Ksatria Goblok (part 2)
ADHI
Malam ini hanya mas kadek yang ada dikost, itupun asyik dengan komputernya. Kesegaran setelah mandi membuatku terjaga, tersenyum dan menahan tertawa sendiri mengingat kebersamaan bersama Santi. Perlahan tapi pasti, perpindahan kealam dimensi Diah dan aku berproses. Namun ada hal yang membuat kami sedikit terusik, kini didimensi ini kami tak lagi berdua….ada satu sosok lagi yang mampu menjebol masuk kedalam dimensi. Ya, tak lain dan tak bukan sosok ini adalah gadis yang dari tadi siang bersamaku, Santi.
Jangankan dialam nyata, di dimensi khayal inipun aku terdiam berhadapan dengan mereka berdua sekaligus. Dua macam sensasi pesona seolah bertarung menunjukkan kesaktian mereka masing-masing dalam memikat seorang lelaki yang memang sudah tak berdaya, yaitu aku. Diah dengan aura bidadarinya menutup seluruh ruang dimensi khayal berusaha mengeluarkan Santi dari dimensi ini, namun bukan sembarang Santi bisa memasuki dimensi ini dengan tanpa permisi. Santi perlahan membuka ruang untuk dirinya menunjukkan diri dari celah aura Diah yang terobek oleh aura ketulusan yang luar biasa, perlahan kini aura mereka semakin seimbang. Sang lelaki tak berdaya ini semakin resah, gelisah dalam keindahan yang terpancar dari mereka berdua.
“Aaaaahh…..Sudah cukup! Biarkan aku menjadi diriku sendiri lagi!!” berteriak lelaki ini dari titik terlemah ketakberdayaannya berusaha menghentikan perseteruan mereka.
Terlempar, terlontar sang lelaki menuju dimensi dunia nyata yang masih kosong tanpa hiburan.
Nafas masih terasa sesak, hebat memang pesona mereka! Terduduk, terdiam, merenung….sampai pandangan mata ini terhenti pada sebuah benda kotak berwarna hitam.
“Pulpen….?!” gumamku mengarah pada satu jalan keluar,
“kertas !” yup, itu solusinya. Kubongkar kotak hiburanku dan mengambil buku puisiku, lalu kuambil kotak hitam itu dan perlahan kubuka. Kemudian………….
Satu matahari bagi bumi
Menerangi dan menemani kehidupan
Satu matahari bagi bumi
Menghanguskan dan menghancurkan kehidupan
Bila dua matahari bagi bumi
Dimana gelap tempatku terlelap
Bila dua matahari bagi bumi
Adakah waktu yang terbilang
Duhai Pencipta matahari
Bila bumi tak sanggup dengan dua matahari
Bagaimana dengan aku
Bila ada dua matahari kecil dihatiku
………..cukup. Haa…ahh memang efektif untuk mendatangkan kantuk. Ok, selamat tidur juga dua matahariku, terbitlah besok dengan terang menerangi hari-hariku.
Pagi kembali datang bersama matahari yang kini terasa semakin akrab dihatiku, seakrab hubunganku dengan Diah dan Santi yang berjalan dalam jalur edarnya masing-masing.
Pagi ini matahari bersinar sangat cerah dan mungkin cenderung terik. Senyum Santi menyapa pagi cerah ini didalam kelas, membuat hati ingin merasakan matahari yang satu lagi yang mungkin jauh lebih indah pagi ini.
Warung gado-gado menjadi tempat spekulasiku dengan kemungkinan terbesar untuk bertemu Diah. Hanya satu dua pelanggan warung hari ini, namun tetap kupilih meja dekat pintu dapur untuk menanti. Bagai dipucuk ulampun tiba, sang bidadari hadir memasuki pintu warung bersama….bentuk bulat yang pernah kulihat sebelumnya.
“Dhi, kamu makan sendirian…tumben” Diah menghampiriku, “kenalin ibu asuhku” Diah mengenalkan sosok bulat itu padaku.
“Rani”,” gimana gak masuk anginkan habis belajar dilantai?!” ucapnya dengan wajah yang menahan tawa dan kusambut dengan wajah menahan kecut,
“kok bisa…?” pendek dan cepat suaraku.
“Loh, kamu udah kenal sama Rani Dhi? Diah kaget melihat gelagat kami berdua,
“inget nggak yah, anak kelas 1 yang tak ceritakan kena hukum Bu Istifada minggu kemaren?” Rani sudah tak bisa lagi menahan senyum tawanya.
“Oalah…kamu dhi yang kena hukum Bu Istifada!” Diah berucap dengan nada kesal penuh tanya,
“yaaa…begitulah dei..” habis keceriaanku hari ini.
“Pasti gara-gara nggak ngerjain PR-kan! Apa nggak bisa ngerjain?” jadi lebih mirip ibundaku kalau Diah lagi ngomel begini,
“aku kelupaan…habisnya…” kugaruk kepalaku.
“Habisnya kebanyakan jalan sama cewek yang diparkiran kemaren ya?!” kali ini benar terasa pedas ucapannya.
“Bukanlah, kenapa nyambung kesitu sih? Aku ikut nonton acara musik sama anak-anak kostku” ada sedikit rasa tidak terima saat Diah menyalahkan Santi,
“tiap hari kamu ikut nonton musiknya? Nggak kan!” kesal yang kuanggap sudah agak berlebihan dari masalah sesungguhya,
“ya..engak, akunya aja yang beneran lupa..” aah..tau nggak sih, aku tuh kebanyakan ngayalain kamu Dei.
“Sudah-sudah ah…kamu jadi sewot banget si yah? Nggak ngerjain PR kalau cowok kan nggak heran!” Rani menengahi karena juga merasa Diah agak sedikit berlebihan nanggapinya,
“tuh kan, mba Rani aja bisa maklumin. Lagian aku juga super kapok gara-gara Ibu itu Dei” panas hatiku kembali dingin melihat reaksi Diah yang sejujurnya membuat hatiku senang.
“Semoga kapok keseringan jalannya juga!” Diah masih tak terkendali perasaannya,
“Jadi aku juga nggak boleh ngajak kamu jalan-jalan Dei?” tanpa terasa kebiasaanku menggoda Santi terbawa kehadapan Diah,
“ya..kalau itu kita jalan barengkan nggak tiap hari dhi. Lagian….” masih terus berusaha membela diri namun akhirnya sadar akan Rani yang senyum-senyum melihat Diah,
“ayo mba Rani gado-gadonya dimakan dulu” kualihkan berbicara dengan mba Rani.
“Aduh..” Rani mengaduh sambil menepis tangan yang mencubit pahanya,
“kenapa sih…?” Rani tak bisa menahan senyuman yang hampir menjadi tawa.
“Dei, kuakui aku keseringan jalan akhir-akhir ini. Aku masih berusaha adaptasi dengan kebebasanku ini” setelah kenyang, perasaan takut kalau Diah membenciku datang,
“ya..bukan aku sok nggurui, tapi kamu jugakan yang waktu itu minta belajar banyak jadi anak kost” kini Diah bagai kakak yang menasehati adiknya.
“Iya Dei…, terimakasih sudah mengingatkanku” rasa haru tak bisa kupungkiri oleh perhatiannya.
“Ya sudah, udah mau masuk nih” Diah mengakhiri pertemuan ini, karena memang habis sudah waktu istirahat.,
“makasih ya Dei…” apalagi yang kurang dari wanita ini bagiku.
Bahagia Yang Panik Tak Terduga
Berminggu berganti bulan, proses kehidupan berlangsung menuju ujian pertamaku di sekolah ini. Nasehat demi nasehat, teguran demi teguran dari bidadari pengawasku, mengendalikan kebebasanku. Bimbingan dan sedikit belaian dari Santi, menyuap resapkan pelajaran yang kami pelajari bersama.
Sekolah kami ujian seminggu lebih awal dari sma lain, karena ada ujian agama terlebih dulu. Dan ini merupakan momok bagiku, bagaimana tidak! Baru di sinilah aku belajar banyak tentang agama, dan ujian ini juga yang memaksa kepalaku berputar kekiri kekanan mencari penyelesaian. Sani culun yang berada dibelakangku dulu SMP nya di pesantren, tidak heran kalau sangat lancar dalam mengerjakan ujian serta menggiurkan bagi mataku untuk melihat isi jawabannya.
“San..!” sangat lirih suaraku dari kepala yang berpaling tertunduk rendah menghindari mata pengawas, Sani panik dengan aksiku. Gelengan enggan kepala Sani dan mata yang terus memperhatikan pengawas memberikan tanda (“jangan macam-macam dhi”), kini kepanikkan itu berpindah padaku yang telah kehilangan satu-satunya harapanku. Kulirik jam ditangan Fery yang duduk diseberang kananku, ooh..tidak! 15 menit lagi semua berakhir. Berpikir cepat, layaknya makhluk yang diujung tanduk. Kueratkan pegangan pada penaku, dan kuguratkan karya seni terbaikku dalam menyambung-nyambungkan alphabet arab berserta tanda-tanda bacanya. Akhirnya, kemampuan terpendamku menyelamatkan kertas ujianku di 15 menit terkahir, teeeett……..SELESAI!.
Hampir disetiap sudut teras sekolahan penuh oleh makhluk berseragam putih abu-abu yang sibuk dengan berbagai buku dan kertas.
“Dhi, kamu ini gimana sih? Kita kan sudah belajar semuanya, kenapa tadi masih usaha nyari contekkan sih!” Santi kecewa dengan kelakuanku didalam ruang ujian tadi,
“maaf San, aku sudah berusaha mengingat sebisaku, tapi….nulis arabnya itu loh..!” aku terima kekecewaan Santi, tapi aku tak bisa terima kekuranganku sendiri.
“Maaf Dhi, bukan aku pelit sama jawabannya, tapi aku takut ketahuan pengawas” Sani sedikit merasa bersalah karena tak bisa membantuku,
“ya kamu bener San, jangan mau kalau dia mau nyontek lagi!” Santi meluruskan perasaan Sani atas tindakannya yang sudah benar.
