di bahas!” Adhi akhirnya menanyakan juga hal yang Diah tak ingin ceritakan, “emm…gak banyak yang menarik sih, cuma jalan-jalan dan lebih banyak ngumpul sama saudara” sedikit bingung dan agak janggal ceritanya. “Loh, bukannya kamu liburan bareng sama masmu itu?!” Adhi mencecar Diah dengan terdorong rasa berbau cemburu, “i..ya sih, harusnya?” kini habis kata-kata Diah untuk memuluskan ceritanya. “Harusnya? Kok bisa begitu sih, ya tapi emang lebih ramai kalau liburan sama saudara sih” Adhi memaniskan perkiraan sekira tidak merusak suasana hati Diah, “masku pas banyak kerjaan, jadi dia nyempet-nyempetin kalau pas hari Minggu aja” akhirnya kegundahan hatinya terlihat juga. “Jangan sedih gitu donk, nanti aku jadi nggak tega ngisenginnya” suasana hampir berubah jadi sendu pagi ini. “Nduk…bantuin ibu sebentar angkatin yang lain di dapur!” tiba-tiba suara ibunya Diah terdengar bersama kemunculannya dari dalam dengan membawa seceting nasi, “loh…ibu mpun masak tho?” Diah bingung melihat ibunya, namun langsung bergegas menuruti perintah ibunya.
Bertiga menyantap sarapan yang boleh dibilang sekalian makan siang, gara-gara cerita liburannya tadi Diah jadi kurang bersemangat saat makan. Sang ibu ternyata juga membaca gelagat yang kurang asik ini, “kamu ngopo sih nduk, kok jadi anteng gitu?” menghentikan suapannya untuk memperhatikan anaknya dengan seksama, “mbonten kok bu, aku laper” alasan yang sangat basi sekali dari Diah. Akhirnya kami makan dengan suasana yang tenang namun seribu tanya di hati masing-masing.
Sepulang dari kost Diah hari ini aku langsung pulang ke kostku dan masuk kamar. Kebimbangan yang beberapa minggu lalu sudah hilang kini kembali muncul. Diah yang sebenarnya sudah bisa tidak kuharapkan, malah sekarang Diah kembali memberikan aku kemungkinan untuk bisa berharap lagi. Ingin kutelepon mba’ Ninda untuk minta pertimbangan, namun pasti makian goblok dan plin-plan yang kudapatkan. Kucoba untuk menahan diri tetap tegas dengan apa yang sudah kuputuskan, menyatakan perasaanku pada Santi. Hatiku benar-benar tak nyaman rasanya, memilih dua orang yang tak mungkin kupilih sebenarnya. Dimana keindahan dulu saat kami bercanda mesra dalam dimensi yang hanya ada kami bertiga, dimana rasa kagum dan terpesonaku terhadap mereka berdua. Malam ini kamar dalam keadaan gelap karena berharap anak-anak kost tahunya aku sudah tidur, yah aku benar-benar lagi tak ingin di ganggu malam ini. Niatku untuk menulis puisipun ku urungkan, demi ketenangan dan kenyamanan pikiran dan jiwaku malam ini.
Hari ini terakhir liburan, besok sudah harus kembali bersekolah untuk melihat ketentuan kelas 2 apa yang menjadi kelas kami yang baru. Aku lagi santai di warung gudeg pagi ini, sebuah motor yang sudah sangat kukenal perlahan berjalan memasuki mulut gang kostku. “Rif!” kuletakkan piring gudeg yang ada ditanganku, “Weh, sarapan tho Dhi” Arif membalikkan motornya yang sudah terlanjur masuk kedalam gang. “Ayo sarapan bareng Rif, ta’ traktir!” langsung kupesankan minum dan gudeg buat Arif, “boleh, aku arep ngejak kowe neng gone Nanang” Arif langsung ambil posisi di sebelahku. “Emange ono acara opo Rif?” aku merasa belum tahu kalau anak kelas ada janji ngumpul di rumah ketua, “ora’, aku meng arep takon system pembagian kelas sesuk” Arif mengambil gudegnya yang sudah siap di santap. “Ooo…katanya sih berdasarkan prestasi, kalau kita bisa-bisa beda kelas Rif” aku langsung keingatan kalau Arif bisa masuk 10 besar rangkingnya, “kok iso Dhi?” Arif jadi bingung mendengarnya. “Lah..kowekan masuk 10 besar neng kelas, aku kan 20 besar Rif” kali ini sudah tak berat untuk menyebut rangkingku, “ooo…ngono tho carane, wah padahal seru nek sa’ kelas kowe Dhi” Arif sedikit sedih tahu kalau ada kemungkinan kami nggak sekelas lagi tahun ini. “Setidaknya kan masih satu sekolahan Rif” kini aku teringat kalau Santi juga kemungkinan tak sekelas aku lagi tahun ini. “Jadi ke rumah Nanang?” ku bertanya untuk memastikan kelanjutan acara hari ini, “yo nggak apa-apalah, sekalian main” Arif meletakkan piring yang telah kosong.
Berdua di atas motor, Arif dan aku menuju rumah Nanang yang kebetulan berdekatan dengan beberapa anak kelasku yang lain seperti Ferry, Budi dan Nita. Sesampai di rumha si Nanang sudah ada Budi yang juga sudah hadir disana. “Woii..piye liburan?” Budi langsung menyapa kami, “Seruu Bud” kujawab sambil meloncat dari atas motor yang belum selesai berhenti masuk pekarangan. “Wah harusnya kita bisa ngumpul semua dulu yo sebelum masuk sekolah lagi” Nanang yang merasa jabatannya telah berlalu, “Besok bagi kelas yo, seru ki….konco anyar meneh” Budi menepuk pundak Arif. “Iyo, awa’e dewe’ pisah yo Bud?” si Arif malah tampak lesu mendengarnya, “mungkin Rif, nek karo Adhi mungkin aku sekelas” Budi memang berada di posisi 20 besar juga sama dengannku. “Wah seru Bud, iso sa’kelas wong peko iki” Arif meninju lengan kiriku. “Wah aku sing pusing ki” Nanang tiba-tiba mengeluh, “pusing kenapa Nang?” aku jadi tertarik mendengarnya. “Pusing kalau nggak sekelas sama Uci lagi Dhi!” Nanang memang sangat pencemburu, “lah kan harusnya kamu malah senang Nang” kucoba menyenangkan hatinya, “senang gimana Dhi, nanti jadi kepikiran terus kalau-kalau ada yang godain dia di kelas barunya” tampang Nanang seperti anak yang takut kehilangan mainan kesayangannya. “Loh kamu kan bisa cari yang baru dikelas yang baru!” kupolos-poloskan tampang biar meyakinkan, “woaalah…wong gendeng! Emange kowe, iso karo Santi yo karo kakak kelas!” Nanang jadi gahar karena kesetiaannya diganggu. “Loh malah bahas aku, lagian isu dari mana aku sama kakak kalas Nang” aku jadi sedikt kaget tentang ucapan Nanang, “whaa..ha..ha…Dhi..Dhi..” hampir berbarengan mereka tertawa. “Emange kowe ra’ ngerti po, sa’kelas wis ngerti kabeh ceritamu karo kakak kelas kuwi” Budi bahagia sekali melihat kebegoanku, “kok bisa ada ceritanya?!” kini giliran diriku yang sedikit terbakar karena tercium borokku. “Yo iso, emange konco-koncomu ki picek po Dhi” Arif paling keras memberi jawaban, “yo bisa lah Dhi, kan semenjak kowe jualan bareng kakak kelas itu jadi jarang gabung di acara kelas” Nanang yang ketua berbicara dengan datanya. Aku termangguk-mangguk menyadari kecerobohanku yang tak kusadari, jadi ada kemungkinan Santi juga akan berpikir seperti mereka.