“Nggak gitu juga Sant, tapi aku bisa ajarin kamu cara nulis arab cepat dhi!” Sani tetap berusaha menghilangkan rasa tidak enaknya padaku,
“boleh San!” kini keinginan belajarku sangat tinggi karena mengingat masih seminggu kedepan akan berhadapan dengan soal-soal seperti tadi,
“tuh, kalau kepepet begini baru serius belajarnya” Santi benar-benar kesal karena merasa tidak sukses menemaniku belajar.
Tak kutanggapi kekesalan Santi kali ini, karena aku sudah konsentrasi melihat tangan Sani yang siap menunjukkan teknik menulisnya. Dari arah kanan buku dan menulis huruf sedikit miring kekiri, sangat lancar Sani menyambung-nyambungkan setiap huruf-huruf arab.
“Tanda bacanya…?” aku kagum dan juga bingung,
“nanti ngasih tandanya dhi, setelah tulis semua hurufnya baru tandanya sesuai bunyi bacaannya” terang dan jelas Sani usahakan pelajaran kilatnya ini, kemudian dilanjutkan tangannya lincah memberi tanda disetiap huruf yang sudah tersambung.
“Sani…Sani…harusnya kamu yang jadi guru, bagus jadinya San” hampir kubertepuk tangan melihat kelihaian kawanku ini,
“jangan muji dulu dhi, lihat kamu sekarang bisa belum nulisnya” disodorkannya kertas yang tadi sudah diberi contoh tulisannya padaku.
Kucoba mengikuti cara Sani menulis tadi dengan bacaan yang masih sama dengan contoh dari Sani,…..benar-benar efektif tekhnik yang diajarkan, kutulis dengan cepat dan kehalusan tulisan yang hampir menyamai Sani.
“Seep…hebat juga kamu dhi, sekali lihat langsung bisa” kini Sani yang memujiku duluan,
“malah aku yang dipuji, kalau kamu yang ngajarin gini, siapa aja juga langsung bisa” memang tidak salah kalau “orang yang berisi itu akan semakin merunduk”, jarang-jarang aku muji orang selain wanita.
“ok, jangan bingung lagi nanti pas ujian ya dhi” Sani menepuk pundakku dan melangkah menghampiri Neni yang baru datang dengan sekantung batagor.
“Hemm…lumayan, sayang..nunggu kepepet baru keluar kebisaannya” Santi ingin memuji, namun tertahan oleh sisa kesal, kemudian duduk menggantikan posisi Sani disebelahku.
“He..he..jujur aku malu San, anak-anak kelas yang kelihatannya santai dan biasa-biasa aja ternyata menyimpan banyak kebisaan ya” rasa kagum dan semangat mengejar ketinggalan masih menggelayutiku.
“Makanya, nggak salahkan kalau Jogja itu disebut kota pelajar Dhi” Santi menambahkan daftar kekagumanku,
“Betul…nggak salah keputusanku untuk sekolah merantau ke sini” sambil terus kulatih ilmu yang baru kudapat.
Momok yang menghambat perkembangan prestasiku telah terangkat perlahan, kini kujalani ujian dengan lebih percaya diri. Dua minggu musim ujian, dua minggu soreku di kost-kostan Santi. Hari terakhir menjadi hari kemerdekaan bagi kami, segudang rencana sudah tersusun. Sayang rencana utamaku pupus dengan kepulangan Diah ke Blitar, kebanyakan mereka yang masih tinggal di tanah jawa pulang kampung, yang luar jawa kebanyakan liburan ke Jakarta, Bandung, dan Bali. Santi juga pulang kampung, karena setelah kutahu bapaknya aseli Magelang jadi banyak keluarganya disana.
Kususuri jalanan dari sekolah hingga kekost dengan berjalan kaki, hari ini sengaja aku pilih jalan kaki sampai kekost (nggak ada duit buat angkot). Setelah perempatan Baciro aku mengarah ke timur lanjut menuju kostku, “Dhi!” suara wanita yang sangat akrab di kupingku.
“Loh, ada apa San?” bingung dan bahagia diriku,
“udah kita makan ayam bakar dulu yuk” Santi terkesan sedikit terburu. Kugonceng Santi menuju warung ayam bakar depan kost.
“Kamu benar nggak ada rencana liburan ini dhi?” setelah duduk dan menunggu makanan Santi langsung membuka pembicaraan,
“Iya San, pengen pulang kampung jauh banget, habis diongkos” kujawab dengan sedikit lesu,
“iya juga ya, kampungmu jauh banget sih” Santi berbicara terkesan sekedarnya.
“Kamu bukannya siap-siap mau mau pulang ke Magelang San?” sedari tadi aku menahan kebingunganku,
“Yah, Magelang bukan pulang kampung dhi, tapi cuma main, kan deket!” Santi sedikit menjelaskan maksudnya.
“Jadi berangkat jam berapa?” kutanya lagi, berharap masih lama dan kalau bisa besok,
“rencananya sih sore ini, tapi kupikir besok-besok juga nggak masalah” kalimat Santi mengharapkan tanggapan dari kepekaan dari seorang pria.
“Jadi sore ini nggak ada kegiatan donk?!” harapanku menjelang kenyataan,
“iya” Santi menjawab pendek namun menatap penuh harap.
Ujian sudah selesai, nggak ada acara belajar lagi di kost Santi, enaknya ngapain ya.
“San, jalan-jalan yuk, tapi aku nggak tahu mau kemana?” kutunjukkan kepekaanku padanya,
“emm…rencanaku sih kalau kamu nggak repot besok nemenin aku ke Magelang” dengan wajah dan suara malu tersipu.
“Wah boleh tuh, tapi masak aku ikut nginep di Magelang?” kuhadirkan keraguan dari kepastian yang kuharapkan.
“Ya enggaklah, kita cuma mampir sebentar aja, terus kita jalan-jalan. Liburan, lihat candi” ternyata Santi telah menyusunkan rencana untuk liburannya…dan aku,
“Candi Borobudur!” suara meledak dari kegirangan yang kutahan, lalu kututup mulut ini karena sadar terlihat udik sekali.
“Belum pernahkan dhi ke Candi Borobudur?” Santi sangat senang melihat responku,
“ya pastinya San, berangkat jam berapa besok” jangan basa-basi buat rencana yang seperti ini.
“Makanya tadi aku buru-buru cari kamu buat ngomongin rencana ini” kini sudah masuk sesi pembahasan,
“aku ikut kamu aja San, diajak liburan aja sudah senang banget” wajah girangku yang nyaris lupa malu.
“Enaknya pagi dhi, jam 7 an gitu lah” bicara Santi lancar, mungkin karena sudah tersusun dengan rapi,
“siap non Saantiikk” gelap hati karena girangku.
“Hayaah…kena maunya aja langsung manis banget…., makanya aku kesini sekalian naruh motor tempatmu biar besok kamu yang jemput aku dikost” matang sekali rencana Santi,
“Ok, jadi sekarang aku nganter kamu kekost dulu ya” sudah lupakan malu, yang penting anganku terwujud.
Kuantarkan Santi kekostnya setelah selesai makan dan aku langsung kembali kekost, walau sebenarnya ingin lebih lama berada di tempat Santi. Namun Santi meminta untuk beristirahat, karena besok akan berjalan jauh. Selepas maghrib kost-kostan ku mulai menampakkan kehidupannya, pintu kamar mulai terbuka satu-persatu. Maklum kalau tidak kuliah atau kegiatan orang tua-orang tua ini memilih memanjakan tubuhnya didalam kamar yang bersaunakan asap rokok.
“Woii…ORANG UTAN BELI MOTOR!!! Mas Rahmat berteriak keras sekali saat keluar kamar melihatku sedang melap motor yang baru selesai kucuci, “bukan mas ini…” kalimatku terhenti oleh orang-orang tua lain yang mulai berdatangan dan..
”Wow…sudah ada kemajuan, nggak primitive lagi” mas Kadek yang biasanya jarang ngeledek mengeluarkan hinaannya.
“Jangan kau lap terus dhi, nanti warnanya hilang pula” bang Ucok tak mau kalah pedas komentarnya,
“sudah-sudah, kalian ini tega semua, Jangan dengerin!” kang Asep paling tua paling bijak.
“Bukan begitu kang,…” masih kucoba menjelaskan namun..
”iya..yang penting sekarang STNK dan kunci biar kupegang, karena nanti aku mau jalan sama Ninda” salut kang Asep memang paling tua paling brengsek.
“Wha..ha..ha..Betul Sep, motor baru harus banyak buat amal dulu!” mas Rahmat sangat mendukung karena berharap mendapat giliran kedua untuk memakai motor Santi.
“Sebentar…..Sebentar….Om-Om sekalian yah, ini motor temenku yang dititipin ke aku tadi sore, bukan punyaku. Mengerti!” betul mba Ninda, naas aku milih kost disini,
“makanya biar kami bantuin ngerawatnya” kang Asep memang selihai bulus.
“Nggak bisa kang, ini titipan dan besok mau kami pakai jalan ke Magelang!” tanpa sadar pembelaanku malah menceritakan rencanaku besok,
“E..ee.ee..sudah berani bawa kabur cewek kau ya!” bang Ucok memang parah.
“Apalagi sih, bawa kabur?!. Aku diajak dia jalan-jalan ke Candi Borobudur bang sekalian mampir tempat saudaranya!” sekalian aja sudah kuceritakan semua, biar jelas orang-orang tua ini,
“tapi, ini cewek yang mana lagi dhi?” mas Kadek ternyata selama ini mengamati pergerakkanku.
“Yang mana lagi? Perasaan teman cewekku yang pernah kesini cuma satu” memangnya aku mereka apa, gonta-ganti cewek tiap bulan.
“Iya Dek, kalau yang kembang sekolahan itu seingantku motornya Honda matic bukan Yamaha matic!” tak kusangka, mereka yang kelihatan cuek ini ternyata memperhatikan semua.
“Bah, memang tak salah kau masuk kekost ini Dhi, ada regenerasi kami sebagai pemelihara wanita. Kecuali Rahmat” kali ini aku sedikit setuju dengan bang Ucok karena aku punya kesempatan tertawa di hadapan muka mas Rahmat.
“Brengsek, malah aku yang kena efeknya” mas Rahmat langsung kabur kekamar mandi.
Malam dikamar menjelang esok liburan bersama Santi, kebingungan menghinggapiku, Gila, duitku bulan ini kan sudah tinggal buat makan sampai akhir bulan, itu juga dipaksain sekali. Bagaimana besok untuk semua biaya perjalanan, haa…aahh kenapa nggak kepikiran sama sekali sih tadi siang! Gerutu hati yang kesal…kesal sekali, kenapa aku nggak punya duit yang banyak sih. Terpikir untuk meminjam duit dari pra orang-orang tua itu, tapi….harus siap menerima segala cacian dan makian, apalagi mas Rahmat, oh…tidak sanggup kayaknya diriku apalagi kurang etis anak baru sudah pinjem-pinjem duit. Berpikir dhi…berpikir….! Ku kuatkan segala kemampuan alamiku untuk keluar dari masalah hidupku kali ini……..!
Aha! Aku masih punya harta karun yang selama ini kubuat karena iseng berkhayal jadi perompak. Kugulung separuh kasur dan mengangkat karpet yang mengalasinya dan….wow, banyak juga…berapa ya?! Kuraup semua lembaran uang yang berserakan gepeng tertindih kasur selama ini. …Seratus li..ma puluh ribu! Yap, lembar uang sepuluh ribuan dan dua puluhan ribu bersatu menghasilkan nominal Rp. 150.000,-. Tak kusangka kebiasaan isengku menolong disaat-saat genting seperti ini, walau tidak berbunga seperti kalau disimpan di bank tapi cukup beredebu dibawah karpet. Tak perlu puisi malam ini untuk membuat tidurku pulas, ternyata duit jauh lebih efektif buat tidurku jadi cepat dan nyenyak (maaf Diah, liburan ini aku besama Santi).
Suara adzan subuh yang pasti mendahului bekerku yang disetel jam 6 pagi membangunkan lelaki yang mulai rajin menghambakan dirinya kepada Sang Pencipta. Kudengarkan kultum pagi ini di mesjid yang biasanya langsung kutinggal kembali kekamar. Menyimak, tidak! Aku disini berusaha menghilangkan kantuk dan malas yang masih tersisa, dan mulai hanyut dalam khayalan akan perjalanan nanti (terlalu memang anak ini). Kembali aku ke kost untuk mandi, namun akhirnya aku kembali ke mesjid lagi untuk mandi.
06.30 WIB, jam yang setia memberitahukan akan waktu padaku bahwa sudah saatnya menuju kost Santi. Hari ini jaket buluk yang biasanya tak pernah kupakai kalau jalan dengan para wanita kupakai, karena apa? Karena ini perjalanan terjauh pertamaku dan aku belum kenal medan, jadi biar kelihatan sedikit macho dan sangar gitulah. Lembaran logistic sudah siap di dompet berarti siap…brrmm!
Santi sudah siap dengan tas cewek agak besar (entah apa aja dalamnya) keluar menyabutku dengan wajah yang aneh.
“Kamu mangkal ojek dimana semalam dhi?” sungguh kata penyambutan yang luar biasa menyanjung penampilanku,
“duh keren-keren dibilang ojek, ini jaket andalan dari warisan keluarga San!” terserah mau dibilang jelek, yang jelas jaket ini sangat bermakna bagiku.
“Ya nggak gitu dhi, baru ini aku lihat kamu pakai jaket buluk begini” sambil melangkah memegang jaketku (memastikan bukan mimpi),
“yah nanti kapan-kapanlah ceritanya, panjang sih sejarahnya” tetap kusahakan membanggakan jaket yang memang terlihat buluk ini.
Sungguh indahnya perjalanan melintas antar propinsi DIY dan Jateng, apalagi kini tangan Santi sudah tak lagi memegang pinggang seperti dulu-dulu, melainkan melingkar erat dipinggangku. Memasuki pertigaan jalan menuju Candi Borobudur aku dibius pesona alam yang sungguh asri (karena tertata cukup rapi namun masih terlihat alami), Santi mengajakku berhenti untuk sarapan di warung sate kelinci yang banyak sepanjang jalanan ini.
Perut sudah kenyang, kendaran sudah diparkir, kini kami menuju loket untuk membeli karcis masuk Candi Borobudur. Karena bukan libur Nasional, kawasan Candi tidak begitu ramai, kami masuk dan ditawari untuk naik kereta-keretaan yang membawa pengunjung yang nggak mau kecapekan jalan sampai ke Candi. Tapi Santi mengajak aku jalan kaki aja sampai ke Candi, aku sih hayuk aja. Benar juga alasan Santi mengajak jalan kaki sampai ke Candi, karena taman di areal halaman sekitar Candi sangat indah, sayang kalau dilewatkan begitu cepat dengan mengendarai kereta-keretaan tadi. Diah boleh jauh ada di Blitar sekarang, tapi separuh jiwanya yang tertinggal di hati ini masih bisa mengingatkanku untuk juga mengajaknya kesini kalau ada kesempatan (dasar).
“Dhi, menikmati banget sih! Kayak di kampungmu nggak ada pemandangan alami begini” Santi menegurku yang dari masuk tadi lebih banyak diam.
“eh..bukan gitu San, disini alaminya rapih, nggak kayak tempatku! Liar” kujawab diplomatis untuk menutupi gejolak hati (maaf Santi, ada orang lain berbicara dihatiku).
Tangga candi sudah dihadapan, Santi mengeluarkan kamera digitalnya.
“Dhi, foto dulu yuk!” Santi menarik tanganku untuk berfoto didepan tangga candi,
“tapi yang mau motoin siapa kalau kita dua-duaan masuk dalam foto?” jadi bingung diriku atas permintaan Santi.
“Ntar…sir, can you take a picture for us?” busyeet, pakai bahasa inggris ni anak.
Karena memang yang kebetulan lewat adalah beberapa orang bule,
“Yes, ..ok, say cheeesssse..!” si bule ngoceh apa, yang jelas ku tahu bukan ngitung 123.
“Thank you sir..!” Santi mengucapkan terimakasih dengan menyalami tuh bule,
“Shama-shama..” dan bule itu menjawab dengan tersenyum serta menyalami Santi, pakai bahasa Indonesia (sebenarnya lebih mirip ular yang mendesis bagiku). Santi tersentak saat mendengar jawaban si bule,
“loh bisa bahasa Indonesia ..?” Santi jadi salting karena kaget mendengar bahasa Indonesia si bule,
“shedikit-shedikit emba’..” bule itu menjawab dengan yang sangat lucu. Kamipun berjalan di belakang rombongan anak cucu kompeni ini.
Tak salah kalau Borobudur dibilang salah satu keajaiban dunia, dan kini aku berada diatasnya bersama Santi. Aku sebenarnya ingin terus-terusan tersenyum dan tertawa, nggak nyangka bisa ada di bangunan yang selama ini cuman kulihat di tv dan majalah.
“Gimana dhi kesan pertamamu ke Candi Borobudur?!” Santi bertanya karena melihat diriku yang dari menaiki tangga candi tadi sudah sibuk menahan senyum….dan sedikit air mata haru (agak berlebihan ya? Tapi itu nyatanya yang kurasakan),
“sensasinya luar biasa San, makasih ya sudah ajak aku berlibur kesini” kutatap dalam mata Santi dan kugenggam erat tangannya. Santi terdiam dalam tatapanku tanpa suara, segenang air dikedua matanya yang membuat dia menarik cepat tangannya.
“Maaf San, kekencangan ya aku pegang tangannya?” aku jadi bingung sendiri melihat Santi yang seperti ini,
“ng..nnggak dhi…” sedikit tersendat suaranya dan sibuk mencari tissue didalam tasnya.
“Kamu keingetan keluargamu ya?” merasa bersalah malah membuatku memberondong Santi dengan pertanyaan,
“bukan…aku tuh seneng aja bisa lihat kamu seneng kayak gini..” kini air mata itu benar menetes, namun cepat terhapus oleh tissuenya (sialan nih anak, bikin aku juga nggak kuat nahan air mata yang dari tadi sudah kutahan mati-matian).
“Yuk, pindah kesana dulu agak sepian tempatnya” inisiatif kuambil dari pada dikira apa-apa sama pengunjung lain. Kami berpindah ke sisi candi yang tidak banyak di lewati orang,
“dhi…sebenarnya aku yang terimakasih sama kamu..” sambil terus berusaha menahan tangis yang hampir mengisak..
”kamu tuh sudah nyenengin aku selama ini, kamu nemenin aku yang banyak cerita, mau kumarahin…” terhenti lagi, kini Santi butuh dua tangan menutup dan melap airmatanya (oh..tidak, aku sayang kamu Santi), tanpa sadar kupeluk lingkarkan tanganku dipundak Santi erat sekali.
Tumpah bendung hati Santi yang kini menelungkupkan wajahnya didada kiriku, kubiarkan, kurasakan beban berat hatinya yang selama ini tertahan (oh..Tuhan, aku harus menangis….harus, kenapa aku laki-laki, harga diriku terlalu tinggi untuk meneteskan airmata…apalagi didepan wanita).
15 menit kurang lebih kami terdiam, berpelukan, bercumbu dalam kalbu ini. Kini Santi sudah berani menengadahkan kepalanya langsung menantap kearahku,
“maaf…ya...dhi” sedikit isak Santi masih tersisa.
“Kenapa minta maaf San, aku senang bisa bantu ngeringanin beban hatimu” kini suaraku agak berat tertekan gelombang rasa haru,
“kamu jangan ikut nagis donk, aku jadi nggak enak nih” Santi sudah bisa menggodaku dengan tersenyum karena melihat mataku yang memerah menahan airmata.
“Siapa yang nangis” sambil pura-pura kusapu mata (padahal sekalian mengucek menyegarkan mataku).
“Hayah..dasar..” Santi sudah mulai ceria kembali, ditandai dari tangannya yang sudah mulai ringan menyiksa hidungku dengan jepitan jarinya yang kian gemas dan…mesra.