Pembicaraan di rumah Nanang semakin siang semakin seru dengan ketambahan datangnya Uci, Nita dan Ferry. Dan pastinya ada acara makan-makan bersama dengan iuran se ikhlasnya untuk beli makanan. Suasana ini membuatku semakin merindukan kehadiran Santi disini, seandainya dulu sudah kunyatakan perasaan ini pada Santi, mungkin sekarang aku bisa lebih happy. Tapi sesal ini juga karena kebodohanku sendiri yang tidak tegas dalam menyikapi perasaan. “Dhi pulang yo’, aku sore ini ada tugas nganter ibu ku ke pengajiannya” Arif memang tetap anak rumahan yang baik, “ayolah, akukan penumpang yang baik” aku jadi keingatan belum telepon Diah hari ini. Kami pamit duluan pulang dari teman-teman yang masih bertahan.
Senin, pagi yang mendebarkan bagi siswa-siswi disini, termasuk diriku. Aku ikuti mereka yang berjubel di setiap pintu ruang kelas 2 untuk melihat daftar nama. Kulihat ada yang berteriak-teriak dan berlompatan karena senang masih bisa sekelas dengan sahabatnya. Aku lihat dari kelas paling ujung belakang, yaitu kelas 2I, ternyata namaku tidak ada. Terus kulanjutkan sampai di kelas 2E kulihat namaku di urutan ke 3, dan kucoba melihat lagi nama-nama yang mungkin masih sekelas denganku. Ternyata aku memang tak sekelas lagi dengan Santi dan Arif, namun tebakan Budi benar kalau kami sekelas lagi kelas 2 ini. Kucoba cari informasi ketika melihat Dita yang melintas dekat tangga aula depan kelas 2E (kelas baruku), “Dit, Santi sekelas kamu nggak?” langsung kelas Santi yang kutanyakan, “Iya Dhi, Arif juga mash sekelas sama kami” Dita kemudian menghampiriku. “Kelasmu disini Dhi?” Dita melihat-lihat kedalam ruang kelas, “Dit kamu dimana kelasnya” Nita yang juga sekelasku keluar dari kelas menyambut Dita, “Aku di 2B bareng Santi, Arif, Uci, Neni trus…lupa, ada lagi kok yang masih sekelas” Dita begitu bersemangat pagi ini.
Tak begitu susah untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang di kelas baru ini bagiku. Sudah banyak yang aku kenal sebagian besar dari mereka, terutama para wanita yang memang termasuk dalam daftar pelanggan daganganku. Duduk di deretan belakang sebangku dengan Budi membuka cerita baru di kelas 2 ini, sekarang Diah kelasnya dimana ya? Mungkin istirahat pertama ini makan di warung gado-gado yang sudah lama tidak dikunjungi selama liburan.
Diah dan Rani kelas 3 ini akhirnya jadi satu kelas, kami berdua hanya mendengarkan cerita liburan si Rani di Bali dan Singapura selama menyantap gado-gado. Diah nampak tambah membisu melihat kebahagiaan kawan akrabnya ini, begitu juga mengingat cerita liburanku di Malang. Diriku bertahan dalam kebimbangan yang semakin menjadi saat melihat peluang untuk membahagiakan Diah di depan mata. Aku berharap Santi bisa mempercepat kepulangannya dari liburan, takutnya benteng hatiku tak mampu bertahan menghadapi peluang dari pesona Diah kali ini. Dan sore ini Diah mengajakku untuk menonton film bersama Rani dan pacarnya, sudah tak mungkin punya daya untuk menolaknya. Sepakat jam 3 aku sudah bisa sampai di kost Diah, tak kupungkiri rasa bergejolak dalam dada ini.
Hari ini aku pulang bersama Diah, karena aku disuruh bawa motornya dengan alasan biar nggak perlu minta di antar atau naik angkot nanti sore ke kostnya. Langsung pulang saat Diah sampai di kostnya, aku ingin segera bisa bersiap-siap alasanku. Di kamar diriku menyempatkan untuk merebahkan badan sebentar, kesadaranku mulai datang, begitu juga dengan kegelisahan dari rasa berkhianat terhadap keputusan yang pernah kuambil waktu liburan kemarin. Sant aku minta maaf, kali ini aku hanya berusaha menghibur Diah saja, makanya cepatlah kau datang menyelamatkan perasaan kita berdua. Kusempatkan sholat ashar berjama’ah berharap bisa membantuku menguatkan hati menghadapi godaan sore ini.