Kini kami lanjutkan wisata mesra ini menuruni candi yang telah habis kami putari, kejadian tadi membuatku tak lagi memegang tangan Santi….melainkan sudah kurang ajar merangkul pundak Santi sepanjang perjalanan keluar candi. Matahari yang sebenarnya kian terik tak mampu memanaskan sejuknya suasana hati kami berdua (sebenarnya kulit ini sudah teriak-teriak kepanasan, tapi apa dayanya kalau hati bilang ini nggak panas). Kami berhenti beristirahat di bawah pohon yang besar sambil melihat atraksi gajah muter-muter taman. Tawa canda kami sudah semakin meningkat memaksa hati mengeluarkan rasa cintanya (namun masih ada pengawas dihati yang membendung perasaan itu keluar dari mulutku), wanita-wanita…kenapa kalian begitu tega memaksa hatiku menjadi dua bagian.
Puas dengan keindahan candi, kami beranjak jalan lagi untuk mendatangi rumah keluarganya Santi di Magelang. Kota yang termasuk kota perjuangan ini juga sangat bagus dan sejuk, kota yang masih kental budaya jawanya. Keluarga Santi ternyata masih keturunan veteran pejuang besar didaerah ini, sebab kami memasuki komplek perumahan yang berbentuk gaya belanda. Pekarangan yang cukup luas tertata rapi dengan sebuah pohon rindang menaungi halamannya. Santi mengetuk pintu depan dalam sebuah teras yang nyaman buat nongkrong,
“kulonuwun..” Santi mengucapkan kata sandi dalam bahasa jawa.
Pintu terbuka …”oalah nduk, kok ora’ telpon sik…” ibu-ibu yang belum terlalu tua (35-40 tahunan gitu deh) membuka pintu dan menjawab kata sandi Santi tadi.
Santi langsung menyalami dan mencium tangan ibu itu, dan ibu itu kemudian memegang kepala Santi untuk mencium kedua belah pipinya bergantian
”Sopo ki nduk..” setelah ritual tadi selesai, ibu itu kini langsung pada inti keheranannya dari tadi.
“Oh..niki rencang kulo bulik, Adhi..” Santi membimbingku untuk bersalaman,
“oh..mas Adhi nggih, monggo melebet rien..” ibu yang ternyata tantenya Santi menyambut tanganku dengan tangannya yang juga aku cium menirukan ritual seperti Santi tadi (sopan banget),
“nggih” kujawab omongan tantenya Santi yang kurasa menyuruhku masuk (karena tadi tangannya terlihat memberi tanda untuk menyilahkan masuk).
“Nggih…nggih, sok tahu kamu dhi” Santi menegurku tapi terlihat tampangnya bercanda,
“Salah ya San?!” kugaruk kepala karena takut memang salah beneran jawabnya tadi.
“Nggak mas Adhi, Santi ngerjain kamu, bener jawabnya gitu. Memang masnya orang mana?” sangat ibu-ibu tante yang satu ini,
“kalimantan bu!” kujawab sambil mendudukkan pantatku disofa yang empuk dan lembut.
“Duh..duh..orang seberang laut nyampai ke sini, temen sekolah Santi?” tante ini kenapa jadi doyan menanyaiku sih.
“Hi..hi…cari ilmu bu” kujawab dengan cengiran dan garukan kepala seperti biasa,
“eh..ini loh kebiasaan” Santi menarik tanganku yang sedang menggaruk nikmat kepalaku,
“eh maaf…maaf!” malu jadinya karena kebiasaan burukku ini, si tante hanya tersenyum-senyum melihat tingkah kami berdua.
“Cari ilmu sekalian cari istri yah mas…!” tante ini langsung menangkap keadan kami berdua,
“wah, nggak mikir sampai kesitu dulu bu!” kusanggah untuk sedikit menjelaskan sebenarnya keadaan kami.
“Ya udah santai dulu, saya mau kebelakang sebentar” tantenya Santi langsung berdiri meuju ruang belakang dan…
”kamu disini dulu ya dhi..” Santi menyusul tantenya kebelakang.
Cukup lama mereka berdua berada di belakang, dan ini memberikan kesempatan bagiku untuk meluruskan pinggang dan sekejap dua kejap pejamkan mataku,
“Dhi, kita makan siang dulu yuk, bulik sudah masakin buat kita!” Santi menjemputku ke ruang tamu (rasanya semakin janggal dihati suasana ini),
“emm..nggak apa-apa nih San?!” ternyata nuansa rumah dan pemiliknya membuatku segan juga.
Santi menarik tanganku menuju meja makan yan cukup besar berbentuk bulat, setidaknya mengurangi beban anggaran makan siang hari ini.
“Ayo mas Adhi silahkan….dihabisin semua loh” tante ini sungguh lemah lembut,
“tenang bulik, biasanya kalau diwarung dia porsinya dobel” Santi benar-benar santai didalam keluarga ini.
“Iya tante, kalau di Jogja saya jadi kuli di kost Santi” sialan, jadi kepancing ngoceh nih gara-gara Santi,
“wah iya tho, nemu dimana nduk kuli bagus koyok ngene” tante ini memang jujur ya.
“Bagus bulik?! Wong nyebelin koyok ngene kok bagus” Santi sedikit memonyongkan bibirnya kearahku,
“nduuk…wis suwi bulik ora’ ndelok kowe seneng koyok ngene” ternyata tante ini memperhatikan perbedaan Santi sekarang. Santi malah terdiam mendengar ucapan tantenya,
“loh kamu kepedesan San?” kesempatan untuk menggoda karena kulihat mukanya memerah.
“Wah, pantesan bocah ayu iki seneng, wong pethuk sing pinter nyenengke ati” tante terus merangsek dengan Santi, sayang tidak semuanya kupahami maksudnya.
“Duuuh…bulik iki, nopo sih!” Santi terlihat makin salah tingkah.
“San! Sampai berasap loh kepalamu” mumpung ada bala bantuan, godain terus,
“nggak usah ikut-ikut deh” Santi memelototiku.
“Sudah-sudah, mas Adhi makasih ya mau nemenin Santi, saya sudah lama pengen lihat Santi seneng kayak begini” suara lembutnya menjelaskan maksud pembicaran ini.
“Bukan saya tante, tapi Santi yang sering menghibur saya” kujawab dengan polos sekali,
“tuh jadi kenyang tiba-tibakan” Santi berubah jadi manja sekali setelah memasuki rumah ini. Kulihat tante tidak bicara malah tersenyum hebat menahan tawa melihat keponakannya.
“Aaaa…sudah bulik..” kini kedua tangannya menutup mukanya,
“eh..San…” belum selesai bicaraku,
“stop, jangan mulai ya” kedua telapak tangannya terbuka memperlihatkan wajah galak yang sangat menggemaskan.
“Silahkan terusakan bercandanya, saya mau kebelakang dulu” tante Santi terus menahan senyumnya, sisa makan siang ini diteruskan tanpa pembicaraan sedikitpun, namun hanya sedikit suara gaduh kaki menendang dan kursi yang sedikit bergeser.
Matahari mulai menurunkan pancaran sinarnya untuk menandakan ini sudah sore, diriku selseai mandi dan duduk di halaman belakang. Santi keluar dari pintu ruang tengah dengan busana santai buat dirumah,
“loh San, kamu kok belum siap-siap?” diriku terkejut melihat Santi yang tidak bersiap-siap untuk pulang.
“Kayaknya kita harus nginep disini Dhi” sambil menyodorkan segelas teh yang juga dibawanya saat keluar dari ruang tengah tadi,
“terus…aku…tidur sini” gila, ini benar-benar diluar dugaan dan kebiasaanku.
“Habisnya tante nahan aku untuk pulang besok, katanya om ku pulangnya besok dari luar kota” Santi malah terlihat senang bisa menahan aku juga disini dengan alasan dari tantenya,
“ya tapi tetap nggak enaklah San” jelas aku protes karena tidak ada dalam jadwal wisata hari ini.
“Tenang mas Adhi, disini kamu bisa bebas nggak jadi kulinya Santi kok” suara yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu ruang tengah,
“eh..anu…tante..begini..tadi..” aku bingung karena kaget setengah mati mendengar suara tante (garukan dikepala jadi sedkit kencang).
“kalau baju, Santi banyak punya kaos dan celana pendek yang ditinggal disini” malah menutup salah satu alasan yang belum kukeluarkan sama sekali.
“Nggak apa-apa dhi, lagian kamu di Jogja juga sepi, temen-temenkan pergi liburan semua” Santi santai sekali, karena memang sudah tahu kalau kesini pasti nginep.
Beres, selesai sudah sanggahanku. Ku terdiam seribu bahasa menahan gejolak rasa oleh kejutan yang luar biasa ini (dei…maaf, Santi lebih dulu menemani malamku didunia nyata).
“Tehnya diminum dulu, nanti dingin kurang enak” senyumnya memancing tanganku untuk menoel hidungnya,
“eiit…berani nyolong-nyolong depan bulik!” malah disodorkannnya hidung indah itu.
“Nngg..gak, ada bulu mata jatuh dekat hidungmu San” lincah ku berkelit, lupa kalau tantenya masih berdiri dipintu,
“hayah..pinter aja ngeles” Santi yang kini malah berani menjepit hidungku.
Alamak…harusnya ini terjadi kalau aku ada di Blitar bersama Diah, aku yang terlena malah mengibarkan bendera perang dihatiku sendiri hari ini.
Malam tenang dirumah yang nyaman ini, kami bertiga duduk didepan tv penuh tawa canda dan lemparan bantal kursi dari Santi, bahan leluconnya jelas diriku dan kampung halamanku. Malam semakin larut selarut aliran perasaan di sungai hati ini, Santi benar-benar membuatku ingin memilikinya. Tante Santi mengijinkan kami teruskan obrolan karena beliau sudah mengantuk sekali, kini tinggal kami berdua diruang tengah depan tv.
“Dhi, makasih ya untuk hari ini” Santi menatap dalam mataku,
“sama-sama San, aku yang sebenarnya lebih berterimakasih untuk semua ini” kujawab saat kuberpindah duduk di samping Santi.