Jaket kulit, helm hitam dan tas kecil menggantung di pinggangku saat meluncur ke kost Diah. Kulihat mobil sedan keluaran Jepang, Toyota Crown keluaran terbaru parkir di depan kost Diah, sedikit berdenyut di dada ini. Ku parkir motor dan masuk kedalam ruang tamu kost, kulihat seorang laki-laki sedikit tambun sedang duduk memainkan hp. “Misi mas” bertanya-tanya apakah ini pacarnya Rani atau…ah, gak mungkin lah, “Adhi ya? ternyata mas ini sakti juga. “Iya…masnya pacarnya Rani ya? Kini gantian aku yang bergaya sakti didepannya, “iya..Gunawan!” tangannya menawarkan jabatan perkenalan. Kududuk menanti para bidadari kami bersamanya, ternyata orangnya cukup ramah walau cenderung serius terus. Suasana basa-basi terhenti oleh kemunculan Diah dan Rani, “Dhi motornya masukin dulu, terus jaketmu nggak usah di pakai ya, kitakan naik mobil” Diah tidak bilang kalau rencananya begini. Tapi apa boleh buat begini juga lebih nyaman, aku duduk disamping pak supir dan dua ibu itu duduk dibelakang, kami menuju Ambarukmo Plaza.
Filmnya main masih sekitar 1 setengah jam lagi, kali ini kuberanikan diri mengajak Diah mencari-cari baju dan sepatu yang sudah sejak lama ingin kubelikan buat dirinya. Diah memandangku dengan wajah yang sedikit kaku melihat keberanianku ini, “Emm…bener Dhi, boleh…yuk kesini!” Diah memegang tanganku dan menuju Centro. Kulihat memang barang-barang yang di pajang disana bagus-bagus dan…mungkin cukup mahal juga, tapi sekali terniat dan terucap aku lelaki tak akan mengingkari. Rani juga mengikuti kami berbelanja, setidaknya aku ada temannya menunggu Diah dan Rani memilih baju dan sepatu. Namun ada efek yang tidak menyenangkan buat Gunawan, Rani merengek minta dibelikan juga. Kulihat wajah Diah sangat senang dengan baju dan sepatu yang dia pilih, kutemani Diah kekasir..”semuanya 389.700!” sang kasir menunjukkan layar harga mesin hitungnya. Sang lelaki gagah ini menahan getaran di kaki dan tanganya saat menarik dompet dan mengeluarkan uang, “terimakasih mas, ini kembaliannya” senyum menyebalkan dari si kasir saat memberikan kembalian padaku, “kemahalan ya Dhi?” Diah bertanya entah untuk mengetestku atau memang berasa agak bersalah. “Ya enggaklah, kan aku sudah niat dari dulu Dei dan baru bisa sekarang, jadi anggarannya sudah lama kuadakan” kebohongan yang sangat konyol sekali hari ini, “sudah lama?” terdengar sedikit gumaman dari bibir Diah. “Iya…tapi aku baru bisa sekarang beliinnya, kan dulu takut ada yang marah” tak sadar keluar juga rasa tertekan cemburuku, “ada yang marah..? sekarang emang nggak ada yang marah?” Diah kini malah menggoda memastikan maksud ucapanku. “Ada…orangnya didepanku sekarang” kubalikkan tekanan ini padanya, “dasar…!” pipiku jadi pelampiasan mati katanya. “Duh, kan ini lagi berusaha menghibur kamu Dei” ingin rasanya kubalas memegang dan mengelus pipinya, “pinter ngoceh sekarang ya!” semakin hebat gemasnya padaku, ini membuat Rani dan pacarnya saling pandang. “Eeh…habis dia ngeselin Ran!” langsung terhenti aktivitas kegemasan Diah setelah sadar kalau Rani dan pacarnya sedang memandanginya, “santai ‘Yah, terusin juga nggak apa-apa” Rani berusaha menjawab dengan kalem, namun sangat jelas kalau sedang mengejek Diah yang lagi kegirangan. “Eh..sudah hampir main filmnya nih!” buru-buru kuselamatkan wajah cantik yang sudah memerah di depanku ini, “o iya, ayo ‘Yah kamu bisa terusinnya di dalam nanti!” Rani dengan cuek menggandeng masnya dan tersenyum puas terhadap Diah. “Mbrrooott…!” Diah mengejar dan mencubit pinggang dan pipi Rani yang sudah dalam gandengan Gunawan, “Dhi tolong jinakkan dulu si Diah nih” Rani membalas dan langsung berlindung di balik badan pacarnya. Kubantu Rani dengan menarik tangan Diah kedekatku (sekalian sih mumpung ada kesempatan), malah Diah yang tidak siap sehingga badannya limbung kearahku. Sigap kutangkap dan itu berarti memeluknya, karena tanganku satu harus memegang belanjaan. Pemandangna ini membuat Rani semakin tersenyum hampir tertawa, dan bagi diriku ini kembali ke dunia khayal….entah bagi Diah.
Acara nonton kami kali ini penuh dengan cemilan dari ransum yang di bawa Rani dalam tasnya. Aku duduk dipaling pojok dekat lorong kursi dan Diah disebelahku, sedangkan Rani duduk diantara Diah dan Gunawan. Film humor romatis buatan negeri sendiri ini membuat suasana sangat menyenangkan, tawa dan canda mereka membuat para penonton tertawa bahkan ada yang terpingkal, salah satunya bidadari cantik yang tertawa terpingkal sampai memukul-mukul lengan kiriku. Tak ada lagi Santi dalam benakku apalagi tentang keputusan yang sudah kubuat. Mungkin memang tak ada lelaki yang sanggup menahan suka di hati bersama Diah ini, cantik, pintar dan sempurna.
Malam telah menyeliputi kota Jogja, namun masih terlalu sore untuk kami pulang ke kost sekarang. Akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan nongkrong di alun-alun selatan untuk menikmati wedang ronde dan malam yang penuh bintang. Rani mencoba permainan masuk antar beringin dengan menutup mata dengan Gunawan, tapi Diah memilih untuk tetap duduk santai di tikar menikmati malam. Pastinya aku juga menemaninya,..”Dhi, baru kali ini kita nongkrong disini ya” Diah menopang badannya dengan kedua tangan kebelakang badannya dan menengadahkan wajahnya ke langit, “iya Dei, habis biasanya kita seringnya nongkrong di warung makan sih” aku duduk bersila menghadap ke Diah yang menatap langit. “Seandainya liburan kemaren aku nggak usah ke Jakarta…mungkin lebih menyenangkan ya” Diah kembali menyesali liburannya di Jakarta, “”ya nggak gitu juga Dei, kamu ke Jakarta kan juga untuk menemani ibumu” kupeluk dua dengkulku didepan dada. “Sebenarnya ibuku juga nggak begitu ingin ke Jakarta Dhi, itu semua karena dia berusaha membantu menyelesaikan masalahku dengan mas Pram!” tatapannya di langit berpindah ke langit hatiku melalui kedua bola mataku, “nah, berarti memnag kamu harus liburan ke Jakarta kan Dei?!” kini kubiarkan mataku dinikmati dan menikmati matanya juga. “Iya sih, tapi kalau tahu hasilnya begini….” Diah menegakkan duduknya menghadapku, “hasilnya…mungkin kamu bisa punya alasan untuk mengambil sikap selanjutnya Dei” padahal ingin kukatakan bahwa Diah punya alasan untuk putus dengannya. “Nggak tahulah Dhi, aku jadi semakin bingung harus bagaimana” tertunduk kini kepalanya, “Dei..jalanmu masih panjang ceritanya, cita-citamu sendiri masih jauh” tiba-tiba jadi bijak menutupi hasrat hatiku sebenarnya. “kamu jadi kayak ibuku Dhi kalau ngomong gitu” senyum hambar saat mengangkat wajahnya. “Sudahlah Dei, malam ini kita menikmati suasana dan memulai dagangan kita lagi” diriku jadi males juga kalau harus ikut membahas lelaki itu, “he..he..cerdas juga kamu Dhi, tapi itu pembicaraan yang lebih berbobot” Diah terlihat ceria kembali karena bisa mengganti topik pembicaraan. Tema kali ini memang sangat cocok dengan suasana malam ini, sangat lancar kami berdua membahas strategi penjualan terbaru.