Wajah Santi yang kini menghadap cukup dekat di mukaku tak bicara hanya menatap, keadaan seperti ini hanya membuat rasa sayangku semakin menggelegak membangkitkan hasrat ingin mencium bibirnya yang cukup kuat. Namun kutahan sehebat-hebatnya, dan akhirnya bisa kualihkan ketangan yang cukup menoel hidungnya. Aksiku ini berbalas oleh dua telapak tangan yang menepel di pipiku dan menekan cukup kuat, naluri kepolosanku mengatakan keadaan ini cukup bahaya kalau berkelanjutan. Akhirnya kupegang kedua tangan yang menempel di pipiku dan
“San, istirahat yuk, sudah malam banget nih” kuajak dia berdiri untuk menuju kamar masing-masing.
Santi mengikuti berdiri dengan tatapan yang terasa aneh.
Pagi ini aku terbangun agak kesiangan, cahaya matahari dari celah-celah jendela kamar mengelitik wajahku. Setelah terduduk cukup lama untuk menyadarkan seutuhnya jiwa yang baru bisa terkumpul semua, aku keluar dari kamar.
“Pagi…kecapekan ya, kalau masih ngantuk tidur lagi nggak apa-apa kok, kan kalian liburan” suara lembut tante menegur tampangku yang mungkin masih sedikit terlihat kucel,
“pagi tante…Santi sudah bangun tante” sambil kutengok kiri dan kanan.
“Sudah, tuh lagi di dapur nyiapin sarapan” tante kembali meneruskan kegiatan paginya, menyapu rumah.
“Dhi, mau mandi dulu apa sarapan dulu?” Santi yang baru keluar dengan membawa 1 mangkuk cukup besar dengan nasi goreng didalamnya yang masih mengepulkan asap dan aroma,
“mandi dululah San” padahal ingin sekali langsung kusantap nasi goreng itu bersama yang membawanya.
Setelah meletakkan nasi goreng di meja makan Santi bergegas menuju kamar tempat aku tidur tadi. Kemudian keluar kembali dengan handuk dan sikat gigi yang masih baru ditangan,
“Nih, yang bersih ya….dan…airnya dingin loh!” Santi memulai serangan godaan pagi ini.
“Jangan dihabisin ya nasi gorengnya” kutoel hidungnya dan langsung ngacir kekamar mandi, satu cubitan masih sempat mendarat di pinggangku.
Sarapan pagi bertiga dimeja makan yang bundar meneruskan pembicaraan dan canda tadi malam yang belum tuntas terputus kantuk. Pagi kian berlalu saat pembicaraan meja bundar yang akhirnya berakhir dengan cuci piring bersama di dapur dengan Santi.
“Dhi, kita jalan-jalan yuk…muter-muter kota Magelang” disela tangannya yang lincah melumuri sabun kepiring,
“ok aja sih, tapikan om mu mau datang hari ini San” ku iyakan dan juga kuingatkan Santi sambil menyambut piring yang sudah bersabun untuk kubilas.
“Om paling datangnya siang, lagian nggak nyapai siang juga selesai puter-puternya kok” kini cipratan air dari tangannya kemukaku sebagai tanda untuk segera bersiap-siap.
Kalau kuperhatikan, tambah lama tambah nggak bisa dibantah anak ini, dan gobloknya aku kok mau aja sih.
Ijin dari tantenya Santi sudah kami dapatkan, dengan tenang kami melanjutkan paket wisata tambahan di Magelang. Walau suasanannya tidak seramai Jogja, tapi ini yang membuat udaranya cukup segar. Santi mengajakku masuk ke taman Kyai Langgeng, suatu sarana hiburan alami ditengah kota. Taman yang berseting hutan yang sangat rindang menaungi beberapa pengunjung yang kebanyakkan para pasanagn muda, bangku taman menjadi pilihan kami berdua. Dua teh botol ditangan masing-masing melancarkan senda girau kami, semenjak kejadian tadi malam membuatku lebih waspada untuk menjaga jarak dan sikap terhadap Santi (ini demi kebaikan diriku dan dirinya juga, dan dirinya satu lagi nun jauh disana).
“San, hari ini kita pulangkan?” sikon yang cukup baik untuk membicarakan kepulangan kami ke Jogja,
“ya..semoga om nggak nahan kita lagi dhi” dengan sedikit berat Santi untuk mengiyakan inginku.
“Ya, aku benar-benar nggak enaklah San! Bukan aku tidak betah di sini, tapi aku takut mereka berpikir terlalu jauh tentang kita berdua” akhirnya kuutarakan juga keresahan yang sejak tadi malam menggelisahkanku,
“terlalu jauh..? maksudmu…” suara Santi dingin mengiris ketegasanku.
“Mmm…maksudku, keakraban kita ini mungkin akan di nilai mereka lebih dari sekedar bersahabat” sudah sangat hati-hati kusampaikan, namun masih terasa khawatir juga kalau-kalau Santi tersinggung. Terdiam Santi menguatkan rasa khawatirku, sialan belum dapat kata-kata yang bisa membenahi benang yang makin kusut ini.
“Tenang dhi aku juga faham maksudmu, lagian aku juga menikmati persahabatan kita sekarang dan..” Santi membantuku mengurai kekusutan ini namun..
”aku juga nggak mau kehilangan sahabat kayak kamu” akhirnya Santi yang lebih berani tegas dari diriku (kini aku benar-benar pecundang rasanya).
“San….kedewasaanmu ternyata jauh lebih daripada usiamu..” tak kuasa aku mengutarakan rasa maluku akan ke tidak tegasanku,
“tumben, biasanya bilangnya kelihatan tua, bukan dewasa!” kerling disudut mata ditopang senyuman dikulum, mengajakku mengakhiri pembicaraan yang aku ini.
“Aduuh Santiiik…jarang-jarang nih aku berwajah serius” kutoel hidungnya dengan sedikit bermanja sekalian untuk menghabisjan rasa malu yang tersisa,
“hayaaah…dasar, tapi begini baru adhi “sahabatku”!” jepitan dihidungpun jadi balasannya dan sedikit penekanan suara pada kata “sahabatku” (seperti ketidak ikhlasan mengucap, mungkin).
“Yuk, sudah siang banget nih, nanti om mu kelamaan nungguin kita dirumah” minimal aku punya ketegasan pada hatiku untuk tidak berlama-lama dalam situasi yang romatis bersama Santi (takut naluriku kambuh lagi),
“kenapa kamu yang nggak sabaran ketemu om ku sih, kan harusnya aku yang nggak sabaran” malah Santi menarik pundakku yang sedang akan berdiri.
”Bukannya nggak sabaran, tapi ntar kita pulangnya kemalaman” kutarik kedua tangannya biar cepat berdiri.
“Aduh..!” kakiku malah tersandung pinggiran jalan semen taman, dan ini membuat Santi gantian berusaha menarikku biar tidak jatuh,
“eh..!” Santi bersuara kaget karena kini tangannya berada dipinggangku untuk menahan tubuhku yang huyung, tangankupun reflek berada di kedua pundaknya sedikit dekat keleher untuk menyeimbangkan tubuhku kembali.
“Makasih San, nyaris pulangnya kerumah sakit” setelah tegap dan saling melepas tangan masing-masing,
“hem..makasih?...seneng ya usaha nyolong-nyolongnya berhasil” jepitannya kini sungguh keras dihidungku.
“Nyolong-nyolong gimana sih? Ngapain repot nyolong kalu cuma pengen dipelukkan tinggal bilang!” tuh kan jadi kepancing ngoceh lagi deh,
“nah tuh, katanya nggak mau dibilang lebih dari sahabat! Tapi mintanya yang iya-iya aja” kini tangan Santi mencengkeram pinggangku kembali, tapi untuk mengelitik kali ini.
“Eeih…sudah-sudah San, bagusnya kita nanti pulang mampir kerumah sakit jiwa buat ngecek siapa yang gila antara kita!” sambil terus berusaha keluar dari cengkeraman Santi.
“Sialan, bukannya kita sama-sama gila” Santi terus menggelitikku.
Kalau dilihat sih memang kayaknya dua orang ini sama-sama gila, gimana nggak? Taman yang lumayan ramai orang itu dianggap sepi nggak ada orang, asyik berdua kejar-kejaran sampai pintu keluar.
Tawa dan napas yang masih sedikit ngos-ngosan saat kami sampai diatas motor. Setidaknya hari ini kami sudah mendapat ketegasan tentang hubungan kami berdua selama ini, namun tidak mempengaruhi prilaku kami yang sebenarnya tidak layak disebut sebagai sahabat (tetap mesra). Lingkaran tangan Santi dipinggangku berhenti saat memasuki jalan rumah om Santi, pagar masih terbuka dan terlihat mobil bernomer plat angkatan militer dengan seorang lelaki berbadan tegap berbaju ketat penuh atribut sudah didepan pintu disambut sang isteri yaitu tantenya Santi .
“Loh, kalian bareng tadi dijalan?” tante langsung menyambut kami dengan pertanyaan,
“mboten bulik…., paklik!” setelah turun dari motor Santi menjawab tentenya dan menyalam ciumi omnya,
“nduk, kowe saiki ceria temen yo!” Om itu tersenyum ke Santi namun juga melirikku.
Jujur aku sedikit bergidik saat omnya melirikku, badaannya gede banget tambah tampangnya kalau kubilang sih seram.
“Gimana mas Adhi kabarnya!” tangannya menjabat tanganku cukup kuat,
“ba..baik om!” jadi gagap nih, kaget dan grogi (aselinya mulai takut). “Ha…ha…masak anak Kalimantan lembek begini” kini tangannya menepuk pundakku,
“bukannya begitu om, tadi belum siap” salah password tentara satu ini, langsung menoel harga diriku! (kulawan).
“Hayaah…belum siap?! Bilang aja takut?” Santi tidak menyia-nyiakan kesempatan melihat celah kelemahanku,
“ora’ salah ceritamu bu! Ayo kita lanjutin didalam, jangan belum siap lagi ya” tertawa cukup keras sekeras tepukannya dipundakku.
“Kenapa buru-buru pulang? Gara-gara ada saya terus nggak betah disini?!” setelah makan bersama dan ngobrol menjelang sore Om Santi menyampaikan keberatannya akan kepulangan kami.