Malam menjelang larut, 10.30 WIB angka di jam tangan kami menunjukkan telah lewat waktu wajar keluar malam hari buat anak kost. Keceriaan yang enggan di tinggalkan ini masih kami nikmati selama perjalanan pulang didalam mobil. Sesampainya di kostan mereka, diriku diantar Gunawan sampai didepan gang kostku. Tidurku pun lelap oleh lelah dan senangnya hati yang kembali berbunga ini.
SEKARANG SANTI
Memang beda rasanya setelah naik kelas dan punya adik kelas, gaya kami yang dulu waktu kelas 1 masih kekanak-kanakan sudah berubah menjadi sok tua dan kedewasa-dewasaan. Keakaraban antar kelas semakin terjalin melalui pertandingan bola antar kelas, kegiatan-kegiatan di luar sekolahpun semakin beragam. Persaingan antar kelas melahirkan kreativitas untuk menunjukkan identitas masing-masing kelas, membuat jaket kelas yang menjadi andalan utama dalam bersaing identitas. Amri salah satu anak kelasku memang jago gambar, dia mendesign logo kelas kami dengan sangat simple namun berkelas. E kelasku, ya itu nama kelas kami yang tertera di punggung jaket, dengan huruf E meniru logo Superman.
Santi dan aku sedikit banyak jadi berkurang intensitas bertemunya, diriku lebih asik mengikuti kegiatan kelas dan berbagi waktu berdagang bersama Diah serta mba’ Ninda. Tapi kerenggangan ini seolah tanpa kami sadari, Santi juga tak banyak mencariku seperti dulu, dirikupun begitu. Sekali aku teringat akan keputusan yang kubuat di depan mba Ninda, itu juga karena mba’ Ninda teringat untuk menanyakan hal itu. Namun kujawab dengan rasa tidak bertanggungjawab dan rasa tidak bersalah, tapi mba’ Ninda tidak menceramahiku karena akhirnya dia mengenal Diah saat harus sering bertemu untuk masalah dagangan.
Lama aku tidak keluar bersama Santi hingga suatu saat kami bertemu di kantin waktu istirahat, “Dhi, gimana daganganmu?” sorot mata Santi sudah tak seperti dulu lagi, “alhamdulillah Sant, lancar dan makin banyak pelanggannya” aku jadi merasa agak aneh dengan gejolak di dada ini yang hampir tak terasa. “Wah…sering foya-foya kamu sekarang ya! Sayang aku lama nggak kecipratan” Santi menyindir dengan jepitan tangannya dihidungku, ini yang masih sama seperti dulu, kupegang pergelangannya “iya ya San, kita lama nggak keluar bareng” tiba-tiba kerinduan itu merasuk dalam kalbuku. “Makanya hari ini harusnya kuambil jatah setoranku” senyum jahilnya mulai menggemaskanku, “boleh bos besar, hari ini aku juga nggak ada acara” jepitan tadi membangkitkan segaris tipis kenangan bersamanya. “Berarti seperti biasa, pulang sekolah antarkan dulu aku kekost” Santi lansgung merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci motor, “beres nyah” kutoel hidungnya seperti dulu. Akhirnya dadaku terasa ada gejolak juga, untung hari ini Diah jatahnya lagi muter jualan sama mba Ninda.
Sore ini aku dan Santi sudah berputar-putar di Mall Ambarukmo dan sekarang menuju kawasan Malioboro untuk mengunjungi beberapa toko baju sampai masuk mall lagi di Malioboro. “Kayaknya udah cukup Dhi!” Santi akhirnya menghentikan nafsu belanjanya, “he..he..bisa kecapekan juga belanjanya” kutahan beban di kedua tanganku yang penuh oleh belanjaan. “Kan masih bisa disambung besok” Santi melenggang berjalan duluan menuju parkiran motor di halaman mall, “besok?! Orang yang sudah nikah aja belanjanya sebulan sekali San” gemasku melihat keceriaanya. “Lah bukannya kamu suami abadiku Dhi” Hati yang ceria membuat Santi tak mengontrol bicaranya, “waduh, kalau begitu mendingan kulamar aja sekarang biar sah sekalian” debar di dadaku memicu keinginan terpendam. “Oh…sudah berani, terus gimana ceritanya kakak kelas yang cantik itu?!” kini nada suara Santi terdengar mengiris kalbu, “kenapa hubungannya ke situ sih?!” mati kataku mencari pembelaan untuk hal ini. “Sudahlah, kayaknya seantero sekolah juga tahu masalah ini Dhi” wajahnya tampak tetap ceria membicarakan hal ini, tidak seperti dulu. “Ah…itu bisa-bisa anak-anak aja bikin berita!” mulai malas aku menanggapinya, “iya juga nggak salahkan Dhi” Santi masih senang meneruskan pembicaraan ini. “Sekarang kita makan dulu atau pulang dulu naruh belanjaan?” kualihkan aja pembicaraan segera, “enaknya sih naruh barang dulu, kamu buru-buru ya Dhi? Sudah ada janji dengan kakak cantik ya?” sudah naik di motor ocehan Santi tak berhenti. “Ya ampun San, kenapa sih kamu jadi nanya begitu terus?!” aku jadi sedikit kesal menanggapinya, “lagian kamukan pernah kuceritakan tentang masalah pertunangan si Diah itu San!” kuingatkan hal yang sudah lama terjadi itu padanya. “Kan tunangan, belum nikah” Santi semakin sinis mencecarku, “ya ampun, sekarang gini aja…kamu jadi pacarku aja San” kekesalanku berujung keputusan yang dulu tak bisa kuambil. “Apa…aku nggak denger?” Santi berpura-pura budek karena deru suara kendaraan di jalan, “KAMU JADI PACARKU SEKARANG SAN” karena suara riuh kendaraan membuatku tak sadar berteriak pada Santi. “Ah..apa sih, masih nggak jelas….ngomongnya nanti kalau sudah sampai kost aja!” Santi sedikit tersentak dengan pernyataanku yang tiba-tiba, akupun terdiam setelah sadar akan apa yang aku ucapkan. Perjalanan ke kost Santi yang tidak seberapa jauh dari Malioboro ini terasa sangat mendebarkan, diam, tegang itu yang kami rasakan berdua diatas motor ini.
Motor telah ku parkir di garasi samping kost Santi, kini aku berjalan menuju kamar menyusul Santi yang sudah duluan membawa belanjaan. Belum duduk diriku setelah masuk ke kamar, kemudian…”maaf, bisa diulang yang kamu omongin di jalan tadi Dhi?” Santi menatapku dengan wajah serius, “emm…dengerin ya!” kuhirup nafas agak dalam…”kamu jadi pacarku sekarang San!” kini suaraku tak selantang tadi waktu di atas motor. Santi terdiam sesaat dengan mata yang mulai berbinar, “Dhi…bukannya sudah dari dulu?!” Santi malah menjepit hidungku dengan amat lembut. “Sudah?...tapikan…aku ..” tak karuan rasa di hatiku. “Iya kamu nggak perlu ngomong lagi, dulu kita pernah bahas masalah ini dan kita sepakat untuk bersahabat saja” Santi duluan duduk di karpet, “maaf San, maksudku ingin ada ketegasan perasaan di hati ini” terlanjur basah, berenang sekalian saja pikirku. “Iya, aku juga ingin…tapi kurasa kamu sekarang sudah seperti pacar bahkan mungkin lebih, tapi bukan pacar seperti yang biasanya” Santi begitu tenang menjelaskan perasaannya, tidak seperti aku yang jadi sangat emosional, aku terdiam mendengar penjelasannya sekalian menenangkan emosiku yang mulai labil. “Dhi…kamu cowok terbaik yang pernah aku kenal, dan karena itu juga aku lebih memilih berhubungan seperti ini agar tak ada yang saling menyakiti dan kehilangan” mata sendu Santi menusuk haru sayang kasihku padanya. “San…ku akui kamu lebih bisa berpikir dewasa dariku, aku malu sebagai cowok nggak bisa tegaskan sikap dari dulu ke kamu” kupegang dan kuremas tangannya, “nggak juga Dhi, aku bisa begini juga karena nggak ingin kehilangan orang terdekat kayak kamu” genangan air mulai muncul di mata Santi. “Maaf San, aku sangat berterimakasih untuk ketulusanmu selama ini….maaf San, aku benar-benar sayang sama kamu!” terbata setiap kata ucapku, “nggak usah maaf terus sih, aku tahu kamu sayang aku Dhi” tak tahan Santi, akhirnya memeluk aku lebih dulu. Dua butir air juga menyembul dari kedua sudut mataku dalam merasakan kehangatan haru memeluk Santi, tak ada kata yang terucap dari kami berdua selain arus perasaan yang terus mengalir antara dua samudera hati yang penuh cinta.
Puas kami tersenyum dan tertawa dan kembali normal bercanda seperti biasanya setelah kejadian tadi, urusan perut yang tertunda pun menagih penyelesaiannya. Warung ayam bakar depan kostku pun jadi solusinya, kini sudah tak ada ganjalan di kedua hati kami untuk meneruskan kehidupan. Mulai sekarang aku dan Santi saling menjaga dan mengerti setiap perasaan yang muncul di hati, kami bukan pacaran, bukan sahabat…kami adalah kami.
Adhi di Blitar
Hampir 2 tahun aku menjalani kehidupan di Jogja untuk menempuh pendidikkan dan juga pendewasaan jiwaku, begitu banyak pengalaman dan wawasan yang kudapatkan selama disini, seandainya aku masih tetap bertahan di kampung halaman mungkin tak banyak yang berubah apalagi bertambah cerita hidupku. Sampai menjelang liburan semester diriku diminta untuk pulang oleh orangtuaku, aku jadi sadar kalau hampir tak punya rasa kangen ke kampung halaman (sebenarnya terlalu asik dan enggan melepas kebahagiaan yang kujalani disini). Hal ini kuceritakan pada Diah disela waktu berdagang, Diah membantuku mencari solusi termurah untuk pulang kampung. Liburan depan ini Diah ingin pulang ke Blitar menaiki motornya supaya di sana bisa jalan-jalan dengan motor kesayangannya, jadi kami berdua akan mudik bersama. Setelah sampai di Blitar aku bisa menuju Surabaya untuk naik pesawat dengan harga tiket yang lebih murah, keinginanku hampir setahun lalu akhirnya terkabul sekarang, aku bisa berlibur ke kota kelahiran Diah. Hal ini kusampaikan juga pada Santi, karena sejak waktu itu kami sudah biasa untuk tidak menutupi hal-hal yang seperti ini. Walau kulihat ada ekspresi kurang mendukung di wajahnya, namun Santi memaklumi dengan keadaanku yang mencoba mengurangi biaya perjalanan mudikku.
Ujian sekolah telah usai dan aku tetap tak bisa menembus sepuluh besar, walau nilaiku tidak jelek karena masih dalam rata-rata tujuh. Apapun hasilnya aku tetap harus membawanya ke Kalimantan untuk pertanggungjawabanku terhadap orangtua, waktu bersiap-siap pulang kampung pun telah tiba. Aku dan Diah mulai sibuk berbelanja oleh-oleh yng masih mungkin terangkut dengan berkendaraan, tak jauh-jauh seputar makananan dan beberapa lembar baju batik untuk ayahanda dan ibunda serta kakak perempuanku. Aku sudah kabari mereka yang di Kalimantan rencana kepulanganku dan mereka berjanji menjemputku di Bandara Syamsudin Noor.