“Bukan nggak betah om, tapi saya pamitnya cuma jalan-jalan ke Borobudur, kemaren saya nginep disini juga belum bilang ke Jogja!” berusaha kujawab dengan diplomatis,
“bilang sama siapa Dhi?” malah Santi yang nanya, bukannya dukung aku. “Tuh, memang ada yang kehilangan anak kayak kamu!” om ini sungguh sangat suka bercanda rupanya, sayang objeknya selalu aku.
“San…, kamu…kan kita udah…” sulit memprotes Santi dengan tatapan om dan tenatenya Santi di hadapanku,
“kenapa dhi? Akukan Cuma nanya kamu pamit sama siapa, orang dikostmu juga cuma ada anak kuliahan nggak ada yang punya kost!” Santi sangat manis sore ini dengan tampang yang dipolos-polosin.
“Sama..sama…takmir mesjid San” kini tampangku yang diplos-polosin karena bohong yang maksa sekali,
“waah anak tamkir mesjid ya” om berlagak kagum dengan alsanku.
“Bukan takmir mesjid om, tapi sering ikut mandi di mesjid! Apa kunci kamar mandi kebawa kamu dhi?” Grrrr…puas mereka satu keluarga dapat badut yang sangat lucu hari ini,
Santi…oh…santi, seandainya kamu berubah menjadi Diah dan keluarga inipun jadi keluarganya Diah, disuruh tinggal dan bersihin kebun juga aku rela (sudah memasuki tahap menyedihkan hati lelaki ini tertiban cinta).
“Tapi..San..” belum selesai kubicara,
“baju anak saya masih banyak di lemari dhi, kalau memang nggak biasa juga, San…kamu temenin Adhi beli baju biar tante yang beliin!” tante memotong pangkas alasan andalan terakhirku.
“Ampun tante…saya nyerah, tidak perlu sampai begitu…ini bajunya langsung saya cuci, nanti malam juga kering!” bendera putih kukibarkan dan jiwa kulikupun muncul kembali.
“Nduk…nduk…pinter kowe milih konco!” tawa yang sangat puas dari om yang juga diringi tante (mungkin mereka ini nggak punya hiburan),
“Wis..wis..Pak! Mesak ake, jauh-jauh nyeberang laut cuma dikerjain, ayo mas Adhi mandi dulu biar bajunya Santi yang siapin!” kali ini aku merindukan rumah terutama ibuku, melihat tante ini bicara.
“Ya, siap-siap sekalian malam ini kita makan malam diluar” si om berdiri dan masih menyimpan tawa dalam senyumnya, kugaruk kepala ini sambil tertunduk manyun,
“hayaah…malah koyok kethek sih Dhi? Ayo mandi!” Santi benci sekali dengan kebiasaanku yang sangat nikmat ini.
Restoran yang cukup mewah jadi tempat pilihan kami makan malam, ku dipinjamin baju hem yang sangat bagus bagiku, sedang Santi…ck…ck…cantik sekali malam ini dengan baju blues putih (sedikit ada transparannya bolong-bolong kecil untuk membentuk motif) dan rok agak ketat selutut berwarana biru muda, rambut tergerai sedikit mengembang kreasi tanngan tantenya sebelum berangkat tadi. Kami duduk berhadapan berpasangan antara yang tampak tua dengan yang tampak muda nan imut, namun tempat boleh beda dan lux….topik pembicaraannya tetap aku…dan kedekatanku dengan Santi, menyebalkan memang tapi kenyangnya mantap.
Malam hari dirumah, kegiatannya sama seperti malam kemaren di depan tv berceloteh, hanya kedatangan satu anggota baru lagi menambah penderitaanku. Santi yang aku sangat bingung melihatnya, setelah jelasnya hubungan kami malah membuat dia semakin berani bercanda gila denganku didepan om dan tantenya. Gimana ceritanya ini? Bukannya memberikan penjelasan melalui sikpa, malah semakin menunjukkan kalau kami ini bukan persahabatan biasa. Tapi sudah terlanjur begini, kunikmati saja sekalian biar tidak semakin terihat aneh dan tersiksa. Malam ini kegiatan didepan tv mendapatkan tambahan waktu oleh karena anggota yang baru datang ini belum mau mengakhiri, dengan alasan nggak setiap hari bisa kayak gini. Diriku sih ok saja, apalagi Santi…terlihat sangat senang dan bahagia sekali. Mungkin ini juga salah satu alasan om dan tante menahan kantuknya demi melihat keceriaan keponakannya tersayang (dan aku juga), tapi bagaimanapun umur adalah kenyataan yang mereka berdua tak bisa pungkiri utnuk terus melawan bergadang dengan anak muda. Akhirnya tepat 12 dentangan bel dari jam besar kuno menegur empat orang yang ada didepan tv ini untuk masuk ke kamar masing-masing,
“Waduh, nggak kerasa sudah jam 12, ayo istirahat dulu! Besok pagi kita sambung lagi” om akhirnya sadar dan mulai memanasi kami dengan menggandeng tangan tantenya Santi kekamar.
“San, kamu nggak dongengin aku dulu sebelum tidur!” pengaruh ngantuk yang menurunkan konsetrasiku, isengku kambuh lagi,
“mmm…udah berani minta kelonin sekarang ya!” cubitan di hidung sebagai sangu tidurku diberikannya dengan wajah yang didekatkan padaku.
Kamipun menuju kamar masing-masing, aku jadi gak habis pikir, semakin jelas hubungan kami malah semakin bebas bercandanya. Ah..sudahlah, yang jelas hatiku kini juga sangat senang terus berada bersama Santi. Walau ternyata diah tetap mendatangiku di dimensi khayalku,
“dei, semakin kudekat dengan Santi semakin aku merindukannmu..” gumam ini mengantarkanku pada lelap.
Pagi ini aku bangun lebih pagi dari kemaren dan yang lainnya, karena aku harus buru-buru ke kamar mandi. Suasana pagi yang masih buta ini sangat hening, hanya terdengar suara ”cek…cek..cek..” dari kamar mandi,
“San..!” terdengar suara tante Santi memanggil dari luar kamar mandi.
“Bu…bukan Santi tante, ini Adhi! Srrt….” Kujawab sambil menyelesaikan bilasan terakhirku, kemudian langsung kubuka pintu kamar mandi dan mengangkat ember cucianku.
“Ya ampun adhi…kan ada mesin cuci! Lagian biar Santi yang nyuci!” kaget dan terheran-heran tante melihatku.
“He..he..nggak apa-apa tante, inikan baju saya sendiri dan lagian saya nggak biasa nyuci pakai mesin cuci” masih pagi membuatku jujur kalau memang udik,
“wis…wis…sudah tante ajarin ngeringin di mesin cuci biar cuciannya cepat kering!” kemudian tante mengajakku ke tempat mesin cuci dekat dapur.
“Nggak biasa apa nggak pernah?” tiba-tiba Santi datang dari belakangku dan mengambil ember cucianku,
“ehh…nggak usah! Pagi-pagi udah ngajak perang!” aku berusaha mempertahankan ember di tanganku sekalian mempertahankan harga diriku.
“Hayaah…sudah, sini sekalian aku nyuci bajuku juga” kini Santi benar-benar menarik paksa ember (kelihatannya dia juga sedikit malu di depan tantenya karena aku lebih dulu bangun dan rajin),
“hi..hi..baguslah, yang bersih ya yem!” sekalian kumakan gengsinya.
“Eegghhh…sini, sekalian otakmu yang aku cuci” kali ini hidungku selamat, tapi tidak kakiku,
“wah, kayaknya om ketinggalan acara pagi ini” suara berat menyebalkan itupun ternyata sudah hadir siap meramaikan pagi yang tadi hening dan damai.
“Eh om, sudah bangun juga ya. Nanti masih ngantuk loh om!” kini aku sudah sedikit berani unttuk menggoda jenderal seram satu ini,
“EIIT..berani bercanda sama komandan ya! Beri saya push up 100 kali!!” dengan amat galak dan tangan dipinggang.
“I..iya..maaf om, saya cuman..” aku terhenti karena langsung mengambil posisi push up setelah melihat tangannya mulai menunjuk lantai.
“Sekalian suruh lari keliling komplek om!” Santi yang masih berdiri dekatku menambahkan hukuman untuk membalas serangan mesra dariku tadi,
“jangan om..push up nya aja ditambah..” disela hitungan yang ke tiga aku memohon keringanan.
“Wis..wis..dhi, nggak usah! Om itu cuma bercanda jangan ditanggapi serius” tante berusaha menghentikan push up-ku,
“Wha..ha…ha..Adhi..Adhi, pagi-pagi sudah bikin perut om lapar!” sialan, pagi-pagi sarapannya ngerjain aku.
“Biar bulik, biar kapok dia nggodain aku!” Santi tak mau aku dibela,
“bukannya kowe malah sedih nduk! Nek Adhi ora’ gelem nggoda kowe meneh” kini om beralih menggoda Santi,
“kik…kik…kik….” tawa yang sedikit tertahan oleh gerakan push up-ku.
“Iki bocah sempet-sempete” sambil menekan pinggangku dengan kakinya Santi tanpa sengaja berbahasa jawa padaku (sedikit geli rasanya kuping ini mendengarnya).
“Ayo dhi, kita lari bareng aja keliling komplek!” kini om perintahkan aku menemaninya lari,
“siap jenderal!” aku berdiri dan menyempatkan membalas menoel hidung Santi.
“Ee..ee ..om, tolong jewerin!” Santi kaget dan berusaha menghindar karena kedua tangannya memegang ember.
“Wha…ha…bocah….bocah, ayo kita lari dhi! Bu nggawe sarapan sing enak trus akeh yo!” om tertawa sambil mendorong pundakku ke pintu depan.
Gila nih jenderal, sudah berumur tapi masih kuat juga napasnya. Santi dan tantenya tertawa melihatku ngos-ngosan dan hampir putus napas setelah sampai teras belakang rumah. Pagi ini kami sarapan di teras belakang sekalian mengeringkan keringat kami yang juga sudah malas untuk berdiri dan berganti baju. Santi bergaya menutup hidung duduk disebelahku, tapi tetap aja nggak mau jauh dariku. Sungguh indah memang kebersamaan dengan Santi, kalau seandainya…diah tak pernah kutemui dan sampai menyandera hatiku seperti ini.
Tengah hari berlalu seiringnya tergelincirnya matahari kearah barat, pakaianku pun telah kering dan di setrikakan oleh Santi. Kini semua sudah terpasang kembali dan akhirnya datang juga saat untuk berpamitan yang sudah kutungu-tunggu.
“Dhi, pokoknya om tahunya kamu yang menjaga Santi di Jogja dan jangan sampai dia kenapa-kenapa! Laksanakan!” pesan berat yang sangat mantab dari seorang jenderal,
“siap om..eh jenderal” canda perpisahaan yang masih kusempatkan.
“Dhi, sering-sering kesini ya nganterin Santi biar nggak usah naik bis dia kesininya” pesan yang manis dari tante yang lembut dan juga akan sangat merepotkanku.
“Nggih bulik!” kini kuberanikan menjawab menirukan Santi,
“he..he..pakai bahasa Indonesia aja dhi, mules perutku denger bahasa jawamu!” Santi geli mendengar bahasaku.
“Kulo pamit nggih paklik..bulik!” Santi menyalami dan menciumi kanan kiri pipi om dan tantenya,
“Ati-ati yo nduk, sinau tenanan ojo dolan wae! Nek cah gemblung ki macem-macem…telephone paklik!” sambil mengucek-ngucek kepalaku,
“tenang paklik…dijamin dia nggak akan macam-macam lagi setelah ketemu paklik” Santi melirikku saat menjawab omnya.
Kumanyunkan bibir sebagai reaksi kecut ku, kemudian langsung kami meluncur untuk kembali menjalani hari-hari di Jogja.
Akal Bulus Yang Mulus
Satu minggu berselang setelah wisata mesra di Magelang, Satu minggu hari-hari liburku di Jogja bersama Santi dan satu minggu jua kerinduanku kian menumpuk akan kehadiran Diah kembali ke Jogja. Ini semua karena ketidak mampuanku untuk membeli hp, untungnya selama ini teman-teman tidak mempermasalahkannya termasuk Diah apalagi Santi yang hampir tidak pernah absent dalam hari-hariku.
Hari ini aku dan Santi memilih beristirahat di kost masing-masing, karena besok sudah mulai kembali masuk sekolah. Kamarku lumayan sudah bertambah hiburannya, dari foto-foto di Magelang dan beberapa saat kebersamaan aku dan Santi di Jogja yang diberikan Santi. Ada yang diberi bingkai dan lainnya masuk ke album foto, setidaknya kamarku jadi ada sedikit hiasannya. Kebersamaan yang hampir menjadi kebiasaan selama liburan cukup menggelisahkanku saat harus tidak bertemu Santi satu hari saja, dan lebih menggelisahkan lagi karena besok aku harus bisa bertemu dengan Diah. Karena kemungkinan besar besok Santi akan jadi terus menempel bersamaku kemanapun aku pergi saat jam istirahat. Pikir punya pikir, akhirnya aku tertidur dalam kebingungan.
Adzan subuh tidak terdengar dan jam bekerpun tidak, aku sudah terbangun. Keresahan malam tadi membuat tidurku kurang nyenyak, kulihat jam masih jam 03.30, masih kurang lebih sejam lagi baru adzan subuh. Setelah kekamar mandi untuk menyegarkan mata dan melegakan ginjalku dari air kencing, kududuk di kasur memandang foto saat ada dipuncak borobudur. Iya, aku juga harus bisa kesana lagi dan berfoto juga dengan Diah. Dan ini membuatku mulai berpikir lagi bagaimana caranya hari ini aku bertemu Diah dalam situasi yang aman. Proses berpikir belum berjalan setengah, adzan subuh berkumandang, sekalian aja aku sholat berjamaah yang jarang-jarang kulakukan siapa tahu habis sholat dapat inspiriasi. Kududuk menyender pilar mesjid mendengarkan kultum, namun tetap cara bertemu Diah yang ada dibenakku. Ada! Ruang PMR…kemungkinan Diah akan kesana juga hari ini, setidaknya aku bisa bertanya dan mencari alasan baru untuk bertemu Diah.
Langsung aku kekamar mandi mumpung orang-orang tua itu belum bangun dan memperebutkan kamar mandi. Arif baru sampai depan kostku saat aku selesai mengunci pintu kamar hendak berangkat.
“Dhi, wis siap tho?!” suara khasnya menyapaku setelah hampir seminggu aku tidak mendengarnya,
“anak rajin!” kujawab sambil menggonceng menaiki motor Arif.
Makhluk-makhluk berseragam terlihat sangat bersemangat semua saat kami memasuki sekolahan, begitu memasukki lorong kelas 1 lebih semangat lagi oleh ramainya teriakkan dan riuhnya suara manusia saling bercerita. Didalam kelas Santi dan Dita asyik bercengkrama entah cerita mana yang dikisahkan Santi tentang liburannya.
“Dhi, kayaknya liburan kalian paling mneyenangkan ya!” Dita langsung menyapaku dengan ucapan selamat terselubung saat aku baru duduk,
“loh, kok kowe ngerti Dit? Ketemu po waktu liburan?” Arif sedikit curiga.
“Bukan aku Rif, Tanya aja sama nona berbahagia ini” Dita langsung menyebarkan gossip secara perlahan,
“kowe libur bareng Santi dhi?” kini malah seperti orang panik si Arif.
“Iya! Ngopo? Ra’ oleh, yang di Jogja cuman Santi..ya liburannya bareng Santi!” kujawab santai karena belum konfirmasi dengan Santi masalah liburan yang mana yang boleh diceritakan.
“Ooo, jadi kalau yang lain ada nggak liburan sama aku tho” pernyataan Santi membuatku kaget setengah mati, apalagi dengan tambahan jepitan tangannya dihidung (kebiasaan yang kukhawatirkan akhirnya terjadi juga),
“ya nggaklah San, kan kalau ada yang lain liburannya jadi rame-rame!” kuselamatkan hidungku dan itu hampir memancingku untuk menoel hidungnya.
“Berarti sore iki awake dewe’ mangan-mangan gratis Dit!” Arif tiba-tiba mengada-adakan acara sendiri,
“kowe ulang tahun Rif?” Santi malah nanya Arif, “ulang tahun? Iki acara peresmianmu jadian karo Adhi tho?!” Arif dengan sok tahunya mengambil vonis akan hubungan kami.
“Kamu kok nggak bilang tadi sih San” kini giliran Dita menekan Santi, “bilang apa? Orang memang nggak jadian kok!” Santi menjawab santai dan sangat diplomatis.
“Hmm…ra’ mungkin, nek tak delok dapur-dapuranmu wong loro karo polahe sih pasti wis dadian! Iyo ra’ Dit?” Arif berusaha tak mau kehilangan makan gratisnya, “bener Rif, aku yo curiga liat gelagate cah loro iki” Dita juga menjadi sok yes mendengar analisa Arif.
“Haah…kalian itu yang jangan-jangan sudah jadian! Iya nggak San?” Kini aku membela diri, harus! “bener dhi, jarang-jarangkan mereka bisa ngomong kompak begini!” Santi yang sudah sehati denganku jadi faham untuk bersatu menyerang balik mereka berdua.
“Opo? Kok malah ngomongke aku, liburan wae aku neng Jakarta San!” Dita benar-benar kebakaran jenggot,
“Wis jan, seng kompak ki kowe wong loro! Pesti wis dirancang ngomonge ben ra’ konangan cah-cah!” Arif masih sanggup bertahan untuk menyerang balik, perdebatan terhenti oleh guru yang sudah masuk kelas.
Selama pelajaran aku jadi punya pemecahan karena omongannya Arif, ada alasan biar bisa misah sama Santi pas jam istirahat nanti. Biar nggak di gosipin sama anak-anak kelas, jadi sebaiknya aku dan Santi jangan bareng di sekolahan. Kupikir semalaman nggak ketemu jalan keluarnya, eh..sekarang baru sebentar ngobrol sama mereka langsung dapet solusinya. Tenang hatiku kini, tinggal lihat mereka nanti makan dimana? Semoga bukan di warung gado-gado, jadi aku bisa nunggu Diah disana dengan tenang.
Harapanku terkabul, Santi istirahat pertama ini menemani Dita ke perpustakaan. Tak kusia-siakan kesempatan ini untuk segera menghilang dari teman-teman segera menuju warung gado-gado. Duh, ramai sekali warung gado-gado hari ini, kulihat tidak ada tempat kosong didalam. Tak mau menyerah diriku, menunggu diluar samping pintu dapur duduk tembok pagar yang hanya sepinggang. Pokoknya hari ini aku harus bisa melihat Diah, sampai gado-gadoku datang kursi warung belum ada yang beranjak pergi meninggalkan dan Diah pun tak kunjung datang. Gado-gado buatan ibu warung hari ini terasa hambar, namun tetap kuhabiskan demi kesehatan. Sialan, kesempatan bagus ini terbuang sia-sia, kembali ku ke ruang kelas karena waktu isitrahat memang sudah habis. Keceriaanku pagi tadi menghilang, dan itu kesalahan yang tak perlu harusnya. Karena ini membuat Santi bereaksi,
“kenapa Dhi? Habis istirahat malah manyun tampangmu?” Santi yang selalu memperhatikan mulai mengkhawatirkanku.
“Nggak San, lagi kekenyangan aja! Lama nggak makan gado-gado aku jadi nambah tadi!” kebohongan yang selalu terjadi bila urusan Diah bergesekan dengan Santi,
“makanya, jadi orang kira-kira kalau makan!” Santi semakin senang memencet hidungku, padahal aku menahan-nahan diri untuk menoel hidungnya.
Kini hatiku harus terima kenyataan, Diah memang menjadi harapan kerinduanku…namun Santi hadir sebagai kenyataan kasih sayangku. Kelesuan yang untungnya sudah terlindung kebohongan terus berlanjut hingga jam istirahat ke dua menjelang.