2 hari setelah awal liburan kami berangkat dan keluar meninggalkan kota Jogja sekitar jam 8 pagi. Ini pengalaman pertamaku melakukan perjalanan jauh di tanah Jawa dengan mengendarai motor….bersama Diah pula (indahnya). Beberapa kali kami berhenti setelah melewati 2-3 kota, hanya untuk sekedar makan, buang air dan menanyakan arah jalan. Separuh jalan yang kami tempuh sudah menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam, ini mungkin karena kami berjalan agak santai. Diah tidak terlihat kelelahan walau sudah menempuh perjalan sejauh ini, apalagi diriku yang terus dipeluknya selama perjalanan (kalau bisa sih jalannya lebih jauh lagi). Propinsi Jawa Timur telah cukup jauh kami masuki, Madiun, Kediri dan katanya sebentar lagi sudah memasuki kawasan daerah Blitar (kata si Diah sih).
Selepas ashar kami memasuki kota Blitar, kulihat kotanya masih cukup lengang dan nyaman untuk berjalan-jalan di dalamnya. Saat melintasi terminal besarnya Blitar, Diah memintaku mengurangi kecepatan sebab rumahnya tak jauh lagi dari situ. Betul katanya, tak berapa lama kami memasuki kawasan perumahan yang ada dikiri-kanan jalan dengan rata-rata berhalaman cukup luas. 2-3 blok dilewati Diah kemudian memintaku memasuki sebuah perkarangan rumah dengan taman imut menghiasinya. Pintu terbuka di iringi kemunculan lelaki paruh baya berbaju koko lengkap dengan sarungnya, yap…itulah sang ayahanda Diah. “Assalamu’alaikum” Diah yang sudah berada di depan pintu mengucap salam dan langsung menyalam peluki ayahnya, “nduk..nduk…dijalan baik-baik ajakan kalian?!” memandangi anaknya dan diriku. “Nggih pak, kami nyantai kok jalannya” Diah mengangkat barang bawaannya, “Pak..” kumaju menggatikan Diah menyalami bapaknya. “Mas Adhi terimakasih ya, ayo masuk dulu, motornya biar aja disitu” langsung mempersilahkanku masuk karena melihatku berusaha menaikan motor ke teras rumah, “o ya pak, sekalian nurunin barang” tak jadi kunaikkan motor ke teras, hanya mengambil beberapa barang yang masih ada di motor.
Rumah Diah cukup besar dan sejuk dengan atap ruangan yang cukup tinggi. “Mas Adhi akhirnya nyampai juga ke Blitar” ibunda Diah keluar dari ruang tengah menyambutku dengan wajah yang masih nampak kalau baru terbangun dari tidurnya, “alhamdulillah bu, ibu sehat-sehat ajakan” basa-basi sedikit akrab dengan ibunda. “Alhamdulillah…ayo masuk ke ruang dalam aja, istirahat dulu terus makan ya!” suasana ini mempertebal rinduku akan rumah, “nggih bu, saya pengen numpang ke kamar kecil dulu” sekarang rasanya sudah hampir keluar isi dalam pantatku. “Oya, nduuk…!” Ibunda memanggil gadisnya untuk melayani diriku, “nggih bu…” Diah berteriak dari dalam kamar di sudut ruang. “Iki Adhi mau kebelakang…” Ibunda memerintahkan putrinya menunjukka jalan, “oalah..langsung kebelet ya kamu Dhi, sekalian mandi aja….ntar kuambilkan handuk dulu” Diah berlari ke ruang belakang dengan pemandangan taman kecil terlihat dari ruang tengah ini. “Aduh..nanti ajalah!” gila, tega, jangan-jangan udah nempel di celana nih, aku ngebut mengikutinya, “whaa..ha..tampangnya jangan gitu-gitu banget sih” sambil memberikan handuk Diah menikmati keadaanku yang sedang tersiksa. Tak ku komentari kali ini, masuk langsung ke kamar mandi dan melepaskan celana jinsku yang sangat sulit rasanya di buka, namun kemudian…kayaknya kloset wc rumah Diah ini terlalu kecil untuk menampungnya.
Mandi setelah perjalanan jauh sangat membantuku menghilangkan seluruh kekakuan di badan. Sudah ada sebuah kamar buatku saat keluar dari kamar mandi, kulihat ada anak perempuan umur 8 tahunan berlari-lari saat melihatku melintas ruang tengah bersama Diah menuju kamar. “Ratih…ngapain sih lari-lari, nggak usah takut…ini sudah mba’ jinakin kok” Diah memanggil gadis itu yang sedang tersenyum-senyum lucu kearah kami, “Adikmu Dei?” kutanya Diah yang geleng-geleng melihat polah adik kecilnya ini, “iya…yang paling kecil!” Diah berusaha mengejarnya dan meninggalkanku.
Suasana sore di kampung halaman Diah sangat nyaman dengan udara yang masih segar, diriku duduk dikursi teras depan bersama sang ayahanda Diah…”Gimana mas Adhi, sepi ya disini?” ayahanda membuka pembicaraan sebagai tuan rumah, “ya enggak juga pak, malah enak yang kayak begini…tenang…tapi nggak sepi banget” kujawab dengan bergaya sok dewasa, “memang lebih tenang kalau di banding Jogja yang sudah mulai padat….” percakapan berjalan pelan mengulur waktu, “setidaknya masih mendingan dari pada di kampung saya pak” kuseruput the panas yang sudah tersaji di meja teras ini. “Kamu kalimantannya di mana sih Dhi?” akhirnya keluar juga pertanyaan yang sesungguhnya dari ayah Diah, “Saya di KalSel tapi bukan di Banjarmasinnya, saya di daerah kota administratifnya..Banjarbaru!” sedikit detil penjelasanku. “Emm…Banjarmasin ya, kalau yang penghasil intan itu dekat nggak?” ternyata wawasan sang Ayah cukup lumayan, “ooo…dekat sekali kalau itu pak, 10 menit juga sampai dari rumah saya!” jadi bersemangat menjelaskannya. “Wah…orang tuanya juragan intan ya?!” sedikit bergurau namun penuh makna, “ya nggak mesti pak, orang tua saya hanya berdagang di pasar dan sedikit berkebun sekedar mencukupi kebutuhan dapur” mulai diplomatis bahasaku. “Bisa aja kamu dhi, terus gimana rencana besok pulangnya?” sang ayah mengalihkan pertanyaannya, mungkin berpikir aku sudah berusaha merendah dalam menceritakan latar belakangku (padahal itu sudah dikeren-kerenkan), “saya sudah pesan tiket pesawat di Jogja kemaren, tapi berangkatnya lewat Surabaya….biar lebih murah pak!” kejujuran yang jujur sekali sekarang. “wha..ha..pinter aja kamu Dhi, tapi itu bagus selain irit juga bisa nambah wawasan dan menjalin silahturahmi!” wejangan sudah mulai terasa dari ucapannya. “alhamdulillah bisa di ijinkan nginap disini menunggu keberangkatan pesawat” jujur menginap disini lebih kuinginkan dari pulang kampung (terlalu). “Saya yang terimakasih Adhi sudah mau bantuin Diah….tapi besok pulang ke Jogjanya lewat sini lagikan?” sebuah pertanyaan yang membesarkan hati dan hidungku, “insya Allah pak, begitu rencananya sebelum berangkat kemaren” mantab dan pasti jawabanku. “Alhamdulillah, jadi bapak bisa tenang kalau tetap kamu yang nemenin Diah pulang ke Jogja lagi!” terlihat wajah lega dan senang si ayah.
“Ayo pak, Dhi makan dulu!” Diah keluar dari pintu, “oh sudah siap, ayo Dhi kita makan dulu!” sang ayah mendahului berdiri. “Nggih pak” akhirnya makan lagi, menggantikan isi perut yang sudah kukuras waktu di kamar mandi tadi. Di meja makan yang terbuat dari jati yang cukup tebal, tertatata berbagai lauk dan pauk serta sayur khas jawa (mungkin). Ayah duduk bersama sang bunda, diriku di sebelah putri mereka dan si lucu duduk di sebelah kakaknya yang cantik. Peristiwa ini membangkitkan kenangan lamaku waktu di Magelang di meja makan bersama dengan keluarganya omnya Santi, apakah aku beruntung? Ataukah aku sedang ditunjukkan sebuah pilihan yang menuntut pertanggungjawaban? Apapun itu aku tetap harus menjalaninya dulu. Yang membuat keadaan sekarang berbeda dengan peristiwa dulu di Magelang adalah suasananya yang lebih serius dan penuh tata karma. Padahal Diah diluaran cukup tomboy, namun semenjak masuk kerumah ini Diah sangat feminism. Hal ini membuat auranya semakin menyala terang memnacar dahsyat menerangi mata hatiku, aku dan Diah tidak punya kebiasaan seperti kalau dengan Santi yang sedikit lebih bebas dalam bercanda….dan bermesra.
Tak lama berselang setelah makan bersama usai, terdengar adzan maghrib menjelang berlumandang memanggil. Kulihat seluruh keluarga bergegas seperti sudah menjadi kebiasaan menuju kamar mandi dan ruang belakang dekat mesin cuci untuk berwudhu. Ternyata kost di sebelah mesjid memberi banyak pengaruh baik buatku, apalagi setelah akan sholat berjama’ah dirku diminta qomat oleh sang ayah. Sholat berjama’ah ku kali ini terlihat sangat nikmat dan berdebar-debar, setelah selesai sholat kami berdo’a bersama dan menyalami sang ayah yang juga sang imam.
Makan malam di tiadakan karena makan siang tadi terlalu sore, kami berkumpul di teras belakang dengan taman mini sebagai pemandangannya. Pembicaraan tak banyak berkembang apalagi menyinggung masalah kami berdua, mungkin karena mereka belum mau gegabah di awal tentang hubungan anatara aku dan Diah. Dan bagi aku dan Diah ini juga sangat membantu, apalagi tingkah adiknya yang menjadi hiburan kami terus menerus. Namun ada sebuah kejadian yang membuat aku dan Diah sedikit tersentak saat adiknya iseng memanggil kakaknya, “mba’ Dei...!” sang adik menggelendot manja di kaki sang kakak, “apa…kamu kok” Diah sedikit tertahan saat ingin menegur adiknya. “Loh kan aku ikut-ikut mas Adhi manggilnya” dengan wajah polos adiknya menjawab, dirikupun agak sedikit bersiap kalau nanti orang tuanya Diah merespon keisengan adiknya. “Itukan Cuma boleh mas Adhi yang manggil” diah yang berniat menegur adiknya malah semakin memperjelas keadaan, kulihat ayah dan bundanya tersenyum-senyum. “Ooo…tapi aku juga suka manggil mba’ Diah kayak gitu” adiknya sedikit merengek, Diah mulai sadar dengan omongannya setelah melihat ke arah orang tuanya yang terus mendengar dan memperhatikan setiap gerak-gerik putrinya. Aku tertunduk untuk menutupi reaksi di wajahku yang mulai terasa hangat grogi, “emm…anu pak…bu…itu Adhi yang iseng bikin panggilan sendiri!” semakin salah tingkah malah semakin salah ucap si Diah. “Ya nggak masalah tho nduk, itukan artinya kalian memang sudah sangat akrab. Asal manggilnya nggak yang aneh-aneh!” ayahnya tersenyum menggoda anaknya. Diah kini sadar untuk menutup bibirnya rapat utnuk meminimalis kesalahan ucap lagi, giliran diriku yang harus ambil alih penjelasan masalah ini. “Eee..itu dulunya karena saya agak susah kalau manggilnya pak” aku sedikit gugup waktu menjelaskan, “susah gimana?” sang ayah jadi antusias utnuk bertanya lebih lanjut. “Waktu itu saya manggil “Di” nanti nggak beda manggil nama saya sendiri..terus waktu diganti manggil “Yah” terasa manggil ayah saya di kampung pak!” akhirnya panjang lebar penjelasanku., “whaa…ha..bisa aja kamu Dhi, tapi saya juga senang dengar panggilannya!” sang ayah berusaha mendukung keakraban kami. Diah melampiaskan rasa malunya dengan meremas pipi adiknya yang sudah membuka permasalahan ini, keteganggan mulai teralihkan dan cair kembali berganti dengan keributan antara adik dan kakak yang saling melampiaskan kerinduan mereka.
Malam ini aku minta diri untuk tidur lebih cepat, mereka maklum untuk hal ini. Namun ternyata dalam kamar aku malah tak bisa tidur, entah karena saking capeknya, atau karena takut kalau aku tidur dan terbangun…kemudian semua yang terjadi hari ini hanya mimpi. Kududuk di kasur, menarik nafas panjang beberapa kali. Kulihat tas ranselku, kuingat ada pulpen hadiah Santi di kantong kanan tasku. Kuambil bersama lembaran kertas puisi yang pasti berpasangan dengan pulpen dalam penyimpanannya, kemudian….