“Dhi, ikut ke warung mie ayam nggak?” Santi mengajakku saat ingin keluar bersama Dita,
“kayaknya aku masih belum sanggup untuk memasukkan apapun kedalam perutku sekarang” gaya lesu yang masih kutampakkan.
“Ya sudah, mending kamu ke mushola sana….tobat!” Santi dengan lembut mengusap kepalaku dan tersenyum pergi. Sholat?! Benar juga, kayaknya hampir nggak pernah aku ikut sholat berjamaah di mushola sekolahan, ya apa salahnya dicoba hitung-hitung nambah pengalaman dan pergaulan.
Ternyata ramai juga murid yang rajin sholat, jadi malu sendiri (mungkin cuma aku yang belum pernah sholat berjamaah disini (kecuali pada waktu ospek dulu). Suasana damai ini menenangkan hatiku (sebenarnya karena air wudhu yang bikin segar mukaku), selesai sholat aku enggan rasanya beranjak dari mushola. Kulihat juga masih banyak yang menengadahkan tangannya menghadap kiblat dan ada juga bersender di tiang serta ada yang tiduran. Nah, itu ide yang bagus juga…tiduran di mushola memang enak nih. Kegiatan yang satu ini tanpa canggung kuikuti dengan sangat fasih. Mata terpejam oleh belaian angin sepoi-sepoi, ah besok-besok aku istirahat kedua disini aja ah..ngak ada yang…
”bangun-bangun ooi! Karpetnya mau digulung!” Kaget tersentak bukan main (maklum masih baru disini takut bikin masalah),
“oh..iya….” rasanya nyawaku keluar dari raga ini saat suara ini berhenti keluar dari tenggorokkanku.
“Alhamdulillah..selama liburan ada kemajuan yang berarti!” suara ini yang kurindu-rindu kudamba-damba,
“Dei..” rasa senang yang tidak mungkin kututupi menyesak didada ini.
“Kenapa sih, kalau lama nggak ketemu lihatnya kayak gitu terus” Diah benar-benar membuatku ingin melompat-lompat dan menari di mushola ini,
“ya aku baru bangun tidur, wajarlah sedikit aneh ngelihatnya!” kesadaran yang mulai pulih memulihkan program pertahanan harga diriku.
“Apa kabar dirimu selama liburan dhi?!” pembicaraan diteruskan saat kami memasang sepatu diteras mushola,
“ya kesempatan menikmati dan menghafalkan jalan di Jogja, bersama gaet-gaet edan di kostku!” sholat tadi belum mampu menghilangkan tabiat berbohongku.
“Wah, ngapain aja acaramu sama anak kuliahan, nggak ikut mabuk-mabukan kan?!” baru bertemu langsung berubah jadi ibuku (tapi aku tetap suka kok),
“ya nggak mungkinlah! Malah mereka yang selalu mengingatkanku untuk tidak sampai begitu!” memang sangar-sangar orang-orang tua itu, tapi tidak pernah kulihat apalagi sampai mengajaku mabuk (maklum kost sebelah mesjid).
“Baguslah, berarti kamu nggak ada keluar-keluar kota donk?!” Diah yang telah selesai memasang sepatu enggan berdiri.
“Ya pernah sekali ke Borobudur, waktu ada anak kostku yang lagi hunting foto disana!” sialaaan…maaf Sant, bibirku lancar sekali berbohong dan mengkhianatimu,
“wah seru donk! Sudah lama juga aku nggak main ke Borobudur” Diah sangat senang melihatku yang bertambah wawasan. Asem di gunung garam di laut, ketemunya depan mushola.
“Mau kesana lagi? Aku juga masih pengen sih kesana lagi, bagus benar sih tempatnya!” mainkan tampang kagum penasaran untuk pancingan nih,
“boleh..tapi ada yang lebih bagus menurutku Dhi! Tempatnya malah masih di Jogja, bukan Prambanan tapi!” Diah menerima akses pertamaku, namun memberikan syarat kedua.
“Memang di Jogja ada candi selain Prambanan Dei?” kini aku yang di buat penasaran,
“adalah, malah banyak! Yang satu ini mungkin jarang dikunjungi orang, tapi itu juga yang bikin suasananya masih alami.
Dan di candi Boko namanya, itu tempat paling bagus untuk melihat sunset!” panjang sekali promosinya.
“Wah boleh tuh dei, dekat lagi!” kini kegiranganku kembali seperti dulu,
“ayo, tapi kapan? Mungkin enaknya hari Minggu besok aja, biar agak santai nggak keburu-buru pulang sekolah” rupanya diah punya keinginan yang terpendam juga selama ini.
“Ok lah dei, sekalian dengerin cerita liburanmu!” karena aku sangat ingin tahu apa saja yang kamu lakukan selama liburan Dei dan sama siapa yang penting (wajarkan kalau aku sudah mulai ada rasa cemburu),
“ya, memang banyak sebenarnya yang ingin kuceritakan sama kamu Dhi! Sayang kamu belum punya hp, kalau nggak kemaren pas disana sudah kutelponin terus!” Diah kini kehilangan cerianya yang tersedot sebuah beban dalam hati.
“Kok kayaknya jadi serius gitu sih? Masalah berat nih kayaknya” sok tahu karena aku khawatir melihatnya murung,
“ya nantilah, makanya kalau hari minggukan bisa seharian ceritanya! Yuk, sudah mau masuk lagi” Diah berdiri dan ingin tersenyum namun terlihat aneh senyumannya.
Kenapa bidadariku ini ya, apa yang terjadi selama liburan di Blitar? Dijodohkan! Apa pacarnya ada disana ya? Haaah…kenapa jadi paranoid begini sih.
Setelah dalam kelas “kok masih manyun sih, bukannya tadi kamu jadi ke mushola dhi?” Santi tak pernah alpa memperhatikanku,
“jadi San, dan aku ketiduran” berbohong terus yang kubisa.
“hayaah dasar…pantesan mau kesana, yang diincer tidurnya tho!” Santi terus berusaha membangkitkan ceriaku dengan godanya.
Hingga sampai di kost diriku masih terbayang-bayang rencana yang akan dijalankan hari Minggu depan, dan ada hal juga yang sedikit mengganjal dihati waktu berbicara dengan Diah tadi siang, Hp! Ya itu masalah yang cukup penting sekarang. Bila aku minta ke orang rumah untuk dibelikan hp, jelas aku sudah sangat tak sampai hati. Sebab, aku bisa berangkat dan bersekolah di Jogja saja sudah cukup menghabiskan dana orang tuaku. Mungkin aku sekarang harus bisa menambah uang sakuku sendiri, tapi bagaimana ya? Kalau aku mencari pekerjaan itu akan sangat menyita waktu dan konsentrasiku, kalau berdagang kecil-kecilan mungkin masih bisa untuk dilakukan dan ada sedikit pengalaman berdagang waktu bersama teman-temanku di Kalimantan dulu. Namun berdagang apa enaknya di Jogja! Yang jelas tidak menghabiskan banyak modal. Pikir punya pikir, akhirnya aku tak sadarkan diri…
Wajah itu sangat bersinar memancarkan cahaya saat aku mengalungkan kalung berliontinkan permata berwarna merah terang. Putihnya kulit Diah menyatu padu dengan warna merah liontin itu, kini Diah pun meligkarkan tangannya di leherku untuk memeluk dan menciumku. Sesaat bibirku nyaris menyentuh bibirnya, pundakku tertahan dan ditarik kebelekang oleh tangan yang halus dan sangat lembut. Kupalingkan wajah untuk melihat pemilik tangan yang telah berani mengganggu kemesraanku di sini, Santi! Tak urung pelukanku dileher Diah pun mengendur sedikit cepat. Tapi aksiku ini dicegah keras oleh Diah yang berusaha menjauhkanku dari Santi. Santi berhasil meraih pergelangan tanganku dan kemudian menarikku mendekat padanya, ini membuat Diah memancarkan sinar yang sedikit meresahkanku. Inisiatif yang berangkat dari rasa cinta dan sayangku terhadap kedua bidadari ini membimbing tanganku untuk memeluk mereka berdua dikiri dan kananku. Keputusanku ini cukup efektif untuk membuat aksi mereka yang saling menarik mereda, dan kuajak mereka berjalan menuju sebuah batu yang cukup besar untuk bisa kami duduki bertiga. Tanganku merogoh kantong dibalik bajuku dan mengeluarkan selingkar gelang warna merah memancar dari roncean batu merah seperti liontin di leher Diah. Kuambil tangan Santi dan kuikatkan gelang merah itu dipergelangan tangannya, satu kecupan lembut di pipiku dan…cubitan di pahaku membuatku sadar untuk lebih adil lagi. Kini aku cepat menoleh ke arah Diah dan cepat mendaratkan ciuman yang terhenti tadi dibibirnya……Duk! Tak kusangka bibir itu sangat keras, membuat mataku sedikt buram. Saat mataku jelas sekali sejelas tembok nyata dihadapanku. Sialan, kenapa ini cuma mimpi?! Pantesan bibir Diah keras sekali, kuusap jidatku yang paling keras mencium tembok.
Angka 2 di jam bekerku saat aku bangun terduduk dari mimpi yang harusnya masih berlangsung. Kusandar dudukkan tubuhku di tembok kamar sambil memeluk guling. Apa makna mimpi tadi ya? Rasa kesal membuatku tak ingin kehilangan makna mimpi indah tadi. Kalung kuberikan pada Diah dan gelang kepada Santi, mungkin aku harus memberi mereka hadiah seperti waktu Santi memberikan aku pulpen untuk menulis puisi. Tapi, kalung dan gelang itukan mahal-mahal semua, kecuali aku bisa pulang dan membelikannya di kampung halaman. Mau satu karung juga bisa kuberikan, sayang harus pulang dulu. Pulang? Kalung! Kenapa aku nggak kepikiran sampai kesitu tadi sebelum tidur, baiklah besok aku coba telepon ke Kalimantan untuk minta mereka belikan aku batu-batu perhiasan yang ada di sana, sekalian minta modalin. Ok, sekarang tidur lagi siapa tahu mimpi itu bisa berlanjut.
15 Dec 2020
15 Dec 2020