Bening suara malam berlentera purnama
Membungkusku diatas dipan bertahta cinta
Sajikan beribu mimpi akan surga dunia
Manjakan hati yang jatuh cinta
Denting dawai kalbu terpetik asmara
Lantunkan senandung birahi jiwa
Membara mengharap menanti memiliki
Keabadian cinta tanpa ilusi dusta
Hening tanpa kata berucap rayu
Hanya tatap kasih ikhlaskan sayangku
Menggenggam memeluk tak lepas rinduku
Hingga waktu jadikan kau bagian diriku
Senyum bahagia hiasi lelap dengan setitik iler lengkapi tidurku, hingga beberapa garis sinar terang dan hangat menembus tirai gorden menggelitik tubuhku.
Aku masih harus menungu satu hari lagi untuk berangkat ke Kalimantan, hari ini aku di ajak Diah berjalan-jalan berkeliling kota Blitar. Diah menunjukkan sekolahannya dulu, dari TK hingga SMP. Kota ini memang tidak terlalu besar, namun disinilah tempat kelahiran seorang pemimpin besar negeri ini…Presiden pertama RI Soekarno. Aku minta di ajak kesana untuk bisa melihat langsung yang dulu hanya ku baca dalam buku sejarah di sekolahan. Entah kenapa suasana di sini sangat membuatku betah, ada perasaan mengatakan aku akan tinggal di daerah ini dalam waktu cukup lama. Kami kembali kerumah sebelum ashar dengan membawa sedikit panganan kecil sebagai oleh-oleh buat si lucu dan cemilan bersama saat di rumah.
Biasanya satu hari berlangsung cukup lama bagiku, tapi kenapa hari ini berlalu sangat cepat sekali. Malam kembali mejelang, kuharap besok hari bisa lebih lama karena besoknya lagi aku sudah harus ke Surabaya menuju bandara Juanda. Cukup lama kami berada di teras belakang rumah, membicarakan berbagai kenagan Diah di kota kelahirannya dan sedikit membahas tentang kehidupan di kampung halamanku. Besok pagi aku dan Diah mendapat tugas belanja ke pasar sekalian untuk membeli beberapa ole-oleh dari Blitar buat kubawa ke Kalimantan.
Hari terakhir menunggu keberangkatan pun tiba dengan ditandai kemuculan sang surya, Diah mengetuk kamarku, bergegas aku mengambil perlengkapan mandi. Setelah sarapan bersama ayahanda yang siap untuk berangkat kerja, kami berangakt keluar rumah berbarengan. Kali ini kami mengajak adiknya Diah yang terus merengek ingin ikut jalan-jalan bersama kakak-kakaknya ini. Tapi ada untungnya mengajak adiknya Diah bersama kami, suasana jadi lebih meriah.
Hampir kami lupa pulang seandainya Ibundanya Diah tidak menelepon ke Hp nya Diah untuk segera pulang karena si lucu harus tidur siang. Siang di rumah kuhabiskan bersama Diah sepuasnya sebelum nanti berpisah cukup lama. Di situasi seperti ini diriku merasa ada yang mendesak dari dalam dada ini untuk menyatakan sebuah ketegasan perasaan tentang hubungan kami berdua. Namun logikaku bertahan lumayan kuat untuk tidak melakukannya, mengingat Diah dan si Pram itu belum jelas kepastian hubungan mereka. Sungguh sangat menyiksa perdebatan hatiku saat ini, aku juga tidak mendapat sinyal-sinyal tentang keadaan mereka berdua dari Diah yang sudah tidak pernah lagi menyinggung-nyinggung masalah dia dan Pram setiap berbicara sejak di alun-alun selatan dulu.
Ritual bungkus membungkus telah usai kulakukan malam ini, Diah menemaniku merapikan semua barang bawaanku. Aku diminta Diah untuk tidur cepat malam ini karena besok setelah subuh aku sudah harus ke terminal dan naik bus menuju Surabaya. Kali ini aku tidak membantah karena takut tertinggal pesawat besok. Ingin aku minta pelukan dan ciuman perpisahan, namun semua terhenti pada kenyataan aku bukanlah pacarnya yang pantas meminta itu. Karena aku berniat tidur maka aku bisa tidur dengan cepat, dan aku aku jadi tidak mendengar saat Diah menerima telepon dari si Pram yang ternyata sudah samapi ke Blitar juga.
Sebelum subuh aku terbangun dan segera menuju kamar mandi, Diah belum terbangun hanya ayahnya yang sudah siap untuk berangkat ke mesjid untuk sholat subuh. Sholat subuh sudah kuselesaikan dan langsung di suruh menyantap sarapan telur dadar yang dibuatkan Diah. Aku kurang begitu perhatian dengan raut wajah yang sedikit berubah (maklum pagi hari, tampang orang bisa bermacam ekspresi). Jam 5 pagi telah lewat beberapa menit, aku pamitan dengan orang serumah, Diah mengantarku sampai ke terminal dan menngguku hingga akan anik ke bus, di sinilah kejadian yang membuatku hampir tak jadi berangkat. Begitu aku duduk dalam bus dan melihat Diah dari jendela, aku melihat seorang laki-laki menghampirinya…dan laki-laki itu masih sangat ku kenal, Pram! Aku ingin segera turun dari bus, namun Diah memberikan tanda agar aku tidak melakukannya. Hatiku benar-benar terbakar cemburu, apalagi kulihat Diah berusaha untuk tidak menggubris kedatangan lelaki yang terus memaksa inigin berbicara dengannya. Bus terus berjalan menjauh dan keluar dari terminal, aku masih terus melihat Diah dari jauh. Pikiranku berkecamuk segala kemungkinan berdasarkan emosi dan cemburu. Kutelpon Hp Diah berkali-kali namun tidak di angkat olehnya, kini kebencianku kepada lelaki itu semakin menjadi. Kenapa dia harus menemui Diah di terminal, dirumahkan bisa dan lagian ngapain dia pulang ke Blitar sekarang. Diah juga tidak bercerita kalau si Pram…pok itu datang saat liburan ini. Aku terus terjaga selama perjalan menuju Surabaya dengan dada di penuhi bara menyala. Berkali aku telepon tetap tidak diangkat, dan akhirnya aku hanya bisa tersungut manyun diatas kusri bus ini.
15 Dec 2020
15 Dec 2020